Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.
Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.
Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter eleven
Waktu terus berlalu. Sudah 2 minggu Xaviero ada di Mansion Dominic. Kerja dari situ, untuk rapat dan lain-lain digantikan oleh yang lain. Xaviero selalu memasak untuk Xaviera. Apapun yang Xaviera minta selalu dia berikan. Pagi itu seperti hari-hari biasa, Xaviera menghabiskan sarapannya dalam diam. Setiap kunyahan terasa biasa saja di wajahnya, ia juga tidak mengusir Xaviero. Itu membuat lelaki itu hanya berdiri kaku tidak jauh dari Xaviera.
“Aku sudah selesai, kau boleh pergi,” ucap Xaviera akhirnya, meneguk jus jeruk hingga habis. Nada suaranya datar, tanpa emosi.
Xaviero mengangguk cepat. “Baik.” Ia berbalik, tapi berhenti sejenak. “Aku… akan membawakan makan siang nanti.”
Xaviera mengangkat alis. “Tidak perlu.”
Namun Xaviero sudah melangkah pergi, menutup pintu perlahan. Dia mendengar Xaviera tetapi apakah Xaviera peduli? Tentu tidak. Dia akan tetap membawa makan siang untuk Xaviera.
Di balik daun pintu, Clara langsung bergumam kecil, menahan sorak. Xander mengacungkan jempol, sementara Jovanovic hanya menghela napas.
"Padahal aku takut Xaviero dipukul lagi tadi" kata Xander.
“Dia tidak menolak,” bisik Clara.
“Dia juga tidak terlalu menerima” balas Jovanovic datar.
Hari itu berjalan lambat bagi Xaviero. Setiap jam terasa seperti satu hari penuh. Dia selalu menatap jam, berharap jam makan siang segera datang. Sejak kemarin memang Xaviera tidak turun makan. Gadis itu sedikit malas saja. Bukan karena ada Xaviera ya. Itu sih kata hati Xaviera.
Xaviero mencoba fokus bekerja, tapi pikirannya terus ke istrinya. Dia tidak dapat menahan perasaannya. Tetapi dia juga tidak ingin membuat Xaviera risih. Diberikan kesempatan begini saja sudah cukup untuk Xaviero.
Sementara itu, di kamarnya, Xaviera kembali membuka buku catatannya. Tulisan tangannya rapi. Namun jarinya berhenti di satu baris, tinta menodai kertas karena ia terlalu lama diam.
Kenapa dia berubah?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya. Empat tahun pernikahan, dan baru sekarang lelaki itu muncul. Terlalu terlambat. Walaupun dia bukan Xaviera yang asli, tetap saja dia adalah kakak pemilik tubuh ini, bahkan dulu sempat ada dipikiran Xaviera untuk membunuh Xaviero.
Siang menjelang. Tepat seperti janjinya yang bahkan tidak diminta, Xaviero muncul dengan nampan dan piring berisi makanan yang dia buat sendiri.
Ia mengetuk. Tidak ada jawaban. Ia ragu sejenak, lalu mengetuk lagi.
“Masuk,” suara Xaviera terdengar dari dalam.
Xaviero membuka pintu. Xaviera duduk di sofa, membaca. Tatapannya sekilas menoleh, lalu kembali ke halaman.
“Aku bilang tidak perlu,” ucapnya tanpa melihat Xaviero.
“Aku tahu,” jawab Xaviero tenang.
Ia meletakkan kotak makan di meja. Tidak menunggu, ia berbalik pergi. Tidak ada penjelasan panjang.
Xaviera menutup bukunya perlahan. Matanya tertuju pada nampan itu. Ia menatapnya lama, sebelum akhirnya mengambil piring. Aroma masakan itu sangat menggoda seleranya.
“Hah,” desahnya lirih. “Menyebalkan.”
Namun tetap ia makan.
Malamnya, Xaviera turun tanpa dipanggil. Padahal Xaviero sudah siap mengantarkan makanan untuknya.Semua mata langsung tertuju padanya terutama Xaviero. Ia refleks meletakan nampan makanan itu dan mendekati Xaviera, menarikkan kursi.
Xaviera berhenti. Menatap kursi itu. Lalu menatap Xaviero.
“Kau tidak perlu seperti itu,” katanya.
Xaviero kaku. “Maaf.”
Xaviera duduk di kursi lain, sedikit menjauh. Ia duduk di dekat Jovanovic.
Xander hampir tertawa melihat itu, Xaviena menatap Xaviero kasihan.
Clara tersenyum kecil, menendang kaki Xander di bawah meja agar diam.
Makan malam berlangsung dengan obrolan ringan.
Xaviero tidak banyak bicara. Ia lebih banyak memperhatikan piring Xaviera yang hampir kosong, gelasnya yang mulai habis. Tanpa diminta, ia berdiri, mengisi ulang air minum itu.
Xaviera menoleh cepat. “Aku bisa sendiri.”
“Aku hanya ingin melakukannya.”Jawab Xaviero.
Hening sejenak. Xaviera menatap air di gelasnya, lalu beralih ke wajah Xaviero. Tatapan mereka bertemu. Xaviero, tentu saja tidak mau memalingkan pandangannya dari Xaviera.
Xaviera yang langsung melihat kearah lain karena Xaviero yang masih menatapnya.
Jovanovic dan Xaviera adalah orang yang selesai makan duluan. Sebenarnya Xaviero yang pertama tapi kan Xaviero bukan orang. Kata Xander gitu.
Jovanovic langsung menggenggam tangan adiknya dan menuntun Xaviera untuk masuk ke kamar. Xaviero yang melihat itu menggenggam kuat gelas ditangannya.
Krak
Bunyi gelas pecah mengagetkan Xander yang sedang mengunyah. Xaviena dan Clara menoleh kaget. Darah mengucur deras dari telapak tangan Xaviero, tapi tidak ada rintihan yang keluar. Potongan gelas itu menusuk dalam telapak tangan Xaviero, lukanya agak besar untuk ukuran tergores kaca.
"Kak Vier, tanganmu" Xaviero langsung berjalan menuju lantai atas. Riccardo tentu saja langsung mengikuti tuannya. Dominic tersenyum miring melihat itu.
"Dia mau kemana?" Tanya Xander.
"Ke kamarnya sendiri, tentu saja" balas Clara.
"Dia tidak akan berani pergi ke kamar Xaviera sekarang" tambah Xaviena.
Pagi datang. Kejadian tadi malam tidak diketahui oleh Xaviera saja. Karena Jovanovic sudah diberitahu Xander.
Brakk
Kamar Xaviera didobrak kasar oleh Xaviena dan Clara. "Hey kamu merusak pintunya" Xaviera menatap Xaviena kesal.
"Tidak peduli, lagipula ini pintu milik cintaku, Dominic. Dia tidak akan marah kalau pintu ini rusak" Xaviera memutar bola matanya malas.
"Cih menggelikan" Xaviena hanya menjulurkan lidahnya mengejek Xaviera.
“Ayo kita pergi,” kata Xaviena sambil mendekati Xaviera dan menyiapkan barang-barangnya.
“Pergi ke mana?” tanya Clara, setengah mengantuk, rambutnya masih diikat asal. Dia hanya ikut saja saat ditarik Xaviena tadi.
“Kalau mau menculikku, pastikan tempatnya bagus dan mahal” Xaviera menatap kukunya.
Xaviena tersenyum tipis. “Cih. Ayo kalian pasti tidak akan menyesal ikut aku.”
Dan entah bagaimana, mereka sudah berada di dalam mobil meninggalkan mansion Dominic. Tentu saja Xaviena yang mengendarai mobil.
Tujuan Xaviena adalah kota kecil di pinggir danau. Tempat yang tidak sering dikunjungi orang-orang, tidak terlalu ramai. Dominic pernah membawanya kesana. Dan itu menjadi tempat favorit mereka atau dirinya sendiri.
Clara duduk di kursi depan disamping Xaviena, memutar playlist kpop kesukaannya yang untungnya juga diminati oleh kedua kakak adik itu. Xaviera di belakang, memandang pemandangan di luar jendela.
“Kalian tidak bertanya?” tanya Xaviena akhirnya.
“Tentang apa?” jawab Xaviera datar.
“Kemana aku membawa kalian.”
Xaviera mengangkat bahu. “Aku tidak peduli. Tidak mungkin juga kan kamu bawa kita ke tukang jagal.” Xaviena menoleh kebelakang. "Hey mulutmu"
"Hahahaha" Clara tertawa keras membuat Xaviera dan Xaviena ikut tertawa.
Perjalanan mereka tidak memakan banyak waktu. Pemandangan dijalan saja sudah sangat indah, apalagi saat mereka sampai.
Danau menyambut mereka dengan tenang.
Airnya berkilau terkena matahari. Angin sejuk. Tidak ada suara selain burung dan riak air.
Walaupun jarang dikunjungi orang tapi ada beberapa orang disana yang menjual makanan ringan dan minuman. Ada juga tempat penyewaan sepeda.
Xaviena langsung menarik tangan mereka dan menyewa sepeda.
Mereka mengayuh sepeda dengan santai.
Clara berteriak kegirangan saat hampir jatuh.
Xaviera menahan napas. Kemudian berteriak kesal. "Clara, hati-hati"
Setelah puas bersepeda, mereka berjalan menyusuri danau.
Clara di depan, sibuk mengambil foto. Xaviena dan Xaviera berjalan berdampingan.
“Kamu marah padaku?” tanya Xaviena tiba-tiba.
Xaviera menatap Xaviena “Untuk apa?”
“Karena aku mengambil sesuatu yang seharusnya milikmu.”
Langkah Xaviera melambat.
“Kamu tidak mengambil apa pun, Xena"katanya pelan. “Sejak awal dia bukan milikku. Kalaupun aku masih ditubuh mu sekarang, aku mungkin tidak akan mencintai Dominic”
Xaviena berhenti berjalan. Menatap Xaviera.
“Tapi aku merasa seperti aku mengambil kebahagiaan mu dan meninggalkan kesakitan untukmu,” katanya hati-hati.
"Kamu tahu aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Xaviero. Aku mengabdikan diriku padanya dulu karena dia suamiku.”
Xaviera menoleh. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Tenang saja, Xena. Aku tidak marah kamu ada di tubuh ku sekarang, apapun yang kamu miliki sekarang itu milikmu. Aku yang mungkin tidak bisa jatuh cinta makanya belum bisa menerima dia" tapi hatinya sedikit ragu.
"Aku ingin membalas perbuatannya padamu, Xena. Aku sebagai kakakmu tidak terima kamu diperlakukan seperti itu. Aku marah, rasanya aku ingin membunuh Xaviero awalnya. Tapi tidak tau, aku seperti terikat pada Xaviero"
Xaviena menelan ludah.
“Kamu tidak marah?” tanya Xaviena lirih.
Xaviera tersenyum tipis.
“Aku sedikit marah memang. Kenapa aku tidak bisa sepertimu yang bisa langsung melupakan dia. Aku malah merasa agak jahat saat membiarkannya berdiri melihatku makan" Xaviera itu orangnya tidak enakan. Melihat Xaviero begitu sebenarnya dia tidak tega, tapi dia begitu karena ingin membalas Xaviero pada adiknya dulu. Xaviena memeluk Xaviera erat dan menangis keras. Xaviera sampai kebingungan.
"Aku minta maaf kakak, aku bahkan bisa dengan cepat melupakan Xaviero karena memang kakak tidak pernah merasakan cinta, sedangkan aku membuat kakak susah dengan perasaanku pada Xaviero" Xaviera yang awalnya bingung, akhirnya paham.
(Kalian ngerti kan? Xaviera yang masuk ke tubuh Xaviena bisa cepat terima Dominic karena Xaviena memang ga punya perasaan apapun pada siapapun, sedangkan Xaviena yang ada di tubuh Xaviera merasa terikat dengan Xaviero karena pernikahan mereka, dan perasaan Xaviera yang dulu. Gitu)
"Kamu adik kakak, Sayang. Jangan menangis" Xaviera menepuk-nepuk bahu adiknya berusaha menenangkan.
"Aku sudah memberi Xaviero kesempatan, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Aku merasa terikat, tapi tidak membuatku akan merasa menyesal jika nanti aku melepaskannya. Jadi jangan menangis, itu bukan salah kamu, Xena" Xaviena menatap Xaviera. Xaviera tidak menangis. Dulu waktu Xaviena yang masih menjadi Xaviera, dia selalu menangis.
"Cih badan aja yang lebih tua, gitu aja nangis" cibir Xaviera.
"Kan tetap aku yang adik"
"Nyenyenye" Xaviera mengacak rambut adiknya.
"Apakah kamu sudah memaafkan dia? Tidak dendam lagi?" Tanya Xaviera kembali serius.
"Tidak, kakak. Aku bahkan sudah berbaikan dengan Xaviero. Dia berlutut meminta maaf padaku dan meminta izin supaya kamu menjadi istrinya. dia brengsek sekali. Mencintai kakak yang ada di tubuh ku" Xaviena menghapus ingusnya yang sedikit menumpuk.
"Kamu jorok sekali" Xaviena langsung mengangkat bajunya dan menghapus ingus Xaviena.
"Kamu juga jorok" pekik Clara membuat kedua bersaudari itu kaget.
"Heh jangan panggil aku kakak, kamu lebih tua sekarang" kata Xaviera.
"Lupa, Xera sayang" balas Xaviena.
"Aku juga ingin kamu bahagia. Dengan siapapun nanti. Tapi aku memaksa kalian untuk selalu bersama, Xera harus bersama Xaviero" Xaviera memutar bola matanya malas.
"Jadi?" Tanya Xaviena.
"Ya mengalir aja" jawab Xaviera. Clara seperti orang bodoh yang tidak mengerti pembahasan terakhir mereka.
...TBC! ...
...Jangan lupa vote and komen yaa. Terimakasih. ...
badassss🤣👍
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,
semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,