NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Siang hari di Kota Bimantara tidak pernah menawarkan ketenangan. Asap tebal dari knalpot bus kota yang merayap lambat berpadu dengan debu jalanan yang mengepul setiap kali angin kemarau berhembus. Di sepanjang trotoar Jalan Ahmad Yani, pejalan kaki berjalan tergesa-gesa, menghindari genangan air comberan atau sekadar menyelamatkan diri dari sengatan matahari yang membakar kepala.

Di sebuah warung kopi sederhana berukuran tiga kali empat meter tempat para pengemudi ojek online dan pekerja pabrik biasa melepas lelah Amara sedang mengaduk es teh manisnya dengan sedotan plastik.

Gadis berambut sebahu dengan jaket jeans pudar itu beberapa kali melirik ke arah pintu masuk, sebelum akhirnya melihat sosok yang ditunggu-tunggu mendorong pintu kaca warung yang berderit nyaring.

Keira datang dengan mengenakan gamis sederhana berwarna hitam polos dan pashmina cokelat tua yang dililit seadanya. Wajahnya tampak sedikit pucat, tetapi senyum tipis langsung mengembang begitu ia melihat sahabatnya melambaikan tangan dari sudut ruangan.

"Kei! Sini!" panggil Amara agak nyaring, membuat beberapa pengunjung melirik sekilas.

Keira menghampiri meja pojok tersebut, lalu menarik kursi plastik dan duduk di hadapan Amara. Belum sempat ia meletakkan kantong kain berisi pakaian titipan yang dibawanya, Amara sudah lebih dulu menyodorkan sepiring pisang goreng hangat dan segelas es jeruk.

"Makan dulu. Muka kamu pucat banget, kayak gak makan seminggu," ujar Amara blak-blakan, gaya bicaranya selalu ceplas-ceplos tanpa filter sejak mereka masih duduk di bangku SMA. "Nih, tanteku nitip baju-baju preloved tapi kondisinya masih mulus banget, kebanyakan jarang dipakai karena beliau sekarang suka beli model baru. Lumayan kan buat ganti-ganti harian di kos daripada kamu pusing mikirin baju."

Keira menatap kantong kain di atas kursi sebelah, lalu beralih menatap Amara dengan mata berbinar basah.

Ada rasa haru yang tiba-tiba mendesak dadanya, meski ia berusaha menahannya agar tidak terlihat cengeng. "Mar, makasih banyak ya... Tante kamu baik banget. Aku jadi enak terus merepotkan kalian."

"Halah, repot dari hongkong!" Amara mendengus geli sambil mencolek sambal kecap pisang goreng. "Tante malah senang bajunya ada yang pakai daripada numpuk di lemari bikin sempit rumah. Lagian, sesama perempuan rantau di kota besar ini ya harus saling tolong. Kalau bukan aku yang nengokin kamu, emangnya siapa lagi?"

Kalimat terakhir Amara seketika membuat udara di sekitar meja itu terasa sedikit bergeser. Keira menunduk, memainkan sedotan es jeruk di gelasnya.

Bayangan wajah Davin pagi tadi, dengan segala perhatian dan aturan kecilnya, mendadak melintas di kepala. Lelaki itu memang selalu membuat Keira merasa seolah-olah ia tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.

"Kok malah melamun?" Amara menatap tajam sahabatnya, menyadari perubahan ekspresi yang terjadi dalam hitungan detik. "Jangan bilang kamu lagi mikirin cowok itu lagi? Siapa namanya... Davin?"

Keira buru-buru menggeleng, meski pipinya terasa sedikit menghangat karena tertangkap basah.

"Enggak, Mar. Siapa juga yang mikirin dia. Aku cuma lagi mikirin... ya, rutinitas harian biasa."

"Kei, aku ini kenal kamu bukan baru kemarin sore," potong Amara dengan nada serius namun tetap santai. Ia meletakkan garpunya ke atas piring. "Kamu itu dari dulu paling gampang nyimpen beban sendiri.

Semenjak kamu pindah ke kosan itu, jujur ya, aku jarang banget lihat kamu ketawa lepas kayak dulu.

Tiap aku ajak nongkrong atau jalan sebentar, alasannya selalu capek atau nungguin Davin."

Keira merasa defensif, meski ia tahu Amara sama sekali tidak bermaksud menghakimi. "Davin baik kok, Mar. Kamu tahu sendiri kan, waktu aku... waktu keluargaku mengeluarkan aku dari rumah dua bulan lalu, cuma dia yang ada di sampingku. Dia yang bantu bayar kos pertama kali, beliin aku makanan tiap dompetku kosong. Kalau bukan karena Davin, aku mungkin udah terlantar di jalanan."

Mendengar itu, Amara mendengus pelan. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. "Aku gak bilang Davin jahat, Kei. Aku tahu dia ngebantu kamu di saat-saat paling kacau. Tapi bukan berarti karena dia nolongin kamu, hidup kamu jadi harus sepenuhnya disetir sama dia, kan?"

Jantung Keira berdegup sedikit lebih cepat. "Disetir gimana maksudnya?"

"Ya... kemarin waktu aku ajak kamu gabung jadi pengajar sukarelawan di komunitas baca anak-anak jalanan dekat terminal, kamu nolak dengan alasan Davin gak suka kamu pulang sore-sore sendirian di luar," tutur Amara blak-blakan, menatap langsung ke dalam mata Keira. "Padahal aku tahu, jauh di dalam lubuk hati kamu, kamu paling suka ngajak anak kecil ngobrol atau ngajar. Dulu pas SMA kamu aktif banget di kegiatan sosial."

Keira terdiam. Tenggorokannya mendadak kelu. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa apa yang dikatakan Davin ada benarnya bahwa jalanan Kota Bimantara memang tidak aman untuk perempuan sepertinya yang hidup sendirian tanpa tameng keluarga besar. Namun, kata-kata itu tertahan di ujung lidah.

"Bukannya disetir, Mar..." suara Keira terdengar pelan, nyaris seperti bisikan yang tenggelam oleh suara bising kendaraan di luar warung. "Davin cuma khawatir. Kamu tahu sendiri posisiku sekarang kayak gimana. Aku sudah diusir dari rumah, gak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain dia. Wajar kan kalau dia mau aku tetap aman di dalam kamar?"

Amara menatap Keira dengan tatapan nanar, ada kilat iba bercampur gemas di mata sahabatnya itu. "Aman versi dia belum tentu bikin kamu hidup, Kei. Kamu itu hidup, bukan pajangan yang ditaruh di dalam lemari kaca biar gak kena debu."

Percakapan itu mendadak terasa berat. Tidak ada yang melanjutkan kata-kata selama beberapa saat, hingga pelayan warung datang mengantar pesanan kopi hitam milik pengunjung lain.

Keira merasa ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya. Di satu sisi, ia merasa Amara egois karena tidak memahami betapa besar pengorbanan dan rasa cinta yang diberikan Davin selama masa-masa kelamnya. Namun di sisi lain, kalimat Amara tentang hidup bukan sebagai pajangan berputar-putar di kepalanya, meninggalkan rasa ngilu yang asing.

"Udah, gak usah dibahas lagi ya," ucap Keira akhirnya, memaksakan senyuman tipis untuk mencairkan suasana yang mendadak kaku. Ia meraih gelas es jeruknya dan meminumnya sedikit. "Makasih banyak bajunya, Mar. Nanti aku pilah-pilah di kos."

Amara menghela napas, menyerah untuk mendebat lebih jauh. Gadis itu tahu betul watak keras kepala Keira jika sudah menyangkut orang yang paling disayanginya. "Iya, terserah kamu deh. Yang penting kalau ada apa-apa, butuh apa-apa, jangan sungkan ngechat aku. Jangan apa-apa ditanggung sendiri."

Setelah pertemuan singkat di warung kopi itu selesai, Keira memutuskan untuk kembali ke kosannya dengan menaiki angkutan umum kota. Sepanjang perjalanan di dalam angkot yang pengap, pikirannya melayang ke mana-mana. Pandangannya menerawang keluar jendela kaca yang berdebu, menatap gedung-gedung tinggi Kota Bimantara yang menjulang angkuh di bawah langit sore yang mulai menguning.

Setibanya di gang kos, hari sudah mulai beranjak petang. Lampu-lampu neon warna-warni dari warung kelontong dan teras rumah warga mulai dinyalakan satu per satu.

Keira membuka pintu kamar kosnya yang berukuran tiga kali tiga meter itu. Suasana di dalam terasa pengap karena seharian tertutup rapat. Ia meletakkan kantong berisi baju dari Amara di atas kasur, lalu menyalakan kipas angin kecil di sudut meja. Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya yang terasa penat, ponsel di dalam saku gamisnya bergetar.

Sebuah pesan dari Davin.

Davin: Sayang, aku sudah selesai lembur. Ini mau OTW ke kosan kamu bawain makan malam. Tunggu ya, jangan ke mana-mana.

Melihat pesan itu, kelelahan fisik Keira seolah diangkat seketika. Bibirnya otomatis mengukir senyuman. Rasa hangat kembali merayap di dadanya, menghapus sisa-sisa perdebatan kecilnya dengan Amara tadi siang. Davin selalu tahu cara membuat dirinya merasa diperhatikan dan tidak sendirian.

Kurang dari dua puluh menit kemudian, ketukan khas di pintu kayunya terdengar.

Keira langsung membukakan pintu. Davin berdiri di sana dengan kemeja kantor yang lengannya sudah dilipat sampai siku, membawa sekotak martabak manis kesukaannya di tangan kiri dan dua botol air mineral di tangan kanan.

"Belum tidur kan? Nih, aku bawain martabak keju susu kesukaanmu. Tadi pas lewat di jalan raya, ingat kamu bilang lagi ngidam yang manis-manis," ucap Davin sambil melangkah masuk, langsung mencium puncak kepala Keira sekilas sebelum duduk di tepi kasur busa.

Keira menutup pintu, hatinya meleleh seketika oleh perhatian sederhana itu. Semua keraguan dan perdebatan batin yang sempat ia rasakan bersama Amara siang tadi seolah menguap begitu saja, tertelan oleh kelembutan yang ditunjukkan Davin saat ini.

"Kamu ini, kebiasaan deh suka beli makanan malam-malam. Nanti gendut lho aku," protes Keira setengah bergumam dengan nada manja, duduk bersila di hadapan Davin.

"Gendut atau enggak, kamu tetap pacar aku. Kenapa harus dipikirin?" balas Davin tersenyum lebar, memotong sepotong martabak dan menyupannya langsung ke depan bibir Keira. "Ayo dimakan, jangan cemberut gitu mukanya. Capek ya seharian di kamar terus?"

Keira menerima suapan itu, mengunyahnya perlahan sambil menatap wajah Davin yang tampak begitu tulus di bawah temaram lampu bohlam kuning kamar kos.

"Tadi siang aku ketemu Amara, Vin," ceritanya spontan di sela-sela kunyahan, ingin berbagi kesehariannya agar Davin merasa dilibatkan. "Dia bawain aku beberapa baju preloved dari tantenya. Lumayan banget buat ganti-ganti."

Gerakan tangan Davin yang hendak mengambil potongan kue berikutnya mendadak terhenti sepersekian detik. Meski senyum di wajahnya tidak luntur sepenuhnya, ada kilat dingin yang melintas sekilas di mata lelaki itu sebuah perubahan ekspresi yang begitu cepat hingga nyaris tak tertangkap oleh mata biasa.

"Amara lagi ya?" komentar Davin dengan nada suara yang sedikit menurun, terdengar lebih datar dari sebelumnya. "Anak itu kan kerjanya keluyuran terus nggak jelas. Jangan terlalu sering ketemuan sama dia, Kei. Pengaruh pergaulannya kurang bagus buat kamu yang lagi butuh ketenangan."

Seketika itu juga, udara hangat di dalam kamar kos terasa sedikit mendingin. Keira mengerjap, merasa ada sengatan kecil yang tidak nyaman di dadanya mendengar ucapan Davin tentang sahabat karibnya.

"Kok gitu ngomongnya, Vin?" bela Keira pelan, nada suaranya berubah hati-hati. "Amara anak baik kok. Dia cuma mau aku gak terlalu stres di kosan."

Davin meletakkan potongan martabak ke dalam kotak dengan gerakan yang agak ditekan. Ia menatap Keira lekat-lekat, tatapannya berubah serius namun tetap dibungkus dengan nada lembut yang menuntut pengertian. "Aku ngomong begini karena aku sayang sama kamu, Kei. Aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk buat kamu. Teman kayak Amara itu cuma bakal bikin pikiran kamu terpengaruh buat aneh-aneh lagi, pengin kerja inilah, pengin ikut kegiatan nggak penting itulah. Padahal kan kamu tinggal terima beres di sini sama aku."

Keira terdiam. Kalimat itu kembali berdengung di telinganya. Ada rasa sesak yang tertahan di balik logika Davin yang terdengar begitu masuk akal. Ia kembali merasa bersalah karena telah membela Amara di hadapan lelaki yang sudah berkorban banyak untuknya.

"Iya, Vin... maaf," cicit Keira akhirnya, kepalanya tertunduk menatap kotak martabak di antara mereka.

"Aku gak maksud bikin kamu mikir yang enggak-enggak."

Davin menghela napas, lalu mengulurkan tangan mengelus rambut Keira dengan lembut. "Udah, jangan minta maaf terus. Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa, paham kan?"

Keira mengangguk kecil, memaksa bibirnya tersenyum. Namun di balik kehangatan tangan Davin di kepalanya, ada satu titik kecil di dalam hatinya yang kembali terasa ngilu sebuah pertanyaan sunyi yang kembali ia telan dalam-dalam: Kenapa rasanya setiap kali aku punya pendapat sendiri, aku selalu diposisikan sebagai pihak yang salah?

Davin tersenyum puas, kembali merangkul pundak Keira erat-erat seolah menegaskan bahwa gadis itu sepenuhnya berada di bawah perlindungannya. Keira kembali meyakinkan dirinya bahwa Davin hanya sedang khawatir. Bukankah selama ini lelaki itu memang selalu ada ketika semua orang lain pergi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!