Novel yang mengisahkan tentang seorang pria yang masih menduduki bangku SMA. Ketampananannya membuat seorang wanita yang berusia 25 tahun itu jatuh cinta begitu dalam.
Wanita yang memiliki sebuah perusahaan terbilang besar dan terkenal.
Indi Maharani mencintai pria bernama Veric yang usianya jauh lebih muda, berpikir akan mampu membuat sang suami dewasa setelah pernikahan.
Nyatanya sikpa Veric yang masih labil terus membuatnya semakin sakit. Akankah Indi mampu mendapatkan cinta Veric setelah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Indi Menjenguk
Terduduk lemas dari rasa kantung yang begitu berat, kini berubah. Indi mengusap wajahnya kasar. Tak ada air mata yang keluar. Mungkin memang ia tak pantas dengan Veric. Atau sebaliknya? Hanya Tuhanlah yang tahu.
“Semua usaha sudah aku lakukan. Aku hanya ingun Veric menjadi pria baik. Tidak memaksanya untuk mengerti aku, atau berubah jadi dewasa.” keluh Indi menunduk.
Perlahan ia pun bangun dari tidurnya. Berjalan mengarah ke jendela yang lebar dan mengintip di sela gorden. Pagar di bawah sana sudah terbuka dan Veric melangkah cepat keluar dari rumah tanpa menutup kembali pagar itu.
Pria itu berjalan tak menoleh sedikit pun. Indi memilih kembari membaringkan tubuhnya.
Beberapa menit ia bergelut dengan selimu. Rasanya justru kantuk itu menghilang berganti rasa gelisah yang semakin menguasai dirinya.
Ke kiri dan ke kana, lalu telentang. Indi masih belum bisa menembus alam mimpinya. Pikirannya terus terbayang dengan Veric.
“Ah! Kenapa aku tidak bisa tidur. Ayolah mata terpejam. Aku lelah.” Indi pun menutup seluruh tubuhnya untuk beberapa saat dengan selimut.
Lima menit kemudian, ia membuka selimut itu. “Ini tidak bisa. Besok aku harus ke kantor pagi-pagi” ucapnya bicara sendiri.
Tanpa bisa menunda lebih lama lagi, wanita berparas ayu itu meraih sebuah obat di dalam laci dekat tempat tidurnya. Ada beberapa obat dan vitamin, tetapi Indi mengambil satu obat yaitu obat penenang agar terlelap dengan nyaman.
Sukses, beberapa saat berlalu, matanya pun tertutup sempurna tanpa tahu apa yang terjadi pada sang suami malam ini.
Di sini, sebuah mobil taksi baru berhenti di depan pagar yang juga tinggi. Namun masih jauh di bandingkan dengan kemewahan yang di tawarkan oleh kediaman sang istri.
“Setidaknya aku di sini lebih bebas dan tenang.” keluh Veric menatap senang rumah yang sudah beberapa waktu tidak ia kunjungi.
“Tunggu sebentar, Pak.” ucap Veric meminta sang supir menunggu untuk membayar ongkos jalannya.
Sepeserpun ia bahkan tak ada uang lagi. Semua benar-benar habis di waktu yang bersamaan. Entah habis atau semua sudah di atur sebaik mungkin dengan orang di sekelilingnya.
Yah, tanpa Veric tahu. Yang murni habis hanyalah pulsa data. Bukan pulsa biasa, bukan pula uang di dompetnya.
“Ayah!”
“Yah!”
“Bibi!” Beberapa kali Veric berteriak memanggil sang ayah.
Bahkan ia tahu, jika ibunya siang tadi pun sudah pulang. Karena dokter mengatakan harus menjalani rawat jalan usai operasi tersebut.
Namun, karena kesibukan Veric yang tak berfaedah ia bahkan lupa untuk ikut menjenguk orangtuanya dan mengantar pulang.
Sedang Indi memang sudah berjanji untuk menjenguk esok hari karena harus ke luar kota.
Beberapa kali Veric kembali berteriak, akhirnya wajahnya pun tidak jadi menegang. Sosok ayah muncul sembari mengusap kedua matanya ngantuk.
“Veric? Ngapain kamu malam-malam kesini?” tanya Tuan Lukas.
“Yah minta uang bayar taksi tuh. Veric mau masuk ke kamar, ngantuk.” ucap pria itu tanpa mau menjelaskan apa-apa pada sang anak.
Bukannya langsung menuruti sang anak dan membiarkan Veric masuk ke rumah, tangan Tuan Lukas seketika membentang di pintu rumahnya.
Matanya menatap penuh selidik pada sang anak. Ini sudah jelas pasti terjadi sesuatu pada Indi dan Veric.
“Pulang kamu! Pulang, Veric! Ayah tidak akan membiarkan kamu pulang ke sini sendiri tanpa Indi!”
Brakk!
Bersamaan kemarahan suara Tuan Lukas dengan hempasan pintu yang kasar, sekarang Veric merasa benar-benar bingung.
Menggedor pintu kembali hasilnya nihil. Kini Veric berusaha melihat apa yang bisa ia lakukan sekarang.
“Persetan dengan pernikahan! Argh!” Teriaknya frustasi.
Tin! Tin!
Klakson taksi pun terdengar.
“Gimana bisa bayar nggak? Ini waktunya berjalan terus loh?” Teriak pak supir yang lama-lama kesal karena menunggu ketidak pastian Veric.
Kendaraan tak punya, uang tak punya, ponsel bahkan tidak berfungsi. Veric rasanya mau gila malam itu.
Ia berjalan gontai mendekati taksi. Rasanya tidak mungkin jika ia tidur di teras rumah yang pasti sangat dingin. Tapi, mau kemana dia malam-malam begini?
Tidak mungkin jika ia harus kembali ke rumah istri tuanya yang selalu mengawasi gerak geriknya itu.
Bahkan saat seperti ini, Veric sadar teman-temannya tak bisa berbuat banyak membantunya.
“Gimana ada uang nggak sih? Ah jangan-jangan nipu yah?” todong pak supir taksi mulai menerka.
“Nih pak, jam tangan saya ambil aja. Original kok, saya kehabisan uang.” jawab Veric pasrah.
Melihat barang mewah tentu pak supir masih bisa melihat kelas jam tangan itu. Senyuman pun terukir di wajahnya.
“Oke deh kalau gitu. Terimakasih yah, sering-sering uangnya habis biar saya dapat barang begini lagi.” sahut Pak supir bersuka cita.
“Tapi antar saya…”
“Ada barang apa lagi memangnya?” potong Pak supir yang tahu jika Veric ingin ke alamat lainnya.
“Pak, itu jam saya harganya lebih banyak dari harga ongkos taksi. Kenapa harus ada barang lagi?” kesal Veric menatap pria di depannya.
“Yah ini kan tadi bayarnya khusus satu kali pengantaran. Situ nggak bilang buat dua kali pengantaran. Yasudah, saya pulang dulu ngantuk.” Mobil taksi pun melaju meninggalkan Veric seorang diri di malam yang sangat dingin.
Bahkan embun pun sudah mulai tak terkendali lagi, jalanan mulai lembab dan terangnya bulan tampak menemani Veric yang kesepian.
***
Hingga tanpa terasa malam yang panjang kini berganti dengan pagi yang cerah dan segar.
Kendaraan yang sunyi di jalanan ibu kota kini perlahan mulai kembali padat dengan tujuan ke tempat mata pencaharian masing-masing.
Tapi berbeda dengan wanita yang selalu mengutamakan pekerjaannya saat pagi, sesuai janjinya. Indi pagi ini datang bertamu di kediaman sang mertua.
Mobil mewah dengan bodyguard yang mengawalnya telah sampai di halaman rumah pagi sekali.
Karena pekerjaan lagi dan lagi, Indi harus segera mengunjungi sang mertua.
“Silahkan, Nona.” ucap bodyguard yang membuka pintu mobil untuk Indi.
Mata mereka di buat terheran bersamaan saat melihat sosok pria yang selalu membuat ulah kini duduk meringkuk memeluk tubuhnya di kursi tunggal dengan mata terpejam.
“Veric?” gumam Indi heran.
Tepat pada saat itu juga, Tuan Lukas dengan seragam olahraganya membuka pintu.
“Indi?” sapa pria paruh baya itu dengan senyum ramah sekaligus menahan malu di hatinya yang terdalam.
“Ayah?” Indi mendekat mencium punggung tangan sang mertua.
“Apa Veric sejak semalam di sini, Ayah?” tanya Indi yang tidak bisa menahan diri untuk tak perduli.
Tuan Lukas menghela napasnya kasar. “Jangan beri dia ampun. Ayo masuk.” Ajak Tuan Lukas membawa sang menantu untuk masuk menjenguk sang istri.
Tak lupa di tangan Indi sudah ada buah yang ia bawakan khusus untuk mertuanya.
Sedangkan di luar, tanpa Indi tahu. Para bodyguardnya sudah memberi perhitungan pada Veric. Sesuai dengan arahan Tuan Lukas melalui sorot matanya.
“Argh!” pekik Veric baru membuka mata sudah merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya.
Pukulan telak ia dapat saat masih berselancar di dunia mimpi.
Sakit yang ia dapatkan tak akan terlihat di wajah, tangan, mau pun bagian yang terlihat dari luar.
“Tuan, katakan anda akan kembali ke rumah untuk Nona Indi?” ancam bodyguard dengan sekali pukulan dan tendangan di kaki Veric.
Pria itu meringis sakit. Latihan bela dirinya belum sejauh itu untuk bisa menahan rasa sakit dengan lebih kuat lagi.
“Tidak! Aku tidak mau dengannya lagi. Aku ingin bebas. Kalian saja yang menikah dengannya.” tutur Veric masih berkeras hati.
Ingatannya tentang bagaimana teman-temanbta menginginkan Indi membuat Veric enggan melanjutkan pernikahannya. Seolah Indi sengaja menebar pesona pada teman-temanya dengan alasan untuk memata-matai dirinya.
Hampir setengah jam, Indi berada di dalam hingga menyempatkan diri untuk ikut sarapan.
“Oke, oke. Aku kembali. Tolong hentikan.” Menyerah karena sakit, Veric memilih pulang bersama Boby ke kediaman Indi.
Sayangnya Indi yang terlanjur acuh, memilih pergi ke kantor dengan bodyguard setelah melirik kursi yang sudah kosong.
***
Pagi yang sama di kediaman Tuan Vinsen. Perdebatan dan rayuan manis seorang gadis belia terdengar di meja makan.
“Dad, please! Aku sedih dengan hari bersejarahku yang gagal.” Sintia merayu sang Daddy setelah sumpahnya di malam ulang tahun yang menyakitkan.
“Sintia, Daddy sedang sibuk dengan kunjungan Daddy. Sebaiknya kamu selesaikan sendiri urusan mu dengannya. Kamu bilang dia hanya seorang kakak perempuan teman dari teman mu kan?” tanya Vinsen menatap dalam.
Sintia mengerucutkan bibirnya merasa keberuntungan tak berpihak padanya.
“Daddy jahat! Daddy lebih sayang jabatan dari Sintia. Sintia mau pergi ke Mommy saja di LA.” Mendapat ancaman begitu, Tuan Vinsen tak sanggup menolak lagi kemauan sang putri tunggal.
Helaan napas kasarnya pun terdengar.
“Dia itu wanita karir, Dad.” lanjut Sintia lagi meyakinkan.
“Oke. Daddy usahakan. Hanya wanita karir ternyata…” senyuman kecil terbit di wajah pria itu.
MAKANYA LO RIC,, JGN SMPE LO DPISAHKN SAMA INDI, NYESAL LOO
INILH AKIBAT SALAH DIDIK, SALAH GAUL.. BOCAH MUSLIM SAJA BNYK YG KYK SETAN DAJJAL, APALAGI SI VERIC BOCAH KAFIR, MNA TAU MORAL & AHKLAK... TAUNYA HIDUP FOYA, PESTA2,,CLUBING2, BKN ISI WAKTU DGN HAL YG BRMANFAAT..
SUPAYA LO GK GENGSI SAMA INDI, HRSNYA LO GIAT2, BLAJAR..
begitu saja......
ngak ada kata pentup....
😁😁😁😁😁