Sequel : Burning Passion In Love!
Stefano, Casanova bastard yang sangat dingin. Prioritas utama adalah membalas dendam pada keluarga Weldon.
Dengan 2 saudaranya, Stefano berlayar menjadi seperti Ayahnya. Seorang Mafia kejam dan Pengusaha sukses.
Sebuah taktik keji mengharuskan di antara 3 pria kejam maju untuk menikah dengan Putri Mr Weldon. Alhasil Stefano yang maju untuk menikah dengan gadis baru lulus SMA.
Kisah rumit yaitu : cinta, dendam, benci, pembunuh dan gairah melebur menjadi kesatuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPIL2 - Moon and Sun!
Queenaia menatap rembulan dengan pandangan teduh. Sekarang bulan purnama membuat dia begitu kagum. Senyum cerah merekah teringat Stefano. Entah kenapa dirinya tergambar seperti bulan dan Suaminya adalah matahari. Keduanya saling melengkapi penuh cinta dan kasih sayang.
"Wahai rembulan.
Terus menyala terang di setiap gelombang.
Aku melihat sang Bidadari tersenyum menatap rembulan.
Begitu indah senyummu membuat terpaku.
Engkau laksana purnama.
Terang bersinar menyinari kalbu.
Sesuai nama engkau Ratuku, wahai dewi alam.
Aku mencintaimu, Queen!"
Stefano merengkuh Queenaia dari belakang sembari mengecup pelipis sang Istri. Niat hati ingin bersair tetapi kacau membuat dia malu. Ia bisanya hanya bermain senjata, pena dan tongkat. Untuk bersair Stefano tidak akan bisa melakukan itu semua.
"Stef, kamu tadi bicara apa? Syair bukan, tapi lebih ke kata. Lucu sekali," celetuk Queenaia tambah membuat Stefano ciut.
"Aku ingin terlihat romantis dengan bersair. Ternyata bisaku hanya bekerja dan kerja."
Queenaia berbalik menghadap Stefano. Jemari lentik itu mengusap pipi tirus Stefano lalu berjinjit untuk mengecup rahang sang Suami. Perlahan tangan kecilnya mengalung sempurna di leher kokoh Suaminya. Queenaia gemas melihat Stefano ciut begitu sehingga membuat gemas.
"Itu sangat bagus, Stef. Aku sangat suka walau terlihat tidak signifikan. Sudah jangan murung, cerialah."
Stefano mengangkat Queenaia dalam gendongannya. Dia berjalan menuju bangku dan memutuskan menikmati rembulan di balkon. Ia sandarkan tubuhnya di bangku lalu menyamankan diri untuk merengkuh Istrinya. Stefano tersenyum tipis merasakan keindahan bulan bersama Queenaia di balkon lantai 40.
Queenaia bersandar di bahu lebar Suaminya sembari memainkan jari kekar Stefano. Matanya terus menatap bulan penuh kekaguman. Sedari kecil ia sangat mengagumi rembulan. Apa lagi saat bulan purnama seperti hari ini. Queenaia akan berada di teras sepanjang malam demi melihat bulan jika sang rembulan membentuk lingkaran penuh.
"Kenapa kamu begitu memuja bulan?"
"Karena bulan itu begitu tangguh. Di kala kegelapan menyelimuti maka dengan kokoh rembulan bersinar. Dengan kekuatan alaminya dia menyinari bumi tanpa takut kegelapan. Aku sangat menyukai bulan untuk melambangkan diriku sendiri. Jika kelak aku terluka dan hanya ada kegelapan maka aku akan mengepakkan kekuatan untuk berusaha kokoh."
"Iya, jadilah rembulan, Istriku. Penggambaran sempurna, namun kamu lupa Queen."
"Terima kasih banyak, Stef. Aku melupakan apa sepertinya tidak ada yang lupa?"
"Rembulan itu sangat lemah karena ada kalanya dia tidak bersinar bahkan terkesan rapuh. Karena matahari sang rembulan bersinar!"
Queenaia tersenyum teduh mendengar perkataan Stefano. Benar juga namun baginya rembulan adalah ciptaan Tuhan paling luar biasa.
"Iya, kalau begitu kamu matahari yang akan selalu bersinar membantu rembulan hidup. Aku akan menjadi rembulan yang membutuhkan sinar sang surya. Jikalau aku rapuh maka topang diriku dengan kekuatanmu."
Stefano merasa tertohok mendengar perkataan tulus Queenaia. Mana bisa dia menyakiti wanita sebaik dan selugu Queenaia. Mampukah dia menjadi kekuatan terbesar Istrinya?
"Matahari adalah kehancuran, Queen. Sinar matahari begitu terik dan sangat berbahaya."
Stefano tidak mampu berkata karena simbolnya adalah kehancuran. Jangan dekati jika tidak ingin hancur karena kekejaman.
Queenaia tidak mampu menahan diri untuk menyerukan isi hati. Baginya Stefano adalah matahari dan dia adalah rembulan.
"Tidak, dibalik sinar menyengat dan penghancur matahari lebih mulia. Matahari begitu mulia karena terus bersinar menerangi bumi tanpa lelah. Karena matahari semua hidup penuh kehangatan walau panas. Tetapi, sangat meneduhkan di balik sengatan panas. Jika matahari redup maka semua petang tanpa cahaya. Bagi semua matahari lebih mulia akan Kekuasaannya."
"Kamu terlalu lugu, yakinlah matahari adalah kehancuran!"
"Maka percayalah rembulan yang akan memberikan ketenangan. Sinar rembulan akan menyinari malam gelap tanpa kehidupan. Rembulan akan menjadi obat untuk sang surya!"
"Tidak ada obat, Queen. Matahari akan menghancurkan segalanya tanpa sisa."
"Kita lihat apa matahari benar-benar menghancurkan jika ada rembulan!"
"Rembulan yang lemah akan hancur dan matahari akan terus bersinar!"
"Baiklah, aku kalah. Kamu terlalu memuja matahari."
"Karena matahari adalah aku!"
"Hm, jika matahari adalah Stef maka rembulan adalah Queen."
"Hn."
Stefano mengusap rambut panjang Queenaia penuh sayang. Redup sekali semua yang terlihat pasalnya waktu dirinya akan tiba. Maka sang rembulan benar-benar hancur di bawah kendali sang Surya.
Queenaia tersenyum saat merasa pelukan Stefano semakin erat. Entah kenapa dia merasa Stefano benar-benar akan menjelma seperti matahari sang penghancur. Semoga saja apa yang di takutkan tidak akan terjadi.
***
Aku menatap hamparan rerumputan dengan sendu. Ibu apa Stef mampu melukai rembulanku? Setiap bersamanya rasa sakit terus ada mengingat penderitaan yang akan kuberikan.
Ayah, apa dulu juga menyakiti ibu? Kenapa nasibku buruk sekali? Ayah, tolong berikan kekuatanmu untuk membalas Weldon.
Nyawa di bayar nyawa namun untuk Queenaia, aku harus bagaimana?
Andai kalian masih hidup pasti Stef akan menjadi Dokter handal. Cita-cita yang aku impikan dari kecil. Aku bercita-cita begitu karena Ibuku seorang Dokter hebat.
Ibu begitu hebat dan aku ingin jadi Dokter sepertinya. Namun, semua pupus tatkala aku masuk kelas dua sekolah dasar. Semuanya musnah dalam hitungan menit.
Argghhh ....!!!
Weldon b*ji**an, kenapa kamu hancurkan hidup kami? Sakit sekali Tuhan, rasanya aku tidak sanggup ingin menyerah. Aku kesakitan maka tolong berikan aku kekuatan walau redup.
Aku ambil pisau dan tanpa segan menggores lenganku dengan inisial, Queenaia. Darah bercucuran terlihat sangat memabukkan membuat aku menginginkan lebih. Aku kembali menyayat lenganku tanpa kesakitan. Darah terlihat bercucuran membuat diriku sangat puas.
Aku teguk darahku sendiri tanpa sisa. Rasanya nikmat sampai aku ingin membunuh Weldon segera. Tetapi, aku belum melakukan taktik untuk menghancurkan, Queenaia. Wanita kecil itu akan hancur karena matahari.
Hai, Queen kamu sangat bodoh mencintaiku. Dan aku lebih bodoh mencintaimu. Kita berdua sama-sama bodoh karena saling mencintai. Hahaha, kamu bodoh aku jauh lebih bodoh karena sangat mencintaimu.
Aku ingin lihat betapa sengsara Queen saat Weldon mati di depannya. Pasti sangat seru melihat gadis itu depresi berat melihat kematian keluarganya.
Bwahaha ahahaha ....!
Tunggu kehancuranmu, Queen!
Aku tatap foto Istriku dengan pandangan kosong. Aku ingat foto ini di ambil saat kami berlibur ke Tokyo. Saat itu kami Honeymoon namun sejatinya aku ke Jepang membantai para Yakuza.
"Cantik, tapi maaf Queen kebahagiaan hanya semu."
Suara ponsel membuat aku tersadar. Ya Tuhan ini Evceen. Wanitaku yang ada di Turki. Mau apa Gadisku menelepon di saat kurang tepat. Menyebalkan sekali gadis ini, tapi aku sayang walau terkesan begitu menyebalkan.
"Hn."
"Stef, aku sangat merindukan kamu. Kapan datang ke mari?"
"Next time."
"Promise?"
"Hn."
"Stef, i love you so much!"
"Love u too."
"Stef, aku dapat kabar kamu sudah menikah. Apa benar? Lalu bagaimana dengan cinta kita?"
"Right, Honey. But, i love you. Don't worry."
"Aku sangat sakit tetapi aku percaya kamu *mencintaiku. Aku juga sangat mencintaimu, Stef. Bagaimana tidak khawatir jika orang yang ku cinta menikah dengan wanita lain!"
"Jangan berpikir banyak, Evceen ...! Yakinlah Stef akan datang dan jangan khawatir*!"
Setelah mengatakan itu aku memutus sambungan. Dengan begini Evceen akan datang kemari melancarkan aksinya. Sangat mengagumkan jika itu terjadi. Aku sangat bahagia akhirnya apa yang kurencanakan berakhir manis.
"Fantastis," gumamku.
Aku memilih mengatur strategi penyerangan untuk para Mafioso kurang ajar. Aku tidak mau memikirkan banyak hal membuatku beralih membuat sesuatu yang baru. Dengan strategi perang maka kesenangan melihat darah tertuntaskan.
❤❤❤
"Stef ....!" panggil Queenaia di luar ruang kerja Stefano.
"Masuk, Sayang!"
Queenaia masuk ke ruang kerja Stefano sembari membawa secangkir kopi. Ia berikan kopi hitam tanpa gula pada Suaminya. Dia tersenyum saat sang Suami memuji kopi buatannya. Queenaia sangat bahagia melihat Stefano begitu senang minum Kopinya.
"Ini enak, Sayangku. kemari duduklah!" perintah Stefano.
Queenaia duduk manis di pangkuan Stefano. Tangan mungil itu mengusap rambut tebal Suaminya lalu menunduk untuk mengecup puncak kepala sang Suami. Queenaia senang sekali Stefano begitu lembut penuh cinta untuknya.j
"Queen, aku sangat mencintaimu. Apa kamu percaya aku milikmu?"
"Aku juga sangat mencintaimu, Stef. Tentu, aku sangat percaya karena Stef hanya milik Queen. Begitu pun dengan Queen hanya milik Stef!"
"Jika kelak aku menghancurkan hubungan kita bagaimana?"
Queenaia menegang mendengar perkataan Stefano. Sesak namun ia berusaha mengendalikan diri. Dia yakin Suaminya tidak akan menghancurkan hubungan mereka. Queenaia tahu seberapa besar cinta Stefano untuknya.
"Aku akan berusaha memperbaiki hubungan yang retak. Berusaha mempertahankan pernikahan kita walau sulit."
"Benarkah? Tetapi percayalah kamu tidak akan sanggup."
"Kenapa berbicara begitu? Kenapa seolah kamu mau menghancurkan hidupku?"
Stefano tersenyum mendengar pernyataan Queenaia. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya sembari menciumi leher jenjang Istrinya. Ia tidak akan sanggup melihat Istrinya hancur di tangannya. Namun, apa daya Stefano tidak akan menyerah atau mundur dari balas dendam hanya karena Queenaia.
"Aku sangat mencintaimu ... hanya kamu wanita yang sangat kucintai. Soal pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya."
"Stef, kenapa kamu begitu aneh? Aku juga sangat mencintaimu, Stef dan hanya kamu pria yang sangat kucintai."
Stefano tidak menjawab pernyataan Istrinya. Dia mendongak agar Queenaia mencium bibirnya. Dan terjadilah ciuman sayang mengiringi hati. sedangkan Queenaia hanya bisa meracu di bawah kendali Stefano. Dia tidak sadar seberapa besar penderitaannya jika waktunya tiba. Sebelum semua berakhir maka izinkan dirinya bahagia walau sementara.
sukses
semngt
mksh
keren