Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Dua Dunia Yang Berbeda Dalam Satu Ruang Yang Sama
Perbincangan di ruang utama itu bukan hanya terasa hangat, tapi juga penuh kekeluargaan.
Tidak ada tawa keras yang pecah memenuhi ruangan.
Tidak ada jarak yang dilanggar dengan duduk terlalu dekat.
Namun demikian, kedekatan itu tetap nyata.
Terlihat dari cara Kyai Fakih menatap lawan bicaranya--tenang, penuh perhatian, seolah setiap kata yang disampaikan memang layak didengar sampai selesai.
Dari cara Kyai Sholih sesekali mengangguk pelan, dengan senyum tipis yang tidak dibuat-buat.
Dan dari nyai Hamidah--istri Kyai Sholih, yang duduk sedikit menyamping, namun tak pernah benar-benar lepas dari alur percakapan--sesekali menimpali, sesekali hanya mendengarkan dengan wajah yang teduh.
Tidak ada yang saling memotong.
Tidak ada yang terburu-buru.
Saling menghargai. Saling mengerti.
Seperti orang-orang yang sudah lama saling mengenal.
Yang tidak lagi membutuhkan banyak kata untuk merasa dekat.
Dan di tengah itu semua, ada satu hal yang terasa jelas--bahwa hubungan yang terjalin di antara mereka bukan sekadar hubungan pertemanan,
melainkan sesuatu yang lebih dalam.
Lebih tua, dan lebih mengakar.
Sebuah kedekatan yang tidak dibangun dalam waktu singkat,
dan tak mudah pula untuk tergantikan.
Shafiya berdiri beberapa langkah dari ambang pintu ruang itu.
Ia tidak langsung masuk.
Tatapannya menyapu pelan, menangkap setiap detail kehangatan mereka yang sering ia rindukan.
Kini kehangatan itu tersaji di depan mata. Tapi yang terjadi, bukan hanya rasa rindu yang terobati, sekaligus… hadir rasa asing dalam waktu yang bersamaan.
Percakapan mereka masih berlangsung.
Tenang. Mengalir.
Dan entah kenapa, Shafiya merasa ragu untuk menyela.
Sejenak ia hanya berdiri di sana.
Membiarkan suasana itu tetap utuh.
Di sampingnya, Sagara juga berhenti.
Tidak bertanya. Tidak mendahului.
Hanya berdiri, seolah mengikuti ritme yang tidak ia kenal.
Shafiya akhirnya menarik napas pelan.
Lalu melangkah masuk.
“Assalamu’alaikum…”
Suaranya lembut. Tidak memecah ruangan.
Namun cukup untuk mengubah arah perhatian.
Percakapan terhenti.
Beberapa pasang mata beralih.
Dan dalam satu detik yang terasa lebih panjang--kehadiran mereka disadari sepenuhnya.
Shafiya berdiri di sana.
Dengan Sagara yang berdiri tak jauh di sisinya.
Seolah dua dunia yang berbeda,
akhirnya benar-benar berada dalam satu ruang yang sama.
"Waalaikumsalam."
Jawaban itu datang lebih dulu dari Kyai Sholih.Lebih jelas. Terdengar lebih hidup dari yang lain.
Dengan raut sumringah yang tak disembunyikan, ia berkata,
“Putriku sudah datang.”
Degup dalam diri Shafiya seakan menghentak, mendengarnya.
Sejenak… semuanya seperti terhenti.
Langkah Shafiya terpaku.
Bukan karena tidak ingin maju.
Tapi karena ada sesuatu yang menahan dari dalam.
Panggilan itu. Pengakuan yang terlalu akrab. Terlalu dekat. Yang sudah lama tersemat. Bahkan sebelum adanya rencana pernikahan dengan gus Ilzam. Hingga kini--saat semua sudah hancur berantakan, Kyai Sholih masih tetap dengan pengakuannya. Dengan panggilannya pada Shafiya.
Dan itu menghadirkan rasa bersalah yang cukup menekan.
Nyai Hamidah bangkit. Gerakannya tenang. Langkahnya mengarah langsung pada Shafiya.
"Nak, sudah datang?" Sapaan itu--khas Nyai Hamidah. Dan sapaan itu pula yang senantiasa mengingatkan Shafiya pada mendiang uminya.
Shafiya kian terpaku.
Dan ketika jarak itu akhirnya habis,
tangan Nyai Hamidah terangkat--menyentuh wajah Shafiya dengan pelan. Seolah memastikan.
Bahwa yang berdiri di hadapannya… benar-benar dia. Putri yang dinantikan hadirnya.
“Alhamdulillah. Putriku sudah sampai."
Suara lembut itu masih sama. Nadanya masih sama. Tak ada yang berubah. Tak berkurang dan tidak bertambah. Meski kini situasi sudah tak lagi sama.
Tanpa menunggu lebih lama, Shafiya melangkah maju. Refleks.
Seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil.
Ia menunduk. Tangan Nyai Hamidah ia raih dengan hormat. Diciumnya punggung tangan itu dengan khidmat.
“Bibi.."
Suaranya pelan.
Lalu bergeser. Kepada Kyai Sholih. Ia melakukan gerakan yang sama. Mencium tangan penuh takzim.
Dan akhirnya--pada Kyai Fakih. Abinya sendiri. Dan kali ini lebih dalam. Lebih lama.
Tangannya bergetar tipis saat menjumput tangan itu.Didekatkan. Menyentuh keningnya. Lalu diciumnya tanpa kata.
Seolah semua yang ingin ia sampaikan… sudah cukup lewat sikap itu.
Di belakang Shafiya , Sagara berdiri.
Ia dipersilakan masuk dengan ramah.
Namun ia tidak mengikuti apa yang dilakukan Shafiya.
Tidak menunduk untuk mencium tangan.
Tidak pula mendekat sejauh itu.
Ia hanya memberi jeda singkat.
Lalu menundukkan kepala sedikit.
Sebuah anggukan kecil--sopan, terukur.
Perbedaan cara bersikapnya dengan Shafiya tidak mencolok. Namun jelas.
Dan tentu saja--tertangkap.
Kyai Sholih memperhatikan.
Nyai Hamidah juga.
Tatapan mereka sempat bertemu… sesaat.
Bukan untuk memberi penilaian.
Juga bukan sebentuk penolakan.
Hanya sebuah pertanyaan yang tidak diucapkan.
Tentang perbedaan yang baru saja hadir
di tengah kebiasaan yang sudah lama mereka pahami.
Namun tak satu pun dari mereka membahasnya.
Karena dalam keheningan itu…
mereka memilih untuk menerima lebih dulu sebelum memahami semuanya.
"Abi, gimana?" Shafiya duduk dekat dengan abinya. Menatap penuh haru.
"Alhamdulillah." Jawaban syukur itu yang diberikan kyai Fakih, tanpa penjelasan apa pun.
Shafiya paham maksudnya. Begitu ajaran abinya dari dulu. Apa pun kondisi yang sedang kita hadapi. Terima, dan syukuri.
"Paman, dan Bibi." Shafiya bergeser ke Kyai Sholih dan Nyai Hamidah. "Bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik," Nyai Hamidah menjawab lebih dulu. Tersenyum hangat. "Semakin baik setelah bertemu denganmu, Nak."
Shafiya membalas dengan senyum lembut.
"Terima kasih, Bibi," ucapnya tulus.
"Shafiya sendiri." Kyai Sholih menyusul. "Sehat, Nak?"
"Sehat, Paman."
"Bayinya bagaimana? Sehat?" Pertanyaan berikutnya datang lebih lembut.
Ada jeda sejenak. Shafiya tak langsung menjawab--seperti masih meyakinkan diri, bahwa pertanyaan itu untuknya.
"Insyaallah," jawabnya akhirnya.
Kyai Sholih mengangguk pelan.
"Dijaga baik-baik." Suaranya lembut dan hangat. "Itu titipan Allah."
Shafiya menunduk.
Ia tahu. Bagaimanapun caranya ia datang, anak adalah titipan Allah yang harus dijaga. Dirawat sebaik mungkin.
Tanpa sadar, tangannya terangkat menyentuh perutnya. Pelan.
"Iya, Paman."
Saat itulah, Kyai Sholih mengalihkan pandangannya pada Sagara.
Ia sejak tadi memang berada di dalam ruangan itu.
Namun seperti tidak sepenuhnya hadir.
Berdiri tegak. Tenang. Tapi tetap Dengan membawa jarak yang tak kasat mata.
“Silakan duduk, Mas. Kita berbincang sebentar.”
Nada Kyai Sholih tetap hangat, dan akrab.
Sagara menatapnya sejenak. Mengangguk tipis.
"Terima kasih." Tapi ia tidak bergerak untuk duduk. Seakan berdiri itu memang yang ia pilih.
Kyai Sholih tersenyum lembut. Tampak tidak tersinggung, meski tawarannya tidak diindahkan. Nyai Hamidah menatapnya, ada yang sedikit berubah di tatapannya.
Kyai Sholih mengangguk, seolah berkata tidak apa-apa.
Shafiya bangkit. Melangkah ke Sagara.
"Duduk dulu, Mas," ucapnya pelan. Sebuah permohonan lembut. Tak hanya itu Shafiya meletakkan tangannya di lengan Sagara. Singkat.
Sagara menatapnya.
Shafiya mengangguk sambil tersenyum.
Sagara diam beberapa detik. Sebelum akhirnya bergerak, mengambil tempat duduk di kursi yang disediakan. Duduk tegak seperti biasa. Dan Shafiya kini duduk di sampingnya.
Kyai Sholih mengangguk pelan melihat itu.
“Perjalanan dari kota… lancar, Mas?”
Pertanyaan sederhana.
Namun memberi ruang.
“Lancar.”
Sagara menjawab singkat saja.
Kyai Sholih tersenyum tipis.
“Alhamdulillah.”
Ia tidak langsung bertanya lagi.
Memberi jeda beberapa detik.
“Di sini… mungkin berbeda dari tempat yang biasa Mas tinggali.”
Nada suaranya tetap ringan. Tidak menekan.
“Lebih tenang," lanjut kyai Sholih
Sagara mengangguk kecil.
“Ya.”
“Kalau tidak terbiasa, wajar.”
Kyai Sholih melanjutkan.
“Tempat seperti ini… tidak semua orang langsung merasa dekat.”
Tidak ada nada menyindir.
Hanya memberi sebuah pengertian.
Sagara tidak menjawab.
Namun kali ini… ia tidak mengalihkan pandangan.
“Shafiya dulu tumbuh di sini.”
Kyai Sholih menoleh sekilas pada putri kyai Fakih itu.
“Banyak hal yang membentuknya… dari tempat ini.”
Kalimat itu tidak panjang.
Namun cukup memberitahukan beberapa hal.
Sagara diam.
Tatapannya ikut bergeser sejenak pada Shafiya. Lalu kembali lurus.
“Mas bekerja di Adinata, ya?”
Kyai Sholih melanjutkan dengan arah pembicaraan yang lebih umum.
“Ya.” Sagara tetap menjawab singkat saja. Seperlunya.
“Pimpinan utamanya sekarang?” lanjut Kyai Sholih.
Sagara tidak langsung menjawab.
Namun juga tidak menghindar.
“Untuk saat ini.” Ia pilih jawaban paling aman. Tapi jelas.
Kyai Sholih tersenyum. Terkonfirmasi sudah beberapa dugaan yang ia dengar.
“Berat, ya," katanya.
Bukan bermaksud memberi simpati berlebihan. Lebih seperti… berusaha memahami.
"Iya, cukup." Jawaban Sagara tidak menampakkan keluhan. Juga bukan meremehkan beban tanggung jawab yang ia emban.
Kyai Sholih mengangguk lagi.
“Yang penting dijalani dengan baik.”
Bukan saran, tapi sebentuk dukungan.
Kyai Sholih berhenti sebentar.
Lalu menambahkan, dengan suara lebih pelan. “Termasuk yang di rumah.”
Kalimat itu ringan. Namun arahnya jelas.
Tidak ada yang menanggapi.
Namun untuk sesaat--ruangan itu terasa… lebih dalam dari sebelumnya.
Kyai Fakih yang dari awal memilih diam, kini sedikit mengangkat pandangan, ke Sagara. Menimbang. Menilai. Tapi beliau tetap memilih diam.
"Maaf, Ya, Mas. Kami kok jadi terlalu banyak bicara."
Nyai Hamidah menimpali dengan nada lembut. Seolah menyadari arah percakapan yang sejak tadi lebih banyak datang dari mereka.
"Tidak apa-apa."
Kendati Sagara berkata demikian, nyatanya nada itu tetap datar. Raut wajahnya juga.
"Kerabatnya, Shafiya juga?"
Namun Ada yang berbeda setelahnya. Sagara tak hanya menjawab. Tapi ia juga mulai bertanya.
"Iya," jawab Nyai Hamidah. Dengan senyum yang masih sama.
"Sudah lama kami dekat dengan keluarga ini." Dan ia berhenti sejenak.
"Sebelum ini, kami juga calon mertua Shafiya."
Tidak ada nada berat ataupun penekanan.
Disampaikan seperti fakta biasa. Tanpa tendensi apa-apa.
Namun hening itu datang setelahnya.
"Oh." Sesingkat itu tanggapan Sagara. Namun tatapannya kemudian pada Shafiya tidak sesingkat tanggapannya.
Bukan tatapan tajam.
Bukan menuntut.
Tapi cukup lama…
Dan cukup untuk membuat Shafiya merasakan adanya sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.
🥀🥀🥀 Siang Kakk pembaca semua..
Tiga hari gak update ya, karena memenuhi saran dokter untuk istirahat. Semoga setelah hari ini bisa rutin kembali tiap hari. Insyaallah.
Oh ya, Semoga kakak semua selalu sehat ya. Sangat terasa bahwa sehat itu berharga saat kita sakit...
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering