Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa Memangnya?
Seperti malam-malam yang lain, Emma selalu sendirian di kamarnya. Tentu saja, memangnya mau ditemani siapa? Namun, ada yang berbeda malam ini. Emma yang biasanya disibukkan dengan catatan tentang kasusnya, kali ini ia malah menikmati malamnya dengan mengerjakan administrasi untuk mengajar esok hari.
Dia tak menyangka bahwa dirinya berangsur menikmati pekerjaannya sebagai seorang guru. Ternyata, pekerjaan ini tidak terlalu buruk. Apakah karena kelas yang dimilikinya hanya dua? Jadi dia bisa sedikit santai di sela-sela waktu kosong.
Akan tetapi Emma tidak mau terlalu tergiur dengan kenyamanan. Dia harus segera menyelesaikan kasus ini sebelum skorsnya berakhir, atau dirinya tidak akan bisa mengetahui jawaban yang benar tentang kasus ini.
"Kembali bekerja ya? Apakah aku bisa kembali?" Gumamnya dengan pensil yang ia tempelkan di bibir lembutnya.
Matanya menerawang ke langit-langit. Ia menengadah, menghembuskan nafas keputus asaan.
Apa yang akan dilakukannya setelah ini? Kembali bekerja? Atau lebih baik resign? Sepertinya lama-kelamaan tubuh Emma berangsur melemah. Sekarang ia lebih cepat lelah, walau hanya untuk sekedar berjalan.
"Apakah aku separah itu?"
"Apakah aku bisa kembali? Wah... Nggak nyangka disaat ini aku malah merindukan Tejo. Anak lemot itu.... Gimana kabarnya sekarang ya?"
Lalu, muncul ide untuk menelepon Tejo, junior kesayangannya.
"Pasti dia sibuk kali tanpa aku, xixixi," gumamnya.
Tut tuuuut....
Emma masih menunggu Tejo mengangkat teleponnya.
"Halo? Bu Emma?" Akhirnya Tejo menjawab panggilan, setelah Emma menunggu sekitar satu menit.
"Tejo!!! Pakabar??? Kamu sehat kan?? Hehehe," Emma meninggikan nada bicaranya saking bahagianya mendengar suara Tejo.
"Ck, aku kira anda sudah lupa sama saya," logat medok Jawa itu selalu bisa membuat Emma tertawa.
"Lho... Yo nggak mungkin ...." Emma menimpali dengan logat Jawa yang dibuat-buat, namun cukup alami.
"Hehehe... Lagi apa?"
"Lagi nonton film bu," jawabnya.
"Lah, enak kali kau... Nggak sibuk ngurus kasus?" Emma heran, ini bukan hari libur, tapi Tejo masih sempat menonton film. Biasanya, Tejo sangat sibuk dimalam hari karena Emma selalu mengajaknya untuk lembur.
"Ya karena saya nggak ada kerjaan Bu," jawab Tejo.
"Jangan-jangan.... Kamu dikucilkan ya sama partner barumu? Siapa? Biar aku marahin dia...."
"Mm... Nggak kok Bu, saya cuma...terlalu lelet."
Emma bisa mendengar nada sedih pada suara Tejo, membuatnya semakin geram. Dia tidak terima, junior yang selalu mengikutinya itu mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di belakangnya.
"Maaf ya Tejo, ini semua gara-gara aku selalu membuat masalah sama mereka, jadi malah kamu kena imbasnya," Emma melirih karena merasa bersalah.
"Haah... Nggeh mpun lah bu, yang penting malam ini saya mau nonton film, bu Emma juga jangan lupa refreshing, ciao!" ucap Tejo mengakhiri panggilan.
Tut...tut...tut...
"Oke, apa salahnya menyegarkan pikiran? Sendirian juga nggak apa-apa lah."
Emma bergegas mengambil jaket hijau tuanya kemudian mengendarai mobil untuk pergi ke bioskop terdekat, meskipun hanya bioskop kecil.
.
.
.
Sesampainya ke Bioskop yang ingin ia tuju, Emma langsung berjalan ke arah loket. Ia membeli tiket film horor yang tengah hit, meskipun ia cukup takut dengan hantu.
"Baiklah, malam ini aku ingin berteriak sepuasnya," gumamnya sembari mengambil tiket yang telah ia beli.
Ketika ia ingin di kursi sambil menunggu pintu bioskop terbuka, tanpa disangka ia malah bertemu dengan... Tejo.
"Loh Tejo?!"
Emma terkejut dengan apa yang dilihat oleh matanya. Bagaimana mungkin Tejo bisa berada di Bioskop kecil di dekat kampungnya?
"Bu Emma....."
Emma bisa melihat mata Tejo yang sedikit berair.
Tejo langsung berlari kearah Emma dengan langkah kecilnya seperti adik kecil yang menggemaskan. Lalu mereka berpelukan bak teletabis.
"Kok kamu bisa kesini sih?" Tanya Emma sembari melepas pelukan kekanakannya.
"Sebenarnya saya niatnya mau mampir ke rumah ibu, tapi nggak tahu alamat tepatnya. Ya... Karena udah terlanjur, saya kesini aja biar nggak terlalu pulang dengan tangan hampa," jawabnya.
"Kan kamu bisa tanya alamat rumahku pas di telpon tadi..." Kata Emma heran dengan kelakuan aneh Tejo.
"Oh iya ya, kok aku nggak kepikiran ya? Hehe..."
"Hahaha, ya udah lah ya... Gak masalah juga. Sama-sama ketemu ini."
Emma yang masih memegang kedua tangan juniornya, langsung melepaskannya agar keduanya bisa berjalan memasuki pintu bioskop. Namun, si tejo lelet malah memeluk tangan kiri Emma dan bergelayutan.
"Apa-apaan sih, manja banget deh...." Ejek Emma namun tetap membiarkannya karena memang seperti itu lah mereka.
Mereka sudah seperti kakak dan adik.
Akan tetapi, tamu tak diundang malam itu bukan hanya Tejo tapi.....
Di depan mata Emma, dengan jarak mungkin enam meter, Levi berdiri mematung seperti dikutuk menjadi batu.
"Le-levi?" Gumam Emma yang juga terkejut dengan penglihatannya.
Tapi, Levi masih bergeming. Dia tidak berkedip sama sekali dengan bola mata yang perlahan mengarah pada rangkulan tangan Tejo.
Lalu Levi menyunggingkan senyum miringnya seperti tidak menyukai pemandangan itu.
"Pak Levi sedang nonton juga?"
Emma mendekatinya masih dengan tangan yang berada di rangkulan Tejo, sehingga Tejo mau tidak mau juga ikut mendekat ke Levi.
"Iya," jawab Levi singkat.
"Sendirian?" Tanya Emma sembari celingak-celinguk ke sekitar jangkauan Levi.
"Iya, sendirian. Tapi sepertinya kamu nggak," ucapnya melirik ke arah Tejo.
"Siapa?" Tejo malah berbisik ke telinga Emma, membuat Levi semakin geram. Dia hampir menggertakkan giginya.
"Ssst... Nggak usah ikut campur..." Bisiknya membalas pertanyaan Tejo yang memperparah keadaan.
Tejo mengangguk dan memilih untuk mengundurkan diri, masuk ke ruang bioskop mendahului Emma.
"Permisi ya...." Akhirnya Tejo melepaskan rangkulannya hingga membuat Levi memejamkan matanya sejenak untuk menahan amarahnya. Lalu ia kembali menatap Emma, mengisyaratkan kalau dirinya perlu penjelasan.
"Ou... Itu teman aku," jelas Emma singkat sambil menunjuk Tejo dengan dagunya.
"Teman ya? Tapi kalian akrab banget.... Lebih ke mesra sih sebenarnya," Levi lagi-lagi tersenyum getir.
"Mmm.... Kami udah nggak ketemu dua minggu lebih, dia sampai nyusul aku kesini, dasar anak itu....hehe."
Sepertinya Emma tidak menyadari bahwa setiap kalimat yang ia ucapkan membuat dada Levi semakin membuncah. Bahkan Levi terlihat sudah mau meledak.
"Seharusnya, aku minta Pak Surya memperbanyak kelas kamu, biar kamu sibuk," Levi mengatakannya tanpa ada tanda bergurau di wajahnya.
"He? Maksudnya? Kok gitu sih?"
Tanpa menjawabnya, Levi malah berjalan meninggalkan Emma yang masih mematung.
Dia berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
"Ada apa denganku?" Gumam Levi setelah menyadari tingkah konyolnya itu di depan Emma.
.
.
.