Memilih hidup berpetualang karena ingin melupakan cinta masa lalunya yang kelam, justru membuat Grey Stone Robert menemukan cinta baru di sebuah penginapan yang bernama 'OZ INN' ketika dirinya ingin mendaki bersama teman temannya.
Bagaimana kisah cinta Grey Stone Robert dan seorang gadis bernama Ozira Olsen -- yang tak lain adalah pemilik penginapan OZ itu?
Yuuk simak ceritanya ...
FOLLOW INSTAGRAM @zarin.violetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Oz inn 11
Siang itu, pengacara pesanan Grey tiba di penginapan tepat waktu dan Ozira langsung menunjukkan dokumen apa pun yang ia punya saat ini. Pengacara itu tampak membaca semua dokumen yang dimiliki oleh Ozira.
Satu jam lamanya sang pengacara itu memeriksa semua dokumen bersama sang asisten yang sejak tadi sebenarnya sedikit terpaku pada Ozira. Pria muda itu sering mencuri pandang ke arah Ozira dan pria itu adalah anak dari pengacara itu sendiri.
Setelah satu jam berlalu, sang pengacara mulai berbicara pada Ozira.
"Kita bisa pergi hari ini ke kantorku dan mengurusnya secepatnya. Besok kasus ini akan segera selesai dan kau punya bukti dan data bahwa kau lah pemilik sah tanah dan bangunan ini," ucap pengacara itu dengan tegas.
Ozira terpaku melihat ke arah sang pengacara.
"Secepat ini? Apakah memang semudah itu pengurusannya?" tanya Ozira.
"Ya, kau mau dipersulit?" tanya Pengacara.
"Tidak, hanya saja ini tak seperti yang kubayangkan. Satu bulan ini aku mengurus ke kantor terkait dan mereka tak memberi respon yang melegakan dan bahkan aku selalu kesal pada kerja lambat mereka. Tapi anda menyelesaikannya dengan cepat," ucap Ozira.
"Terima kasih, Nona. Ini bukanlah perkara yang sulit untukku. Oh ya, katakan pada Tuan Robert bahwa kau menyukai kerja cepatku," sahut pengacara itu.
"Ya, tentu saja aku akan mengatakannya nanti. Terima kasih, Tuan Sheldan," ucap Ozira tersenyum senang karena urusannya akan selesai secepat itu.
Setelah itu, pengacara dan asistennya itu pun pergi dari penginapan. Dan Ozira menyusul ke kantor pengacara untuk tahap selanjutnya.
*
*
Keesokan harinya, Ozira kembali mendatangi sang pengacara dan mendapatkan kembali pengesahan dokumen yang sah bagi Ozira karena pada dasarnya dokumen yang dimiliki Ozira sudah sangat lengkap, hanya saja sedikit rusak dan tak terbaca.
Ozira bahkan baru tahu hal itu karena selama ini ia tak terlalu memperhatikan detail penting itu di dalam tumpukan dokumen yang dimiliki kakeknya.
Kabar itu terdengar hingga ke telinga keluarga adik kakeknya yang tentu saja tak terima hal itu. Siang itu, mereka berbondong - bondong mendatangi penginapan dengan membawa bala bantuan yaitu beberapa kerabatnya hingga lima orang.
"OZIRAAA!! KELUAR KAUU!!" teriak Alena -- anak dari adik kakeknya yang bermulut paling culas itu.
Ozira dan beberapa pegawai penginapan yang lainnya keluar dari rumah dan berjalan keluar beranda. Dia melihat ada lima orang kerabat adik kakeknya itu mendatanginya dengan wajah marah.
"Ada apa? Kalian tak punya urusan lagi di sini dan tanah ini sudah terbukti secara sah milik kakekku," sahut Ozira dengan tegas.
"Oh ya? Ini tak adil dan aku tak terima hal ini," marah Alfred.
"Kalau begitu paman bisa langsung melapor saja ke polisi dan pengadilan agar paman tahu bahwa tanah dan penginapan ini adalah punya kakekku. Kalian tak berhak meng-claim-nya," sahut Ozira tak takut.
Alfred tampak mendatangi Ozira dengan wajah marah dan Mario menghalangi pria itu agar tak mendekat pada Ozira. Terlihat tatapan bengis dari mata pria itu.
"Minggir kau!!" bentak Alfred pada Mario yang tubuhnya didorong ke samping oleh Alfred.
Tampak Alfred mengeluarkan sebilah pisau dari jaketnya dan akan menyerang Ozira. Wanita yang memiliki kewaspadaan tinggi itu berhasil menghindar dan menarik Bianca agar tak terkena pisau yang ditebaskan oleh Alfred.
Beberapa pegawai pria langsung meringkus Alfred dan mengambil pisau di tangannya.
"Paman, panggil polisi," ucap Ozira pada Mario -- suami Bianca.
"Baik, Nona," jawab Mario dan langsung masuk ke dalam untuk menelepon polisi menggunakan telepon kabel.
Grey dan dua temannya yang baru saja datang dari mendaki melihat ke arah keramaian itu. Pria itu langsung berlari ke beranda depan bersama Tom dan Toby.