NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Kata-kata Radit menggantung di udara lobi apartemen, terasa lebih pekat dan berat daripada udara malam yang basah di luar. Kirana membeku. Jantungnya berdetak begitu cepat dan keras hingga dia takut Radit bisa mendengarnya melalui genggaman tangan pria itu di pundaknya.

Selama lima tahun bekerja sebagai sekretaris, Kirana dilatih untuk selalu memiliki jawaban atas segala situasi darurat perusahaan. Namun malam ini, di depan Raditya Baskara yang menatapnya tanpa topeng keusilan, Kirana kehilangan semua kosakatanya.

"Radit," Kirana akhirnya bersuara, suaranya nyaris berupa bisikan yang bergetar. Dia perlahan menurunkan tangan Radit dari pundaknya, melangkah mundur untuk menciptakan jarak aman yang sangat dia butuhkan agar otaknya bisa kembali berpikir jernih. "Jangan bercanda. Ini... ini tidak ada di dalam kontrak."

Radit menurunkan tangannya ke samping tubuh, mengembuskan napas pendek yang terdengar getir.

"Aku tahu. Aku juga tahu aku sudah melanggar batasan profesionalitas kita. Tapi melihatmu panik di kantin tadi siang, melihat bagaimana kamu mengomel karena mengkhawatirkanku, aku sadar satu hal, Kirana. Aku tidak sedang berakting lagi saat bersamamu."

Kirana memalingkan wajahnya, menatap lantai marmer lobi.

"Itu hanya refleks, Radit. Saya akan melakukan hal yang sama pada siapa pun yang tersedak sambal di depan saya. Itu tugas saya sebagai sekretaris, memastikan keselamatan Anda."

"Benarkah? Hanya sebatas tugas?" Radit melangkah mendekat lagi, menundukkan sedikit kepalanya agar bisa menatap mata Kirana yang sengaja menghindar. "Lalu kenapa matamu kelihatan ketakutan setiap kali aku menyebut tentang batasan kontrak kita? Kamu juga merasakannya, kan, Kirana? Kamu tidak bisa membohongi matamu sendiri."

Kirana mengepalkan jemarinya di dalam saku kardigan. Radit benar. Sialnya, pria itu seratus persen benar. Benteng pertahanan es yang selama bertahun-tahun dia bangun dengan kokoh kini telah meleleh, menyisakan perasaan hangat yang menakutkan bernama kenyamanan. Namun, rasionalitas Kirana buru-buru menamparnya kembali ke realitas.

Perbedaan kasta di antara mereka terlalu jauh. Radit adalah pewaris tunggal Baskara Group, sedangkan dia hanyalah seorang wanita pekerja keras yang mengandalkan gaji bulanan untuk bertahan hidup di Jakarta.

"Bahkan jika saya merasakannya," Kirana kembali menatap Radit, kali ini dengan mata yang jernih namun penuh dengan ketegasan yang menyakitkan. "Realitas tidak akan berubah, Radit. Hubungan kita dimulai dari kebohongan untuk menipu Ibu Sofia. Sekarang, Ibu Anda meminta pertunangan resmi. Jika kita melanjutkannya, kebohongan ini akan menjadi bola salju yang siap menghancurkan kita semua saat kebenaran terungkap."

Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan hatinya sendiri.

"Saya tidak mau membangun masa depan di atas fondasi yang rapuh. Pertunangan resmi... itu terlalu jauh. Saya tidak bisa."

Mendengar penolakan halus namun tegas dari Kirana, ada guratan kekecewaan yang mendalam di wajah Radit. Pria itu terdiam beberapa saat, menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa bersalah, kagum, dan sedih.

"Aku mengerti," kata Radit akhirnya, suaranya kembali terdengar lelah. Dia memaksakan sebuah senyum tipis, senyuman yang kali ini terlihat begitu dipaksakan hingga membuat hati Kirana ikut berdenyut nyeri. "Maaf sudah membuatmu tertekan malam-malam begini. Kamu benar. Aku yang terlalu impulsif dan egois."

Radit berbalik, berjalan menuju pintu kaca lobi, namun dia menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Aku tidak akan memaksamu, Kirana. Aku akan memikirkan cara lain untuk bicara pada Ibu besok, meskipun taruhannya adalah posisiku di perusahaan jika Ibu tahu aku berbohong. Kamu... istirahatlah. Selamat malam."

Pria itu melangkah keluar, menembus rintik hujan malam menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Kirana berdiri mematung di lobi, matanya menatap punggung tegap itu perlahan menghilang di balik kegelapan malam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Kirana merasa bahwa keteraturan dan logika yang selalu dia agungkan ternyata bisa terasa begitu dingin dan sepi.

Malam itu, Kirana tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun. Setiap kali dia menutup mata, bayangan wajah lesu Radit dan kalimat terakhir pria itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

“Taruhannya adalah posisiku di perusahaan jika Ibu tahu aku berbohong"

Kirana tahu Sofia Baskara bukan wanita sembarangan. Jika Sofia tahu Radit mempermainkan pernikahan dan melibatkan sekretarisnya, posisi Radit sebagai CEO bisa diguncang oleh dewan komisaris yang sejak lama mengincar celah kesalahan sang tuan muda. Radit yang selalu terlihat random dan ceria itu, sebenarnya sedang berdiri di tepi jurang demi melindunginya juga agar tidak ikut terseret.

Keesokan paginya, Kirana tiba di kantor dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Suasana di lantai eksekutif terasa sangat canggung. Ketika Kirana masuk ke ruangan Radit untuk mengantarkan kopi hitam tanpa gula kesukaan bosnya, suasana berubah kaku.

Radit sedang membaca berkas dengan kacamata bertengger di hidungnya. Penampilannya rapi seperti biasa, namun ada jarak tak kasat mata yang mendadak terbentang di antara mereka. Tidak ada lagi boneka ayam karet, tidak ada lagi godaan 'Sayang' dan tidak ada lagi senyum usil.

"Kopi Anda, Pak Radit" kata Kirana formal sambil meletakkan cangkir di meja.

"Terima kasih, Kirana" jawab Radit tanpa mengalihkan pandangan dari berkasnya. Suaranya datar, profesional, dan sangat asing di telinga Kirana. "Jadwal saya hari ini apa saja?"

"Jam sepuluh ada pertemuan dengan perwakilan vendor dari Jepang, lalu jam satu makan siang bisnis dengan Pak Wijaya" lapor Kirana dengan nada yang sama datarnya.

"Baik. Tolong siapkan dokumennya."

"Baik, Pak."

Kirana berbalik untuk keluar. Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, hatinya berontak. Logika yang selama ini mengaturnya mendadak kalah telak oleh rasa tidak tega dan sepercik keberanian yang baru dia temukan. Hubungan profesional yang dingin ini justru terasa menyiksa baginya.

Kirana melepaskan gagang pintu, berbalik, lalu berjalan kembali mendekati meja kerja Radit.

Radit mendongak, menaikkan sebelah alisnya melihat sekretarisnya kembali mendekat.

"Ada yang tertinggal, Kirana?"

Kirana menarik napas panjang, mengepalkan tangannya di sisi rok kerjanya, lalu menatap penuh pada Radit.

"Mengenai peringatan Ibu Sofia kemarin malam," ujar Kirana lantang, membuat Radit tersentak pelan. "Saya sudah memikirkannya baik-baik selama dua puluh empat jam ini."

Radit meletakkan pulpennya, seluruh perhatiannya kini terpusat pada wanita di depannya.

"Lalu?"

"Saya... saya bersedia ikut ke acara perjamuan bulan depan," kata Kirana mantap, meskipun jantungnya berdegup kencang seperti mau copot. "Dan saya bersedia... mengumumkan pertunangan itu."

Radit terbelalak. Dia langsung berdiri dari kursi kebesarannya.

"Kirana, kamu serius? Kemarin malam kamu bilang_"

"Kemarin malam saya dikuasai rasa takut, Pak... maksud saya, Radit" potong Kirana, setitik senyuman tipis dan manis kini muncul di wajahnya yang lelah. "Tapi saya sadar, membiarkan Anda menghadapi Ibu Sofia sendirian dan mempertaruhkan posisi Anda di perusahaan itu bukan tindakan sekretaris yang profesional. Lagipula..." Kirana menggantung kalimatnya, menatap Radit dengan binar mata yang kini terlihat jauh lebih lembut."Seperti yang Anda katakan, hidup itu harus berani mengambil risiko. Dan untuk risiko yang satu ini... saya rasa, saya bersedia untuk mengambilnya bersama Anda."

Radit terpaku di tempatnya. Detik berikutnya, sebuah senyuman lebar yang sangat familiar, senyuman usil penuh kebahagiaan yang selama ini dirindukan Kirana, perlahan terbit di wajah tampan sang CEO.

"Kirana Larasati," gumam Radit, matanya berbinar cerah. "Kamu baru saja menandatangani pasal kontrak yang paling berbahaya dalam hidupmu."

"Saya tahu," balas Kirana tenang namun pasti. "Dan pastikan bonus saya setelah ini naik tiga kali lipat, Pihak Pertama."

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!