Ayahnya Arumi terlilit hutang. Hal itu membuat sang ayah kena serangan jantung. Arumi tidak punya uang untuk membawa sang ayah berobat. Bahkan, rumah sebagai jaminan sudah ditarik rentenir. Dalam keadaan sulit itu, seorang dokter wanita menawarkan bantuan kepada Arumi. Akan membiayai pengobatan sang ayah, asal Arumi mau menikah dengan ayahnya yang sedang sakit.
Tidak ada pilihan lain, dalam keadaan terpaksa Arumi menerima tawaran itu, walau sebenarnya ia masih ingin melanjutkan studynya.
Pernikahan Itu pun terlaksana, dan ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa, pria yang ia sukai di pandangan pertama adalah anak dari pria tua yang menikahinya, tepatnya. Arumi menyukai anak tirinya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah cinta terlarang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burung
Satu minggu kemudian.
"Arum....Bangun...Kita sudah sampai!" ujar Dokter Ulfah, menggoyang lengan Arum lembut.
"Eehh... Sudah sampai ya Dok!" ujar nya dengan muka berkerutnya. Arum yang memilih memejamkan mata selama perjalanan menuju rumahnya Dimas. Karena kepalanya terasa sakit, akhirnya wanita itu membuka kedua matanya, yang terasa berat, karena teguran dokter Ulfah.
"Iya, ayo turun ibu tiri!" oceh Dokter Ulfah menahan tawa. Tingkah Arum yang kocak selama di pesawat tadi, membuat penumpang pesawat tertawa kuat. Karena Arum teriak ketakutan saat pesawat lepas landas.
"Iihh.. Dasar anak durhaka! gak usah panggil dengan sebutan itu napa? aku saja memanggil Dokter Ulfah, dengan Dok. Bukan anak tiri." Sahut Arum dengan malasnya. Mukanya yang sedikit pucat, ia usap-usap dengan jemarinya. Karena wajahnya juga terasa ketat.
"Iya, iya. Ayo turun, kita sudah sampai ibu mudaku!" Dokter Arum menatap sang Ayah yang tertawa tipis itu. Memang tingkah Arum sedikit konyol. Ia anaknya lucu dan periang.
"Iya, sabar!" Sahutnya dengan menguap. Rasanya tubuhnya sakit sekali. Seperti digebuk orang Se kampung.
Arumi turun terlebih dahulu, Karena ia duduk di kursi baris kedua, di belakang supir bersama Suaminya Pak Subroto. Sedangkan dokter Ulfah di jok paling belakang. Dan ayah Arum, pak taufik duduk di sebelah supir.
"Ayah.... Kalian sudah sampai!" disaat Arumi turun dari mobil yang disusul oleh Dokter Ulfah. Dimas berjalan cepat menghampiri mereka ke parkiran. Dimas sudah lama menunggu keluarga besar nya itu.
Pukul 10 pagi mereka bertolak dari kampung menuju kediamannya Dimas di kota. Mereka naik pesawat. Arum yang baru kali ini naik pesawat, mabuk udara. Ia bahkan sampai muntah di dalam pesawat. Makanya saat ini ia merasa badannya sakit semua.
Mereka hanya menempu perjalanan 45 menit di dalam pesawat. Tapi, buat Arum sudah seperti satu tahun. Sungguh menyiksa. Dan dari bandara, diperlukan waktu sekitar 1 jam lagi, agar sampai ke rumahnya Dimas.
"Ayah, hati-hati!' Dimas membantu sang ayah untuk duduk di kursi roda. Setelah mereka menurunkan ayahnya dari dalam mobil.
" Gak usah, aku bisa sendiri!" ujar Dimas cepat saat Arum ingin membantu Dimas mendudukkan sang ayah ke kursi roda.
"Oouuww.. Iya!" Sahut Arum lemah. Ekspresi wajah Dimas yang tidak bersahabat kepadanya, membuatnya menjauh dari ayah dan anak itu.
Arum mendekati sang ayah, yang juga baru turun dari mobil. "Ayo ayah, aku tuntun ayah!" Ia kini menuntun ayahnya, pak Taufik masuk ke dalam rumah. Dan sesekali melirik Dimas, yang mendorong kursi roda pak subroto.
Dimas sudah duluan pulang ke kota. Tepatnya 5 hari yang lalu. Dimas hanya dua hari di kampung. Ia harus cepat balik ke kota, karena pekerjaan. Dan Arum datang ke kota, beserta suami dan ayahnya. Karena, pak Subroto ingin berobat di kota. Sekaligus Arum akan melanjutkan studynya.
Arum yang menjauhkan diri, disaat Dimas mengambil alih mendorong kursi roda yang diduduki oleh Pak Subroto. Tetap menuntun Ayah nya dan memperhatikan sekitar. Rumahnya Dimas lebih megah daripada rumah pak Subroto di kampung. Tapi, rumah ini pekarangan luar nya sempit. Tidak seperti di kampung, ada kebun binatang dan taman yang luas.
"Hei I.. Jangan.. Titgalkan Aku....!"
"Popppy!" teriak Dimas, sontak semuanya menoleh ke arah mobil yang ditumpangi mereka tadi. Poppy ketinggalan di bagasi.
" Kak, aku ambil Poppy dulu!" ujar Dimas kepada Ulfah. Ia berikan kursi roda yang diduduki sang ayah ke dokter Ulfah. Dan Dimas berlari ke mobil yang ada di parkiran.
"Dasar pria kurang kerja an. Habis waktu hanya untuk urusi burung. Biaya kasih makan, kandang dan kesehatan burung. Mending disedekahkan!" ujar Ulfah kesal. Ia tidak suka dengan adiknya itu habis akan uang untuk hobby memelihara burung itu.
"Kawin.. Kawin aja kau sama burung itu!" teriak Dokter Ulfah menatap Dimas yang kini memegang Sangkar burung beo bernama Poppy, berjalan menyusul mereka.
"Kawin? dengan burung? lah, burung ketemu burung dong namanya!" celoteh Dimas tertawa kecil.