Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11 Putus Segala Ikatan
"Kak Bastian... apakah itu kau?" lirihnya dengan suara yang sangat lemah dan bergetar.
Meskipun sudah disakiti dan dikhianati berkali-kali, Ayla masih saja menyimpan secuil harapan di dasar hatinya bahwa masih ada anggota keluarga yang peduli padanya.
Sosok itu perlahan mendekat ke arah Ayla. Di dalam kegelapan yang masih menyelimuti ruangan itu, Ayla belum bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang datang pagi-pagi sekali ke tempat pengap ini.
"Apakah kau berharap kakak-kakakmu itu akan datang menjengukmu?" ucap seseorang, yang tak lain adalah Alena.
Alena kemudian menyalakan cahaya lampu dari ponselnya. Di tangan satunya, ia membawa semangkuk nasi panas yang masih mengepulkan asap.
"Alena... mau apa kau ke sini?" tanya Ayla, merasa ketakutan melihat kedatangan gadis itu.
"Tentu saja aku datang untuk memberimu makan. Kau pasti sudah sangat lapar, kan?" ucap Alena santai, lalu berjongkok tepat di hadapan Ayla. Ia mengarahkan cahaya senter ponselnya tepat ke wajah Ayla yang tampak kucel, pucat, dan sangat menyedihkan.
"Kau tidak sebaik itu... pasti ada maunya," jawab Ayla lemah, tubuhnya sama sekali tak memiliki tenaga untuk bergerak.
"Haha... kau memang mengenalku dengan baik. Tapi hari ini aku berniat berbaik hati, karena sebentar lagi kau akan dikirim pergi jauh dari keluarga Gunawan, dan Reyhan akan menjadi milikku sepenuhnya," ucap Alena dengan nada suara yang terdengar lembut namun sangat menusuk dan menyakitkan.
"Alena, jangan... aku mohon padamu, tolong jangan ambil Kak Rey dariku! Kau sudah berhasil merebut Kak Adnan, Kak Bastian, Mama, Papa, serta seluruh harta keluarga ini... tolong, jangan ambil dia juga dariku," ucap Ayla memelas, air matanya mulai menetes kembali.
"Ayla, kau pikir aku bisa merebut Reyhan jika dia sendiri tidak menginginkannya? Kau harus mendengar ini baik-baik," ucap Alena sambil tersenyum miring, lalu menempelkan ponselnya tepat di dekat telinga Ayla setelah menyalakan sebuah rekaman suara.
Beberapa menit berlalu...
Tubuh Ayla semakin gemetar hebat dan rasa sakit di seluruh tubuhnya semakin menjadi-jadi setelah mendengar suara yang terekam itu. Suara yang sangat ia kenali sebagai suara Reyhan—laki-laki yang selama ini ia percaya dan ia cintai dengan sepenuh hati—ternyata berniat meninggalkannya serta berencana mengakhiri hubungan mereka.
“Kau dengar sendiri, kan? Bagaimana laki-laki yang kau cintai itu akan segera meninggalkanmu dan menjadi milikku. Papa dan Mama juga sudah berencana menjodohkan Reyhan denganku tepat saat pesta ulang tahunku nanti,” ucap Alena sambil tersenyum lebar, penuh kemenangan.
“Kenapa?! Kenapa kau sekejam ini padaku! Apa salahku padamu?! Apa kesalahanku sehingga kau tega melakukan hal yang begitu kejam ini?!” seru Ayla sambil mencengkeram lengan Alena dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Lepaskan! Salahmu? Apa ini salahku? Hanya kau yang tahu alasannya. Kau sendirilah yang menyebabkan ibuku meninggal dunia, dan sudah sewajarnya aku mengambil semua yang kau miliki sebagai gantinya,” bentak Alena, lalu mendorong tubuh kurus Ayla hingga terbentur keras ke dinding ruangan.
“Tidak! Aku tidak pernah melakukannya…” tangis Ayla memelas, hatinya hancur berkeping-keping mendengar tuduhan itu.
“Sebaiknya kau lebih patuh saja. Jangan banyak melawan. Semakin kau berontak, semakin kau akan menderita. Sekarang, makanlah ini,” ucap Alena dingin. Ia kemudian memaksa membuka mulut Ayla dan menyuapkan nasi panas itu secara paksa.
Tak sanggup lagi menahan amarah yang meluap-luap di dada, Ayla pun mengumpulkan sisa tenaga yang tersisa, lalu dengan sekuat tenaga mendorong Alena menjauh darinya.
Prang…
Mangkuk kaca kecil yang sedang dipegang Alena terlepas dan jatuh ke lantai, pecah berantakan. Suara benda itu memecah keheningan, terdengar sangat jelas hingga ke seisi rumah, membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan segera berlari menuju sumber suara itu—ruangan tempat Ayla dikurung.
Menyadari bahwa seluruh keluarga akan segera datang, Alena bertindak cepat. Ia langsung duduk bersandar di dinding, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri menjadi berantakan. Tak hanya itu, ia juga mengambil serpihan kaca kecil dari mangkuk yang pecah tadi, lalu dengan sengaja menggoreskan benda tajam itu ke kulit tangannya hingga berdarah.
“Ada apa ini?!” seru Mama Tina, yang tiba lebih dulu di depan pintu ruangan itu.
“Alena! Kau baik-baik saja?!” tanya Adnan, yang segera bergegas menghampiri dan membantu Alena berdiri.
“Ma… Kak… Aku hanya berniat baik ingin membawakan makanan untuk Ayla, tapi dia malah…” ucap Alena, tak menyelesaikan kalimatnya. Ia menundukkan wajah, seolah-olah sangat sedih dan takut, sementara darah segar terus menetes dari luka di tangannya.
Sementara itu, Ayla yang sudah sangat paham dengan sandiwara kotor semacam ini, hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga gaun yang ia kenakan terlipat berantakan. Ia berusaha menahan segala rasa sakit, marah, dan kecewa yang bercampur aduk di dalam dadanya.
“Sudah kubilang berulang kali kalau kau sama sekali tak perlu mempedulikan perempuan gila seperti dia! Lihat sekarang, kau sampai terluka begitu!” ucap Papa Bayron yang baru saja tiba di sana, menatap Ayla dengan pandangan penuh kebencian.
“Ayla! Kenapa kau ini sama sekali tidak berubah?! Kenapa kau terus-menerus bertingkah gila begini?! Kalau begitu, sepertinya kepergianmu ke keluarga Aditama harus segera kami percepat!” ucap Bastian, yang menyaksikan adegan palsu itu dan justru menuduh adiknya sendiri.
“Sudahlah, ayo Alena. Kakak antarkan kau berobat,” ucap Adnan dengan nada lembut, lalu membawa Alena pergi meninggalkan ruangan pengap itu, diikuti oleh Papa Bayron.
“Anak sialan! Kalau sampai ada apa-apa dengan Alena, atau lukanya parah, ingat saja! Aku akan memotong habis rambutmu sampai botak!” ancam Mama Tina dengan suara tinggi, lalu pergi menyusul yang lain sambil melontarkan kata-kata kasar dan menyakitkan.
“Percuma saja aku bicara. Mereka tidak akan pernah percaya padaku. Sepertinya, di keluarga ini aku benar-benar sudah tidak punya tempat lagi,” batin Ayla, hatinya semakin mati rasa.
Semua orang di sini membencinya. Dulu, ia masih bisa bertahan hidup dan menanggung semua penderitaan ini karena ada Reyhan—laki-laki yang selalu ada di sisinya, yang menjadi sandaran dan penyemangat terbesarnya. Namun, setelah mendengar rekaman suara itu tadi, Ayla sadar sepenuhnya: tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tulus menyayanginya. Semua kebaikan yang ia rasakan selama ini hanyalah kepalsuan belaka.
“Kak Bastian…” lirih Ayla, menatap wajah kakak pertama nya yang masih berdiri diam di hadapannya.
“Ada apa lagi? Aku harus segera melihat keadaan Alena. Sebaiknya bicaralah yang wajar, jangan sampai membuatku semakin marah padamu,” ucap Bastian ketus, wajahnya masih tampak kesal.
“Aku setuju. Aku akan pergi,” jawab Ayla dengan suara yang sangat pelan namun tegas.
Seketika, raut wajah Bastian berubah menjadi cerah dan penuh kelegaan mendengar pernyataan itu. Ia segera berjongkok di depan Ayla dan memegangi kedua bahu adiknya.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya