“Jadilah anak yang tegar dan baik hati.”
Begitu kalimat yang selalu terngiang di telinga Nafisa Salsabila. Sedihnya, dirinya tidak ingat siapa yang mengatakan karena memori akan masa lalunya hilang.
Nafisa menapaki jalan hidup berpegang pada nasihat itu. Menghadapi kematian ibunya, hadirnya ibu tiri yang kejam, hingga dirinya yang menjadi korban penculikan.
Nafisa tumbuh menjadi wanita yang tegar dan baik hati seperti pesan yang selalu diingatnya.
Ketegarannya diuji ketika usaha suaminya, Reno Barlian, mengalami kebangkrutan dan harus meminjam dana yang sangat besar dari pengusaha Zayn Malik.
Pernikahan Nafisa dan Reno tergadaikan saat ternyata Reno tidak bisa membayar cicilan. Nafisa menjadi jaminan dan harus bekerja di rumah Zayn Malik.
Akankah Reno menebus kembali Nafisa atau malah menggantinya dengan perempuan lain untuk menjadi istri sekaligus ibu untuk anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah
Nafisa memeluk Aurelie dan Milo erat-erat. Sangat sulit rasanya meninggalkan dua belahan hati, namun ini saatnya berjuang untuk keluarga.
Dua hari sebelumnya, dengan bercucuran air mata, Reno mengatakan bahwa rumah mereka akan diambil oleh Zayn kecuali Nafisa mau merawat ibunya sampai Reno bisa mencicil.
Hanya dengan syarat itu, Zayn mau memberi kelonggaran untuk Reno.
Kini di sebuah airport privat, keluarga itu harus mengucapkan salam perpisahan.
“Mama, perginya jangan lama-lama,” isak Aurelie sambil terus memeluk Nafisa.
“In syaa Allah, semoga Mama bisa cepat pulang dan bisa sama Kakak dan Adek lagi, ya.”
“Milo cayang Mama,” lirih Milo yang masih belum mengerti duduk perkara namun bisa merasakan bahwa ibunya akan pergi cukup lama.
“Aah sayang, Mama juga sayang banget sama Milo.”
Reno menatap dengan sedih. Sebagai kepala keluarga ia merasa gagal. Kini istrinya harus dijadikan gadai atas hutang-hutangnya.
Sebentar lagi Nafisa harus berangkat ke Yogyakarta tinggal bersama ibunda Zayn Malik. Istrinya harus meninggalkan anak-anak mereka yang masih kecil.
Dada Reno terasa sesak.
“Sayang. Maafkan Abang,” ucapnya lirih.
Nafisa berdiri lalu menatap netra suaminya dalam-dalam.
“Udah beneran nggak ada jalan lain, ya, Bang? Aku bukannya nggak mau merawat ibunya Pak Zayn, tapi kasihan anak-anak. Apa bisa tiap hari mereka dititip ke Bude Nanik tetangga depan?”
“Pilihan lain adalah kita meninggalkan rumah dan cari kontrakan.”
“Apa nggak lebih baik seperti itu? Yang penting kumpul lalu kita cari jalan keluar bareng-bareng.”
“Masalahnya, tanah di Klenjer bermasalah, dengan jaminan rumah yang diambil pun hutang kita belum kebayar. Maafin Abang, Sayang.”
Nafisa menatap anak-anaknya yang tidak mau melepas pelukan.
“Jaga anak-anak ya, Bang. Kita berjuang demi mereka.”
Seorang laki-laki menyapa.
“Bu Nafisa, kita harus berangkat.”
Reno langsung merengkuh istrinya, keduanya berpelukan erat. Anak-anak mereka pun langsung ikut memeluk kedua orang tuanya.
“Video call tiap malam, ya, Sayang. Kabarin kalau kamu sudah bebas tugas. Jangan cape-cape,” pesan Reno sambil mengeratkan pelukannya.
Nafisa mengangguk, bulir-bulir air mata membasahi bulu matanya yang lentik.
“Abang juga jaga diri. Jangan telat makan dan minum vitamin. Sudah aku siapin untuk tiga bulan.”
Nafisa mengelus wajah suaminya dengan punggung tangan lalu beralih ke anak-anak.
“Aurelie, Milo, kalian harus nurut sama Papa, juga dengar kata Bude Nanik ya.”
Milo menggeleng.
“Pengin sama Mama.” Lalu anak berusia tiga tahun itu berusaha memanjat ibunya.
“Bu Nafisa,” tegur laki-laki tadi.
“Sebentar, ijinkan istri saya berpamitan dengan putra-putri kami,” ucap Reno tegas.
“Pesawat sudah mau tinggal landas. Anda tidak ingin membuat Pak Zayn gusar lalu langsung mengusir kalian dari rumah ke jalanan, kan?”
Aurelie dan Milo terbelalak dan langsung memeluk kedua orang tuanya.
Nafisa mendesis pada laki-laki itu.
“Bapak nggak perlu bilang seperti itu di depan anak-anak.”
Laki-laki itu terkekeh.
“Saya Mikail. Asisten Pak Zayn. Cepatlah, saya sedang nggak mood melihat drama keluarga.”
Nafisa duduk di atas lutut untuk menyamakan tinggi dengan anak-anaknya.
“Mama kerja dulu ya, Sayang. Kalian nurut sama Papa. Doakan semua urusan Papa dan Mama bisa segera selesai dan kita bisa kumpul lagi.”
Dua anak kecil itu mengangguk dengan air mata berlinang. Nafisa memeluk, mengecup pipi dan kening mereka lalu menyerahkan pada Reno.
“Aku pamit, Bang. Assalamualaykum,” ucapnya dengan tenggorokan tercekat.
“Waalaykumussalam. Tiga bulan, Abang akan jemput kamu. Kita call nanti malam. I love you.”
Nafisa kemudian berbalik dengan hati yang hancur mengikuti langkah Mikail menuju pesawat pribadi yang akan membawa jauh dari orang-orang yang sangat ia cintai.
Nafisa menoleh ke belakang. Reno dan kedua anaknya menatap dengan sendu. Milo hendak lari mengejar namun ditangkap oleh ayahnya.
Bocah berumur tiga tahun itu memanggil Nafisa sambil menangis.
Langkah Nafisa terhenti dan hendak berbalik menenangkan putranya ketika terdengar suara dingin Mikail berkata, “Satu jam rumah kalian harus sudah kosong.”
Mengusap air mata yang mengalir di pipi, Nafisa terus berjalan menuju pesawat, mengindahkan jerit pekik anak-anak yang terus memanggilnya.
Wanita itu mengambil napas dalam berusaha untuk tegar karena harus meninggalkan putra dan putrinya. Pertama kali sejak mereka lahir.
Sebelum menaiki tangga pesawat, Nafisa memasang cadar. Ia akan tinggal di rumah yang tidak ada mahram, maka setelah berdiskusi dengan suaminya, Nafisa akan menutup wajah agar terlindung dari fitnah.
“Bismillaah, semoga Allah memudahkan semuanya.”
Nafisa menoleh ke belakang lalu melambaikan tangan ke arah keluarganya yang masih setia menunggu di dalam airport hingga pesawat tinggal landas.
Di dalam pesawat, Zayn sudah menunggu dengan wajah tidak sabar. Keningnya berkerut melihat wanita bergamis dan cadar mengucapkan salam.
“Assalamualaykum Pak.”
“Walaykumussalam, duduk di belakang,” balas Zayn sekilas lalu melemparkan pandangan ke jendela.
Tak lama burung besi itu bergerak dan akhirnya terbang meninggalkan empat hati yang hancur luluh karena perpisahan.
***
*pemeran utama wanita adalah inti dari segalanya, posisinya tidak akan tergantikan dan pada akhirnya hanya tentang kebahagiaannya
*PEBINOR akan selalu dipandang istimewa, dan sangat berpeluang besar merebut istri orang, dan pada akhirnya dia akan bahagia
*suami awal, selalu dipandang sumber masalah, dia akan dapat karma, walaupun akhirnya diberi kesempatan bahagia
*wanita lain yang cari masalah dengan pemeran utama wanita akan dicap pelakor, dilaknat, dipandang murahan dan akhir binasa, jangan harap dapat kesempatan bahagia
fack
di novel pemeran utama wanita, sebenar tidak ada namanya pemeran utama pria, karena posisi ini bisa saja digantikan pria mana pun, tapi yang paling berpeluang besar adalah PEBINOR,
mas bro mas bro pada saingan ni ye...
mbak freeya kok jadi gini....
langsung cari judul yg lainnya
makasih yah kak,ceritanya bagus
semoga Makin sukses
karya karya berikutnya lebih bagus lagi