NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:34.2k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Dua Dunia Yang Berbeda Dalam Satu Ruang Yang Sama

Perbincangan di ruang utama itu bukan hanya terasa hangat, tapi juga penuh kekeluargaan.

Tidak ada tawa keras yang pecah memenuhi ruangan. Tidak ada jarak yang dilanggar dengan duduk terlalu dekat.

Namun demikian, kedekatan itu tetap nyata.

Terlihat dari cara Kyai Fakih menatap lawan bicaranya--tenang, penuh perhatian, seolah setiap kata yang disampaikan memang layak didengar sampai selesai.

Dari cara Kyai Sholih sesekali mengangguk pelan, dengan senyum tipis yang tidak dibuat-buat.

Dan dari nyai Hamidah--istri Kyai Sholih, yang duduk sedikit menyamping, namun tak pernah benar-benar lepas dari alur percakapan--sesekali menimpali, sesekali hanya mendengarkan dengan wajah yang teduh.

Tidak ada yang saling memotong.

Tidak ada yang terburu-buru.

Saling menghargai. Saling mengerti.

Dan di tengah itu semua, ada satu hal yang terasa jelas--bahwa hubungan yang terjalin di antara mereka bukan sekadar hubungan pertemanan, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Lebih tua, dan lebih mengakar.

Shafiya berdiri beberapa langkah dari ambang pintu ruang itu.

Ia tidak langsung masuk. Tatapannya menyapu pelan, menangkap setiap detail kehangatan mereka yang sering ia rindukan.

Kini kehangatan itu tersaji di depan mata. Tapi yang terjadi, bukan hanya rasa rindu yang terobati, sekaligus… hadir rasa asing dalam waktu yang bersamaan. Seolah ia bukan lagi bagian dari dunia itu. Dan itu yang membuatnya ragu untuk menyela kebersamaan itu.

Shafiya akhirnya menarik napas pelan. Keraguan itu telah selesai. Ia melangkah masuk.

“Assalamu’alaikum…”

Suaranya lembut. Tidak memecah ruangan.

Namun cukup untuk mengubah arah perhatian.

Membuat percakapan terhenti. Dan semua pasang mata beralih.

Shafiya berdiri di sana.

Dengan Sagara yang berdiri tak jauh di sisinya.

Seolah dua dunia yang berbeda, kini berada dalam satu ruang yang sama.

"Waalaikumsalam."

Jawaban itu datang lebih dulu dari Kyai Sholih. Terdengar lebih hidup dari yang lain.

Dengan raut sumringah yang tak disembunyikan, ia berkata,

“Putriku sudah datang.”

Degup dalam diri Shafiya seakan menghentak, mendengarnya.

Sejenak… semuanya seperti terhenti.

Langkah Shafiya sempat terpaku.

Panggilan itu. Pengakuan yang terlalu akrab. Yang sudah lama tersemat. Bahkan sebelum adanya rencana pernikahan dengan gus Ilzam. Hingga kini--saat semua sudah hancur berantakan, Kyai Sholih masih tetap dengan pengakuannya pada Shafiya--sebagai putrinya.

Dan itu menghadirkan rasa bersalah yang cukup menekan.

Nyai Hamidah bangkit dengan tenang. Langkahnya mengarah langsung pada Shafiya.

"Nak, sudah datang?" Sapaan itu--khas Nyai Hamidah. Dan sapaan itu pula yang senantiasa mengingatkan Shafiya pada mendiang uminya.

Shafiya kian terpaku.

Dan ketika jarak itu akhirnya habis,

tangan Nyai Hamidah terangkat--menyentuh wajah Shafiya dengan pelan. Seolah memastikan.

Bahwa yang berdiri di hadapannya… benar-benar dia. Putri yang dinantikan hadirnya.

“Alhamdulillah. Putriku sudah sampai."

Suara lembut itu, nadanya masih sama. Tak ada yang berubah. Tak berkurang dan tidak bertambah. Meski kini situasi sudah tak lagi sama.

Tanpa menunggu lebih lama, Shafiya melangkah maju. Seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil.

Ia menunduk. Tangan Nyai Hamidah ia raih dengan hormat. Diciumnya punggung tangan itu dengan khidmat.

“Bibi.." Suaranya pelan.

Lalu bergeser. Kepada Kyai Sholih. Ia melakukan gerakan yang sama. Mencium tangan penuh takzim.

Dan akhirnya--pada Kyai Fakih. Abinya sendiri. Dan kali ini lebih dalam. Lebih lama.

Tangannya bergetar tipis saat menjumput tangan itu. Didekatkan. Menyentuh keningnya. Lalu diciumnya tanpa kata.

Seolah semua yang ingin ia sampaikan… sudah cukup lewat sikap itu.

Di belakang Shafiya , Sagara berdiri.

Ia dipersilakan masuk dengan ramah.

Namun ia tidak mengikuti apa yang dilakukan Shafiya.

Tidak menunduk untuk mencium tangan.

Tidak bergerak mendekat.

Ia hanya memberi jeda singkat.

Lalu menundukkan kepala sedikit.

Sebuah anggukan kecil.

Perbedaan cara bersikapnya dengan Shafiya tidak mencolok. Namun jelas. Dan tentu saja--tertangkap.

Kyai Sholih memperhatikan. Nyai Hamidah juga.

Tatapan mereka sempat bertemu… sesaat.

Bukan untuk memberi penilaian, ataupun penolakan. Itu hanya sebuah pertanyaan yang tidak diucapkan.

Tentang perbedaan yang baru saja hadir

di tengah kebiasaan yang sudah lama mereka pahami.

Namun tak satu pun dari mereka membahasnya.

Karena dalam keheningan itu…

mereka memilih untuk menerima lebih dulu sebelum memahami semuanya.

"Abi, gimana?" Shafiya duduk dekat dengan abinya. Menatap penuh haru.

"Alhamdulillah." Jawaban syukur itu yang diberikan kyai Fakih, tanpa penjelasan apa pun.

Shafiya paham maksudnya. Begitu ajaran abinya dari dulu. Apa pun kondisi yang sedang kita hadapi. Terima, dan syukuri.

"Paman, dan Bibi." Shafiya bergeser ke Kyai Sholih dan Nyai Hamidah. "Bagaimana kabarnya?"

"Alhamdulillah baik," Nyai Hamidah menjawab lebih dulu. Tersenyum hangat. "Semakin baik setelah bertemu denganmu, Nak."

Shafiya membalas dengan senyum lembut.

"Terima kasih, Bibi," ucapnya tulus.

"Shafiya sendiri." Kyai Sholih menyusul. "Sehat, Nak?"

"Sehat, Paman."

"Bayinya bagaimana? Sehat?" Pertanyaan berikutnya datang lebih lembut.

Ada jeda sejenak. Shafiya tak langsung menjawab--seperti masih meyakinkan diri, bahwa pertanyaan itu untuknya.

"Insyaallah," jawabnya akhirnya.

Kyai Sholih mengangguk pelan.

"Dijaga baik-baik." Suaranya lembut dan hangat. "Itu titipan Allah."

Shafiya menunduk.

Ia tahu. Bagaimanapun caranya ia datang, anak adalah titipan Allah yang harus dijaga. Dirawat sebaik mungkin.

"Iya, Paman."

Saat itulah, Kyai Sholih mengalihkan pandangannya pada Sagara.

Ia sejak tadi memang berada di dalam ruangan itu. Namun seperti tidak sepenuhnya hadir.

Berdiri cukup dekat. Tapi tetap Dengan membawa jarak yang tak kasat mata.

“Silakan duduk, Mas. Kita berbincang sebentar.”

Nada Kyai Sholih tetap hangat, dan akrab. Panggilan "Mas" itu untuk menghargai.

Sagara menatapnya sejenak. Mengangguk tipis.

"Terima kasih." Tapi ia tidak bergerak untuk duduk. Seakan berdiri itu memang yang ia pilih.

Kyai Sholih tersenyum lembut. Tampak tidak tersinggung, meski tawarannya tidak diindahkan. Nyai Hamidah menatapnya, ada yang sedikit berubah di tatapannya.

Kyai Sholih mengangguk, seolah berkata tidak apa-apa.

Shafiya bangkit. Melangkah ke Sagara.

"Duduk dulu, Mas," ucapnya pelan. Turut memanggil "Mas" seperti kyai Sholih.

Sagara menatapnya.

Shafiya mengangguk sambil tersenyum.

Sagara diam beberapa detik. Sebelum akhirnya bergerak, mengambil tempat duduk di kursi yang disediakan. Duduk tegak seperti biasa. Dan Shafiya kini duduk di sampingnya.

Kyai Sholih mengangguk pelan melihat itu.

“Perjalanan dari kota… lancar, Mas?”

Membangun komunikasi dengan pertanyaan sederhana.

“Lancar.”

Sagara menjawab singkat saja. Kebiasaan. Tapi memang jangan minta Sagara basa-basi terlalu panjang. Dia tak biasa.

Kyai Sholih tersenyum tipis.

“Alhamdulillah.”

Ia tidak langsung bertanya lagi.

Masih memberi jeda beberapa detik.

“Di sini… mungkin berbeda dari tempat yang biasa Mas tinggali," kata beliau lagi dengan suara tetap ringan.

“Lebih tenang," lanjut kyai Sholih

Sagara mengangguk kecil.

“Ya.” Tentang itu ia setuju. kediamannya di Adinata Residence, memang hening dan sunyi. Tapi tak setenang suasana di kediaman kiai Fakih ini. Entah karena hal apa.

“Kalau tidak terbiasa, wajar kurang nyaman.

Tempat seperti ini… tidak semua orang langsung merasa dekat.”

Tidak ada nada menyindir.

Hanya memberi sebuah pengertian.

Sagara tidak menjawab. kenyataannya ia memang merasa nyaman di tempat ini. Namun itu tak membuatnya merasa betah berlama-lama.

“Shafiya dulu tumbuh di sini.”

Kyai Sholih menoleh sekilas pada putri kyai Fakih itu. “Banyak hal yang membentuknya… dari tempat ini.”

Meski Sagara tetap diam, dan hanya mengangguk singkat. Tapi tatapannya ikut bergeser sejenak pada Shafiya. Lalu kembali lurus.

“Mas bekerja di Adinata, ya?”

Kyai Sholih melanjutkan dengan arah pembicaraan yang lebih umum.

“Ya.” Sagara tetap menjawab singkat saja. Seperlunya.

“Pimpinan utamanya sekarang?” lanjut Kyai Sholih.

“Untuk saat ini.” Ia pilih jawaban paling aman. Tapi jelas.

Kyai Sholih tersenyum. Terkonfirmasi sudah beberapa dugaan yang ia dengar tentang siapa suami Shafiya itu sebenarnya.

“Berat, ya," katanya.

Bukan bermaksud memberi simpati berlebihan. Lebih seperti… berusaha memahami saja.

"Iya, cukup." Jawaban Sagara tidak menampakkan keluhan. Juga bukan meremehkan beban tanggung jawab yang ia emban.

Kyai Sholih mengangguk lagi.

“Yang penting dijalani dengan baik, Mas."

Bukan saran, tapi sebentuk dukungan.

Kyai Sholih berhenti sebentar.

Lalu menambahkan, dengan suara lebih pelan. “Begitu juga dengan tanggung jawab yang di rumah.”

Tidak ada yang menanggapi. Bukan berarti tidak ada yang mengerti. Semua paham arahnya. Begitu juga dengan Sagara.

Kyai Fakih yang dari awal memilih diam, kini sedikit mengangkat pandangan, ke Sagara.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu."

Sagara mengangguk. "Maaf, sedikit terlambat." Ia bisa bersikap sopan juga, meski tak sesantun cara Shafiya.

"Tidak apa-apa. Ini sudah waktu yang diatur Allah." Ucapan Kiai Fakih begitu dalam. Dan Sagara tidak menanggapi lagi.

"Berdua saja, Mas dengan istrinya?" kembali kiai Sholih yang bertanya.

"Tidak. Ada teman dan supir di depan."

"Maaf, Ya, Mas. Kami kok jadi terlalu banyak bicara." Nyai Hamidah menimpali dengan nada lembut. Seolah menyadari arah percakapan yang sejak tadi lebih banyak datang dari mereka.

"Tidak apa-apa."

"Kerabatnya, Shafiya juga?"

Sagara mulai bertanya.

"Iya," jawab Nyai Hamidah. Dengan senyum yang masih sama.

"Sudah lama kami dekat dengan keluarga ini." Dan ia berhenti sejenak.

"Sebelum ini, kami adalah calon mertua Shafiya."

Tidak ada nada berat ataupun penekanan.

Disampaikan seperti fakta biasa. Tanpa tendensi apa-apa.

Namun hening itu datang setelahnya.

"Oh." Sesingkat itu tanggapan Sagara. Namun tatapannya kemudian pada Shafiya tidak sesingkat tanggapannya.

Bukan tatapan tajam. Bukan menuntut.

Tapi bertahan cukup lama…

Dan cukup untuk membuat Shafiya merasakan adanya sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

****************

***************

🥀🥀🥀 Siang Kakk pembaca semua..

Tiga hari gak update ya, karena memenuhi saran dokter untuk istirahat. Semoga setelah hari ini bisa rutin kembali tiap hari. Insyaallah.

Oh ya, Semoga kakak semua selalu sehat ya. Sangat terasa bahwa sehat itu berharga saat kita sakit...

1
iqha_24
up lagi dong kakak😊
Nana Geulise
lanjut Author💪💪💪
Nofi Kahza
Nah kan. ternyata Anjani dan aku seginjal.
Nofi Kahza
hadehh.. ravendra itu nggak tau dirinya sampai sundul langit. dia memang darah adinata, tapi kerajaan perusahaan Adinata kan tidak dibangun bersama ibunya, tapi Anjani. Enak aja minta Gono gini. udaj syukur diberi hidup enak, diakui, diberi tempat. tapi kok minta lebih. cuuiihh!!😒
Nofi Kahza
Heleh, kok mendadak sok jadi korban .😒😒
Nofi Kahza
di sini masih senyam senyum dia. nanti hbis ini bakal dibabat habis kamu
Nofi Kahza
Waaah ... kecupan pertama.. aku terharu...
Nofi Kahza
di Bab ini, untuk pertama kalinya Sagara berbicara banyak...
Nofi Kahza
hal itu sudah menjadi hidangan di setiap berumah tangga, Sagara.
Nofi Kahza
oKe. Nama Agm harus digaris bawahi.
Nofi Kahza
Shafiya ternyata bisa ngegombal lhooo
Nofi Kahza
akhirnya... senyum yang nggak bakal disangkal kalau Shafiya salah liat😌
Nofi Kahza
beeeuugh! jantung masih aman kan Shafiya...coba dicek itu jantung ya. si Sagara udah mulai bucin soalnya.
Ayuwidia
Pandai sekali dia berbicara
Ayuwidia
kata-kata keramat ☕
Ayuwidia
Bukan hanya menjadi istrimu saja yg harus menghadapi itu semua, Sagara. Para istri dari suami yg lain pun juga demikian, hanya versinya berbeda. Jadi, nggak ada alasan bagi seorang istri untuk meninggalkan suaminya dgn alasan tanggung jawab, konflik, dan hal yang rumit
Badiah Roudloh
sempat deg deg akhirnya legah. selalu ditunggu
Nofi Kahza
Ravendra bakal tamat. Udah nggak ada ruang bergerak. Maju mundur tetap kena😎😎
Najwa Aini: Game Over
total 1 replies
Nofi Kahza
Sekarang hobi banget nyentuh pucuk kepala istrinya ya, Gar. Pertahankan. ok!
Nofi Kahza: serasa lebih sepuh darimu aku kak🤣
total 2 replies
Nofi Kahza
panggil pelan2, Fi. lalu ngomong. "Mas Sagara... sini yuk. Tidur di sebelah sini. Aku kelonin biar mimpi indah.". Eaaaakk🤣
Najwa Aini: Telat sih kamu bisikinnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!