NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pulang membawa harapan

Malam mulai menyelimuti kawasan vila. Angin pegunungan berembus pelan, membawa hawa dingin yang terasa semakin menusuk. Mahesa berdiri di depan paviliun sambil memandangi pintu yang masih tertutup rapat.

"Naura," panggilnya pelan. "Kembalilah ke vila. Kita bisa menyelesaikan pembicaraan tadi dengan kepala dingin."

Tidak ada jawaban.

Beberapa saat kemudian, pintu paviliun terbuka sedikit. Naura berdiri di baliknya dengan wajah yang masih menyimpan kekesalan.

"Aku tidak mau."

"Jangan seperti ini."

"Aku justru ingin seperti ini," balas Naura dingin. "Malam ini aku menginap di paviliun."

Mahesa mengembuskan napas panjang.

"Naura, kita datang ke sini bersama."

"Memang. Tapi bukan berarti aku harus tidur satu atap dengan seseorang yang bahkan tidak mau mendengarkan perasaanku."

Kalimat itu membuat Mahesa terdiam. Ia ingin menjelaskan banyak hal, tetapi rahasia yang sedang dipikulnya membuat setiap kata terasa tertahan di tenggorokannya.

"Aku hanya butuh waktu," ucap Mahesa lirih.

Naura tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuhi kepahitan.

"Selalu waktu. Kamu selalu meminta waktu, sementara aku terus diminta mengerti."

Tanpa menunggu jawaban, Naura kembali menutup pintu paviliun. Suara pintu yang terkunci terdengar jelas di tengah kesunyian malam.

Mahesa tetap berdiri beberapa saat di depan paviliun. Tatapannya kosong. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa jauhnya jarak yang kini memisahkannya dengan sang istri.

 

Di rumah utama keluarga Pratama, Bu Ratih beberapa kali mencoba menghubungi Maya. Panggilan pertama tidak dijawab. Ia mengira Maya masih beristirahat karena kurang sehat.

Keesokan harinya, Bu Ratih kembali menelepon.

Tetap tidak ada jawaban.

Hari berganti hari. Pesan-pesan yang dikirim hanya terbaca tanpa pernah dibalas, bahkan terkadang ponsel Maya sudah tidak dapat dihubungi sama sekali.

Wajah Bu Ratih mulai dipenuhi kecemasan.

"Ada apa dengan anak itu?" gumamnya pelan. "Selama bekerja, dia tidak pernah seperti ini."

Bu Ratih kemudian mencoba menghubungi beberapa rekan kerja Maya di hotel, tetapi tidak seorang pun mengetahui keberadaannya. Maya seolah menghilang begitu saja.

Sementara itu, di kontrakan kecilnya, Maya memilih mematikan ponsel selama beberapa hari. Ia belum siap berbicara dengan siapa pun, terlebih dengan keluarga Pratama. Luka di hatinya masih terlalu dalam. Setiap kali melihat nama Bu Ratih muncul di layar ponsel, dadanya kembali terasa sesak.

Ia tahu Bu Ratih tidak bersalah.

Namun, Maya juga sadar bahwa selama ia masih memiliki hubungan dengan keluarga Pratama, akan semakin sulit baginya melupakan kejadian yang telah mengubah hidupnya. Untuk sementara, menghilang adalah satu-satunya cara yang mampu ia lakukan demi menenangkan dirinya sendiri.

Sudah hampir satu minggu Maya mengurung diri di rumah kontrakannya. Tirai jendela selalu tertutup, sementara ponselnya lebih sering dimatikan. Ia berusaha menenangkan diri dan melupakan semua yang telah terjadi, tetapi tubuhnya justru mulai menunjukkan perubahan yang tidak biasa.

Pagi itu, kepalanya terasa berat. Tubuhnya lemas seolah kehilangan tenaga. Saat mencoba menyiapkan sarapan, aroma makanan yang biasanya biasa saja mendadak membuat perutnya bergolak. Maya buru-buru berlari ke kamar mandi, tetapi hanya rasa mual yang datang tanpa ada yang keluar.

"Ada apa denganku?" gumamnya sambil memegang kening.

Awalnya ia mengira semua itu hanyalah akibat kelelahan dan tekanan batin yang terus menghantuinya. Namun, ketika keluhan yang sama kembali muncul beberapa kali dalam beberapa hari berikutnya, Maya memutuskan memeriksakan diri ke sebuah klinik.

Di ruang pemeriksaan, dokter mendengarkan keluhannya dengan saksama, lalu melakukan pemeriksaan yang diperlukan. Beberapa saat kemudian, dokter kembali sambil membawa hasil pemeriksaan.

"Mbak Maya," ucap dokter dengan suara tenang, "berdasarkan hasil pemeriksaan awal, ada kemungkinan Mbak sedang hamil."

Maya yang semula duduk tegak seketika membeku.

"Hamil...?" bisiknya nyaris tak terdengar.

Dokter mengangguk pelan.

"Hasilnya mengarah ke kehamilan yang masih sangat dini. Pada tahap sedini ini, usia kehamilan biasanya dihitung dari hari pertama haid terakhir, sehingga angkanya bisa sekitar beberapa minggu meski pembuahan sebenarnya baru terjadi belum lama. Untuk memastikannya, saya menyarankan kontrol kembali sesuai jadwal dan mengikuti pemeriksaan lanjutan."

Kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong bagi Maya.

Wajahnya mendadak pucat. Jari-jarinya gemetar saat menggenggam hasil pemeriksaan. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan yang datang bersamaan. Air mata perlahan menggenang tanpa bisa ia bendung.

"Bagaimana mungkin..." lirihnya.

Ia teringat malam di vila yang selama ini berusaha dilupakan. Kenangan itu kembali menghantam pikirannya tanpa ampun.

Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, langkah Maya terasa begitu berat. Dunia di sekelilingnya seakan berhenti berputar. Ia berdiri seorang diri di depan klinik sambil memandangi hasil pemeriksaan yang masih berada di tangannya.

Perlahan, air matanya jatuh membasahi kertas itu.

Jika dugaan dokter benar, hidupnya tidak hanya berubah karena satu malam yang penuh penyesalan. Kini, ia mungkin harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih besar, seorang diri, tanpa mengetahui ke mana harus melangkah dan kepada siapa ia dapat meminta kekuatan.

..........

Beberapa hari kemudian, Mahesa kembali disibukkan dengan serangkaian pertemuan bisnis. Setelah melalui negosiasi yang cukup panjang, akhirnya ia berhasil mencapai kesepakatan awal dengan seorang calon pembeli vila. Meski proses administrasi belum sepenuhnya selesai, kesepakatan itu menjadi langkah besar bagi rencana yang selama ini ia impikan.

Di ruang kerjanya, berbagai dokumen memenuhi meja. Mahesa menghitung kembali kebutuhan dana pembangunan lapangan golf yang nilainya jauh lebih besar daripada hasil penjualan vila. Ia menyadari bahwa dana tersebut masih belum mencukupi.

"Aku tetap harus mengajukan pinjaman ke bank," gumamnya pelan.

Sejak awal, Mahesa sebenarnya berencana membangun lapangan golf di atas lahan keluarga di Bogor. Namun, Naura menolak usulan itu. Menurutnya, lokasi tersebut kurang strategis untuk menarik kalangan pebisnis dan pelanggan kelas atas.

"Kalau ingin menjadi lapangan golf terbaik, lokasinya harus benar-benar memiliki nilai investasi tinggi," ujar Naura saat membahas rencana itu. "Jakarta Pusat jauh lebih menjanjikan."

Ucapan Naura membuat Mahesa mengubah seluruh perencanaannya. Ia pun memutuskan mencari lahan yang lebih strategis di Jakarta Pusat. Keputusan itu tentu membutuhkan biaya yang jauh lebih besar.

Untuk menutupi kekurangan modal, Mahesa akhirnya memilih mengajukan pinjaman kepada bank dengan menjaminkan tanah keluarga di Bogor. Keputusan tersebut bukanlah hal yang ringan. Ia sadar risiko yang akan dihadapi sangat besar apabila proyek itu tidak berjalan sesuai harapan.

Meski demikian, Mahesa tetap yakin. Baginya, proyek lapangan golf itu bukan sekadar investasi, tetapi juga impian besar yang ingin diwujudkannya sebagai tonggak baru bagi bisnis keluarga Pratama.

Ketika mendengar keputusan suaminya, wajah Naura akhirnya kembali dipenuhi senyum.

"Ini baru rencana yang aku bayangkan sejak awal," ucapnya penuh antusias. "Kalau lokasinya di Jakarta Pusat, peluangnya akan jauh lebih besar. Aku yakin proyek ini akan menjadi salah satu yang paling bergengsi."

Melihat Naura kembali bersemangat, Mahesa hanya mengangguk tipis. Ia senang istrinya akhirnya mendukung keputusan tersebut. Namun, jauh di lubuk hatinya masih tersimpan kegelisahan yang belum mampu ia ungkapkan. Di balik keberhasilan bisnis yang mulai terlihat, ada rahasia besar yang terus membayangi hidupnya, seolah siap menghancurkan semua impian yang sedang ia bangun sedikit demi sedikit.

Mahesa menatap berkas-berkas pinjaman yang terbentang di atas meja kerjanya. Semua perhitungan telah ia lakukan berulang kali. Hasil penjualan vila akan menjadi modal awal, tetapi jumlah itu masih belum cukup untuk membangun lapangan golf impiannya di Jakarta Pusat. Satu-satunya jalan adalah mengajukan pinjaman ke bank.

Namun, ada satu masalah besar yang belum terselesaikan.

Tanah di Bogor yang akan dijadikan jaminan bukan atas namanya.

Sertifikat itu masih tercatat atas nama Bu Ratih.

Mahesa mengusap pelipisnya sambil mengembuskan napas panjang. Ia tahu ibunya sangat menyayangi tanah tersebut. Selain memiliki nilai investasi yang tinggi, tanah itu juga merupakan peninggalan mendiang ayahnya yang selama ini dijaga dengan penuh kebanggaan.

"Aku harus punya alasan yang benar-benar kuat," gumam Mahesa. "Kalau asal bicara, Ibu pasti langsung menolak."

Naura yang duduk di hadapannya tersenyum penuh keyakinan.

"Kamu terlalu khawatir."

Mahesa mengangkat pandangannya.

"Ibu pasti akan setuju," lanjut Naura. "Selama beliau percaya semua ini untuk kemajuan keluarga Pratama, beliau tidak akan keberatan. Yang penting kita menjelaskannya dengan baik."

Mahesa masih terlihat ragu.

"Semoga saja begitu."

Naura menggenggam tangan suaminya sebentar.

"Kita hadapi bersama. Aku juga akan membantu meyakinkan Ibu."

Ucapan itu sedikit menenangkan hati Mahesa. Meski demikian, ia sadar membujuk Bu Ratih bukanlah perkara mudah. Kesalahan sedikit saja bisa membuat seluruh rencana mereka berantakan.

Di tengah pembicaraan, wajah Naura tiba-tiba berubah pucat. Ia menutup mulutnya sejenak, berusaha menahan rasa mual yang kembali muncul sejak beberapa hari terakhir.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mahesa.

Naura segera menggeleng sambil memaksakan senyum.

"Mungkin hanya masuk angin. Dari kemarin perutku memang agak tidak nyaman."

Ia juga merasakan kepalanya sedikit berputar, tetapi berusaha mengabaikannya. Kabar mengenai perkembangan proyek lapangan golf membuat semangatnya kembali bangkit. Dibanding memikirkan kondisi tubuhnya, ia lebih memilih memusatkan perhatian pada impian yang sebentar lagi terasa semakin nyata.

"Aku baik-baik saja," ucap Naura meyakinkan. "Kalau proyek ini berhasil, semua pengorbanan kita akan terbayar."

Mahesa mengangguk pelan, meski tatapannya masih dipenuhi kekhawatiran. Sementara itu, Naura tetap tersenyum menyembunyikan rasa tidak nyaman yang terus muncul. Ia sama sekali belum menyadari bahwa perubahan kecil pada tubuhnya mungkin bukan sekadar kelelahan, melainkan pertanda sesuatu yang jauh lebih besar.

Menjelang sore, Mahesa dan Naura mulai membereskan barang-barang mereka di vila. Berkas-berkas penting telah dimasukkan ke dalam tas, sementara koper kecil yang mereka bawa sudah berada di dekat pintu. Meski perjalanan kali ini dipenuhi pertengkaran dan kesalahpahaman, urusan pekerjaan yang menjadi tujuan utama mereka akhirnya dapat diselesaikan.

Naura berdiri di depan cermin untuk merapikan penampilannya. Namun, pantulan wajahnya terlihat lebih pucat daripada biasanya. Sesekali ia memejamkan mata karena kepalanya terasa sedikit berputar.

Mahesa yang melihat keadaan istrinya langsung menghampiri.

"Wajahmu pucat sekali," ucapnya pelan. "Apa mualmu masih belum hilang?"

Naura mengangguk kecil.

"Masih sedikit."

Mahesa menyentuh kening istrinya, memastikan tidak ada demam.

"Sepulang dari sini kita ke rumah sakit dulu. Aku ingin memastikan kondisi kamu baik-baik saja."

Naura langsung menggeleng.

"Tidak perlu."

"Naura, jangan keras kepala."

"Aku benar-benar tidak apa-apa. Mungkin cuma kecapekan."

Mahesa masih menatap istrinya dengan khawatir.

"Tapi kamu sudah beberapa kali mengeluh pusing dan mual."

Naura menarik napas panjang sebelum tersenyum tipis.

"Besok aku harus mulai riset lokasi dan konsep untuk proyek lapangan golf. Aku sudah membuat janji dengan beberapa orang. Kalau hari ini ke rumah sakit, pasti semuanya berantakan."

"Bisa dijadwalkan ulang."

Naura menggeleng lebih tegas.

"Tidak semudah itu. Mereka sudah meluangkan waktu. Aku tidak mau mengecewakan mereka."

Mahesa terdiam beberapa saat. Ia memahami betapa bersemangatnya Naura terhadap proyek tersebut. Sudah lama ia melihat kembali semangat yang sempat hilang dari diri istrinya.

"Aku janji," lanjut Naura dengan nada lebih lembut. "Kalau besok aku masih merasa tidak enak badan, aku akan langsung memeriksakan diri."

Mahesa menatap wajah istrinya cukup lama, lalu menghela napas pelan.

"Baiklah. Tapi jangan memaksakan diri."

Naura mengangguk sambil tersenyum. Meski tubuhnya masih terasa lemas dan sesekali mual kembali datang, rasa antusias terhadap proyek impian mereka membuatnya memilih mengabaikan semua keluhan itu. Baginya, kesempatan membangun lapangan golf bergengsi di Jakarta Pusat terlalu berharga untuk dilewatkan.

Keduanya kemudian melangkah keluar dari vila. Di balik senyum tipis yang menghiasi wajah Naura dan tatapan khawatir Mahesa, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa perubahan kecil pada kondisi Naura bisa menjadi awal dari kenyataan yang akan mengubah arah kehidupan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!