NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 - Lima Puluh Juta

Lila tidak mau turun dari pelukan Naya.

Di IGD rumah sakit kecil dekat gang itu, dokter harus memeriksa tubuhnya sementara Naya duduk di ranjang pemeriksaan dan memangku anak itu. Setiap kali dokter mencoba menyentuh memar di lengan, Lila menegang. Setiap kali perawat mendekat dengan kapas alkohol, ia menyembunyikan wajah di dada Naya.

"Tidak apa-apa," bisik Naya berkali-kali. "Mama di sini."

Kata mama keluar begitu saja.

Lila tidak bereaksi dengan suara, tetapi jarinya mencengkeram baju Naya lebih kuat.

Di pintu, Arkan berdiri dengan rahang mengeras.

Ia sudah melihat laporan awal dokter: memar lama, luka baru, gizi kurang, tanda trauma. Setiap baris membuat amarahnya naik, tetapi yang paling mengganggunya bukan kemarahan.

Yang paling mengganggunya adalah wajah Lila.

Semakin lama ia melihat anak itu, semakin sulit ia menyangkal kemiripannya dengan Rayyan.

Raka berdiri di sampingnya.

"Pak, saya sudah minta tim legal menghubungi Dinsos. Status adopsi anak itu harus diperiksa. Untuk sementara petugas membolehkan anak tetap bersama Mbak Naya sampai pemeriksaan lanjutan, karena anak menolak dipisahkan."

"Keluarga Darto?"

"Masih membuat laporan tandingan. Mereka menuduh Mbak Naya menculik dan meminta uang."

Arkan tertawa dingin. "Minta uang?"

"Mereka mengaku sudah mengeluarkan biaya selama empat tahun. Mereka menyebut angka lima puluh juta."

Arkan menatap Naya yang sedang meniup luka kecil di jari Lila.

Lima puluh juta mungkin tidak berarti apa-apa baginya.

Tapi bagi Naya, angka itu bisa menjadi jerat.

Dokter selesai memeriksa dan menulis resep. "Anak ini harus kontrol lanjutan. Saya juga sarankan pemeriksaan psikolog anak. Dia tidak bicara sama sekali?"

Naya menggeleng. "Saya belum pernah dengar."

"Bisa karena trauma, bisa ada kondisi lain. Jangan dipaksa. Buat dia merasa aman dulu."

Naya mengangguk.

Ia turun dari ranjang dengan Lila masih di pelukan. Begitu keluar, ia melihat Arkan.

"Kenapa Bapak masih di sini?"

"Karena masalah ini belum selesai."

"Masalah saya."

"Anak itu perlu perlindungan hukum."

"Saya bisa urus."

Arkan menatap kantong plastik obat di tangan Naya, jaket lusuh, wajah pucat karena kurang tidur, dan anak kecil yang menempel padanya seolah dunia hanya punya satu tempat aman.

"Dengan uang apa?"

Naya tersentak.

Raka menunduk, tahu kalimat itu salah cara.

Naya menatap Arkan dengan mata dingin.

"Kalau Bapak datang untuk mengingatkan saya miskin, terima kasih. Saya sudah tahu dari lama."

Arkan diam sebentar.

"Aku bisa bayar."

"Tidak."

"Naya."

"Tidak," ulangnya lebih keras.

Lila terkejut dan memeluk leher Naya.

Naya segera menurunkan suara. "Maaf, Nak. Mama tidak marah sama kamu."

Arkan memperhatikan kata itu lagi.

Mama.

Naya memanggil dirinya mama tanpa ragu. Tapi di rumah sakit semalam, Rayyan juga memanggilnya mama saat setengah sadar.

Kebetulan bisa terjadi sekali.

Dua kali mulai terdengar seperti peringatan.

"Dengar," kata Arkan lebih pelan. "Aku tidak memberi karena kasihan. Kalau keluarga itu menahan proses dengan tuntutan biaya, anak ini akan lebih lama terseret. Kita selesaikan dulu, lalu kamu bisa mengembalikan."

"Dengan gaji cleaning service?"

"Dengan cara yang kamu anggap masuk akal."

Naya tertawa tanpa humor. "Orang kaya memang lucu. Bagi Bapak, semua bisa diselesaikan dengan kalimat 'nanti diganti'."

"Lalu pilihanmu apa? Membiarkan dia kembali ke rumah itu?"

Naya membeku.

Arkan tahu ia memukul tepat di tempat sakit. Ia tidak senang melakukannya, tetapi tidak ada waktu untuk membiarkan harga diri Naya membuat Lila kembali ke neraka.

Naya menatap Lila.

Anak itu menatap balik, diam, penuh takut.

Lima puluh juta.

Tagihan Nenek.

Gaji pertamanya bahkan belum turun.

Naya menutup mata.

"Saya akan tanda tangan surat utang."

Arkan menggeleng. "Tidak perlu."

"Perlu."

"Naya..."

"Kalau tidak, saya tidak terima."

Raka diam-diam kagum. Perempuan ini bisa berdiri di depan Arkan Wiratama dengan anak kecil di pelukan dan memaksa syarat seperti sedang negosiasi kontrak besar.

Arkan akhirnya berkata, "Baik. Surat utang tanpa bunga. Pembayaran fleksibel. Dan selama proses hukum berjalan, anak ini berada di tempat aman."

"Tempat aman saya."

"Kamu tinggal di kamar kos dekat rumah sakit."

"Itu tempat aman saya."

"Kamu yakin?"

Naya tidak menjawab.

Kamar kosnya kecil. Atapnya bocor. Kamar mandinya di luar. Tapi itu satu-satunya tempat yang ia miliki.

Arkan menghela napas.

"Aku punya unit apartemen kosong untuk staf darurat."

"Tidak."

"Kamu belum mendengar syaratnya."

"Syarat orang kaya selalu punya ujung tajam."

"Syaratnya kamu tetap bekerja. Lila kontrol dokter. Nenek Sari mendapat perawatan. Kamu membayar sesuai kemampuan. Tidak ada syarat lain."

Naya menatapnya curiga. "Kenapa?"

Arkan tidak langsung menjawab.

Karena wajah anak itu mirip anakku.

Karena setiap kali kamu mundur dariku, aku merasa pernah melakukan sesuatu yang tidak bisa kuingat.

Karena Rania berbohong.

Tidak satu pun bisa ia ucapkan.

"Karena Rayyan hidup karena darahmu."

Itu jawaban paling aman.

Naya tahu itu bukan seluruhnya. Tapi ia terlalu lelah untuk membongkar niat Arkan sekarang.

"Saya mau lihat suratnya dulu."

"Raka urus."

Malam itu, dengan surat utang resmi dan pendampingan petugas sosial, Naya membawa Lila pergi dari rumah sakit. Darto menerima uang pengganti biaya dengan wajah kesal karena tidak bisa lagi memeras. Petugas mencatat dugaan kekerasan dan menjadwalkan pemeriksaan lanjutan.

Semua terasa belum selesai.

Tapi Lila tidak kembali ke rumah hijau pudar itu.

Itu cukup untuk malam ini.

Apartemen staf yang disebut Arkan ternyata lebih besar dari rumah Nenek Sari. Naya berdiri di ruang tamu kecil dengan Lila di sampingnya, merasa salah tempat.

"Ini sementara," kata Raka. "Kunci cadangan di amplop. Nomor darurat juga ada."

"Terima kasih."

Raka tersenyum. "Saya cuma menjalankan perintah."

Setelah Raka pergi, Naya mengunci pintu dua kali.

Lila masih berdiri dekat sofa, tidak berani duduk.

Naya berjongkok di depannya.

"Ini tempat kita sementara. Kamu boleh duduk. Boleh tidur. Boleh makan. Tidak ada yang akan pukul kamu."

Lila menatapnya.

"Kalau takut, kamu bisa pegang baju Mama."

Mata anak itu berkaca-kaca.

Perlahan, Lila mengulurkan tangan dan menyentuh ujung baju Naya.

Naya menarik napas gemetar.

"Kamu lapar?"

Lila ragu, lalu mengangguk sangat kecil.

Naya hampir menangis karena satu anggukan itu.

Ia membuat nasi telur sederhana dari bahan yang disiapkan Raka di kulkas. Lila makan pelan, seperti takut makan terlalu banyak akan membuat seseorang marah. Naya duduk di depannya, tidak menyuruh cepat, tidak bertanya apa pun.

Setelah makan, Naya memandikan Lila. Saat pakaian anak itu dilepas, memar-memar lama terlihat lebih jelas.

Naya menggigit bibir sampai berdarah.

"Maaf," bisiknya.

Lila menatapnya bingung.

"Mama terlambat."

Anak itu mengangkat tangan kecilnya, menyentuh pipi Naya.

Tidak ada suara.

Tapi sentuhan itu lebih dari cukup.

Jauh di rumah utama Wiratama, Rayyan menolak tidur.

"Papa."

Arkan duduk di samping ranjangnya. "Apa?"

"Tante Naya bawa adik kecil itu pulang?"

Arkan menatap anaknya.

"Kamu melihatnya?"

"Raka Om kirim foto ke Papa. Aku lihat sedikit." Rayyan menarik selimut. "Dia mirip aku."

Arkan diam.

Rayyan menguap, lalu berkata pelan, "Kalau dia adik aku, boleh?"

Jantung Arkan seperti berhenti setengah detik.

"Kenapa kamu bilang begitu?"

Rayyan sudah setengah tidur.

"Karena waktu lihat fotonya, sini sakit."

Ia menunjuk dada kecilnya.

"Kayak waktu pertama lihat Tante Naya."

Arkan tidak tidur lama setelah itu.

Di meja kerjanya, ia membuka hasil awal investigasi Raka tentang Naya Prameswari.

Kasus tabrak lari.

Empat tahun hukuman.

Kelahiran di rumah sakit rujukan.

Catatan bayi kembar.

Bagian terakhir file itu membuat mata Arkan mengeras.

Data bayi laki-laki: dipindahkan atas permintaan keluarga.

Data bayi perempuan: dirujuk ke Panti Pelita Hati.

Arkan membaca kalimat itu berkali-kali.

Rania pernah berkata Rayyan lahir dari rahimnya.

Tapi dokumen di depannya mulai mengatakan hal lain.

Arkan menghubungi Raka lagi, meski jam sudah lewat dua pagi.

"Cari Panti Pelita Hati. Siapa pengurus lamanya, siapa yang tanda tangan penerimaan bayi, siapa donatur tetapnya."

Suara Raka masih serak. "Baik, Pak."

"Dan jangan pakai jalur kantor."

Raka langsung mengerti. "Takut bocor ke keluarga Pradipta?"

Arkan melihat foto Rayyan di meja.

"Aku mulai curiga selama ini bukan cuma bocor. Ada yang sengaja membiarkan mereka masuk."

Setelah telepon mati, Arkan menatap layar kosong laptop.

Jika Naya benar ibu dari bayi-bayi itu, maka utangnya bukan lagi uang lima puluh juta.

Utangnya adalah empat tahun hidup seseorang.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!