NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:514.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan yang Tepat

...☕🍜Tidak ada kesatria setangguh 'Ali. Tidak ada pedang setajam Zulfikar. Dan, tidak ada yang lain di hatiku selain kamu🍜☕...

Juan POV

Lagi-lagi aku melihat kepiluan bergelayut di wajahnya. Sebuah nestapa yang sepertinya sulit untuk diungkapkan. Tak seorang pun tahu sepilu apa, sesakit apa, dan sesesak apa yang dia rasakan. Hatinya sengaja ditutup, tak boleh siapapun mencoba mengintip.

Satu menit yang lalu dia beranjak dari mobilku. Namun, aura kesedihan masih tertinggal disini. Di jok belakang, terduduk lesu, enggan pergi. Membuatku terus merasa bersalah sebab aku telah tak tahu diri menggodanya.

Aku bergeming, terus memperhatikan gadis itu yang sepertinya telah dinanti oleh seorang gadis berseragam coklat. Diambil dari ilmu sok tahuku gadis itu adalah sahabatnya. Tentu saja aku yakin sok tahu kali ini tidak meleset, sebab aku pernah mengintai mereka—dengan satu teman laki-laki yang sekarang tidak tampak batang hidungnya, berbincang-bincang pada malam hari hingga larut. Tampak asik dan akrab sekali. Dan mereka melakukannya hampir setiap malam. Sebuah hubungan persahabatan yang menyenangkan.

Ah, entahlah! Apakah benar semenyenangkan dugaanku? Pasalnya aku ini adalah orang yang tidak punya hubungan sahabat seperti itu. Jangankan sahabat, teman saja aku tak yakin ada orang yang sudi menganggapku sebagai teman. Tapi eh tapi, semoga saja persahabatan mereka semenyenangkan yang aku duga.

Mulanya kupikir Maira akan menunjukkan sikap yang berbeda pada sahabatnya, ternyata sama. Bahkan gadis berseragam coklat itu ditolak sebelum menawarkan. Ha-ha-ha ... kalau aku, sih, malu bukan kepalang.

Setelah wajah sendu itu tenggelam di balik pintu, akhirnya aku memutuskan untuk putar arah. Tak peduli dengan gadis berseragam coklat itu yang masih bersungut-sungut di depan pintu Maira.

Aku memilih langsung pulang. Toh, tidak ada hal yang menarik lagi di luar rumah. Sekarang, Maira sudah berada di kamarnya, pasti sedang meluapkan semua yang dia rasakan. Sendirian.

Jika memang itu membuatnya merasa lebih nyaman, apa boleh buat? Dia tak mau bagi-bagi, dia lebih suka menikmati pilunya seorang diri.

Apakah semua wanita seperti itu? Lebih senang menyembunyikan kesedihannya? Jika iya, maka merepotkan sekali bagi para laki-laki yang punya jiwa kepo seperti diriku ini.

Eh! Tunggu, tunggu dan tunggu. Sejak kapan jiwa kepo ini tumbuh dalam diriku? Kemana sifat Juan yang cool dan tidak peduli pada wanita manapun kecuali mama dan adikku? Ada yang tak beres denganmu, Juan!

Aku segera tancap gas. Persetan dengan jiwa kepoku ini.

***

Kendaraan roda empat miliku, kini sudah terparkir di pekarangan rumah dengan sangat cantik. Walau tidak mewah, yang terpenting bukan kredit ataupun hasil curian. Kubeli dengan kontan tanpa beban angsuran. Dari hasil jerih payah sendiri dan sedikit harta warisan, eh!

Oke. Aku segera masuk rumah. Di sofa ruang tamu aku melihat wanita paruh baya—Mamaku yang tercinta, sedang asik menatap layar 29 inch yang bertengger di dinding. Entah apa yang sedang dilihatnya. Kali ini aku tidak kepo, karena aku memang tak pernah kepo dengan apa pun acara-acara yang disuguhkan di layar itu.

"Bau-bau Bujang Lapuk, nih."

Langkahku terhenti. Tadinya aku mau berlalu begitu saja, tapi, Mama menggodaku. Dia berkata sembari pura-pura mengendus-endus, tapi pandangannya tetap lurus pada layar 29 inch.

Aku tertawa pendek. Menanggapi gurauannya. Mamaku ini memang jago sekali bercomedy. Raditya Dika, mah, lewat!

"Gimana?" tanya Mama.

"Apanya?" Aku mendekat.

"Usaha cari jodohnya."

Bola matanya melirik, mengejekku. Aku menyeringai, menggaruk kepala yang tak gatal.

"Juan ke kamar ya, Maaa."

Aku mengabaikan pertanyaannya yang mengandung ejekan. Aku sedang tak berselera bercanda. Isi kepalaku sudah dipenuhi oleh satu nama yang terus bergentayangan memenuhi setiap sudut ruang kepalaku.

***

Kini, aku tengah berbaring ganteng di atas ranjang kesayanganku. Bolak-balik ganti posisi, tapi tidak merasakan nyaman dalam posisi apa pun. Miring kiri muncul wajah gadis itu. Miring kanan muncul lagi. Telentang tengkurap berkali-kali pun yang muncul tetap wajah gadis itu dan itu.

Padahal sudah kubawa mandi, tapi, masih belum pergi juga bayang-bayang wajah Maira. Ditambah setan terkutuk yang terus membisikkan rasa bersalah. Tch! Sial! Sungguh sukses membuatku tak bisa tidur nyenyak.

Baru dua jam aku tertidur. Sebelum mataku terpejam aku sempat melihat jam sudah menunjukkan angka 00.59 WIB. Sudah lewat tengah malam. Dan sekarang aku terbangun di jam 02.59 WIB. What the?

AAARRRGGGHHH!!!!

Ingin kuteriak, ingin kumenangis walau air mataku sudah tiada lagi (Nyanyi mode on).

Tanpa pikir panjang. Otakku bekerja dengan cepat. Aku menyibakkan selimut dengan kasar. Bergegas pergi, menuju tempat di mana gadis itu berada. Entahlah kegilaan macam apa ini. Tapi, daripada aku terus kepikiran sampai lebaran monyet, lebih baik aku melakukan sesuatu.

Di tengah perjalanan menuju gadis itu berada, cacing-cacing di perutku berbunyi. Oh my, jangan-jangan salah satu penyebab aku tidak nyenyak tidur adalah karena cacing piaraanku belum dikasih makan?

Alamak! Aku menepuk jidat. Gara-gara memikirkan satu gadis saja sudah membuatku lupa diri. Huft! Mairaaa ... tolong enyahlah kau dari pikiranku!

Mataku mulai liar melihat-lihat tempat makan yang masih buka. Walau sedikit mustahil, sih, dini hari seperti ini. Tapi, demi cacing piaraanku aku pantang menyerah.

Jalanan masih sepi, hanya dua tiga kendaraan yang lewat. Sehingga mudah dan leluasa bagiku untuk memperhatikan kiri dan kanan.

Tak lama kemudian, sekitar 300 meter aku melihat cahaya lampu berwana kuning membentuk huruf M di pinggir jalan. Seolah melambai ke arahku yang memang sedang kelaparan. Senang bukan kepalang. Inikah makna dari sebuah peribahasa Pucuk dicinta ulam tiba, hendak ulam pucuk menjulai?

Aku bersiul-siul riang, melajukan mobil dengan kecepatan 60km/jam. Santuy.

"Untung Mang Donald buka 24 jam." (Mohon maaf disensor, aku nggak diendorse soalnya).

***

Usai makan di Mang Donald dan kembali melajukan mobil, aku baru terpikirkan sesuatu.

By the way anyway busway, untuk apa aku datang ke tempat Maira? Setelah sampai di sana, apa yang akan aku lakukan? Mengetuk pintu? Menyeringai? Lalu meminta maaf? Begitu? Hanya itu? Memangnya seyakin apa Maira mau menerima kedatanganku? Ah iya, daripada itu, apa dia sudah bangun?

Aha! Sudah bangun belum, ya? Kuharap belum. Aku ada ide yang sangat menarik. Kuyakin ini keren sekali.

Mobilku sudah sampai perempatan gang masuk ke arah kontrakan Maira. Sebelum menuju kesana, aku melipir dulu ke Ilfi Midi untuk membeli sesuatu yang tidak mungkin ditolak.

Walau bukan espresso, yang penting ada unsur kekopi-kopiannya.

Tidak lupa kuselipkan sebuah kertas hasil menodong si kasir, aku hanya memerlukan secarik kertas dan sedikit goresan tinta. Kalau bisa menodong untuk apa beli? Lagi pula tidak murni menodong, kok, kasir yang kebetulan seorang wanita itu dengan senang hati memberikannya padaku.

Memang wanita mana yang tidak tergoda dengan pahatan wajahku yang nyaris sempurna ini? Fu-fu-fu.

***

Aku melangkah masuk menuju halaman kontrakan Maira. Mobilku sengaja kuparkirkan di pinggir jalan dekat mulut gang.

Aku melirik jam tangan. Gawat! Sebentar lagi masuk waktu subuh. Aku sedikit mempercepat langkahku.

Krumpyaaanggg!!!

Terdengar suara piring jatuh dari dalam rumah yang berada dekat dengan pagar masuk halaman kontrakan.

Langkahku terhenti, bersembunyi di balik pagar yang sepertinya belum lama gemboknya dibuka.

Tentu saja aku tak berani melangkah masuk, jelas aku bukan salah satu penghuni kontrakan itu. Bisa-bisa nanti aku disangka maling.

Aku mulai cemas. Jangan sampai rencanaku gagal. Sudah cukup nasib buruk bujang lapuk yang tak bisa tidur nyenyak gara-gara memikirkan seorang gadis. Kumohon sekarang jangan sampai gagal juga.

Ceklek!

Suara knop pintu dibuka. Aku memberanikan diri untuk mengintip siapa yang keluar. Seorang wanita paruh baya dengan rambut sedikit berantakan membawa pecahan piring dan membuangnya ke tong sampah.

Seketika aku seperti mendapat anugrah dari Tuhan. Dalam keadaan kepepet seperti ini seringkali ide cemerlang muncul secara instan.

Aku berdeham pelan. Menampakkan diri di depan ibu itu.

"Permisi, Bu."

"Ayam-ayam, eh, ayam!"

Ibu itu rupanya latah. Aku menahan tawa. Sikap coolku adalah prioritas utama. Dia menyeringai, menenangkan latahnya.

Aku mengeluarkan pesonaku. Sungguh memalukan sekali tebar pesona pada ibu-ibu. Tapi, apa boleh buat, ini demi rencanaku yang pantang gagal!

Tanpa ba-bi-bu, langsung kujelaskan pada ibu itu untuk menyerahkan kantong plastik yang ada di tanganku. Satu cup kopi susu dan secarik kertas berisi untaian kata.

Ibu itu menerima dengan senang hati, tak lupa kutanya siapa namanya. Dia menyebutkan diri sebagai Mamanya Rahmat.

"Baiklah, Mamanya Rahmat. Saya permisi dulu. Terima kasih banyak."

Aku memberikan senyuman paling menawan sepanjang abad. Dia mengangguk-angguk salah tingkah. Wajahnya terlihat senang.

Aku berlalu meninggalkan deretan kontrakan. Rasanya tidak buruk jika yang menyerahkan kantong plastik itu adalah Mamanya Rahmat, daripada rencana awal yang hendak kuletakkan begitu saja di depan pintu Maira. Bisa-bisa disangka lagi ngeprank.

Sorry, Bung! Juan adalah Juan. Bukan Atta Gledek.

Kalau saja aku mengikuti cara Si KamuTuber itu, alamat kopi susu dan secarik kertas dengan untaian kata indahku itu bernasib buruk masuk ke tong sampah tanpa diseleksi. Tak kusangka ada hikmahnya juga bertemu dengan Mamanya Rahmat.

Sekarang aku sudah lega. Setidaknya nanti malam bisa tidur lebih nyenyak.

***

1
T.N
eemm... morus 🤭
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!