Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tua angkatnya, Arabella bersedia menyamar dan menikah dengan Fardhan, lelaki yang sebenarnya dijodohkan dengan kakak angkatnya.
Fardhan adalah lelaki berhati dingin yang terluka karena cinta sebelumnya. Meskipun dia tahu keluarga angkat Bella telah menipunya, tapi dia tetap menikahi gadis itu.
Tapi cinta masa lalu Fardhan hadir kembali, merusak apa yang sudah terjalin dan membuat dia dilema. Sementara Bella merasa bersalah karena sudah membohongi Fardhan dan Ibunya.
Akankah Fardhan dan Bella mampu mempertahankan rumah tangga mereka setelah semua rahasia terbongkar?
Atau justru berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Fardhan dan Bella berjalan masuk ke dalam sebuah butik kebaya terkenal langganan Risha, kedatangan mereka disambut oleh salah satu karyawan di butik itu.
"Selamat datang, Mas dan Mbak. Silahkan!"
Bella membalas sapaan ramah karyawan itu dengan senyuman, sementara Fardhan masih tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Seorang wanita jadi-jadian menghampiri mereka dengan langkah yang gemulai.
"Hai, pasti ini anaknya Bunda Risha kan?" tanya ban ci itu dengan nada yang mengalun. "Tadi beliau udah hubungi eke."
Bella mengangguk. "I-iya, hmm ... Mas eh Mbak ...."
"Panggil Lucinta aja, tapi nggak pakai Luna ya. Entar eke dikira plagiat nama yang ono." sahut ban ci yang bernama Lucinta itu. Dia memahami kebingungan Bella.
"Mau lihat kebaya nikah kan?" lanjutnya.
"Iya, Mbak Lucinta." jawab Bella. Sementara Fardhan hanya terdiam melihat sosok Lucinta yang seperti boneka Barbie usang itu.
"Yuk, ikut eke!" Lucinta mengajak Bella dan Fardhan masuk ke salah satu ruangan yang dipenuhi puluhan kebaya berbagai model dan warna.
"Ini koleksi kebaya nikah modern butik kami, kamu bisa pilih mau yang mana."
Bella berjalan mengelilingi ruangan itu sambil memperhatikan satu persatu kebaya yang terpajang di manekin. Dan netranya menangkap satu model kebaya berwarna putih yang sangat sederhana tapi cukup elegan.
"Aku mau yang ini aja." Bella menunjuk kebaya yang telah mencuri perhatiannya.
"Wah, ternyata kamu suka yang simpel ya." sahut Lucinta sembari membuka kebaya itu dari manekin.
"Ini, silahkan dicoba dulu!" Lucinta mengangsurkan kebaya yang telah berhasil dia copot dari tubuh manekin itu kepada Bella.
"Ruang gantinya ada disana! Nanti dibantu sama karyawan kami." Lucinta menunjuk sebuah pintu di ruangan bridal itu.
"Calon pengantin prianya biar eke yang temani." lanjut Lucinta setelah melihat Bella melangkah menuju ruang ganti.
Sementara itu Fardhan langsung melotot mendengar ucapan ban ci satu ini, apalagi saat Lucinta berjalan mendekatinya, mendadak suasana menjadi horor.
"Kenapa diam aja? Sariawan ya, ganteng?" tanya Lucinta genit.
Fardhan beringsut sembari menelan ludah. "Jangan dekat-dekat!"
"Ish, galak banget sih! Tapi eke suka yang galak-galak, lebih menantang." goda Lucinta sambil mencolek lengan Fardhan.
Seketika bulu kuduk Fardhan berdiri melihat tingkah Lucinta, sedari dulu dia memang paling anti jika berdekatan dengan ban ci, apalagi yang modelnya tak tahu diri seperti Lucinta ini.
"Sana nggak? Aku pukul ni." ancam Fardhan sembari menunjukkan tangannya yang terkepal.
"Iih, atut!" Lucinta pura-pura takut.
Tak lama kemudian, Bella pun keluar dari kamar ganti, dan kini berjalan mendekati Fardhan.
"Gimana? Cantik nggak?" tanya Bella.
Fardhan melongok sebab terpesona dengan kemolekan tubuh Bella saat mengenakan kebaya itu, matanya seolah lupa cara berkedip karena memandangi Bella yang kini berdiri dihadapannya.
Fardhan menelan ludah dengan jantung yang berdebar, harus dia akui kecantikan Bella melebihi kecantikan Keyla atau gadis manapun yang pernah dia temui.
Lucinta yang menyadari sikap Fardhan, kembali menggoda lelaki itu.
"Awas, air liurnya menetes itu." ledek Lucinta sembari mengusap dagu Fardhan yang mulai ditumbuhi janggut.
Aksi ban ci itu langsung menyadarkan Fardhan yang spontan bergerak menjauh dari Lucinta. "Apa sih pegang-pegang?"
"Ih, pegang aja kan nggak sakit, kecuali eke gigit." balas Lucinta genit.
"Bisa rabies kalau kena gigit." gerutu Fardhan sambil mengelap dagunya dengan kasar.
Bella hanya terkekeh melihat tingkah Lucinta, dia sudah sering mendengar dari Risha jika ban ci yang satu ini sangat usil bin jahil. Apalagi kalau lihat cowok ganteng, tingkahnya bisa macam-macam.
"Sudah belum? Kalau sudah, yuk pulang!" Fardhan beralih memandang Bella. Wajahnya terlihat kesal.
"Kau belum jawab. Gimana? Cantik nggak?" tanya Bella sekali lagi.
Fardhan terkesiap mendengar pertanyaan Bella itu. Lalu menganggukkan kepalanya.
Bella pun tersenyum. "Aku ambil yang ini saja."
"Ok. Kita fitting dulu ya. Biar nanti lebih pas dan cantik saat dipakai." ujar Lucinta. Bella mengangguk setuju.
***
jadi begini misalnya suami author punya teman cewek yang perhatian pada suami author (kayak perhatian raka dan bella) dan suami author dengan senang hati menerima segala kebaikan cewek itu, dan suami author berinteraksi dengan cewek itu kayak intraksi raka dan bella
bagaimana perasaan author
coba tanyakan pada dirimu thor
*jika kau Terima suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain (kayak interaksi raka dan bella) maka pola pikir mu tidak ada masalah
*tapi jika kau tidak suka suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain ( kayak interaksi raka dan bella), maka pola pikir mu ada masalh thor
renungkan lah
saat di novelmu, kau membenarkan seorang istri berteman dan diperhatikan pria lain dan semua interkasi sang istri dengan pria lain kau benarkan maka tanya kan pada dirimu sendiri apakah kau Terima juga jika suamimu punya teman cewek dan diperhatikan oleh cewek lain
renungkan lah