Menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis di penghujung masa SMA. dari awal yang tak mengenal cinta, hingga tersakiti oleh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Ku pandangi sepasang sepatu baru yang tengah ku pakai saat ini. Sepatu dengan harga setara dengan uang sakuku selama 3 minggu. Awalnya aku tak berniat memakai sepatu itu, namun pagi tadi saat hendak berangkat ke sekolah, sepatu lamaku jebol di bagian sol nya, terpaksa aku pun memakai sepatu baru pemberian Vino karena aku tak memiliki sepatu lain untuk di pakai.
"Cie Sepatu baru...." goda Vino yang entah bagaimana bisa berada di sini padahal tempat ini sangat jarang d kunjungi siswa karna letaknya yang berada di belakang gedung sekolah.
"Sepatu yang Lo beli kemaren nih! Mau gue balikin sekarang?" ucapku yang kemudian mencoba membuka sepatu yang kini sedang bertengger di kakiku.
Sebenarnya Aku merasa tidak nyaman memakai sepatu ini, apalagi ini adalah pemberian Vino, yang Notabene adalah musuh bebuyutan ku.
"Lo pake aja, gue ga terima barang second!" ucap Vino yang kini sudah berdiri tepat di hadapanku.
Aku tak menjawab ucapan Vino yang sedikit menyentil hatiku. Aku justru harus bersyukur setidaknya aku masih bisa berangkat sekolah hari ini berkat sepatu yang Vino beri semalam. karena kondisi ekonomi keluarga ku yang memang sedang tidak baik-baik saja membuat kami harus ekstra hemat dalam menggunakan uang.
"Lo bisa pake sepatu itu tanpa harus merasa ga nyaman sama gue." ucap Vino yang kini duduk tepat di sampingku.
"Tumben Lo baik!" selorohku sambil menoleh kearah Vino.
"Lo tuh ya kalo ngomong....." Vino berkata sembari menyentil dahiku.
"Ish.. Sakit tau!" lirihku sambil mengusap dahi yang sempat Vino sentil tadi.
"Gitu doank sakit!" Cibir Vino.
Dan entah bagaimana untuk pertama kalinya Aku dan Vino bisa mengobrol normal layaknya seorang teman, bahkan Vino sempat tertawa terbahak saat aku menepuk bahunya saat ia mulai usil menyenggol sepatuku. Aku dan Vino kembali ke kelas bersama saat bel masuk berbunyi.
"Cie..... Sepatu baru." goda Anis saat melihatku masuk kedalam kelas. Rupanya Anis baru menyadari sepatu yang ku kenakan ini.
"Kemana aja Neng, baru liat sekarang." selorohku yang kemudian duduk di sampingnya.
"Al, tadi Rayyan nyariin lo tuh!" ucap Anis yang tak ku gubris. Aku masih kesal dengan ucapan Rayyan tadi.
Jam pelajaran tambahan di kelasku berakhir ketika waktu sudah beranjak sore. Langit tampak mendung dan bisa di pastikan akan turun hujan sebentar lagi.
"Gue antar pulang ya Al.... Kayanya mau turun hujan deh!" Ajak Anis. Kami berdua tengah berjalan beriringan keluar dari toilet menyusuri koridor yang terlihat sepi dari siswa karna kelas kami memang pulang paling terakhir. Di tambah lagi Aku harus mengantar Anis ke toilet terlebih dahulu jadilah mungkin hanya tinggal kami berdua siswa yang masih berada di sekolah ini.
"Gue pulang naik Angkot aja deh" tolak ku. Aku sengaja menolak niat baik Anis, karena tidak ingin merepotkan Anis. Jarak rumah ku dan Anis cukup jauh, jika ia mengantarku pulang bisa-bisa ia akan kehujanan di jalan.
"Yakin ga mau gue anterin sekalian?"
"Kalo Lo anterin gue pulang, yang ada Lo yang kehujanan, Udah sono pulang duluan!" tolakku sambil mendorong lembut punggung Anis kearah parkiran.
Dengan berdecak keras Anis pun berjalan menuju motor miliknya, sementara Aku terus berjalan menuju gerbang depan untuk kemudian menuju halte terdekat untuk menunggu Angkutan umum yang lewat.
Ceritanya sendiri, mudah diikuti. Cerita cinta pertama dengan lika-likunya sendiri. Nggak terlalu mainstream, nggak mudah ditebak akhirnya. Penceritaan yang dominan POV 1 sudah baik, dan enak dibacanya, itu saja.
Manis di awal doang.
terkadang orang perfeksionis itu temperamental.
kecuali kamu.