"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Bulan dan Benih Dendam Baru
Enam bulan adalah waktu yang singkat bagi mereka yang bahagia, tapi terasa seperti keabadian bagi mereka yang merangkak di dasar penderitaan.
Di salah satu sudut pinggiran Jakarta, sebuah rumah kontrakan berpetak dua dengan dinding tripleks yang mulai lapuk menjadi saksi bisu runtuhnya harga diri keluarga Wijaya. Udara siang itu terasa pengap, penguap aroma selokan mampet dari luar jendela.
Ibu Ratna duduk di atas kasur lantai yang tipis, tangannya yang dulu rajin memakai cincin berlian kini tampak kasar dan dipenuhi bintik hitam karena alergi air sumur yang keruh. Di depannya, sebuah kipas angin kecil berkarat berputar dengan suara derit yang memekakkan telinga.
"Tyas! Jam berapa ini?! Kenapa kamu belum masak? Ibu lapar, lambung Ibu sakit!" keluh Ibu Ratna dengan suara yang tidak lagi melengking angkuh, melainkan parau dan lemas.
Tyas keluar dari kamar mandi sempit sambil mengeringkan rambutnya yang kini tidak lagi sehalus dulu karena hanya dicuci dengan sampo sasetan murah. Wajahnya ditekuk dalam-dalam.
"Masak apa, Bu? Beras habis, uang sisa lima ribu rupiah. Mau utang ke warung sebelah, pemiliknya sudah memaki-maki karena utang minggu lalu belum dibayar!"
"Ini semua gara-gara kakakmu yang bodoh itu!" Ibu Ratna mulai menangis, meratapi nasibnya.
"Kenapa dia harus dipenjara? Kenapa dia harus tergoda Gisela jalang itu? Kalau saja Rendra tetap bersama Rania, kita tidak akan pernah makan nasi akas seperti ini!"
Tyas mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Setiap kali nama 'Rania' disebut, dadanya terasa seperti dibakar. "Jangan sebut nama wanita sialan itu, Bu! Dia sengaja membuat kita melarat! Dia egois! Dia menghancurkan Mas Rendra hanya karena masalah sepele!"
Bagi Tyas, menelantarkan anak yang sedang sekarat adalah 'masalah sepele' dibandingkan dengan hilangnya fasilitas kartu kredit dan rumah mewahnya. Begitulah cara kerja otak orang yang egois; mereka tidak akan pernah merasa bersalah, melainkan menganggap diri mereka sebagai korban.
Tyas berjalan menuju cermin kecil yang retak di sudut ruangan. Ia menatap wajahnya sendiri. Meskipun hidup melarat selama enam bulan, ia harus mengakui bahwa modal utamanya—wajah cantik dan tubuh yang sintal—masih terjaga dengan baik. Ia menolak mati di kontrakan kumuh ini. Ia menolak menjadi miskin seumur hidupnya.
"Rania... kamu pikir kamu sudah menang?" bisik Tyas pada pantulan dirinya di cermin, matanya berkilat penuh dendam. "Kamu bisa mengambil perusahaan Mas Rendra. Tapi kamu tidak akan pernah bisa menghentikan aku untuk mengambil apa yang kamu miliki sekarang."
Sementara itu, di pusat distrik bisnis ibu kota, atmosfer yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat sedang berlangsung.
Gedung pencakar langit yang dulunya bertuliskan Wijaya Corp, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Di bagian fasad depan, logo baru yang sangat megah dan minimalis telah terpasang: ARANIA INTERNATIONAL.
Hari ini adalah perayaan ulang tahun kebangkitan perusahaan tersebut setelah enam bulan diambil alih oleh Rania. Ratusan lampu kristal menerangi aula utama, dan para pengusaha kelas atas serta pejabat pemerintahan hadir dengan setelan tuksedo dan gaun mewah.
Di atas panggung utama, Rania berdiri di balik podium. Penampilannya malam ini benar-benar memukau setiap pasang mata. Ia mengenakan gaun malam berpotongan mermaid berwarna hitam beludru yang mengekspos leher jenjangnya secara elegan. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan jepit berlian kecil yang berkilau lembut di bawah sorot lampu.
Tidak ada lagi sisa-sisa "istri bawang" yang penakut. Di atas panggung itu, ia adalah Arania, sang CEO tunggal yang berhasil menaikkan nilai saham perusahaannya sebesar empat puluh persen hanya dalam waktu setengah tahun.
"Keberhasilan Arania International bukan hanya tentang angka di atas kertas," ucap Rania dengan suara yang jernih, tegas, dan penuh wibawa melalui mikrofon.
"Ini tentang membuktikan bahwa sebuah fondasi yang kokoh tidak akan pernah runtuh, selama ia dibangun dengan kejujuran, kecerdasan, dan kerja keras. Terima kasih kepada seluruh mitra yang tetap percaya pada visi kami."
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Di barisan kursi terdepan, Elang Danuarta berdiri sambil bertepuk tangan, matanya tidak pernah lepas dari sosok Rania. Sorot mata Elang penuh dengan kekaguman dan rasa bangga yang mendalam. Di samping Elang, seorang anak laki-laki berusia enam tahun dengan setelan jas mini tampak tersenyum lebar. Itu Abid. Wajahnya kini jauh lebih segar, pipinya kemerahan, dan tatapan matanya menunjukkan kecerdasan yang luar biasa—warisan murni dari ibunya.
Setelah turun dari panggung, Rania langsung menghampiri anaknya. Ia berlutut, mengabaikan gaun mahalnya yang menyentuh lantai, kemudian memeluk Abid dengan hangat.
"Bunda hebat sekali!" ucap Abid sambil mencium pipi Rania.
"Ini semua karena Abid pintar dan selalu dukung Bunda," balas Rania dengan senyuman paling tulus yang hanya ia berikan pada anaknya.
Elang mendekat, menyerahkan segelas jus jeruk pada Rania. "Pidato yang luar biasa, Nia. Kamu membuat beberapa CEO pria di sudut sana merasa terintimidasi."
Rania menerima gelas itu sambil berdiri tegak kembali. "Biarkan saja, El. Biar mereka tahu bahwa dunia bisnis bukan lagi tempat yang hanya didominasi oleh ego pria. Bagaimana dengan laporan pasar terbaru?"
"Semuanya aman. Tapi..." Elang menjeda kalimatnya, wajahnya sedikit berubah serius.
"Ada satu hal yang harus kamu tahu. Kompetitor utama kita, Baskoro Group, baru saja memenangkan tender proyek digitalisasi pelabuhan. Dan dari informasi yang aku dapat, Tuan Baskoro baru saja merekrut seorang 'asisten pribadi' baru yang sangat vokal tentang masa lalu mu."
Rania menaikkan satu alisnya, ia menyesap jusnya dengan tenang. "Siapa?"
"Adik mantan suamimu. Tyas Wijaya."
Rania terdiam sejenak, tapi tidak ada riak ketakutan di wajahnya. Sebaliknya, ia justru mendengus geli. "Tyas? Anak manja yang bahkan tidak tahu cara membedakan debit dan kredit di kuliahnya? Bagaimana bisa dia masuk ke lingkaran Baskoro?"
"Baskoro adalah pria tua yang terkenal licik dan... suka mengoleksi wanita muda," jawab Elang dengan nada beringas yang tertahan.
"Tyas tampaknya tahu cara memanfaatkan situasi. Baskoro membenciku, dan Tyas membencimu. Aliansi mereka didasarkan pada dendam yang sama. Tyas kabarnya menyerahkan beberapa dokumen lama terkait sistem audit internal yang pernah kamu buat dulu untuk Wijaya Corp sebelum pailit."
Rania memutar gelas di tangannya, matanya menatap lurus ke arah kerumunan tamu. "Dia pikir dokumen lama itu masih berguna? Dia lupa kalau aku yang membangun sistem itu, maka aku juga yang tahu di mana letak pintu belakang untuk menghancurkannya. Jika Tyas ingin bermain di liga besar bersama Baskoro... mari kita biarkan dia masuk, El."
"Kamu tidak khawatir dia akan mengacaukan operasimu?" tanya Elang, memastikan kesiapan Rania.
"Aku justru khawatir kalau dia tetap tinggal di kontrakan kumuh itu dan tidak melakukan apa-apa," sahut Rania dengan senyuman dingin yang mematikan.
"Biarkan Tyas merasa dia sedang terbang tinggi di atas angin bersama Baskoro. Biarkan dia menikmati uang haram dari pria tua itu. Karena semakin tinggi sebatang pohon tumbuh di tanah yang rapuh, maka akan semakin tragis suaranya saat tumbang ditiup angin."
Rania melirik ke arah Abid yang sedang asyik memakan es krimnya bersama suster penjaga.
"Rendra sudah selesai di dalam sel. Sekarang, jika adiknya ingin menyusul... aku akan dengan senang hati membukakan pintunya."
Malam itu, di tengah kemewahan pesta Arania International, sebuah babak baru telah resmi dibuka. Rania tahu bahwa perjuangannya belum selesai. Musuh-musuh kecilnya memang telah tumbang, namun gurita bisnis yang lebih besar kini mulai mengincarnya.
pst dapat cap pelakor😄🤭