Author update hari, SELASA dan KAMIS
Reyna Maureen Alexandria seorang gadis dingin tak tersentuh. dia juga seorang ketua Geng motor Black Rose.
Reyhan Saputra Smith adalah ketua OSIS sekaligus kapten basket disekolah TUNAS BANGSA. Reyhan adalah cowok dingin dan cuek dia terkenal di sekolah Tunas bangsa disebut Ketos kutub karena sifatnya yang dingin sama orang lain.
Reyhan juga adalah siswa paling pintar disekola Tunas bangsa. Setelah kedatangan siswi baru yang bernama Reyna, Reyhan menjadi pribadi banyak bicara.
Apakah mereka akan tumbuh benih-benih cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 011: PERMINTAAN TERAKHIR IBU
Reyna memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota hingga hanya butuh waktu tiga puluh menit baginya untuk sampai di gerbang besar kediaman keluarga Alexandria. Ia masuk dengan langkah santai namun penuh rasa penasaran, lalu duduk di hadapan ayahnya yang sudah menunggu di ruang tengah.
Tanpa banyak bicara, Pak Ardan menyodorkan selembar kertas tertutup. Reyna langsung mengambil dan membaca isinya. Semakin ia baca, semakin amarahnya memuncak. Surat itu berisi keinginan mendiang ibunya mengenai rencana perjodohan yang disepakati sejak lama.
"Apa maksud semua ini?!" seru Reyna sambil berdiri kasar, berniat pergi dari tempat itu. "Ini cuma akal-akalan Ayah saja, kan?!" tuduhnya dengan tatapan tajam.
"Reyna, tunggu!" teriak Pak Ardan menghentikan langkah putrinya. "Baca lebih teliti lagi. Kamu pasti kenali tulisan tangan ibumu, dan lihatlah tanda tangannya di bagian bawah."
Ragu namun penasaran, Reyna kembali menatap kertas itu. Benar sekali, tulisan dan tanda tangan itu milik ibunya. Tangan Reyna gemetar saat membaca ulang setiap kata yang tertulis di sana. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan duduk kembali.
"Baiklah... Reyna akan berusaha menerima perjodohan ini. Tapi satu syarat, aku ingin bertemu dulu dengan pria yang akan dijodohkan denganku," ucap Reyna dengan nada pasrah.
Pak Ardan tersenyum tipis. "Bersiaplah, jam tujuh malam ini kita akan makan malam bersama keluarga pria itu."
Mata Reyna terbelalak kaget. "Apa? Kenapa terburu-buru sekali?"
"Lebih cepat lebih baik," jawab Pak Ardan singkat dan tenang.
Reyna tak lagi menyahut. Ia berjalan pergi menuju kamarnya, mengurung diri di sana. Di dalam kamar, ia merenung sambil memegang erat foto mendiang ibunya yang tergeletak di atas meja. Air matanya tak terbendung lagi.
"Ibu... apakah Ibu benar-benar menginginkan aku menikah dengan anak teman Ibu?" gumamnya pelan sambil memeluk bingkai foto itu. Rasa lelah dan emosi yang bergejolak membuatnya perlahan terlelap dalam tidurnya.
Di alam mimpi, Reyna berjalan di taman yang indah penuh bunga berwarna-warni. Di tengah taman itu, ada seorang wanita cantik sedang duduk di ayunan. Hati Reyna bergetar, wanita itu adalah ibunya. Ia berlari mendekat dan langsung memeluk wanita itu erat.
"Ibu... Reyna kangen sekali..." isaknya.
Ibunya membalas pelukan itu dengan lembut, mengelus rambut panjang putri kesayangannya. "Putriku sayang, jangan menangis lagi ya," ucapnya lembut lalu mengecup pipi Reyna. "Dengarkan Ibu, maukah kamu memenuhi permintaan terakhir Ibu?"
Reyna mengangguk cepat sambil menyeka air matanya. "Apa saja akan Reyna lakukan, Bu."
"Terimalah perjodohan itu, Sayang. Ibu yakin kamu akan bahagia bersamanya," bisik ibunya penuh keyakinan.
"Baiklah Bu, Reyna akan berusaha menerimanya, demi Ibu," janji Reyna dengan tegas.
Suara panggilan dan goncangan pelan perlahan memecah mimpi indah itu. "Reyna... bangun, Nak," terdengar suara ibu tirinya.
Reyna tersentak bangun, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menatap tajam ke arah ibu tirinya yang berdiri di dekat ranjang. "Ibu..." gumamnya masih linglung, lalu berteriak, "Keluar! Sudah berapa kali gue bilang jangan pernah masuk ke kamar gue tanpa izin!"
"Maaf, Nak... Ayah menyuruhku membangunkanmu. Sebentar lagi kita akan berangkat bertemu dengan keluarga Smith," jawab ibu tirinya lembut berusaha sabar.
"Lo bukan ibuku! Sekarang keluar!" bentak Reyna sambil menunjuk pintu. "Dan satu lagi, bilang sama Ayah, aku akan turun sepuluh menit lagi."
Setelah sosok ibu tirinya menghilang di balik pintu, Reyna kembali duduk dan merenungkan mimpi yang baru saja ia alami. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Baiklah Ibu... demi Ibu, aku akan menerima perjodohan ini," ucapnya tegas, lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk bersiap memenuhi janjinya.
...***Bersambung***...
bedahxbeda
kepalahxkepala
bedah, melongoh.,
wlpun reader tau mksudny tp kurang enk aja d bacanya.