NovelToon NovelToon
ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Istri Cadangan Sang Mafia

Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.

Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.

Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Rapat berakhir lebih cepat dari biasanya. Tak seorang pun berani menghentikan langkah Vincent yang keluar dari ruang rapat.

Nathan dan Daniel mengikuti dari belakang.

Suasana koridor begitu sunyi hingga suara sepatu Vincent terdengar menggema.

Daniel diam-diam mengusap telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin. Selama bertahun-tahun bekerja, ia tahu satu hal. Saat Tuan Vincent tidak meluapkan amarahnya, justru saat itulah semua orang harus waspada.

"Tuan, mobil sudah siap," ucap Daniel pelan.

Vincent tidak menjawab. Ia masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Begitu mobil memasuki halaman mansion, Vincent turun tanpa menunggu pintu dibukakan.

"Tuan." Soraya buru-buru menyambut.

"Nyonya di mana?"

Soraya tampak ragu. "Nyonya belum pulang, Tuan."

Tatapan Vincent berubah. "Belum pulang?"

"Beliau menjemput Tuan Muda Viren di sekolah."

"Lalu?"

Soraya menunduk. "Setelah itu... saya tidak tahu, Tuan."

Rahang Vincent mengeras. " Mereka tidak di kawal ?"

"Maaf, Tuan. Nyonya mengatakan hanya ingin sebentar."

Hening.

Suasana di ruang tamu mendadak terasa mencekam.

Daniel yang baru masuk hanya bisa menelan ludah.

Vincent mengeluarkan ponselnya. Lokasi Viren...

Tidak berada di sekolah. Tidak pula mengarah ke mansion. Mereka justru bergerak menuju pusat kota.

Tatapan Vincent menggelap. "Siapkan mobil."

"Baik, Tuan."

Di sisi lain...

Serina menggandeng tangan Viren keluar dari gerbang sekolah.

"Capek?"

Viren menggeleng. Serina tersenyum. "Mumpung kita sudah di luar..." Ia berjongkok hingga sejajar dengan putra tirinya itu. "...jalan-jalan, yuk."

Viren spontan mengernyit. "Ayah pasti tidak mengizinkan."

"Sesekali saja. Kita tidak jauh-jauh."

"Ayah bilang jadwalku harus teratur."

Serina terkekeh pelan. "Kalau hidup isinya belajar terus, nanti otaknya protes."

Viren menatapnya beberapa detik. Ucapan itu terdengar aneh. Selama ini tak ada yang pernah mengajaknya keluar hanya untuk bersenang-senang. Semua kegiatannya selalu terjadwal. Belajar. Les. Latihan. Pulang.

Serina mengangkat satu alis. "Gimana kalau kita makan es krim?" Viren masih diam. "Lalu ke toko buku." Mata Viren mulai berbinar. "Setelah itu kita lihat ikan di akuarium besar."

Anak itu menggigit bibirnya pelan. Godaan itu terlalu sulit ditolak. "...Sebentar saja?"

Serina tersenyum lebar. "Janji, hanya sebentar."

Untuk pertama kalinya sejak ibunya menghilang, Viren mengangguk tanpa memikirkan jadwal yang selama ini mengikatnya.

Ia tidak menyadari... Di saat yang sama, sebuah mobil hitam melaju kencang membelah jalan.

Dan pria di dalamnya sedang menahan amarah yang nyaris meledak.

Serina dan Viren keluar dari toko buku. Di tangan Viren kini ada satu kantong berisi buku sains dan sebuah puzzle.

"Terima kasih," ucap Viren pelan.

Serina tersenyum. "Sekali-sekali anak pintar juga harus dapat hadiah."

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh...

Ciiit!

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mereka. Serina refleks memeluk bahu Viren. Pintu belakang terbuka. Vincent turun. Jas hitamnya masih rapi, tetapi wajahnya jauh lebih dingin daripada langit mendung.

Daniel segera berdiri di belakangnya. Tak seorang pun berbicara. Tatapan Vincent langsung jatuh pada kantong belanja di tangan Viren. Lalu beralih kepada Serina. "Masuk ke mobil." Hanya tiga kata. Datar dan tanpa emosi.

Namun justru itu membuat tengkuk Serina meremang. "Aku hanya mengajak Viren..."

"Masuk!" Suara Vincent memotong kalimatnya.

Tak keras. Tetapi tidak memberi ruang untuk membantah.

Serina menelan ludah. Ia menggenggam tangan Viren dan masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan... Tak ada suara. Viren yang biasanya banyak bertanya kini hanya memeluk kantong bukunya.

Sesekali ia melirik ayahnya lewat kaca spion.

Tatapan itu...Tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Sesampainya di mansion, Vincent turun lebih dulu.

"Viren."

"Iya, Ayah?"

"Masuk ke kamar. Sekarang." Viren mengangguk pelan. Ia sempat menoleh ke arah Serina. Wanita itu mencoba tersenyum untuk menenangkannya.

Namun senyum itu tak mampu menyembunyikan kegelisahan di matanya.

Begitu langkah Viren menghilang di balik tangga... Vincent menutup pintu ruang tamu.

Klik.

Suara kunci yang diputar terdengar begitu jelas.

Serina membeku. Vincent berjalan mendekat.

Hingga hanya tersisa jarak beberapa puluh sentimeter.

"Apa kau tahu..." suara Vincent begitu pelan, "...berapa banyak orang yang mengincar Viren?"

Serina tercekat. "Aku hanya ingin mengajaknya bersenang-senang."

"Itu bukan jawaban." Tatapan Vincent menusuk lurus ke matanya. "Kau membawa Viren keluar tanpa memberitahuku. Kau mengubah rute kepulangannya. Kau menolak pengawalan yang sudah disiapkan."

Ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Lalu katakan padaku..." Vincent berhenti sejenak. "...kalau hari ini Viren tidak kembali ke rumah, siapa yang akan bertanggung jawab?"

Wajah Serina memucat. Semua niat baik yang sejak tadi ingin ia jelaskan seketika lenyap.

Baru saat itu ia menyadari bahwa apa yang dianggapnya sebagai jalan-jalan biasa ternyata dipandang Vincent sebagai sebuah risiko yang sama sekali tidak bisa ditoleransi.

Serina menundukkan kepala. "Maaf, Tuan. Aku salah." Serina menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat. "Aku tidak akan mengulanginya lagi."

Vincent menatapnya beberapa saat. "Aku harap begitu." Hanya itu. Tidak ada bentakan dan hukuman. Namun kalimat singkat itu justru terasa lebih berat.

Vincent berbalik.

"Tuan..." Langkah Vincent terhenti. "Aku benar-benar tidak bermaksud membuat Tuan khawatir."

Beberapa detik berlalu sebelum Vincent menjawab tanpa menoleh. "Yang kubutuhkan bukan penjelasan. Melainkan sikap." Setelah mengucapkan kalimat itu, ia melangkah pergi.

Serina masih berdiri di tempatnya. Dadanya terasa sesak. Ia sadar, menjadi pendamping Vincent bukan sekadar tinggal di rumah yang sama. Ada aturan-aturan yang belum ia pahami.

Dan hari ini, ia baru saja melanggar salah satunya.

Lalu bagaimana caranya untuk mendapatkan maaf darinya ?

Malam itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Hingga waktu makan malam tiba. Soraya telah menata hidangan di atas meja.

Viren turun dari lantai. Serina yang sejak tadi memegang amplop undangan sekolah mengembuskan napas pelan. Ia ragu. Namun cepat atau lambat, Vincent tetap harus mengetahuinya.

"Tuan..." Ia meletakkan amplop itu di samping piring Vincent. "Ini ada undangan dari sekolah Viren."

Vincent membukanya. Tatapannya menyusuri setiap baris tanpa perubahan ekspresi.

Hari Keluarga.

Orang tua atau wali murid diminta hadir mendampingi siswa.

"Ayah..." Vincent mengangkat kepala. Viren memegang erat sendok di tangannya. "Besok Ayah bisa datang?"

"Ayah akan usahakan."

Viren mengangguk pelan. "Kalau memang sibuk, tidak apa-apa. Biar Tante Serina yang datang."

Serina tersenyum. "Aku juga senang kalau bisa menemanimu."

Vincent melipat kembali surat undangan itu. "Kita datang."

Viren mengernyit. "Kita?"

"Ya." Vincent meletakkan amplop di atas meja. "Ayah datang." Tatapannya beralih kepada Serina.

"Dan kau ikut."

Serina tampak terkejut. "Aku?"

"Kau yang menerima undangan itu." Vincent berbicara datar. "Lagipula, sekolah mengundang orang tua atau wali."

Serina mengangguk pelan. "Baik, Tuan."

Viren memandang mereka bergantian. Entah mengapa, ada rasa hangat yang perlahan mengisi dadanya.

Besok... Untuk pertama kalinya sejak ibunya tiada, ia tidak akan datang ke sekolah sendirian.

1
Kayla Rane
Vincent kayak gak suka Ibunya. apa jangan² ada sesuatu dibalik itu
Kam1la
ibu tirinya Vincent...kak
Kayla Rane
neneknya viren kah? orangtuanya ibunya viren🤭
Kayla Rane
serina mah tipe cewek yang gak kegatelan mandiri juga. mungkin itu yg di sukai vincent🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Anonim
Heeemmm😍😍
Anonim
Semakin menarik 🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Kayla Rane
kereen
Anonim
Lanjut 🤭🤭🤭
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Iya, iya, yuk.
Tio Buki
Iya lengkaplah, kan udah tersedia
Tio Buki
Iya sama sama.
Tio Buki
Jangan tanya aku, aku juga tidak tau
Tio Buki
Minumlah
Tio Buki
Itu cuma secara kebetulan saja
Tio Buki
Itu kamar namanya, kalau rumah, ada diluarnya🤣🤣
Tio Buki
Biarkanlah
Tio Buki
Oh begitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!