Dea dijebak oleh kakaknya yang berakhir dia harus ditiduri oleh suami kakaknya yang membuat dia harus mengandung anak dari suami kakaknya dan terpaksa menjadi Madu dari sang kakak hanya karena kebahagiaan sepihak.
Menceritakan Liku-Liku perjalanan kakak adik angkat, yang terjebak dalam hubungan rumit dimana mereka harus berbagi suami yang sama dengan keadaan saling mengikhlaskan.
Zara Aridda sesosok wanita tegar dengan rasa penuh perhatian harus menikahkan suaminya dengan adiknya dikarenakan adiknya telah hamil anak suaminya, namun dia menyimpan rahasia yang besar yang hanya dia yang tahu.
Dea Aninda sesosok wanita yang tak kala tegar nya terpaksa masuk kedalam hubungan pernikahan kakaknya dan menciptakan sebuah keadaan rumit dimana dia terjebak dalam keadaan terpaksa dan kenyataan bahwa dia mulai mencintai suami kakaknya yang kini menjadi suaminya
Siapakah yang akan dipilih Tirta dikala Kedua istrinya sama-sama ingin menyerah
Siapakah yang akan bertahan dalam pernikahan tersebut dan siapakah yang pada akhirnya menyerah
Dan jangan lupa sosok Danu yang selalu ada untuk Zara dan masih menanti cinta Zara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 10: Kenapa Tidak Jujur Pada Suamimu?
Sesampainya dirumah sakit, Dea langsung ditangani oleh tim medis, sementara itu Zara dan Tirta hanya bisa menunggu di ruang tunggu menanti kabar dari tim yang menangani Dea.
"Arghh!" teriak Tirta mengacak-acak rambutnya.
Zara melihat Tirta dengan tatapan iba, ia tahu seberapa Tirta mengharapkan anak dalam kandungan Dea karena itu alasan pertama dia menyerah bukan karena dia tidak bahagia tapi justru kebahagiaannya adalah melihat orang yang dia cintai bahagia.
"Aku bodo Za! Aku bodo!" keluh Tirta pada Zara.
Tirta beralih berjalan mondar-mandir karena tidak tenang akan kondisi Dea dan bayinya.
Bugh! Tirta beberapa kali memukul kasar dinding rumah sakit tersebut karena kesal sehingga membuat jarinya terluka sendiri.
"Bang," panggil Zara berusaha menghentikan aksi gila Tirta.
Tirta tidak menggubris Zara ia masih memukul dinding tersebut untuk melampiaskan kekesalannya.
Zara berjalan ke arah Tirta dan mencoba menenangkannya namun Tirta semakin tidak terkendali yang membuat Zara menyerah dengan hal itu.
Plak!
Sebuah tamparan melayang ke pipi Tirta dari Zara guna menyadarkan sosok pria yang tengah dibalut amarah itu, Zara menatap dan menggelengkan kepalanya kepada Tirta yang menatapnya setelah Zara menampar pipinya.
"Bukan begini caranya Bang, Abang harus tenang," ujar Zara pada Tirta.
Tirta menundukkan kepalanya dan terduduk lemah di kursi tunggu tersebut. "Aku yang sepenuhnya bersalah disini,"
Zara hanya diam tidak menggubris Tirta lagi karena seorang suster baru saja keluar dari ruangan tempat Dea ditangani yang membuat Zara dan Tirta mengalihkan fokus mereka ke suster tersebut.
"Pasien sudah ditangani, dan dokter ingin menemui keluarga pasien didalam, jadi silakan masuk," ujar suster tersebut berjalan meninggalkan Zara dan Tirta.
Zara dan Tirta mengangguk kemudian berjalan masuk kedalam ruangan rawat tersebut, pemandangan pertama yang Zara dan Tirta lihat adalah Dea yang tengah terbaring dan terisak dalam tangisnya.
Sementara seorang dokter berdiri tak jauh dari tempat Dea berbaring, Zara langsung berlari ke arah adiknya sementara Tirta memilih untuk menananyakan kondisi Dea pada dokter tersebut.
Seolah tahu dengan tatapan mata penuh tanya Tirta, dokter tersebut melepas stetoskopnya dan menghela napas panjang sebelum mendatangi Tirta yang berdiri tidak jauh dihadapannya.
"Ini sudah diluar kuadrat kami, Bu Dea harus segera dikuret dan dibersihkan karena janin dalam perutnya sudah tidak bisa diselamatkan," ujar dokter tersebut.
Zara yang mendengar itu seketika menangis sembari menutup mulutnya mendapati fakta yang menimpa adiknya, sedangkan Dea hanya menangis dalam posisinya, terisak tanpa tahu harus melakukan apa-apa.
Walaupun anak yang dalam kandungan Dea yang membawa Dea terseret dalam hubungan yang rumit ini, tapi ibu mana yang rela kehilangan calon anaknya, hidup tanpa suami nantinya bahkan sudah Dea persiapkan bersama anaknya, namun jika ini sudah terjadi dia harus apa selain meminta pisah dan memulai kehidupan yang baru.
Sedangkan Tirta sendiri hanya terdiam tersandar ditembok wajahnya diliputi rasa kecewa, ia kesal, sangat-sangat kesal dengan apa yang menimpa dirinya, sehingga ia hanya bisa terduduk dilantai rumah sakit tersebut tanpa suara menatap kosong kedepan.
"Bu Dea, harus segera dikurek jadi mohon untuk memberikan waktu ke pasien untuk beristirahat," ujar dokter tersebut.
Zara mengangguk. "Dek, masih ada kakak disini kamu tenang yah, apapun yang terjadi tidak akan ada yang berubah, kamu tetap Dea, dan akan menjadi istri satu-satunya Bang Tirta,"
Dea yang masih sedih dan kalut tidak terlalu mendengarkan kalimat kakaknya, di pikiran nya seakan diliputi awan hitam yang menutup pola akal sehatnya saat ini.
Zara kemudian berjalan ke arah Tirta dan membantunya berdiri, dia menatap dan menggelengkan kepalanya kepada Tirta memberi isyarat, setelah itu dia berjalan meninggalkan Tirta yang kembali terduduk di posisi yang sama.
Zara memilih untuk melaksanakan sholat isya yang terlewat tadi sekalian meminta petunjuk akan pilihan demi pilihan yang akan dia ambil nanti.
Zara berjalan pelan menuju musholla rumah sakit, sesampainya disana dia segera mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya, dalam khusyuk serta dalam setiap ucapannya selalu dia selipkan doa kepada Allah.
Setelah selesai Zara memulai sesi berdoa nya doa yang sama disetiap sujudnya yaitu "Kuatkan hamba dalam mengikhlaskan semua ini,"
"Kenapa? Kenapa engkau memberi sebuah masalah yang rumit dikala Hamba sudah kau berikan petunjuk dalam setiap ikhtiar Hamba? Jika memang ini engkau masih mengkehendaki pilihan hamba yang dulu, hamba sangat menginginkan kebahagiaan kepada Adik Hamba dan suami Hamba, sesungguhnya Hamba merasa bahagia bila melihat mereka berdua bersatu, Hamba tahu Hamba yang salah, Hamba yang menjebak suami Hamba sendiri sehingga semua hal ini terjadi," Zara memberi jeda. "Jika ada orang yang perlu disalahkan disini itu adalah Hamba yang menjebak suami Hamba dan sengaja menjadikan adik Hamba sebagai pengganti disaat Hamba benar-benar ingin pergi karena sudah tidak merasa pantas lagi, tapi kenapa hukuman nya harus sesakit ini? Kenapa ketika semua ikhtiar hamba dalam melaksanakan rencana Hamba harus kau hancurkan dengan mengambil bayi dalam kandungan adik Hamba,"
"Ya Allah, berikanlah Hamba sekali lagi kemudahan izinkanlah Suami Hamba dan Adik Hamba bersatu nantinya, walaupun tidak ada anak sebagai alasan mereka bersatu karena sesungguhnya hamba sudah sangat hina dengan membiarkan Suami Hamba menggagahi adik Hamba sendiri walaupun Hamba tahu suami Hamba dalam keadaan tidak sadar, tapi Hamba sendiri yang meminta dalam setiap doa berikanlah wanita pengganti, namun kenapa disaat Hamba sudah kau berikan sosok pengganti walaupun dengan cara yang salah, kenapa harus kau uji lagi rasa ikhtiar yang sudah Hamba bangun? Berikanlah Hamba sekali lagi kemudahan, Hamba mohon," lanjut Zara menyelesaikan doanya.
Setelah selesai Zara membereskan mukena yang dia pakai sholat beserta sajadah yang fia juga pakai tadi, disaat akan melangkah keluar dari mushollah sebuah sosok menghadang langkahnya yang membuat Zara berhenti sejenak untuk menatap wajahnya.
"Jadi selama ini? Kamu sendiri yang menjebak suami serta adik kamu dalam hubungan terlarang itu? Dan kamu sendiri yang menyakiti diri kamu?"
"Danu ..." lirih Zara pada pria yang sudah mencecarkan pertanyaan kepada Zara.
"Kenapa Za? Kenapa?" tanya Danu penuh tanya. "Tak kusangka kamu begini Za, aku tahu kamu melakukan ini demi kebaikan suami kamu, tapi bukannya mengorbankan adik sendiri adalah sesuatu yang buruk?" Danu sadar betul bahwa dia juga sebenarnya sangat-sangat jahat karena berusaha memisahkan Zara dengan Tirta melalui rencana licik nya, namun kenyataan bahwa Zara sendiri yang melakukan dan menginginkan poligami tersebut membuat Danu tidak habis pikir dibuatnya.
Zara perlahan menunduk dan menangis, Danu yang melihat itu merasa iba dan segera menarik Zara ke pelukannya guna menenangkan wanita yang dia cintai itu, dia tahu kesalahan Zara tapi dia tidak tega melihatnya menangis seperti ini.
"Aku penyakitan Danu, aku mandul, aku terpaksa melakukan ini karena sadar betul aku tidak bisa memberikan apa yang Bang Tirta mau selama enam tahun pernikahan, makanya pada malam itu aku sengaja menjebak Bang Tirta dengan minumannya, karena jika aku hanya berusaha mendekatkan Bang Tirta dan Dea secara normal dan tanpa cara seperti ini, sampai kapan pun Bang Tirta tidak akan mencari wanita lain," jelas Zara dan pelukan Danu.
Danu mengelus puncak kepala Zara. "Kenapa tidak jujur pada suamimu tentang penyakitmu,"
Jujur melihat Zara akan bercerai dengan Tirta membuat Danu mendapat peluang untuk menyusup pada hati Dea apalagi yang Danu tahu Tirta yang merusak pernikahannya sendiri jadi dia nekat untuk melakukan cara curang, tapi mengetahui fakta sebenarnya, dia merasa bahwa rasa cintanya pada Zara tidak berkurang, tapi ada perasaan bersalah melihat apa yang sudah terjadi.
"Jangan beritahu Bang Tirta tentang ini," Zara melepas pelukan Danu.
Danu terdiam namun Zara mengambil tangan Danu dan mengamitnya. "Berjanjilah,"
Danu menganggukkan kepalanya kemudian mengelus puncak kepala wanita yang sangat dia sayangi itu, apapun kesalahan Zara tidak akan merubah perasaannya karena dia tahu ini demi kebaikan bersama walaupun dia tahu bahwa itu membuat luka pada orang yang lain nya.
- TBC
KAGET? SAMA AUTHOR JUGA
mubeng2 wae..ra uwis2...😃😃😃