Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Koneksi
Sayup-sayup Darren membuka matanya perlahan, menyingkap langit-langit putih dengan lampu neon yang terang menyambut kesadarannya yang masih terasa mengambang itu. Tubuhnya jelas terasa sangat berat, terutama pada bagian kepala yang kini dibebat tebalnya perban.
Dia mencoba mengamati sekeliling, dan ternyata ruangan itu merupakan kamar perawatan kelas utama yang sangat luas. Terlihat pula sebuah monitor detak jantung sampai sebuah selang infus terpasang rapi di punggung tangan kanannya. Tirai putih yang hanya tertutup setengah memperlihatkan panorama gedung-gedung kota di balik jendela besar.
Budi juga sudah duduk di kursi sebelah ranjang dengan wajah yang letih. Matanya sembab, namun raut wajahnya berubah lega begitu menyadari Darren sudah siuman.
“Bos, akhirnya kau sadar juga. Aku sempat berpikir kau bakal koma sampai seminggu,” kata Budi sembari mengusap air di pipinya. Dia memanglah cengeng.
Shinta juga berdiri di sana, memberikan anggukan kecil dengan tatapan yang memancarkan rasa khawatir. Shinta memang tidak mengeluarkan suara sedikit pun, namun Darren mampu membaca ketulusan dari raut wajahnya.
Darren mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha mengusir rasa kantuk yang tersisa. “Kenapa aku bisa sampai di sini?”
Budi pun segera menjelaskan situasi yang terjadi. Darren rupanya tiba di lobi gedung milik keluarga Han dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dari pelipis dan bagian belakang kelapanya. Oleh karena itu, petugas keamanan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat. Beruntung, pemeriksaan dokter menyatakan bahwa luka tersebut tidak sampai merusak jaringan vital meskipun pendarahannya cukup banyak.
“Kau ambruk tepat di depan pintu masuk, Bos. Beruntung satpam di sana sigap dan langsung membawamu ke sini,” lanjut Budi.
Kemudian di saat yang sama, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Seorang dokter pria paruh baya dengan jas putih masuk diikuti oleh dua perawat perempuan. Adapun di belakang mereka, seorang wanita berdiri bersedekap di ambang pintu dengan tatapan yang sangat tajam. Siapapun tahu jika itu adalah Nona Han Seo yeon. Dokter itu pun mendekati ranjang, lalu mulai memeriksa kondisi fisik Darren dengan sangat teliti.
“Apakah masih merasakan mual? Pusing yang hebat? Atau mungkin penglihatan Anda terasa kabur?” tanya dokter itu sembari memeriksa pupil mata Darren.
Darren menjawab setiap pertanyaan itu dengan tenang. Rasa pusingnya masih ada, namun tidak separah sebelumnya. Penglihatannya juga masih sangat jernih. Suaranya juga terdengar normal kendati kepalanya masih terasa sangat berat.
Sementara itu, Budi segera beranjak dari kursinya. “Bos, aku pamit keluar sebentar ya. Kau harus banyak istirahat. Ini aku bawakan buah-buahan yang manis supaya kondisimu cepat pulih.”
Budi menepuk bahu Shinta, memberikan isyarat agar gadis itu ikut keluar dari ruangan. Shinta menunduk hormat ke arah Darren sebelum akhirnya melangkah mengikuti Budi. Setelah mereka menghilang di balik pintu, Seo yeon yang sejak tadi hanya diam di ambang pintu akhirnya melangkah masuk. Tatapannya langsung terkunci pada sang dokter.
“Dari hasil pemeriksaan tadi, apakah ada tanda pendarahan di bagian dalam? Bagaimana dengan tekanan darahnya saat ini? Apakah sudah diberikan antibiotik yang tepat untuk mencegah infeksi? Saya rasa perban di kepalanya itu terlalu tebal. Apakah Anda yakin sudah menangani kasus cedera kepala seperti ini sebelumnya?”
Seo yeon melontarkan rentetan pertanyaan itu dengan tempo yang sangat cepat. Sementara dokter itu tergagap dengan kening yang mulai berkeringat dingin. Dia sangat menyadari bahwa wanita di hadapannya adalah pewaris konglomerat yang memiliki pengaruh besar atas institusi ini.
“Ba.. baik, Nona Han. Kami sudah menjalankan seluruh prosedur medis terbaik yang kami miliki. Pasien saat ini dalam kondisi yang sangat stabil,” jawab dokter itu dengan gemetaran.
Sedangkan Darren yang merasa sedikit risi melihat ketegangan itu akhirnya buka suara. “Nona Han, aku baik-baik saja.”
Seo yeon sama sekali tidak menoleh. Dia tetap menatap sang dokter hingga pria itu mundur selangkah karena merasa tertekan oleh kewibawaannya. Setelah merasa puas dengan jaminan dari tim medis, Seo yeon akhirnya membiarkan mereka keluar dari ruangan. Kini hanya tersisa mereka berdua.
Tanpa basa-basi Seo yeon mendekati ranjang, lalu secara tiba-tiba menyentuh kening Darren dengan punggung tangannya yang terasa dingin. Dia seolah ingin memastikan sendiri suhu tubuh asistennya itu.
“Suhu tubuhmu agak tinggi,” katanya dengan datar. “Aku tidak punya asisten pengganti yang bisa diandalkan. Maka dari itu, lekaslah sembuh karena sudah banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor.”
Lantas Darren menarik napas panjang. “Wanita ini benar-benar tidak bisa diajak drama sedikit saja. Aku kira dia akan bicara hal manis atau menunjukkan rasa khawatir, ternyata cuma karena butuh tenaga kerja,” pikir Darren sembari menyunggingkan senyum tipis.
“Aku pasti akan cepat pulih, Nona. Jangan terlalu khawatir,” kata Darren kemudian.
Ekspresi wajah Seo yeon akhirnya berubah menjadi lebih serius. Dia menjauhkan tangannya dari kening Darren.
“Timku sudah melakukan penyelidikan terhadap batu dari Priyo Tan Wijaya itu. Batu itu mengandung radiasi yang membahayakan kesehatan, meskipun Priyo sendiri tampaknya tidak menyadarinya saat memberikan hadiah itu. Selain itu, Shinta sudah bercerita melalui penerjemah bahasa isyarat mengenai kekerasan yang dilakukan Priyo terhadapmu,” jelas Seo yeon.
Dia melanjutkan penjelasannya dengan tenang. “Oleh karena itu, ayahku sudah memutuskan untuk membatalkan seluruh perjanjian pernikahan itu. Keberadaan batu beracun itu menjadi alasan yang sangat kuat bagi keluarga kami untuk memutus hubungan.”
Belum sampai selesai berbicara, Darren sudah lebih dulu tersenyum sangat lebar mendengar kabar itu. “Bagus! Akhirnya kau tidak jadi menikah dengan pria botak yang menyebalkan itu!”
Darren tertawa cukup keras, namun hal itu justru memicu rasa sakit di ulu hatinya serta denyutan hebat di bagian kepala yang terbungkus perban. Dia meringis sembari memegangi kepalanya yang terasa seperti dipukul palu.
“Aduh... sakit juga ternyata,” keluh Darren.
Seo yeon menatapnya antara heran dan merasa kesal. “Kenapa kau sampai tertawa seperti itu?”
“Ahh... anu... itu gerakan spontan, Nona. Aku benar-benar lega mendengarnya,” jawab Darren setelah berhasil mengatur napasnya kembali.
Darren kembali memasang raut wajah serius dan menceritakan fakta bahwa Herman ternyata bekerja di bawah perintah Priyo. Mereka berniat menghabisi nyawa Darren dan mengambil organ tubuhnya untuk dijual. Lebih parah lagi, Priyo sempat melontarkan ancaman untuk menghancurkan eksistensi keluarga Han di Korea.
Seo yeon mendengarkan dengan saksama. Matanya menyipit, mencerminkan pemikiran yang sangat jauh. “Priyo tidak akan mampu meruntuhkan keluargaku dengan cara semudah itu. Namun tetap saja ada hal yang perlu diwaspadai.”
“Apa maksudmu?” Darren mengerutkan dahi.
Sedangkan Seo yeon menggelengkan kepala. “Istirahatlah dulu. Aku akan menjelaskan segalanya setelah kau benar-benar pulih dan bisa berdiri lagi.”
Wanita itu pun berbalik arah, melangkah menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar pergi, dia sempat menoleh ke arah Darren. “Jangan mencoba pergi ke mana-mana. Aku akan segera kembali.”
Pintu tertutup rapat. Darren kini kembali sendirian di dalam kesunyian kamar VIP itu, menyandarkan kepalanya pada bantal, lalu tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas.
“Kenapa aku merasa sangat senang saat tahu dia batal menikah? Padahal punya majikan sedingin es seperti dia itu melelahkan. Ini pasti murni karena si pria botak itu memang pantas mendapatkan kegagalan, bukan karena alasan lain,” batin Darren berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Pikirannya kemudian beralih pada sosok Shinta. Gadis itu sudah mempertaruhkan keselamatannya dengan memukul Herman menggunakan linggis besi demi menyelamatkan nyawa Darren. Darren merasa berutang budi dan bertekad untuk membantu memperbaiki taraf hidup gadis itu setelah dirinya keluar dari rumah sakit. Setelah itu, dirinya segera mencari ponsel dan menemukannya tergeletak di meja samping ranjang, tepat di dekat keranjang buah pemberian Budi.
Layar ponsel itu penuh dengan berbagai notifikasi yang masuk. Terdapat pesan singkat dari grup keluarga, pesan suara dari nomor asing, hingga belasan panggilan tidak terjawab dari ibunya. Namun, senyum di wajah Darren mendadak lenyap saat jarinya tanpa sengaja membuka aplikasi sosial media.
Sebuah unggahan terbaru dari Rina muncul di layar utama. Terlihat foto Cello sedang berada di sebuah taman indah di Singapura dengan latar belakang pelangi yang memukau. Keterangan foto itu tertulis, “Hari yang indah bersama anakku tersayang.” Meskipun Alvino tidak tampak dalam bingkai foto itu, Darren sangat yakin pria itu berada tidak jauh dari sana.
Karena itu Darren segera memeriksa profil milik Alvino Chandra. Akun pria itu dipenuhi oleh citra pengusaha sukses yang dermawan. Ada foto-foto proyek properti megah, mobil-mobil mewah, hingga beberapa unggahan yang menampilkan Rina secara posesif.
“Bener-bener bermuka dua orang ini. Punya simpanan di mana-mana, tapi di internet gayanya seperti pria setia paling suci,” cibir Darren sembari terus menggulirkan jemarinya pada daftar pengikut Alvino.
Langkah telunjuknya pun terhenti pada sebuah akun anonim tanpa foto profil yang diikuti oleh Alvino. Nama penggunanya tidak jelas, namun di antara ribuan akun, profil itu sangat mencolok bagi Darren. Begitu diklik, Darren menemukan sebuah unggahan foto yang menampilkan wajah Herman dengan keterangan bertuliskan, “Mitra bisnis yang sangat bisa dipercaya.”
Jantung Darren ambles saat itu juga. Hubungan antara Alvino, Priyo, dan Herman kini terpampang nyata di depan matanya. Mereka semua berada dalam satu jaringan yang sama. Alhasil Darren segera bangkit dari ranjangnya meskipun kepalanya masih terasa sangat berat dan pusing. Dia duduk di pinggir tempat tidur, lalu mencari nomor Rina.
Panggilan itu dijawab pada dering ketiga, dan lagi-lagi, suara Rina terdengar sangat dingin di seberang sana. “Ada apa lagi, Mas?”
“Rina, dengarkan aku baik-baik. Kamu harus segera bawa Cello menjauh dari Alvino. Pria itu berbahaya, dia punya koneksi dengan Priyo Tan Wijaya dan Herman. Mereka baru saja mencoba membunuhku!”
Rina justru tertawa sinis. “Mas, kamu ini kenapa sih? Masih saja pakai cara lama buat menakut-nakuti aku? Alvino itu pengusaha baik, dia yang kasih Cello kebahagiaan yang tidak pernah kamu kasih selama ini.”
“Aku nggak bohong, Rina! Mereka satu komplotan. Alvino cuma mau memanfaatkanmu karena ada urusannya sendiri. Tolong, demi keselamatan Cello,” Darren sampai memohon.
“Mas! Bilang saja kalau kamu itu cemburu lihat aku bahagia. Kamu merasa harga dirimu jatuh karena sekarang aku punya pria yang jauh lebih hebat dari kamu, kan?” Rina menyela dengan nada menghina. “Sudah cukup. Berhenti mencampuri urusanku. Aku nggak mau dengar fitnah murahan kamu lagi.”
“Rina, Rina! aku serius! Kalau sampai Cello terluka sedikit saja karena kebodohanmu—“
“Kamu tidak akan pernah berubah, Mas! Kamu selalu ingin mengatur hidup orang lain sesuai kemauanmu padahal kamu sendiri gagal jadi kepala keluarga yang becus!” kata Rina sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak.
Lantas Darren melempar ponselnya ke atas kasur. “Awas saja kamu, Rina. Aku akan menjadi jauh lebih sukses dari pria idamanmu itu. Aku akan mengambil Cello kembali dan kau tidak akan bisa menghalangiku lagi.”
Darren bergumam penuh dendam kepada dirinya sendiri. Alhasil, dia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pintu ruangan yang tidak tertutup rapat itu, Seo yeon sedang berdiri sembari mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut asistennya itu.