Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA MISTERIUS
Kicau burung gereja di dahan pohon cedar menyambut pagi yang agak siang di Desa Oku-Nikko. Yukari mengerjap, lalu buru-buru melihat jam dinding di atas lemari.
"Aaghhh...aku kesiangan! "yukari sesaat menggeliat diatas tilamnya, menarik nafas panjang lalu bangkit dari tempat ternyaman dimuka bumi. ia mengusap wajah nya lalu mengambil ikat rambut mencempal rambut seadanya.
Yukari keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tengah. Suasana rumah terasa sepi sekali.
"Takagi-shan ....?" yukari melirik ke sekeliling ruang tidak ada sautan
Namun, begitu melirik ke atas meja makan, dia mendapati sarapan sudah tertata rapi di bawah tudung saji. Yukari tersenyum tipis. yukari menarik kursi nya
"Itadakimashu " yukari meraih sendok lalu melahap sarapan nya sambil habis . selesai makan yukari membilas piring kotor lalu masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, dengan rambut hitamnya yang masih basah, ia berjalan ke arah kamar takagi
Tok..! Tok... !
"Takagi-san... kau tertidur lagi??? "
SREeeggG
Ada suara seretan dari luar rumah, yukari sekilas melihat siluet orang dari halaman luar. ia berjalan ke arah pintu belakang sambil membawa handuk untuk dijemur di pekarangan sambil mencari sumber suara
Namun, tepat saat kepala menyembul pintu belakang yang terbuka dari tadi, gerakan Yukari mendadak terkunci.
dia melihat ada seorang pria asing sedang berdiri di halaman depan rumahnya. Pria itu memakai topi yang sengaja ditarik rendah ke bawah, menutupi sebagian besar wajahnya. Tubuhnya tegap, pakaiannya santai, tapi gerak-geriknya kelihatan sangat mencurigakan saat menatap ke sekeliling sudut bangunan.
Jantung Yukari langsung mencelos. Siapa orang itu?
Perasaan amannya langsung runtuh seketika. Oku-Nikko memang desa yang tenang, tapi bukan berarti tidak ada orang jahat yang mengincar rumah kayu tuanya yang terpencil ini. Yukari buru-buru menarik tangannya, menutup pintu belakang lalu memutar anak kunci pintu belakang selembut mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Klik.
Napas Yukari mulai memburu. Dia memberanikan diri mengintip lagi dari balik tirai. Sial, pria asing itu sekarang malah berjalan mantap memutari rumah, tepat menuju ke arah pintu belakang yang baru saja dia kunci!
Srek... srek...
Gagang pintu belakang di depannya mendadak bergerak-gerak kasar. Ada orang yang mencoba membukanya paksa dari luar.
Yukari spontan membekap mulutnya sendiri rapat-rapat dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetaran hebat di balik dinding.
Tok! Tok! Tok!
Pria di luar mengetuk-ngetuk pintu dengan ketukan keras yang terasa sangat mengancam di telinga Yukari. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, langkah kaki berat di luar kembali terdengar bergerak menjauh, memutar kembali ke arah depan rumah.
"Pintu depan!" bisik Yukari panik setengah mati.
Dengan sisa tenaga yang ada, Yukari berlari setengah berjinjit melewati koridor tengah. Begitu sampai di pintu depan, dia langsung mengunci selotnya dengan cepat. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Di saat-saat mencekam seperti ini, otaknya langsung mencari satu nama.
Takagi... kau Kenapa tidak bangun?
Yukari menoleh ke arah koridor kamar tamu, berharap pria itu sebenarnya ada di dalam. Dia baru saja berniat lari ke sana, tapi tiba-tiba teringat kalau selasar samping rumah masih terbuka lebar. Kalau pria asing itu lewat samping, dia bisa langsung masuk ke dalam tanpa hambatan.
Yukari memutar arah langkahnya, berniat menutup pintu geser selasar samping. Namun, baru saja dia mengambil beberapa langkah...
Sreeggg!
Pintu selasar samping sudah lebih dulu digeser kasar dari luar. Udara musim semi yang dingin langsung berembus masuk bersamaan dengan rasa takut yang memuncak di dada Yukari.
"Aaahkh!" Yukari menjerit spontan.
Seorang pria asing melangkah masuk ke dalam rumah tanpa melepas topinya. Jelas yukari tidak mengenal orang itu ia belum pernah bertemu Dan yang membuat darah Yukari mendadak terasa berhenti mengalir: pria itu memegang sebilah parang panjang di tangan kanannya.
"Kau... Kau siapa?! Jangan mendekat!" pekik Yukari dengan suara bergetar hebat.
Pria itu terus berjalan maju selangkah demi selangkah. Yukari yang sudah kehilangan akal sehatnya langsung berlari mundur kencang ke arah koridor dalam. Ia melempar barang apa pun yang bisa dilempar.
Dia menyudutkan tubuhnya, bersandar pasrah di depan pintu kamar tempat Takagi biasa tidur.
Dengan tangan gemetaran, Yukari menggedor pintu di belakang punggungnya tanpa melihat. "Takagi-san! Kau di dalam?! Takagi-san, tolong buka pintunya! Ada orang jahat! Takagi-saaan!"
Pria berparang itu kini sudah berdiri di ujung koridor, menatap lurus ke arahnya.
"Kau... di sini tidak ada barang berharga! Tolong pergi!" teriak Yukari histeris, air matanya mulai menggenang pecah. Karena pintu di belakangnya tidak kunjung terbuka, kaki Yukari mendadak lemas. Dia terduduk di lantai kayu, menekuk lututnya, lalu menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Takagi-san..." tangisnya pecah. "Tolong, jangan sakiti saya..."
Suasana mendadak hening selama beberapa detik. Tidak ada tebasan parang, tidak ada bentakan kasar. Yang terdengar justru suara helaan napas panjang yang sangat berat dari pria yang berdiri di depannya.
"Honami-san."
Yukari tersentak. Suara berat, dalam, dan berkarakter kaku itu... sangat dia kenal.
Perlahan, Yukari menurunkan kedua tangannya yang menutupi wajah. Dia mendongak dengan sisa air mata yang masih menggantung di bulu matanya.
Pria asing itu sudah menurunkan parangnya ke lantai. Dia mengangkat topinya tinggi-tinggi, memperlihatkan seluruh wajahnya yang kini bersih total tanpa ada brewok lebat yang biasanya menutupi rahang tegasnya. Rambut cokelatnya pun disisir sangat rapi duduk dihadapan yukari.
Melihat Yukari yang menangis sesenggukan di lantai sambil menatapnya melongo, sudut bibir pria itu berkedut geli. Sedetik kemudian, suara tawa renyah yang lepas meledak begitu saja dari mulutnya.
"Kau..." Yukari mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan penglihatannya tidak salah. "Kau... Takagi-san?!"
Takagi meredakan tawanya, walau sisa senyuman geli masih tercetak jelas di wajah tampannya.. "Maaf membuatmu kaget. Tadi aku mau memotong dahan pohon cedar di halaman samping yang sudah terlalu rimbun. Karena di luar agak silau, aku memakai topi ini."
Yukari mengusap sisa air matanya, lalu perlahan bangkit berdiri di ikuti oleh Takagi. Rasa takutnya yang sempat menguras tenaga kini mendadak berubah menjadi rasa jengkel yang luar biasa begitu sadar dirinya baru saja dikerjai.
Sambil melangkah maju, Yukari memajukan bibirnya, menatap Takagi dengan pandangan bete. "Takagi-san! Kau ini jahat sekali, tahu tidak!" serunya kesal. Tanpa sadar, tangan kecilnya mulai memukul-mukul dada bidang pria itu dengan gemas. "Kenapa juga harus gedor-gedor pintu belakang keras-keras seperti tadi? Kan bisa langsung panggil namaku saja dari luar biar aku hafal suaramu! Aku benar-benar mengira ada penjahat beneran!"
Pukulan-pukulan kecil Yukari sama sekali tidak membuat Takagi mundur. Pria itu justru menahan senyumnya, merasa bersalah sekaligus terhibur.
"Maaf, maaf," ucap Takagi pelan, berusaha menenangkan gadis di depannya. "Tadi pas kau teriak 'Kau siapa, jangan mendekat', sebenarnya aku mau langsung memanggil namamu. Tapi... melihat reaksimu yang panik begitu, sepertinya lucu kalau diteruskan sebentar." Takagi mengusap tengkuk nya. "Tapi begitu melihatmu sampai terduduk dan menangis, aku langsung tidak tega."
Mendengar pengakuan jujur itu, rasa bete Yukari makin menjadi. "Tuh, kan! Sengaja!" omelnya sambil memberikan satu pukulan yang agak keras di dada Takagi.
"Aduh," Takagi refleks meringis pelan sambil memegang dadanya, berpura-pura kesakitan.
Yukari langsung tersentak kaget. Tangannya menggantung di udara dengan wajah panik. "Ah! Maaf! Apa... apa pukulan tadi kena bekas lukamu?" tanyanya merasa bersalah, buru-buru ingin memeriksa.
Melihat kepanikan tulus gadis itu, Takagi malah terkekeh renyah. "Tidak, aku cuma bercanda. Lukanya sudah sembuh, kok." Dia lalu menatap Yukari dengan sorot mata yang jauh lebih lembut. "Maaf, ya. Aku janji tidak akan jahil begitu lagi."
Takagi mengalihkan pandangannya sesaat ke arah kaca wastafel, lalu menyentuh rahangnya yang licin. "Aku benar-benar tidak menyangka kau sampai sama sekali tidak mengenali wajahku. Hadiah yang kau berikan semalam... ternyata benar-benar sebuah keajaiban."
Dipuji secara tidak langsung begitu, giliran pipi Yukari yang mendadak merona merah. Rasa kesalnya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa canggung yang mendadak melanda. Dia kembali memberanikan diri menatap lekat wajah bersih Takagi yang terlihat sangat tampan di bawah cahaya pagi.
Sebuah senyuman manis perlahan terbit di bibir Yukari. "Lagipula... pakai brewok saja kau sebenarnya sudah kelihatan manis, Takagi-san. Dan sekarang setelah bersih begini... emm... kalau aku sih, yes," seloroh Yukari genit, mengutip jargon penilaian yang biasa ada di televisi.
Setelah menjatuhkan kalimat spontan yang bikin suasananya makin canggung itu, Yukari buru-buru berbalik badan dan berlari kecil masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan wajah yang sudah merah padam karena malu.
Blam! pintu kamar Yukari tertutup rapat.
Di koridor, Takagi berdiri mematung sendirian. Dia melongo, sama sekali tidak paham dengan maksud kalimat terakhir Yukari. Pria kaku itu cuma bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil bergumam bingung, "Maksudnya... yes apa?"
Karena tidak kunjung menemukan jawabannya, Takagi akhirnya menggelengkan kepala. Dia membungkuk untuk mengambil kembali parang dan topinya di lantai, lalu melangkah santai berjalan kembali menuju ruang belakang untuk melanjutkan pekerjaannya memotong dahan pohon cedar yang tertunda.