Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Tanpa terasa hari pernikahan pun tiba dan berjalan sesuai harapan. Kini Karisa telah resmi menjadi istri sah Farhan.
Di dalam sebuah kamar Karisa duduk dengan gugup di ranjang pengantin. Sementara Farhan masih di luar bersama keluarga untuk menjamu para tamu.
"Ya Allah gugup sekali. Tenang Karisa tenang semua akan baik-baik saja." Batin Karisa berusaha menenangkan diri sendiri.
"Farhan ini sudah larut, pergi lah temani istrimu!" Kiyai Usman mengingatkan Farhan.
"Iya Abi."
Farhan beranjak dari duduknya, tapi belum sempat dia melangkah terdengar salah seorang temannya berkata "pelan-pelan ya Farhan " lalu temannya lain juga menimpali "iya awas ranjangnya roboh."
Seketika ruangan itu jadi riuh dengan suara tawa dari teman-teman Farhan.
"Apa sih kalian ini." Farhan hanya bisa tertunduk malu.
"Ehmmm..." Kiyai Usman berdehem untuk menghentikan ulah teman-teman Farhan yang terus menggodanya.
"Maaf kiyai." Teman-teman Farhan tidak berani lagi mengganggu Farhan.
Farhan perlahan membuka pintu kamarnya, terlihat Karisa sedang duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya.
"Kamu belum tidur?" Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tiba-tiba iya merasa pertanyaannya sangat konyol padahal Karisa belum sempat memberikan jawaban apa pun.
"Emmm... Maksudku kenapa kamu belum tidur?"
"Menunggu kamu! Ini kan malam pertama kita jadi mana mungkin aku tidur duluan." Karisa berbicara sesantai mungkin padahal dalam hatinya saat ini juga sangat gugup.
"Ya Allah, kenapa istriku ini terlalu blak-blakan, aku jadi merasa semakin canggung." Batin Farhan.
"Kalau begitu mari kita berwudhu dan sholat Sunnah dulu."
Farhan segera berlalu ke kamar mandi.
"Tenang Karisa tenang. Istri yang berinisiatif duluan pahalanya lebih besar." Ucapan dalam hatinya untuk menutupi rasa malunya.
Akhirnya malam pengantin yang kaku dan aneh pun berlalu. Maklumlah sama-sama tidak pernah pacaran dan sama-sama bukan orang yang romantis.
Waktu cepat berlalu tak terasa usia pernikahan mereka sudah memasuki bulan ketiga dan keduanya sudah mulai terbiasa dengan sifat satu sama lain.
Dan seperti biasa saat ini kedua sedang duduk bersama di meja makan, sedang menikmati sarapan sebelum berangkat mengajar. Karisa yang merupakan guru TK memang lebih santai di bandingkan dengan Farhan yang merupakan seorang guru SMA.
"Karisa apa setelah pulang mengajar kamu ada acara?" Tanya Farhan sesaat setelah selesai menyeruput secangkir kopi buatan Karisa yang sudah menjadi favorit Farhan semenjak menikah.
"Nggak ada memangnya kenapa mas?" Karisa yang tadinya sudah akan menggigit sepotong roti menjadi terhenti mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Kalau gitu nanti kamu antar aku ke terminal ya, aku ada seminar di kota B selama satu Minggu." Ucap Farhan sedikit lesu.
"Baiklah, tapi kenapa mendadak mas dan kelihatannya kamu agak kurang senang?"
Karisa menatap raut wajah Farhan.
"Sebenarnya bukan aku yang harusnya berangkat mewakili sekolah kami melainkan Agus, tapi dia mendadak sakit jadi terpaksa aku yang harus menggantikannya dan sebenarnya aku kurang memahami materi tentang seminar ini." Wajah Farhan semakin sendu.
"Memangnya tidak ada orang lain lagi yang bisa menggantikan pak Agus selain kamu mas?"
Farhan hanya bisa menggeleng.
"Para guru yang lain semuanya punya jadwal masing-masing yang tidak bisa di tinggalkan."
"Ya sudah bismillah saja, aku yakin kamu pasti bisa, suami aku kan pria yang sangat pintar." Karisa tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya.
"Mulut istriku ini memang paling manis." Farhan mengecup lembut bibir istrinya itu.
"Sudah ayo berangkat nanti kita terlambat."
Karisa segera mendorong tubuh Farhan menjauh karena dia tau jika di biarkan pasti panjang urusannya.
TK tempat Karisa mengajar memang searah dengan SMA tempat Farhan mengajar, hal ini memudahkan mereka untuk berangkat bersama.
Mereka berjalan bersama keluar dari rumah mereka menuju teras rumah di sana sudah terparkir sebuah sepeda motor metik yang biasa mereka pergunakan untuk berangkat mengajar.
Namun belum sempat Farhan menghidupkan motor metiknya tiba-tiba tubuh Karisa oleh, bahkan nyaris jatuh kalau Farhan tidak segera menangkapnya.
"Karisa kamu kenapa?" Farhan langsung panik melihat kondisi Karisa yang tiba-tiba memburuk dan wajahnya terlihat pucat.
"Nggak tau mas tapi dari kemarin perut aku sakit, badan aku lemas dan agak pusing." Jawab Karisa.
"Kalau gitu ayo aku antar kamu kerumah sakit!"
Farhan gegas membawa Karisa kerumah sakit. Tak berselang lama mereka pun tiba di rumah sakit dan Karisa langsung di periksa oleh dokter.
Farhan menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas. Tak lupa ia juga segera menghubungi umi dan abinya serta ustadz Jamal selaku mertuanya. Karisa memang sudah tidak memiliki ibu, ibunya sudah lebih dulu dipanggil oleh yang maha kuasa saat Karisa masih kecil. Dan ustadz Jamal memilih untuk tidak menikah lagi karena rasa cintanya yang begitu besar kepada mendiang istrinya itu.
"Farhan apa yang terjadi pada Karisa?" Humaira, kiyai Usman dan ustadz Jamal sampai bersamaan ke rumah sakit. Bukan kebetulan tapi mereka memang berangkat bersama. Begitu mendapat kabar dari Farhan, kiyai Usman dan Humaira istrinya langsung bergegas ke rumah ustadz Jamal agar bisa berangkat bersama ke rumah sakit.
"Tidak tau umi, Karisa tiba-tiba sakit dan wajahnya sangat pucat." Farhan menjawab pertanyaan uminya tapi matanya tetap tertuju pada pintu ruang UGD di mana istrinya sedang di periksa.
"Lalu apa kata dokter?" Humaira bertanya lagi.
"Belum tau umi pemeriksaannya belum selesai dokternya belum keluar."
Farhan semakin lesu mendengar pertanyaan-pertanyaan dari uminya.
"Umi sudah jangan bertanya lagi, kamu hanya akan membuat Farhan semakin bingung."
Kiyai Usman menarik tangan istrinya dan mengajaknya untuk duduk.
Sementara ustadz Jamal terlihat lebih tenang dia hanya duduk diam sejak tiba di rumah sakit. Tidak ada satu pertanyaan pun yang ia lontarkan kepada Farhan.
Hal itu justru membuat kiyai Usman semakin khawatir.
"Ustadz Jamal kamu jangan khawatir, Karisa pasti baik-baik saja." Kiyai Usman mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Aku tau! Allah pasti akan menjaganya." Jawab ustadz Jamal singkat. Hal itu justru menggambar betapa khawatirnya ia terhadap putri semata wayangnya itu.
Tak berselang lama akhirnya dokter yang memeriksa Karisa pun keluar.
Humaira adalah orang pertama yang menghampiri dokter tersebut.
"Dokter bagaimana kondisi menantu saya?"
Dokter itu menghela nafas sesaat sebelum bicara.
"Kondisi pasien kurang baik, terdapat tumor di dinding rahim pasien dan harus segera dilakukan operasi."
Bak di sambar petir tubuh Humaira oleng sangking Syok nya, untungnya kiyai Usman langsung sigap memegangi tubuh istrinya.
"Apa dampak dari operasi itu dok?" Kali ini Farhan yang bertanya.
"Istri anda tidak akan bisa punya anak, karena tumor itu berada di dinding rahim jadi kami harus melakukan operasi pengangkatan rahim. Namun jika tidak di lakukan operasi nyawa pasien mungkin akan terancam." Ucap dokter tersebut.