Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Suami Kontrakku Mulai Berbahaya
Ranum menggagalkan kecupan itu, ia mendorong bahu Brams menjauh, dan segera lari ke kamar, untuk bersiap pergi Ziarah.
Brama tersenyum, "Ah kelinci putihku kabur lagi." Ucapnya, sambil menyusul Ranum.
Kini.
Ranum berdiri di depan lemari sepatu, masih setengah terpaku.
Pikirannya tertinggal di ruang baca Kakek Barra, pada kata mandul yang kini melekat pada sosok Brams.
Ia menoleh.
Brams sedang mengenakan jam tangan di pergelangan tangannya, gerakannya santai, seperti pria yang tidak membawa beban apa pun di bahunya.
Padahal… beban itu nyata.
Ranum menatapnya terlalu lama.
Tatapan itu tidak luput dari Brams.
“Ada apa?” tanya Brams tanpa menoleh, nadanya ringan.
“Kau menatapku seperti aku akan menghilang.”
Ranum tersentak.
“Tidak—aku hanya…” kalimatnya menggantung.
Brams akhirnya menoleh.
Tatapan matanya… dingin. Bukan marah. Tapi tertutup.
“Kalau mau berkata sesuatu, katakan,” ujarnya datar.
“Jangan menatap seperti itu.”
Ranum menelan ludah.
Ia membuang pandangan, meraih tas kecilnya.
“Ayo berangkat,” katanya pelan.
Brams menyeringai kecil, sisi jahilnya muncul.
“Tunggu.”
Ranum berhenti.
Brams melangkah mendekat, terlalu dekat.
Ia membungkuk sedikit, meraih ujung jilbab Ranum, membetulkannya dengan gerakan cepat.
“Kau ini istri kontrakku,” katanya ringan.
“Jangan melamun. Nanti orang mengira aku suami yang kejam.”
Ranum menegang.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Aku tidak melamun,” bantahnya.
Brams mengangkat alis.
“Bohong. Tatapanmu barusan seperti orang yang menyimpan rahasia besar.”
Ranum terdiam.
Brams menepuk pelan dahi Ranum dengan satu jari.
“Fokus. Kita mau ziarah. Bukan melamun memikirkan aku.”
“Justru kau yang membuatku sulit fokus,” balas Ranum spontan.
Brams tertawa kecil.
“Bagus, aku sudah tertanam di otak kecil mu.” Ia melangkah duluan ke arah pintu.
Ranum mengangkat kepalan tangannya, ingin meninju Brams.
Namun sebelum keluar, Brams berhenti mendadak.
“Naik mobil,” katanya singkat. Ranun refleks menurunkan lagi tangannya, Ranum mengangguk dan mengikutinya ke garasi.
Saat Ranum hendak membuka pintu mobil sendiri.
Klik.
Pintu sudah dibuka Brams dari dalam.
Ranum terkejut.
“Kau—”
“Naik,” potong Brams.
“Nanti Kakek mengira aku tidak sopan pada istriku.”
Ranum masuk, duduk rapi.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah hening.
Brams menyalakan mesin.
Tangannya di setir. Wajahnya tenang.
Ranum meliriknya sekilas.
Lalu menunduk.
Ia kembali melamun.
Tentang penyakit itu.
Tentang luka yang tidak terlihat.
Tentang pria di sampingnya yang bersikap seolah dunia tidak pernah menyakitinya.
Brams menyadarinya lagi.
Ia menghela napas pelan.
“Ranum.”
“Ya?” jawab Ranum cepat.
“Kau menatapku seperti aku rapuh,” ucap Brams tanpa menoleh.
“Aku tidak suka.”
Ranum tercekat.
“Ah, itu aku hanya…” suaranya melemah. Ia menghela nafasnya pelan.
“Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan.”
Brams tersenyum tipis, bukan senyum hangat. Lebih seperti dinding pelindung.
“Tidak perlu memikirkan apa pun,” katanya datar.
“Yang penting kau ingat satu hal.”
Ia menoleh sebentar, menatap Ranum tajam.
“Kita ini hanya menikah karena kontrak.”
Kata-kata itu jatuh pelan… tapi berat.
Ranum mengangguk.
“Aku tahu.”
Mobil melaju keluar gerbang, membelah jalanan kota. Dan hanya suara mesin yang menemani.
Ranum menatap jendela, berusaha mengatur napasnya sendiri.
“Ranum.”
Panggilan Brams terdengar santai, terlalu santai.
Ranum menoleh. “Apa?”
Brams melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kau pernah tidur dengan pria?”
BRAK.
Pertanyaan itu menghantam tanpa aba-aba.
Ranum menoleh cepat, matanya membesar.
“Kau berpikir aku wanita murahan?” suaranya tajam, menahan marah.
Brams terkekeh kecil.
“Ah... tidak sejauh itu.”
Ia mengangkat bahu, seolah sedang membicarakan cuaca.
“Aku hanya penasaran,” lanjutnya santai.
“Kau bisa pijat refleksi. Pasti sudah sering menyentuh pria dengan… tangan ajaibmu itu.”
Ranum mengepalkan jemari.
“Jaga ucapanmu, Brams.”
Nada suaranya dingin, tegas. Dalam hatinya, justru Brams lah dan Tuan Barra orang yang pertama kali Ranum sentuh dengan jarinya.
Brams menoleh penuh.
Tatapan matanya menyempit, tajam, menusuk, tapi ada kilat nakal di sana.
“Oh?”
“Berarti kau masih… bersih?”
Ranum sontak melotot, dan sebelum Ranum sempat membalas, tangan Brams berpindah, berhenti di atas pahanya.
Tidak meremas. Tidak kasar.
Hanya diam… tapi cukup membuat jantung Ranum melonjak. Ranum refleks hendak menepis.
Namun jari Brams menekan, tegas tapi terkendali.
“Diam,” katanya singkat.
Nada suaranya rendah.
Berbeda.
Bukan bercanda.
Jari telunjuk Brams bergerak sedikit, menyusuri kain gamis, nyaris tak terasa, tapi cukup membuat Ranum membeku.
Ranum menatapnya tajam.
“Apa yang kau lakukan?”
Brams tersenyum miring, lalu menarik tangannya kembali seolah tak terjadi apa-apa.
“Memastikan sesuatu.”
“Apa?” tanya Ranum tertahan.
Brams menatap jalan lagi.
“Bahwa kau masih bisa membuatku kehilangan kendali… hanya dengan diam.”
Ranum menelan ludah.
Dadanya naik turun.
“Bersiaplah malam ini,” ucap Brams datar, seakan sedang memberi jadwal makan malam.
Ranum tersentak.
“Untuk apa?”
Brams menoleh, senyumnya setengah mengejek.
“Tenang,” katanya ringan.
“Jangan tegang begitu.”
Lalu, dengan nada lebih pelan, lebih berbahaya.
“Ingat satu hal, Ranum.”
“Kau memang istriku karena kontrak.”
Ranum mengangguk kaku.
“Tapi di mata dunia dan Kakek ku,” lanjut Brams,
“kau tetap istri sahku.”
Ia berhenti sejenak, lalu menyeringai.
“Dan aku… tetap suamimu.”
Ranum menghembuskan napas kasar, berusaha menenangkan diri.
“Kau menyebalkan Brams,” gumamnya.
Brams tertawa kecil.
“Aku tahu.”
Mobil terus melaju, membawa dua orang dengan perasaan yang semakin tidak sederhana.
"Aku tidak akan menyerahkan apapun padamu Brams Ravendra." Sumpah Ranum dalam hatinya.
Bersambung…
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu