Adeeva harus rela menikah dengan pria yang bernama Arion demi membantu perusahaan ayahnya yang sedang di ambang kehancuran.
namun di balik itu Adeeva bisa bernafas lega karena biaa keluar dari tempat yang di bakalan rumah namun menurutnya adalah neraka.
akankah Adeeva biaa mendapatkan kebahgiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
011
Typo masih berkeliaran di setiap sudut cerita.
__________
Tepat pukul lima sore mobil yang menjemput Adeeva sudah ada di depan toko bunganya. Semua karyawannya menatap takjub mobil itu.
"Wah mbak Deva benar-benar menikah dengan orang kaya" seru Tika
"Aku ingin seperti mbak Deva, yang mendapatkan suami kaya dan tampan" timpal Lara.
"Tampan dan kaya todak menjamin kebahagiaan" seru Nora.
"Aku setuju dengan pemikiranmu, namun aku berharap Mbak Deva bahagia dengan pernikahaannya." seru Tika.
"Aku berharap demikian, mbak Deva orang baik dan akan mendapatkan yang terbaik juga" seru Nora.
"Mungkin ini balasan atas kesabarannya " lanjut Lara.
Tiga orang yang sedang menatap ke luar hanya mengangguk setuju.
"Sedang apa kalian di sini" Adeeva menatap tiga karyawannya yang sedang berdiri.
"Oh mbak, tuh kami sedang melihat mobil yang menjemput Mbak" seru Tika.
"Kalau begitu aku duluan. Jika sudah tidak ada pengunjung kalian bisa langsung menutup toko" seru Adeeva.
"Baik mbak " seru mereka bersamaan.
Adeeva berjalan menuju mobil hitam yang sudah menunggunya, di bantu oleh Tika.
Adeeva memejamkam matanya sesaat ketika mobil mulai melaju membelah jalan raya di sore hari.
"Pak bisa mampir ke toko kue dulu" seru Adeeva. Entah mengapa rasanya Adeeva sedang ingin menikmati kue coklat yang biasa di belinya.
"Baik Nona"
Adeeva di bantu turun oleh sopir yang menjemputnya.
"Tolong bungkus dua ya mbak"
"Baik mbak di tunggu ya" tidak begitu lama menunggu Adeeva sudah mendapatkan dua kotak kue kesukaannya.
Jarak dari toko bunga tidak begitu memakan waktu yang lama. Sebelum Adeeva turun daro mobil seorang pelayan sudah menunggunya.
"Mari saya bantu Nona" seru pelayan itu yang tidak lain adalah Ara.
"Terima kasih, oh tunggu sebentar"
Adeeva mengambil dua kotak kue. Satu kotak adeeva berikan untuk sopir yang mengantarnya.
"Terima kasih kena sudh membantuku dan menjemputku"
"Itu kewajiban saya"
"Ini, aku hanya bisa memberikan ini untukmu, ku harap anda mai menerimanaya" seru Adeeva.
"Terima kasih nona" seru sopir itu dan langsung mengambil kotak yang di berikan oleh Adeeva.
Ara yang menyakitkan hanya bisa tersenyum dalam hati. entah mengapa Ara bersyukur karena nona mudanya adalah Adeeva.
"Mari Nona, atau anda butuh kursi roda" Seru Ara.
"Tidak perlu. Aku masih bisa berjalan sendiri. Jika aku memakai kursi roda aku seperti orang lumpuh" Seru Adeeva.
Keadaan di rumah sangat sepi, tidak ada seorangpun atau mungkin belum pulang.
Adeeva duduk di kursi untuk melupakan kakinya hingga seorang pria berjalan manghampirinya.
"Kakak sudah pulang" seru pria itu yang tidak lain adalah adik laki-laki Arion.
"Aku baru pulang, kau sendiri?"
"Aku juga, boleh aku duduk di sini" seru Vano.
"Ini kosong, kau bisa duduk di manapun" seru Adeeva.
Vano menatap kaki kakak iparnya yang terbalut perban. "Apa itu sakit" tanya Vano.
"Apa kau ingin merasakannya" tanya Adeeva.
"Tidak"
"Aku membeli kue coklat, apa kau mau" tanya Adeeva.
"Sebenarnya aku tidak suka makan makanan manis, namun aku juga tidak akan menolak jika kau memberikannya" seru Vano.
Entah mengapa sikap Vano lebih hangat di bandung dengan Arion, dan Adeeva nyaman berbicara dengan adik iparnya ini.
Vano dan Adeeva memakan kue sambil berbincang bahkan mekera sampai lupa waktu sangking asiknya bercerita kehidupan satu sama lain.
"Sudah jam segini, lebih baik aku segera ke atas. Arion akan pulang sebentar lagi" seru Adeeva pada dirinya sendiri.
"Mau aku bantu" tanya Vano
"Jika tidak keberatan" jawab Adeeva.
Vano langsung sigap membantu Adeeva berdiri dan memapahnya menuju kamar yang Adeeva tempati.
"Terima kasih"
"Kau kakak iparku sudah sewajarnya bukan jika aku membantu" seru Vano.
"Kau adik ipar yang perhatian"
Adeeva segera masuk ke kamar, berjalan sedikit tertatih menuju kamar rahasia miliknya.
"Ini menyiksa, aku tidak bisa melakukan apapun jika kakiku harus di perban seperti ini" gerutu Adeeva.
Adeeva mencoba menekan kakinya yang masih membengkak dan sialnya itu masih sangat sakit bahkan untuk di sentuh sedikitpun masih terasa ngilu.
"Ini lebih menyakitkan dari yang aku rasakan semalam" tanpa terasa air matanya jatuh katena menahan rasa sakit di kakinya.