NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Panglima Singgalang

Lereng Gunung Singgalang memang dikenal sebagai tempat yang mendidik dengan cara yang keras dan tegas. Bukan hanya anginnya yang menusuk tulang, bukan hanya jalannya yang terjal dan berbatu, melainkan juga tantangan yang menguji setiap tetes keringat dan keteguhan hati siapa saja yang menapakinya. Di tempat itulah, selama berbulan-bulan lamanya, tiga anak berusia sekitar tigabelas tahun digembleng tanpa ampun. Mereka adalah Erwin Rasyad Chaniago, putra tertua dari keluarga tersebut, serta dua adik sepupu sekaligus murid ayahnya, Bhumi dan Bayu. Di bawah bimbingan Arlan Rasyad Sikumbang—paman sekaligus guru ilmu beladiri Silek Tuo Harimau—mereka harus menjalani latihan fisik yang terasa melampaui batas kemampuan anak seusia mereka. Karena keuletan dan ketangguhan mereka saat berlatih di lereng gunung, warga kampung sering menyebut mereka sebagai “Tiga Panglima Singgalang”.

Setiap pagi hingga sore, kaki mereka melangkah naik turun di atas tanah yang tidak rata, sesekali tergelincir di atas bebatuan licin atau menapak akar pohon yang menjulang. Lari di medan yang terjal membuat napas terengah-engah hingga terasa sesak di dada, sementara gerakan menahan tubuh untuk melakukan dorong tubuh di atas tanah yang dingin dan lembap menguatkan otot lengan dan bahu yang masih dalam masa pertumbuhan. Bukan hanya fisik yang ditempa, tetapi juga mental. Ketika kaki terasa gemetar hebat, tenaga seolah habis tersedot habis, dan keinginan untuk berhenti muncul berkali-kali di dalam hati anak-anak itu, di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Arlan tidak pernah membiarkan mereka menyerah, karena ia tahu bahwa ketangguhan yang sesungguhnya lahir dari ketekunan menahan rasa lelah dan rasa sakit.

Ketika matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi jingga kemerahan menyentuh puncak gunung, latihan hari itu akhirnya diakhiri. Dengan tubuh yang terasa berat seolah dipenuhi timah dan baju yang basah kuyup oleh keringat, ketiga anak itu turun menuju perkampungan di kaki gunung, menuju Pande Sikek, tempat tinggal dan pusat pengajaran ilmu silek. Jalan yang terasa berat saat mendaki, kini terasa lebih ringan saat dituruni, meski rasa lelah tetap menyelimuti setiap sendi tubuh mereka.

Baru saja salat selesai dan mereka mengucap salam, rasa lapar yang sedari tadi ditahan seketika meledak menjadi sangat mendesak. Rasanya bukan lapar biasa, melainkan lapar yang setara dengan beratnya mendaki lereng Gunung Singgalang. Tanpa banyak bicara, ketiganya langsung lari balapan menuju rumah, seolah-olah sedang berlomba memperebutkan hadiah terbesar. Napas mereka yang baru saja tenang kembali terpacu, kaki yang tadinya terasa lemas kini melangkah cepat seolah mendapat tenaga baru, didorong oleh perut yang terus berbunyi minta diisi.

Begitu sampai di halaman rumah dan membuka pintu ruang makan, mata mereka langsung menyala terang melihat hidangan yang sudah terhidang rapi di atas meja makan. Ada dua bakul nasi yang masih mengepulkan asap panas, tanda baru saja dimasak matang sempurna. Di sampingnya tergeletak dua panci besar yang ditutup rapat. Begitu tutup panci dibuka, terciumlah wangi rempah yang khas dan meresap hingga ke seluruh penjuru rumah: rendang daging sapi yang empuk, serta rendang hidung sapi dengan kuah santan yang kental dan penuh cita rasa khas Minangkabau.

Tanpa aba-aba dan tanpa basa-basi, Tiga Panglima Singgalang itu langsung beraksi. Tangan kanan menyendok nasi setinggi gunung, tangan kiri segera mengambil potongan rendang yang paling besar dan paling banyak bumbunya. Erwin dan Bhumi makan dengan sangat lahap, seolah belum makan selama seminggu. Bayu terlihat lebih kalap hingga bumbu rendang menempel di sudut bibir dan pipinya. Sedangkan Erwin, sebagai tuan rumah dan yang paling terbiasa dengan porsi makan besar, melahapnya dengan kecepatan paling kencang dari kedua Sepupunya. Suara kunyahan dan hembusan napas memenuhi ruangan, seolah makanan itu adalah hadiah terindah setelah seharian berjuang melawan lelah dan terik.

Hanya dalam waktu yang terasa sangat singkat, dua bakul nasi yang tadinya penuh meluap kini sudah kosong melompong. Panci rendang daging hanya menyisakan tulang-tulang bersih yang sudah terlepas seluruh dagingnya. Sementara panci rendang hidung sapi pun tidak kalah nasibnya, tersisa hanya lapisan bumbu kental yang menempel tipis-tipis di dinding dan dasar panci saja. Tidak ada sisa makanan sedikit pun yang tersedia. Setelah merasa tidak bisa menelan lagi, mereka berjalan terhuyung-huyung ke teras, merebahkan badan di atas tikar pandan sambil memegang perut yang terasa membulat sempurna. Bagi mereka saat itu, misi hari itu sudah selesai: salat, makan sampai kenyang, lalu beristirahat dengan tenang.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tidak lama kemudian, muncullah Ainun Rasyad Chaniago, adik perempuan Erwin yang baru berusia Tujuh tahun. Ia baru pulang dari bermain bersama teman-temannya, perutnya terasa kosong dan ia sudah membayangkan bisa menikmati makanan kesukaannya. Dengan langkah riang ia masuk ke dapur, namun senyum di wajahnya langsung hilang saat melihat meja makan yang sudah bersih dari hidangan. Yang tersisa hanyalah tumpukan piring kotor dan panci yang sudah tandas isinya.

Hati Ainun pun terasa sedih, matanya berkaca-kaca, lalu ia menangis keras sambil berteriak memanggil ibunya.

“Mamak… nasi habis Mak… rendang habis Mak… Ainun lapar Mak…” sambil menunjuk dengan jari mungilnya ke arah teras tempat ketiga kakaknya sedang bersantai dengan perut kenyang.

Mendengar suara tangisan itu, Sarlina Wati Chaniago—ibu Erwin sekaligus bibi bagi Bhumi dan Bayu—segera keluar dari kamar. Wajahnya tegas namun tetap penuh pengertian, bukan marah meledak-ledak. Ia langsung mengerti siapa pelakunya. Tanpa banyak bicara, Mak Sarlina meraih seikat sapu Ijuk yang sudah menjadi “senjata andalan” di rumah itu.

“Erwin!Bhumi! Bayu Kamari Baratiang(Erwin! Bhumi! Bayu! Kemari kalian bertiga)!” teriaknya dengan suara yang cukup keras namun tetap terkendali.

Mendengar suara itu, ketiganya langsung tersentak dan membeku. Mereka saling pandang dengan mata terbelalak, lalu segera berusaha menghindar sebelum didekati. Mulailah adegan yang terlihat sangat lucu dan menggelikan: Erwin melompat ke kiri tapi tetap kena sabetan di paha belakang; Bhumi berusaha mundur terhalang tiang teras dan kena di betis; Bayu berputar cepat menghindar namun gagang kayu sapu ijuk tetap melayang dan menyentuh kakinya. Semakin mereka lompat dan berusaha menghindar, justru semakin sering terkena sabetan yang ringan namun terasa perih di kulit.

"Kano lai! Lompak taruih sajo, baiak makin taraso! Iko balasan dek talampau tamak sampai indak disisokan saikek pun!(Kena lagi! Lompat terus saja, biar makin terasa! Ini balasan karena terlalu rakus sampai tidak menyisakan sedikit pun!)” teriak Mak Sarlina sambil tetap mengayunkan Gagang kayu sapu ijuk dengan santai namun tepat sasaran kena betis kadang Paha ketiga nya.

Ketiganya melompat-lompat seperti anak kambing yang sedang dikejar, sesekali berteriak minta ampun sambil memegang bagian tubuh yang terasa perih. Pemandangan itu membuat tetangga yang melihat dari luar pagar tertawa terbahak-bahak.

"Waduh, Tigo Panglimo Singgalang nan gagah di gunuang, giliran dikeja gagange sapu ijuak jadi lincah malompek! Elok juo caro mandidiaknyo(Waduh, Tiga Panglima Singgalang yang gagah di gunung, giliran dikejar gagang sapu ijuk jadi lincah melompat! Bagus juga cara mendidiknya)!”

Setelah beberapa saat berlari mengelilingi halaman dan kehabisan napas, akhirnya mereka berhenti dan berdiri tertunduk malu sambil sesekali mengusap betis yang masih terasa panas. Di saat itu Arlan Rasyad Sikumbang yang Awalnya tertawa kecil melangkah mendekat, menenangkan suasana dan memberi petunjuk.

"Erwin jo Bhumi ambiak kunci sepeda motor. Pai lah ka kedai makan di ujuang kampuang, belian sajo apo sajo nan disukoi adiak angku—nasi anget, lauak nan lamak, jo kamilan nan inyo suko. Jan pulang sabalun paruiknyo isi jo senyuman inyo muncua baliak(Erwin Dan Bhumi ambil Kunci sepeda motor. Pergilah ke kedai makanan di ujung kampung, belikan apa saja yang menjadi kesukaan adikmu—nasi hangat, lauk yang enak, dan camilan yang dia suka. Jangan pulang sebelum perutnya terisi dan senyumnya kembali muncul.)”Kata Arlan Rasyad Sikumbang sambil tersenyum Geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Anak dan keponakannya.

Erwin dan Bhumi segera mengangguk patuh, mengambil kunci motor, lalu melaju pergi dengan cepat. Tak lama kemudian ia kembali membawa bungkusan makanan yang cukup banyak dan masih hangat mengepul. Begitu dibuka dan diletakkan di hadapan Ainun, tangisnya segera mereda dan senyum polosnya kembali merekah saat mulai menyantap makanannya dengan lahap.

Malam itu, ketiganya benar-benar mengerti pelajaran berharga: rasa kenyang memang nikmat, tetapi lebih nikmat lagi jika semua anggota keluarga dapat menikmatinya bersama. Jika mereka tidak ingat untuk menyisakan bagian orang lain, maka Ainun bakal jadi korban kelaparan pada makan malam Seterusnya hanya karena ulah Tiga Panglima Singgalang yang terlalu kelaparan stadium Akut.Tapi Tiga Panglima lereng gunung Singgalang ya tetap Panglima lereng Gunung Singgalang Pikir Bibinya.Bayu Tetap Dilatih Bibinya Menghindari Serangan Jurus Gagang Kayu Sapu Ijuk Oleh Bibinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!