Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Langkah Summer benar-benar terhenti di tepi taman. Kakinya seperti menolak melangkah lebih jauh. Pandangannya tertuju pada dua pria yang duduk di bangku itu. Ia tidak menatap terang-terangan, hanya sekilas. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa aneh.
Dua pria itu terlihat santai. Satu bersandar, satu lagi condong ke depan. Obrolan mereka terdengar ringan. Lalu tawa itu kembali pecah.
Dan di situlah semuanya terasa janggal.
Summer menatap datar. Wajahnya tetap tenang. Tapi di dalam kepalanya, semuanya berisik.
“Kenapa…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Tawa itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih bebas. Lebih lepas.
Dan entah kenapa… terasa familiar.
Jantung Summer berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena takut. Tapi karena bingung.
“Gue pernah denger suara ini,” bisiknya dalam hati.
Ia menelan ludah. Pandangannya kembali mengarah ke dua pria itu. Salah satu dari mereka masih tertawa sambil menepuk lututnya sendiri. Sementara yang satunya hanya menggeleng sambil ikut terkekeh.
Summer memperhatikan sebentar. Lalu mengalihkan pandangan. Tapi beberapa detik kemudian, ia kembali melihat ke arah yang sama.
Seolah ada sesuatu yang menariknya.
Kepalanya mulai berisik.
“Mirip…”
Satu kata itu terus berputar.
Mirip suara dia.
Dengan siapa?
Summer tahu jawabannya. Tapi ia tidak mau mengakuinya.
Willa.
Nama itu muncul begitu saja di kepalanya. Membuat alisnya langsung berkerut.
“Apaan sih,” batinnya cepat.
Ia menggeleng pelan. Mencoba menepis pikiran itu. Tapi bukannya hilang, justru semakin jelas.
Tawa itu, cara dia tertawa dengan lepas, itu sangat mirip.
Summer menghela napas pelan. Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Gak mungkin,” bisiknya lagi.
Logikanya langsung menolak. Yang ia lihat sekarang jelas laki-laki. Postur tubuh. Cara duduk. Gestur. Semuanya tidak mungkin salah.
Sementara Willa…
Summer terdiam.
Willa perempuan.
Ia sendiri yang melihat. Ia sendiri yang berbicara. Ia sendiri yang tertawa bersama kemarin.
“Gue ngawur,” gumamnya.
Tapi kepalanya tidak berhenti overthinking. Justru pemikiran barusan bikin dia menduga-duga dengan semakin liar.
“Kalau…”
Ia menahan napas.
“Kalau mereka orang yang sama gimana? Selama ini, gue dalam bahaya dong?” pikir Summer dan hanya terlontar dalam otaknya saja, tanpa keluar dari bibirnya.
Kalimat itu muncul begitu saja. Tanpa izin. Tanpa logika.
Summer langsung menutup mulutnya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Gila, ini pikiran yang gila,” bisiknya cepat.
Ia menggeleng lebih keras. Rambutnya sedikit berayun.
“Gak masuk akal, kenapa kepala gue bisa mikir kaya gini sih ah.”
Lagi dan lagi, semua hanya berputar di kepalanya saja tanpa keluar kalimat dari bibirnya.
Namun bukannya pikiran itu tenang atau diam di tempat, sekarang justru semakin bergerak liar.
Tiba-tiba saja terbersit dipikirannya, bagiamana kalau orang itu yang menyamar jadi Willa. Bagaimana kalau Willa laki-laki?
Willa yang sering ke kamar, Willa yang bebas keluar masuk, pernah numpang mandi di kamar dia dan juga....
"Jir, kalau dia cowok gimana? Dia sering keluar masuk kost cewek. Dia sering masuk ke kamar gue. Gimana kalau dia ini... Klepto?"
Summer memiringkan kepalanya, dengan kepala yang benar-benar berisik juga liar.
"Gimana kalau beneran dia cowok, dia dengan ngekost di lingkungan cwek biar bebas ngintip dan keluar masuk ke kamar gue sama yang lain? Gimana kalau dia beneran klepto yang suka nyuri kancut? Gimana kalau dia pake kacamata para cewek di kamar yang dia masukin? Gimana kalau..."
Tiba-tiba Summer menegakkan kepalanya lagi, dengan mata yang terbuka lebih lebar dan tubuh yang tegang tapi kepala tetap berisik.
"Woy! Woy! Woy! Ini apaa? Kenapa otak makin liar begini, astaga?!”
Tangannya langsung naik ke pelipis, menekan ringan seolah ingin meredam pikirannya sendiri yang semakin tidak terkendali.
“Kenapa jadi sejauh ini mikirnya?” lanjutnya dalam hati.
Ia menggeleng keras. Sekali. Dua kali. Tapi bayangan itu sudah terlanjur terbentuk.
Willa masuk ke kamarnya.
Willa duduk santai.
Willa pinjam kamar mandi.
Dan sekarang… semua itu diputar ulang dengan sudut pandang yang berbeda. Summer langsung merinding sendiri.
“Apaan sih… sumpah ini gak bener,” bisiknya, kali ini lebih tegas.
Ia menutup wajahnya sebentar dengan satu tangan, menarik napas panjang. Dadanya naik turun, mencoba menenangkan diri.
“Fokus, Summer. Fokus.”
Ia membuka matanya lagi. Menatap lurus ke depan. Tapi pikirannya masih belum benar-benar diam.
“Gue kenal dia,” katanya dalam hati, mencoba menahan arah pikirannya sendiri. “Gue tahu dia kayak gimana. Willa itu cewek, dan orang yang gue lihat sekarang itu cowok. Jangan mikir aneh Summer, please.”
Summer menurunkan tangannya perlahan. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, tapi setidaknya pikirannya mulai sedikit tertata.
Ia menatap lagi ke arah dua pria itu meski tidak selama tadi. Ia menatap mereka, seolah ingin memastikan satu hal bahwa salah satunya benar-benar laki-laki dan hanya sedikit mirip cara tertawanya dengan Willa.
"Oke Summer, dia sama Willa beda. Kalau cuman ketawa, semuanya juga sama aja kan? Kan sama-sama manusia, lagian ketawa itu gak ada hak ciptanya kan? Kalau ada yang sama, gak bisa dianggap plagiat juga," gumam Summer mulai mengeluarkan kalimat absurd yang jarang orang dengar.
Summer mengangguk kecil pada ucapannya sendiri. Logika aneh itu justru terasa lebih masuk akal dibanding pikiran liar yang tadi sempat menyeretnya ke mana-mana.
“Iya… ketawa doang kok dipikirin sampe segitunya,” gumamnya lagi, kali ini sedikit lebih santai.
"Udah ya Summer, jangan mikir aneh-aneh lagi, apalagi yang mikir kalau si Willa itu cowok dan seorang klepto. Stop mikir gila ya Mer,” lanjutnya dalam hati, seperti sedang memberi perintah ke dirinya sendiri.
"Balik ke kelas dan lupain apapun pikiran gila lo, sebelum lo jadi pasien prodeo," gumam Summer, lalu melangkah menyusuri koridor yang menuntunnya menuju kelas.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, seolah meralat sesuatu.
"Buset, kenapa tadi gue bilang prodeo? Itukan penjara, bukan RSJ? Terus kenapa... Aaah udah ah, mau prodeo kek, promina kek, apa kek, terserah. Karena kalau gue mikir kayak tadi lagi, yang pertama terjadi adalah gue bisa langsung minum promax obat sakit kepala. Haaah," gumam Summer dengan keberiaikannya sendiri, yang bahkan cuma bisa ia dengar tanpa di dengar orang lain.
Ketika Summer mulai menjauh, tanpa ia sadari bahwa dia orang yang sedang ia perhatikan tadi, juga diam-diam memperhatikannya sejak pertama ia melihat mereka.
"Aman gak Lo, bro? Ditatap segitunya sama Summer?"
"Gue gak tahu, Yo. Yang jelas, gue deg-degan. Gue ngerasa kalau gue udah ketahuan banget sama Summer, dia kayak curiga ke gue," jawab Willy.
"Anjir, gue ngerasa di telanjangin sama dia," sambung Willy.
"Nah kan, belum apa-apa Lo udah ketar- ketir duluan. Gimana kalau misalkan Lo beneran di curigain dia?”
Willy terdiam. Ia yakin kalau kemarin tidak pernah membuat kesalahan apapun didepan Summer. Tapi melihat tatapan Summer tadi, keyakinan Willy justru menurun drastis.
“Apa… dia udah sadar siapa gue?”