Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Bertemu Duda tampan
Mobil yang di kemudikan oleh Ara berhenti tepat di parkiran sebuah perusahaan besar, seorang satpam segera berlari menghampiri mobil mewah itu.
" Eh Non Ara. " Sapa satpam sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka kalau yang masuk adalah adik dari pemilik perusahaan tempat Ia mencari nafkah untuk keluarganya itu.
" Ah Iya Pak. Oh ya Pak, apa Mas Alwi ada di kantor. " Tanya Ara
Satpam mengangguk pelan, karena memang Ia tidak melihat Duda tampan itu keluar.
" Oh oke baik Pak, Ara kedalam dulu. "
Ara melangkah bersama Atika dan juga Sintia, berbeda dengan Luna yang nampak ragu karena ketiga sahabatnya main masuk begitu saja.
" Lun, ayo. Ngapain masih berdiri disana. " Ajak Atika.
Sintia dan juga Ara pun mengajaknya masuk, akhirnya Luna pun berjalan mengekor di belakang Ara.
Ara mampir sebentar di meja resepsionis yang juga nampak ramah padanya. Luna makin bingung melihat keakraban pegawai yang ada di kantor itu pada Ara.
" Ayo guys, kita langsung keatas saja. "
Atika, Sintia dan juga Luna mengikuti langkah Ara, mereka masuk lift khusus Direktur.
Ting. ! Pintu lift pun terbuka dan menampilkan tempat yang rapi dan luas.
Ara mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya untuk membuka pintu pintu masuk ruangan Direktur. Luna semakin ragu untuk ikut masuk setelah melihat tulisan di atas pintu yang baru saja terbuka itu.
" Lun, ayo dong. " Kini giliran Ara yang menarik tangannya masuk.
" Duduklah. "
Ara melangkah menuju kulkas, Ia mengambil beberapa minuman dingin disana.
" Minumlah sesuka kalian, kita tunggu saja disini. Mas Alwi katanya ada rapat, tapi nggak akan lama. "
Ketiga sahabat itu bercanda bersama, entah sudah berapa botol dan juga bungkus kacang yang habis di kulkas. Hanya Luna yang tidak berani menyentuh apapun disana, Ia takut yang punya ruangan akan marah dan meminta ganti rugi pada mereka.
Tidak lama kemudian pintu ruangan pun terbuka, Alwi bingung melihat ruangannya berbeda dari terakhir Ia tinggalkan.
" Siapa ka...
" Mas......... ! " Pekik Ara langsung lari dan bergelayut manja di lengan saudaranya itu.
Alwi yang awalnya ingin marah tidak jadi, ketika tau yang membuat kekacauan adalah Adik kesayangannya.
" Mas ih kok lama banget. " Mereka jalan beriringan.
Satu persatu menyapa Alwi sambil tersenyum, Lagi-lagi lagi hanya Luna yang menunduk. Ia takut bertemu dengan pemilik ruangan itu, kalau saja Ia bisa menghilang saat ini, Ia pasti memilih menghilang.
" Hai Mas Alwi, Hai Mas. " Atika dan Sintia tersenyum lebar.
" Ahai juga. " Jawab Alwi.
Ia sudah mengenal kedua wanita itu, namun tidak dengan salah satu wanita yang masih menunduk di pojok sana.
" Ah Mas, Ara boleh nggak melamar kerja disini. "
" Tidak boleh. " Alwi langsung menolak.
Ara cemberut, kebiasaan Mas nya itu. Belum lagi selesai Ia mengatakan maksudnya tapi sudah di tolak lebih dulu.
" Ih Mas, kejam banget sama Adik sendiri. Punya saudara kok nggak ada enaknya sama sekali, rasanya Ara mau cari Abang yang lain saja yang bisa sayang sama Ara. "
Ara membelakangi Alwi dengan wajah cemberut sambil kedua tangannya di lipat di depan dada. Alwi menjadi serba salah, Ia mengusap wajahnya kasar dan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Adik Mas yang baik hati dan cantik, apa selama ini Mas kurang baik. Kamu bisa minta apa saja pada Mas, tapi bukan bekerja. Dari dulu Mas melarang mu untuk bekerja, nanti ada waktunya kamu bekerja tapi bukan sekarang. "
Alwi menyentuh kedua pundak Ara dan memutar tubuh adiknya itu menghadapnya.
" Bukan Ara yang mau bekerja Mas, tapi teman Ara. "
Alwi menatap dua sahabat Ara, Atika menggerakkan tangannya begitu juga dengan Sintia. Mereka kompak mengatakan bukan mereka.
" Bukan Sintia dan Atika, lalu teman yang mana Dek. " Tanya Alwi lagi.
Ara langsung melangkah dan menarik tangan Luna pelan membawanya menemui Alwi.
" Bukan mereka Mas, tapi Luna. Dia sahabat baru kami Mas, Iyakan Tika, Tia. "
Ara meminta dukungan sahabatnya dan Atika juga Sintia ikut mengangguk. Alwi menatap Luna intens, keningnya berkerut. Ia mencoba mengingat- ingat dimana pernah bertemu gadis yang menjadi sahabat baru adiknya.
" Hei, bisa kamu angkat wajahmu. " Tanya Alwi.
Ara melotot pada saudaranya itu.
" Mas apa - apaan sih, Mas bisa membuatnya takut. " Bisik Ara.
Ia kembali menghampiri Luna dan menyentuh lengan Luna.
" Lun, kenalin ini Mas ku. Mas Alwi. "
Luna akhirnya mendongak, jantung Alwi berdegub kencang melihat mata indah itu. Ia langsung ingat dimana pernah melihat gadis cantik itu.
Alwi mengulurkan tangannya namun tidak di sambut oleh Luna, Ia semakin ketakutan setelah tau siapa Pria yang saat ini berada di hadapan nya.
" Ya sudah Dek, sahabat barunya mau di kasih kerja apa. " Tanya Alwi pada Ara.
Ara mulai berpikir, Ia menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Ah Mas kasih yang bagus dong, bila perlu jadi sekertaris Mas saja. "
Luna dan Alwi sontak menatap pada Ara, bagaimana mungkin menjadi sekertaris dengan pendidikan yang masih baru lulus SMA itu.
" Dek, apa....
" Hust, eh sebentar ya, Ara mau ngomong sebentar dengan Mas Alwi. " Ara pamit pada ketiga sahabatnya.
Ia kemudian menarik tangan kakak laki-laki nya itu ke kamar milik kakaknya itu.
" Mas ih, kenapa sih suka bikin Ara malu. Apa susahnya terima saja. " Protes Ara.
Alwi menggeleng pelan, Ia bingung melihat sikap keras kepala adik semata wayangnya itu.
" Dek, Mas bukannya mau bikin kamu malu, tapi ya kamu pikir dong, masa umur segitu bisa jadi sekertaris. Paling juga sekolahnya tamat SMA. "
Ara tetap tidak menerima, Ia mau Luna menjadi sekertaris Mas nya itu.
" Mas belum coba tapi sudah menolak, asal Mas tau, Luna itu anak yang pandai. Dia lulusan terbaik di kotanya, di kampus saja dia cepat menyelesaikan tugas yang di berikan dosen, Ara saja kalah. "
Gadis ceria itu mencari alasan agar saudaranya mau mengabulkan keinginannya.
" Nggak apa apalah berbohong sedikit, yang penting Mas Alwi mau menerima Luna bekerja disini. " Batin Ara.
Dia sebenarnya tidak tau asal usul Luna, boro boro Ia tau sahabatnya itu jadi lulusan terbaik, tanpa Ia sadari satu hal kalau tebakannya adalah benar. Luna memang adalah lulusan terbaik, bahkan selalu menjadi pemenang di setiap kontes yang Ia ikuti.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu