NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Musim hujan kembali menyapa Kota Senja. Langit kelabu mendung hampir setiap hari, air deras mengguyur atap-atap rumah, menciptakan irama tetesan yang konstan. Di rumah kecil yang hangat itu, suasana begitu damai, kontras dengan alam di luar.

Sari Dewi, putri kecil Arya dan Naya, kini sudah berusia satu tahun. Bayi itu tumbuh luar biasa cerdas, ceria, dan cantik luar biasa. Ia memiliki mata besar berwarna cokelat madu persis ibunya, tapi tatapan tajam dan rasa ingin tahu yang kuat persis ayahnya. Malam ini, anak itu sudah terlelap pulas di buaiannya, mulutnya sedikit terbuka, tanggenggam erat kain boneka beruang usang pemberian Kakek Hadi dulu.

Naya duduk di sofa ruang tengah, menyulam selimut bayi baru, sementara Arya sedang sibuk di meja kerja, mengurus berkas-berkas arsitektur proyek barunya. Hidup mereka tenang, sederhana, dan bahagia. Nama Wijaya sudah lama mereka buang. Mereka kini dikenal sebagai keluarga Arya Pratama. Bersih, sederhana, dan bebas.

Namun malam ini, perasaan Naya gelisah. Sejak sore tadi, hatinya berdebar tidak enak. Perasaan itu asing, tapi familier. Perasaan yang dulu selalu muncul saat bahaya sedang mendekat. Ia menghentikan jahitannya, menatap jendela kaca yang berkabut air hujan. Jalanan di luar sepi, lampu jalan bergoyang tertiup angin kencang.

"Arya..." panggil Naya pelan, suaranya bergetar.

Arya langsung menoleh, peka terhadap setiap nada suara istrinya. Ia meletakkan pulpennya, segera duduk di samping Naya, merangkul bahu istrinya.

"Ada apa, Sayang? Kamu pucat sekali," tanyanya cemas.

"Aku... aku nggak tahu. Tiba-tiba dada aku sesak. Rasanya... rasanya ada yang mengawasi kita. Rasanya seperti dulu. Seperti saat Bimo dan Ayah sedang mengintai," bisik Naya, matanya mencari-cari sesuatu di kegelapan luar jendela.

Arya mengerutkan kening. Ia sendiri sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Sejak seminggu terakhir, ia merasa ada mobil hitam yang sama selalu lewat di depan rumahnya. Kadang ia merasa ada bayangan bergerak di pinggir jalan saat ia pulang kerja. Ia pikir itu hanya paranoia, trauma masa lalu. Tapi melihat reaksi Naya, instingnya sebagai mantan buronan langsung bangkit.

"Tenang. Tidak ada yang bisa masuk ke sini. Semua pintu terkunci, alarm terpasang, dan aku sudah pasang kamera di sekeliling halaman," bisik Arya menenangkan, meski tangannya kini mengepal tegang. "Mungkin cuma trauma lama. Badai besar bikin suasananya mencekam."

Naya mengangguk pelan, mencoba percaya, tapi matanya tetap tidak lepas dari jendela.

Tiba-tiba, telepon rumah mereka berdering.

Triing... Triing...

Suara itu nyaring dan tajam membelah keheningan malam hujan. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.45. Jam-jam mati. Jam-jam di mana orang normal tidak menelepon.

Arya dan Naya saling pandang. Ada hawa dingin yang menjalar di tulang belakang mereka. Siapa yang menelepon di jam segini?

Arya bangkit perlahan, berjalan ke meja telepon. Ia mengangkat gagang telepon, menempelkannya ke telinga, tapi tidak langsung bicara.

"Halo..." suara Arya rendah, waspada.

Di ujung sana, hanya terdengar suara desis statis dan suara gemuruh guntur jauh. Lalu, terdengar suara napas berat, terengah-engah, kasar, dan penuh rasa sakit. Suara seseorang yang sedang sekarat.

"Arya..." suara itu serak, pecah, dan nyaris tak terdengar. Tapi Arya mengenalinya. Darah di tubuhnya langsung membeku.

"Pak Darma?!" seru Arya kaget. Pak Darma. Pengusaha tua itu. Orang yang dulu membantu mereka, yang mengadakan malam puncak di klub Kota Lama, orang yang menjadi saksi utama dan pelindung mereka saat itu.

"Arya... cepat... lari..." suara Pak Darma tersendat, diselingi batuk darah yang terdengar jelas lewat telepon. "Mereka... mereka bukan cuma Bimo... bukan cuma Wijaya... ada yang lain... lebih besar..."

"Siapa, Pak?! Siapa yang lain?! Di mana Bapak?!" Arya menekan telepon erat-erat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Rumahku... diserang... sejak tadi malam... aku pikir aman... ternyata tidak..." Pak Darma terbatuk hebat, suara langkah kaki berat terdengar di latar belakang telepon. "Dengar aku, Nak! Dengar baik-baik! Hendrawan Wijaya... dia punya anak lain."

Jantung Arya serasa berhenti berdetak. Ia melirik Naya yang sudah berdiri di sampingnya, mendengar percakapan itu dengan mata melotot ngeri.

"Apa maksud Bapak anak lain? Naya anak tunggal!" bentak Arya tak percaya.

"Anak laki-laki..." bisik Pak Darma, suaranya makin melemah, nyaris berbisik. "Dari wanita lain. Selingkuhan pertamanya. Lahir dua tahun sebelum Naya. Dia disembunyikan. Diberi nama Raga. Raga Wijaya. Dia dibesarkan di luar negeri, dilatih, dididik, dibentuk khusus... untuk satu tujuan: Membalaskan dendam ayahnya. Dia tahu semuanya, Arya. Dia tahu kamu, dia tahu Naya, dia tahu Sari Dewi... Dia pulang ke sini dua bulan lalu. Dan dia bersumpah, dia tidak akan berhenti sampai darah kalian mengalir di tanah."

KRAS!!!

Suara benturan keras terdengar di ujung telepon, diikuti suara teriakan pendek Pak Darma, lalu suara CESSSS seperti pisau menusuk daging basah. Lalu... diam. Telepon terputus.

Tuuuut... Tuuuuut...

Arya menjatuhkan gagang telepon itu. Ia berdiri kaku, wajahnya pucat seolah melihat hantu.

"Anak lain..." bisik Naya gemetar, kakinya lemas hingga ia harus bersandar di dinding. "Ayah punya anak laki-laki? Kakak kandungku? Yang aku bahkan tidak pernah tahu keberadaannya?"

"Hendrawan sialan itu... dia benar-benar menyembunyikan segalanya sampai ke akar-akarnya," geram Arya, matanya merah padam menahan amarah dan ketakutan. "Dia tahu dia mungkin gagal, dia tahu dia mungkin jatuh. Jadi dia siapkan cadangan. Dia siapkan senjata pamungkas. Anak laki-laki yang dididik bukan untuk jadi manusia, tapi jadi mesin pembunuh dan pembalas dendam."

Tiba-tiba, LAMPU DI SELURUH RUMAH PADAM.

Kegelapan total menyergap mereka. Hanya cahaya samar kilat petir dari luar yang sesekali menerangi ruangan. Suara guntur menggelegar hebat, seolah langit mau runtuh.

"Arya..." jerit Naya pelan, tangannya langsung mencari pegangan suaminya.

"Shhh... diam," bisik Arya di telinga Naya, menarik istrinya ke belakang tubuhnya, posisi melindungi. Telinganya menangkap suara-suara halus di luar.

Suara ranting patah.

Suara sepatu kulit basah menginjak genangan air.

Suara gesekan besi halus... kunci pintu depan sedang diputar dari luar.

Alarm yang dipasang Arya... tidak berbunyi. Artinya, sistemnya sudah dinonaktifkan dari jarak jauh. Musuh ini bukan amatiran. Dia ahli. Dia profesional.

Pintu depan perlahan terbuka. Tidak berdecit. Diam-diam.

Di ambang pintu yang gelap itu, berdiri sesosok tinggi besar. Siluetnya tegak, bahunya lebar, posturnya persis seperti Hendrawan muda. Di balik kegelapan, sepasang mata bersinar tajam, dingin, dan kejam. Mata yang sama persis dengan mata ayahnya, tapi tanpa sedikit pun rasa manusiawi.

Angin hujan basah bertiup masuk, membawa bau tembakau mahal dan parfum maskulin yang tajam—bau yang dulu selalu melekat di tubuh Hendrawan Wijaya.

"Selamat malam, Adikku sayang..."

Suara itu. Suara berat, rendah, tenang, namun dingin menusuk tulang, terdengar dari bibir siluet itu. Suara yang persis seperti nada bicara Hendrawan.

Naya merinding sampai ke tulang sumsum. Darah mengalir dingin di nadinya.

"Siapa kamu?!" bentak Naya, suaranya bergetar tapi berani.

Siluet itu melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya, memotong satu-satunya jalan keluar utama. Cahaya kilat menyambar lagi, sesaat menerangi wajah pria itu.

Wajah itu... luar biasa tampan, sempurna, tajam. Hidung mancung, rahang tegas, kulit bersih, rambut hitam klimis. Dia terlihat persis seperti Naya, tapi versi laki-laki, lebih keras, lebih tajam, lebih berbahaya.

Dia adalah Raga Wijaya.

Usianya sekarang 23 tahun. Dua tahun lebih tua dari Naya. Matanya menatap Naya dengan tatapan campuran aneh: benci, jijik, tapi juga obsesi.

"Kamu tidak mengenaliku, Naya? Padahal darah kita sama. Darah monster yang sama," gumam Raga pelan, tersenyum miring yang mengerikan. Ia memegang pisau lipat panjang di tangan kanannya, memainkannya dengan jari-jarinya yang lincah. "Ayahku menghabiskan sisa napasnya di penjara, setiap hari dia cuma menyebut tiga nama: Arya, Naya, dan Sari Dewi. Tiga nama yang menghancurkan hidupnya. Tiga nama yang harus musnah untuk menebus kehormatan keluarga Wijaya."

"Dia bukan ayahmu! Dia pembunuh! Dia penjahat!" seru Naya, amarahnya mulai mengalahkan rasa takutnya.

Raga tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya.

"Bagiku, Ayah adalah Dewa. Dia sempurna. Dia hebat. Dia cuma kalah karena dia terlalu lembut, terlalu percaya pada cinta dan perasaan. Aku tidak seperti dia. Aku tidak punya hati. Aku tidak punya perasaan. Aku dididik untuk satu hal: Menang, atau mati. Dan malam ini, aku menang."

Matanya kemudian beralih ke Arya. Tatapannya berubah menjadi kebencian murni, hitam pekat, membunuh.

"Dan kamu... Arya Pratama. Anak dari pelacur pengkhianat, Dewi. Kamu adalah sumber dari semua malapetaka. Ibumu yang bikin ayahku gila. Kamu yang bikin ayahku masuk penjara. Kamu yang curi harta, nama, dan adikku." Raga menggeram rendah, maju selangkah mendekat. "Kamu pikir kamu hebat? Kamu pikir kamu pahlawan? Kamu cuma sampah yang beruntung."

Arya maju melangkah satu langkah ke depan, menghadang Raga, memblokir jalan menuju Naya dan kamar bayi di belakang. Ia tidak punya senjata, tapi ia punya kemarahan, keberanian, dan naluri pelindung yang kuat.

"Kamu salah, Raga. Kamu tidak membalaskan dendam. Kamu cuma jadi boneka. Boneka dari orang tua yang gagal, orang tua yang jahat, orang tua yang sudah kalah. Dan dengar aku... selama aku masih bernapas, kamu tidak akan pernah menyakiti satu helai rambut pun dari istriku atau anakku," ancam Arya dingin, suaranya rendah namun mematikan.

Raga menyeringai makin lebar.

"Berani. Aku suka. Sama seperti ibumu. Sama seperti Naya. Berani tapi bodoh."

Tiba-tiba, Raga bergerak. Gerakannya cepat, licin, dan terlatih. Ia melompat maju, pisau di tangannya menyambar ke arah leher Arya. Arya yang sudah siap, cepat mengelak, pisau itu hanya menyobek kemejanya dan melukai sedikit kulit bahunya.

"ARYA!!!" jerit Naya histeris.

"BAWA SARI DEWI LARI! LEWAT JENDELA BELAKANG! KE RUMAH PAK RT!" teriak Arya sekuat tenaga saat ia dan Raga bergulat, saling banting, saling cekal di tengah kegelapan ruang tamu yang sempit.

Naya ragu sedetik, melihat suaminya bertarung nyawa melawan kakaknya sendiri—pria yang sama hebat, sama kuat, sama cerdas, tapi jauh lebih kejam. Ia melihat darah Arya menetes di lantai. Ia tahu Arya tidak akan bisa menahan Raga lama.

Naya berlari secepat kilat ke kamar belakang, mengangkat Sari Dewi yang mulai menangis ketakutan karena keributan. Ia membungkus tubuh mungil putrinya dengan selimut tebal, lalu berlari ke arah jendela dapur belakang. Ia mendobrak jendela itu, melompat keluar ke halaman belakang yang becek dan penuh genangan air hujan.

Hujan deras langsung membasahi tubuhnya. Dingin menusuk tulang. Naya berlari tanpa alas kaki, memeluk erat bayinya, air mata dan air hujan bercampur di wajahnya.

"Maafkan aku, Arya... Maafkan aku..." isaknya dalam hati.

Di dalam rumah, pertarungan makin brutal. Arya adalah pria yang kuat, tangguh, dan berani, tapi Raga adalah prajurit terlatih, dibesarkan di lingkungan keras, diajar bela diri sejak kecil, diajar cara membunuh tanpa rasa bersalah. Arya sudah dipukuli berkali-kali, bibirnya pecah, matanya lebam, darah mengalir dari hidung dan telinga. Tapi ia tidak menyerah. Ia bertahan. Ia harus memberi waktu bagi Naya untuk kabur.

"Kamu lemah!" ejek Raga, menendang perut Arya sampai pemuda itu terbatuk darah dan terlempar menabrak meja kaca yang pecah berkeping-keping. "Kamu cinta mereka, kan? Itu kelemahan terbesarmu. Ayahku juga begitu. Dia cinta ibumu, dia cinta Naya, dan itulah yang bikin dia jatuh. Aku tidak punya kelemahan. Aku tidak cinta siapa-siapa. Jadi aku tidak akan pernah jatuh!"

Raga mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, siap menusuk tepat ke jantung Arya.

"Selamat jalan, Pahlawan Sialan."

DOOORRR!!!

Suara tembakan meledak memecah suara hujan dan guntur. Suara itu nyaring, tajam, dan dekat sekali.

Pisau di tangan Raga terlempar, terbang ke udara, lalu jatuh berdentang di lantai. Bahu kanan Raga berlubang, darah segar memancur deras. Raga meringis kesakitan hebat, mundur terhuyung, menatap sumber suara itu dengan mata tak percaya.

Di ambang pintu yang terbuka lebar, diterangi lampu sorot mobil polisi dari luar, berdiri sosok tua, kurus, bungkuk, pucat, dengan kacamata yang retak, memegang pistol revolver tua yang berasap di tangan gemetar.

Hendrawan Wijaya.

Pria itu keluar penjara lebih awal karena kondisi kesehatannya yang kritis. Ia sakit parah, paru-parunya rusak, jantungnya lemah, wajahnya penuh kerutan, terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usianya. Ia baru saja sampai, dibawa oleh pengawal terakhirnya yang masih setia, mendengar kabar anaknya menyerang rumah Arya.

"Ayah..." bisik Raga tak percaya, menatap ayahnya yang baru saja menembaknya. "Kenapa... Kenapa Ayah tembak aku?! Aku lakukan ini... demi Ayah!"

Hendrawan terbatuk hebat, darah keluar dari mulutnya. Ia melangkah masuk susah payah, kakinya gemetar, menatap putra pertamanya dengan tatapan kecewa, marah, dan jijik.

"Demi aku?!" geram Hendrawan parau, suaranya pecah. "Kamu pikir aku ingin ini?! Kamu pikir aku ingin darah anakku sendiri mengalir?! Kamu bodoh, Raga! Kamu bodoh sama seperti aku!"

Hendrawan berjalan mendekat ke arah Raga yang jatuh berlutut kesakitan di lantai. Ia menunjuk ke arah Arya yang terkapar penuh darah.

"Lihat dia! Lihat Arya! Dia rela mati demi Naya! Dia rela mati demi anaknya! Itu cinta, Raga! Itu hal yang aku cari selama hidupku tapi aku tidak pernah bisa dapatkan! Aku jahat, aku gila, aku penjahat, tapi aku tidak pernah ingin membunuh Naya! Naya adalah bagian dari Sari! Naya adalah satu-satunya hal indah yang tersisa dari hidupku yang busuk ini!"

Hendrawan menangis. Pria monster itu, yang membunuh istrinya sendiri, yang menyiksa orang lain, kini menangis di depan anak-anaknya.

"Aku mendidik kamu untuk melindungi nama baik, bukan untuk jadi pembunuh gila! Aku bilang balaskan dendam dengan kuasa, dengan uang, dengan kecerdasan! Bukan dengan pisau di tengah malam seperti penjahat rendahan! Kamu hancur, Raga! Kamu sama rusaknya seperti aku!"

Raga menatap ayahnya dengan tatapan hancur. Dunia yang ia bangun, keyakinan yang ia pegang teguh selama 23 tahun, runtuh seketika. Ayahnya, dewa-nya, idolanya, ternyata tidak menginginkan apa yang ia lakukan. Ia ternyata salah. Ia ternyata monster yang bahkan monster aslinya pun jijik padanya.

"Jadi... semua yang aku lakukan... sia-sia?" bisik Raga, air mata bercampur darah di wajahnya.

Hendrawan mengangguk lemah. Ia lalu berbalik menatap Arya. Tatapan pria tua itu kini berbeda. Tidak ada lagi benci, tidak ada lagi cemburu. Hanya ada rasa lelah, penyesalan mendalam, dan rasa hormat yang aneh.

"Arya..." panggil Hendrawan parau. "Kamu menang. Kamu benar-benar menang. Kamu punya apa yang aku tidak pernah punya: Kehormatan, hati nurani, dan cinta sejati. Tolong... jaga Naya. Jaga cucuku. Jaga mereka dari sisa kegelapan keluargaku. Aku mohon... sebagai ayah yang gagal."

Hendrawan lalu berjalan mendekati Raga. Ia memeluk bahu anak laki-lakinya yang terluka itu, menariknya berdiri.

"Kita pergi, Nak. Kita pergi. Ini bukan tempat kita lagi. Kita orang-orang masa lalu. Kita sampah yang seharusnya sudah dikubur."

Hendrawan menatap Arya terakhir kali, tatapan perpisahan yang panjang, lalu ia membawa Raga—yang masih terpukau dan pasrah—keluar dari rumah itu, menyerahkan diri bersama anaknya ke arah pasukan polisi yang kini memenuhi pekarangan rumah, sirene meraung di tengah hujan lebat.

Arya terbaring sendirian di lantai berdarah. Ia mendongak, melihat Naya berlari masuk kembali, meletakkan Sari Dewi yang menangis kencang di sofa, lalu langsung berlutut di samping suaminya, memeluk kepala Arya ke dadanya, menangis histeris.

"Arya! Ya Tuhan, Arya! Kamu hidup! Kamu hidup!" jerit Naya, membasuh wajah penuh darah suaminya.

Arya tersenyum lemah, tangannya gemetar menyentuh pipi istrinya.

"Kita... kita selamat lagi, Sayang..." bisiknya parau, lalu matanya perlahan tertutup karena kelelahan hebat dan hilang banyak darah.

 

3 Hari Kemudian

Berita besar kembali mengguncang Kota Senja. Hendrawan Wijaya, mantan taipan jahat yang dipenjara, menyerahkan diri bersama anak haramnya, Raga Wijaya, yang ternyata adalah dalang serangkaian pembunuhan dan teror baru. Raga divonis penjara seumur hidup, sama seperti ayahnya. Sementara Hendrawan, karena kondisinya yang sudah sangat kritis dan pengakuan dosa terakhirnya, diizinkan menjalani sisa hidupnya di rumah sakit penjara dengan pengawasan ketat.

Kali ini, benar-benar tidak ada lagi ancaman. Akar kejahatan terakhir sudah dicabut.

Sore itu, matahari bersinar cerah, hangat, dan damai. Hujan sudah berhenti sepenuhnya. Di makam umum kota, Arya dan Naya berdiri di depan dua batu nisan sederhana.

Satu untuk Pak Hadi.

Satu lagi untuk Pak Darma.

Mereka meletakkan bunga segar di sana. Naya menggendong Sari Dewi yang sedang tertawa riang melihat kupu-kupu terbang.

"Terima kasih," bisik Arya pada angin, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih sudah melindungi kami sampai akhir."

Naya menatap suaminya. Wajah Arya masih penuh perban, ada bekas jahitan di pelipis dan bahunya, tapi matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya.

"Kamu tahu, Arya..." ucap Naya pelan, menggenggam tangan suaminya yang masih memar. "Ayah... dia akhirnya memilih kita. Di detik terakhir, dia memilih melindungi kita daripada anaknya sendiri. Di balik semua kejahatannya, di balik semua kegilaannya... ternyata aku tetaplah anak kesayangannya. Bagian terbaik dari dirinya."

Arya menatap Naya lembut, mengusap rambut panjang istrinya.

"Iya. Dan mungkin... di akhir hayatnya, dia akhirnya sadar. Bahwa cinta tidak bisa dipaksa, tidak bisa dicuri, tidak bisa dibeli. Cinta itu tumbuh. Dan cinta kita... adalah satu-satunya hal nyata di antara semua kebohongan keluarganya."

Naya bersandar di bahu Arya, menatap langit biru cerah di atas sana. Rasanya seperti mimpi buruk yang takkan pernah berulang lagi.

"Kita aman sekarang, Arya. Benar-benar aman," bisik Naya yakin.

"Selamanya," jawab Arya tegas, mencium puncak kepala istrinya, lalu mencium pipi putri kecilnya yang gemas.

Masa lalu sudah benar-benar tertinggal jauh di belakang. Bayangan terakhir sudah sirna.

Mereka tidak lagi hidup dalam ketakutan. Mereka hidup dalam cahaya. Cahaya yang mereka perjuangkan dengan darah, air mata, dan nyawa.

Dan kisah keluarga Wijaya, kisah tentang cinta terlarang, obsesi gila, pengkhianatan, dan dendam turun-temurun itu... akhirnya benar-benar, benar-benar tamat.

🌿✨🩶

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!