NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Berdarah dan Keputusan untuk Berlari

Rintik hujan yang tadinya berupa gerimis tipis kini telah berubah menjadi tirai air yang menderu deras, menghantam atap-atap seng pergudangan dengan bunyi berisik yang pekak. Di dalam gang mati yang gelap dan becek itu, waktu seolah berhenti berputar. Alessa berdiri mematung dengan tubuh gemetar hebat, menatap siluet kakaknya yang melangkah maju perlahan laksana malaikat maut yang keluar dari dasar neraka.

​Cahaya lampu jalan dari arah terminal yang berada di ujung gang hanya mampu menerangi separuh wajah Rian. Setengahnya lagi terendam dalam kegelapan tirai hujan, memperlihatkan seringai gila dan sepasang mata yang merah menyala akibat pengaruh alkohol dan kepanikan yang memuncak. Di tangan kanannya, sebuah balok kayu kasau dengan ujung paku yang berkarat terseret di atas tanah, mengeluarkan bunyi berdecit yang ngilu setiap kali bergesekan dengan kerikil tajam.

​"Hebat kamu ya, Alessa," geram Rian. Suaranya yang serak meluncur di antara deru angin malam, terdengar begitu dingin dan mengancam. "Kamu pikir kamu bisa lari dari aku? Kamu pikir gembok rantai di rumah itu bisa menahan anak haram yang punya otak licik seperti kamu, hah?!"

​Rian meludah ke samping, melangkah lebih dekat hingga aroma pekat alkohol murahan dan asap rokok dari tubuhnya menyerbak, mengalahkan aroma tanah basah. "Orang-orang pelabuhan sudah datang ke rumah tepat jam delapan tadi! Dan bayangkan betapa malunya kakakmu ini ketika mereka mendapati rumah itu kosong dan jendela dapur sudah jebol! Mereka pikir aku mempermainkan mereka, Alessa! Kalau bukan karena aku berjanji akan menyerahkanmu dalam waktu satu jam, kepalaku sudah menggelinding di dermaga sekarang!"

​Rian mengangkat balok kayunya, menunjuk tepat ke arah wajah Alessa yang pucat pasi. "Sekarang, jalan kembali ke rumah! Jangan sampai aku harus mematahkan kedua kakimu di sini untuk membuatmu patuh!"

​Melihat kemurkaan Rian yang berada di titik kulminasi gila, rasa takut yang primitif sempat mencengkeram urat saraf Alessa. Sekujur tubuhnya terasa kaku, dan rasa sakit dari jalur luka sabetan baru di punggungnya mendadak berdenyut dua kali lebih hebat, seolah-olah mengingatkannya pada memori penyiksaan malam-malam sebelumnya. Kain gorden yang melilit dadanya kini sudah seberat timah karena menyerap air hujan dan darah segar yang kembali merembes keluar.

​Namun, di balik rasa takut yang melumpuhkan itu, sebersit amarah yang luar biasa pekat dan dingin ikut membubung tinggi di dalam dada Alessa. Batas kesabarannya yang telah diuji hingga ke titik nadir sepanjang hari ini akhirnya pecah secara mutlak. Mengapa dia harus terus-menerus mengalah? Mengapa dia harus membiarkan hidupnya dihancurkan demi menyelamatkan nyawa seorang pecundang yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai adik? Keberatan emosional yang hebat merayapi batinnya, membakar habis sisa-sisa kepatuhan yang tersisa di dalam dirinya.

​Di tengah ketegangan hidup dan mati yang mencekam itu, ketika orang biasa mungkin akan berlutut menangis memohon ampun, sekring pelindung psikologis anomali di dalam otak Alessa kembali memercikkan api sarkasme radikalnya. Komedi gelap adalah satu-satunya senjata mental yang tersisa untuk menjaga agar kesadarannya tidak runtuh diterjang syok.

​Alessa menghapus air hujan yang mengalir di matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Dia menegakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam sepasang mata gila Rian. Sebuah senyuman kecut yang sarat akan ironi dipaksakan muncul di sudut bibirnya yang pecah.

​"Kak Rian..." kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar dan tenang, kontras dengan gemuruh badai di sekitar mereka. "Lu kalau nyari gue sampai kehujanan begini, lama-lama bisa masuk angin, lho. Lagipula, dandanannya konsisten banget dari subuh; muka kusut, bawa balok kayu, terus ngomel-ngomel pakai kosakata kebun binatang. Apa kagak bosan ya tiap hari akting jadi monster sirkus gagal?"

​Rian membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Apa kamu bilang?!"

​"Gue bilang," Alessa melangkah mundur satu tapak secara perlahan, matanya melirik ke arah jalan keluar di ujung gang yang tinggal berjarak dua puluh meter. "Lu egois banget jadi kakak. Utang judi lu yang bikin, nafsu lu yang gede, tapi pas ditagih debt collector, yang lu tumbalkan malah muka cantik gue. Ini namanya malpraktik manajemen keluarga, Kak. Lu kalau mau kepalanya gak dipenggal, ya sono jual ginjal lu sendiri. Lagipula, isi otak lu kan sudah hancur gara-gara judi, mending organ tubuh lu yang lain difungsikan buat bayar utang. Itu baru namanya abang yang bertanggung jawab."

​"Anak sialan!!! Berani kamu menceramahi aku?!"

​Raungan murka Rian meledak, memecah kebisingan hujan. Kehilangan seluruh sisa kendali dirinya akibat provokasi sarkas adiknya, Rian menerjang maju dengan beringas. Dia mengayunkan balok kayu di tangannya secara horizontal, mengincar langsung ke arah kepala Alessa.

​Refleks pelarian yang telah terlatih selama berbulan-bulan membuat Alessa merunduk dengan cepat.

​Wush!

​Balok kayu itu melesat hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya, menghantam dinding seng gudang di samping mereka hingga mengeluarkan bunyi dentang yang memekakkan telinga. Namun, gerakan merunduk yang ekstrim itu langsung dihadiahi oleh sengatan rasa sakit yang luar biasa dahsyat di punggung Alessa. Kain gorden darurat yang membungkus lukanya seolah bergeser, merobek kembali jaringan kulit yang baru saja steril. Alessa menjerit tertahan, pandangannya mendadak gelap gulita selama satu detik akibat vertigo dan rasa perih yang membakar.

​Sebelum Alessa sempat menegakkan tubuhnya kembali, Rian sudah membalikkan badannya dengan cepat. Tangan kekar kakaknya itu menjambak rambut panjang Alessa yang basah kuyup, lalu menyentaknya ke belakang dengan kekuatan penuh.

​"Arghhh!" Alessa memekik kesakitan saat kulit kepalanya terasa seperti mau terkelupas.

​Rian menarik tubuh adiknya hingga terjerembab ke atas tanah berlumpur. Tanpa belas kasihan, Rian melayangkan satu tendangan keras menggunakan sepatu botnya, tepat mengenai rusuk sebelah kiri Alessa.

​Bugh!

​"Uhukk!" Alessa terbatuk hebat, merasakan hantaman fisik yang membuat pasokan oksigen di paru-parunya lenyap seketika. Tubuhnya berguling di atas lumpur hitam yang dingin. Rasa sakit baru kini resmi bertumpuk di atas luka-luka lamanya yang belum kering. Rusuknya terasa retak, punggungnya mengalirkan darah hangat yang merembes menembus kemeja biru pudarnya, dan wajahnya kini dipenuhi oleh lumpur selokan yang amis.

​Malam ini resmi menjadi malam berdarah bagi Alessa. Di bawah guyuran hujan deras, dia terkapar seperti binatang buruan yang siap dieksekusi. Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa kesepian sebagai anak yatim piatu kembali mencoba mengetuk pintu hatinya. “Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan mati di gang kotor ini dan menjadi jaminan utang judi?”

​Rian berdiri di atas tubuhnya yang tak berdaya, mengangkat balok kayu itu tinggi-tinggi ke udara, bersiap untuk mendaratkan pukulan pemungkas pada kaki Alessa agar gadis itu tidak bisa berjalan lagi. "Ini akibatnya kalau kamu melawan aku, Alessa! Malam ini juga kamu harus pergi ke pelabuhan, mau dalam keadaan hidup atau cacat sekalipun!"

​Melihat balok kayu yang siap berayun turun menghancurkan masa depannya, sebuah kekuatan aneh yang murni lahir dari sisa-sisa batas kesabaran terakhir Alessa mendadak meledak di dalam dadanya. Amarahnya tidak lagi berupa keputusasaan, melainkan telah mengkristal menjadi insting bertahan hidup yang liar.

​"Gak... Gue kagak mau mati di sini!" jerit Alessa dalam batinnya.

​Menggunakan seluruh sisa energi dari karbohidrat darurat mi instan semalam dan dorongan adrenalin yang membakar pembuluh darahnya, Alessa tidak memilih untuk melindungi kepalanya. Sebaliknya, saat balok kayu itu mulai berayun turun, Alessa menjentikkan kedua kakinya, menendang dengan sekuat tenaga menggunakan ujung sepatunya yang berlumpur tepat ke arah selangkangan Rian.

​Brak!

​Tendangan darurat itu mendarat dengan akurasi yang mutlak.

​"Arggghhh!!!" Rian seketika mengeluarkan lengkingan kesakitan yang luar biasa tinggi. Balok kayu di tangannya terlepas, jatuh terlempar ke dalam kubangan air. Monster itu langsung menekuk tubuhnya, jatuh berlutut di atas lumpur sambil memegangi bagian selangkangannya dengan kedua tangan, wajahnya membiru menahan rasa sakit yang melumpuhkan sistem saraf utamanya.

​Alessa tidak membuang waktu sedetik pun. Meskipun rusuknya menjerit kesakitan dan punggungnya terasa seperti disiram minyak panas, dia memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri. Tangannya bergerak cepat memeriksa saku kemeja biru pudarnya; seikat uang dari Ko Alung masih ada di sana, aman terbungkus plastik kecil yang sempat dia siapkan tadi sore.

​Dia menatap Rian yang masih mengerang kesakitan di atas lumpur. Topeng sarkasme Alessa kembali terpasang secara otomatis untuk terakhir kalinya di gang itu.

​"Maaf ya, Kak," desis Alessa dengan napas yang memburu dan suara yang tersengal-sengal, namun matanya memancarkan ketegasan yang dingin. "Tendangan tadi itu namanya Bonus Spesial Menu Sarapan Pagi yang tertunda. Anggap saja itu tanda terima kasih karena lu sudah merawat gue dengan penuh siksaan selama ini. Sekarang, kontrak kerja kita sebagai keluarga resmi putus, Kak. Selamat menikmati malam panjang bersama para debt collector pelabuhan!"

​Setelah mengucapkan kata-kata itu, Alessa berbalik memunggungi kakaknya. Keputusan untuk berlari telah diambil secara mutlak di dalam jiwanya. Tidak ada lagi kata mundur, tidak ada lagi ruang untuk keraguan.

​Alessa berlari. Dia memacu kedua kakinya sekencang mungkin menuju ujung gang, keluar dari kegelapan pergudangan menuju area terang jalan raya terminal. Setiap ayunan langkahnya memicu rasa sakit yang luar biasa di sepanjang tulang belakang dan tulang rusuknya, namun Alessa menolak untuk melambat. Air hujan yang menghantam wajahnya kini terasa menyegarkan, seolah-olah sedang membasuh seluruh sisa-sisa penderitaan dan ketakutan yang mengikatnya selama ini.

​"Tangkap dia!!! Alessa!!! Jangan kabur kamu!!!" Sayup-sayup suara teriakan Rian yang parau masih terdengar dari kejauhan di belakangnya, mencoba bangkit berdiri untuk mengejar, namun langkah kaki monster itu sudah terlalu lambat dan goyah.

​Alessa terus berlari menembus tirai hujan yang semakin lebat, melompati kubangan air, dan menyelinap di antara kerumunan orang-orang yang sedang berteduh di selasar terminal bus. Kemeja biru pudar peninggalan ayahnya yang kini basah kuyup dan bernoda darah menjadi saksi bisu dari sebuah pelarian murni seorang gadis yang menolak untuk menyerah pada takdir yang kejam.

​Dia melangkah masuk ke dalam area peron bus yang sedang bersiap untuk berangkat menuju ibu kota, membawa serta luka baru di atas luka lamanya, uang sisa gaji di sakunya, dan sebuah tekad dingin yang akan membawanya keluar dari neraka kecil ini menuju sebuah takdir baru yang tak terduga di luar sana. Pelariannya dari Rian telah berhasil, namun malam berdarah ini barulah babak pembuka dari perjuangan panjang Alessa untuk merebut kembali hak hidupnya secara utuh.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!