NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Arang Hidup

Hujan lebat tampak tak henti-hentinya mengguyur sedari sore, bersama hembusan angin malam yang membuat hawa dingin semakin menusuk tulang bahkan sampai menyelimuti seisi rumah.

Kinan duduk bersila di lantai kamarnya dengan beberapa buku berserakan di sekitarnya. Ia terpaksa menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut untuk menangkal rasa dingin yang kali ini lebih dingin dari hari-hari sebelumnya, membuatnya tak sepenuhnya bisa fokus belajar.

"Maaf ya, Bubun. Malam ini aku gak bisa main sama kamu dulu. Aku harus fokus belajar."

Kinan tampak berbicara dengan sebuah boneka kelinci putih sebesar buku pelajaran di depannya yang merupakan hadiah ulang tahun kedelapannya yang membuatnya tak merasa sendirian di kamar.

"Tapi aku janji kalo nanti semuanya udah selesai, kita bakal main keluar rumah seharian. Okey?" ucap Kinan sembari menggerakkan kepala boneka itu hingga manggut-manggut.

Ia langsung beranjak berdiri, membawa boneka tersebut dan meletakkannya di atas tempat tidur persis di dekat bantal bersebelahan dengan boneka lainnya. Kemudian Kinan kembali duduk di tempat semula, dekat dengan tumpukkan buku lalu melanjutkan belajarnya.

Kian hari Kinan semakin rajin belajar setiap malam sebelum tidur. Terlebih lagi, Ujian Kelulusan sekolah yang tak lama lagi akan dilaksanakan membuatnya jadi sedikit kepikiran. Ia ingin mendapatkan nilai yang maksimal mungkin agar bisa masuk ke SMP pilihannya, salah satu SMP favorit di kotanya yang mana juga tak begitu jauh dari rumahnya.

Sesekali kali ia membayangkan dirinya menjadi seorang guru sungguhan yang sedang mengajar di kelas di depan murid-muridnya. Tak ada yang bandel dan semuanya fokus mendengarkan materi yang Kinan sampaikan.

Suasana malam itu seakan-akan kompromi dengan lamunannya. Damai, syahdu dan hanya ada suara gemericik air hujan di atas genting serta tampak sesekali diiringi dengan kilatan petir layaknya gambaran sebuah harapan manis, masa depan indah yang begitu ingin Kinan capai. Ia tenggelam dalam dunia dan fantasinya sendiri.

Namun lamunannya seketika lenyap, pensil di tangannya berhenti menari, terhenti oleh sebuah teriakan yang terdengar cukup jelas meskipun beradu dengan suara hujan serta terasa menyayat hati menembus keheningan malam.

"Aaaaaaah!"

Kinan seketika terdiam sejenak sembari memastikan ia memang tak salah dengar, lalu tak lama kemudian ia beranjak dari duduknya. Perlahan Kinan membuka pintu kamarnya serta melirik kanan kiri mencari asal suara itu. Tak lama berselang, Kinan kembali mendengar yang sama dan sepertinya berasal dari tempat yang sama.

"Ampuuuun!"

Kinan sangat mengenali suara itu dengan jelas, yang mana adalah suara dari ibunya. Tersedu-sedu menangis kesakitan serta dibarengi suara gelas dan piring pecah.

Ia sontak bergegas melangkah menuju arah dapur. Tangannya gemetar saat menyikap tirai dapur pemisah dengan ruang tamu. Sebuah pemandangan yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia melihat sosok tinggi dengan bayangan besar, mengayunkan tangannya ke arah ibunya yang membuatnya tersungkur lemah di lantai.

"A-ampun, Mas!"

"Dasar wanita sialan! Gak tahu diuntung. Kau ngurus suami saja gak becus. Apa sebenarnya bisamu?"

Ibu Kinan meringis kesakitan sambil tangannya berusaha untuk menahan rasa sakit di pipinya, meski tubuhnya sudah begitu lelah. Tatapan serta air matanya pun terjatuh ke lantai tanpa berani menatap mata suaminya.

"Ibu." Suara Kinan kecil meluncur lirih, nyaris tak terdengar.

"Argh! Sialan!" teriak ayah Kinan sembari melempar piring ke arah dinding dapur.

Tak cukup sampai disitu, ia lalu menggebrak meja yang tampak berhasil membuat ibu Kinan semakin takut hingga tubuhnya tak bisa berhenti gemetaran. Terlebih lagi, kejadian itu disaksikan langsung oleh anak semata wayangnya yang sangat ia sayangi. Ibunya tak ingin Kinan juga ikut merasakan hal menakutkan yang tengah ibunya rasakan.

"Sudah, Mas. Cukup. Maafkan aku kalau aku salah. Memang aku yang lalai. Jadi, sudah cukup. Kinan tak perlu sampai melihat ini semuanya."

Ibu Kinan mencoba membujuk ayah Kinan untuk menyudahi pertengkaran malam itu. Kinan yang memeluk ibunya, menatap tegas pandangannya ke arah ayahnya yang masih terbakar oleh api emosi.

"Kenapa ayah selalu kasar dan jahat sama ibu? Kenapa? Emangnya ibu salah apa, Yah?" ucapnya dengan cukup lantang.

Orang itu tak menjawab, hanya menggeretakkan giginya hingga rahangnya menegang lalu menatap ke arah tembok tanpa melihat Kinan dan ibunya.

"Apa ayah emang udah gak sayang sama ibu? Apa ayah emang benci sama ibu?" lanjutnya. Ia ingin sekali ayahnya menjawab semua pertanyaannya.

Napas ayah Kinan tampak terasa semakin berat dan terengah-engah, bahkan hingga ia mengepalkan kedua tangannya. Namun, itu semua masih membuatnya enggan untuk menatap mereka. 

"Sudah, Nak. Sudah, ya!" Ibu Kinan mencoba untuk menenangkan anaknya yang nada bicaranya mulai meninggi juga. "Ibu tidak apa-apa kok. Semuanya baik-baik saja."

Namun, Kinan tidak begitu saja mengindahkan perkataan ibunya, masih menatap tajam dan melontarkan ribuan pertanyaan lain kepada ayahnya.

"Jawab, Yah. Coba Ayah jawab. Apa selama ini, Ibu itu-"

"DIAM... Diam kamu, anak haram," bentak ayahnya. Bahkan membuat Kinan tak sempat menyelesaikan pertanyaannya.

Kali ini ayah Kinan menatap matanya begitu tajam sampai sesaat muncul ketakutan di hati Kinan. Bentakan tersebut terasa lebih menyakitkan daripada yang sebelum-sebelumnya, meskipun Kinan sudah terbiasa dengan semua bentakan ayahnya yang ia dengar dalam hidupnya. Begitu menyesakkan hati, tak hanya bagi Kinan namun juga ibunya.

"Kamu anak kecil tak tahu apa-apa, tak usah banyak omong. Tak diajari bagaimana hormat sama orang tua?"

Kinan mencoba meneguhkan hatinya. Mencoba untuk tidak takut, mencoba untuk terus menatap ayahnya meskipun tubuhnya kecilnya bergetar hebat, merasakan ketakutan yang sebenarnya. Di sampingnya, ibunya mencoba memeluk erat Kinan sembari menguatkan dirinya.

"Kamu mau ngelawan ayah? Hah? Iya? Sudah berlagak hebat kamu?"

Bentakan bertubi-tubi terus ia dengar. Kinan terus terdiam, kali ini bibirnya terasa berat untuk menjawab. Suara hujan bahkan tersamarkan, terasa terlalu sunyi bila dibandingkan dengan suasana rumah saat ini. Napas yang semakin berat dan rasa sesak di dada pun terdengar semakin jelas.

"Harusnya kamu bersyukur, ayah tidak membuangmu waktu masih bayi. Apalagi sekarang, kamu dan ibu sama-sama tak tahu diri, tak tahu diuntung. Kalian tak bisa apa-apa kalau selama ini tak ada ayah. Apa kamu sadar? Ngerti kamu?" ucap Ayah Kinan sembari menunjuk-nunjuk Kinan dengan jari telunjuknya.

"Sudah, mas. Aku mohon, sudah. Cukup. Kinan tak seharusnya juga kamu perlakukan seperti ini. Dia masih anak-anak. Belum paham apa-apa. Cukup ya, Mas," mohon Ibunya, lengkap dengan air mata yang semakin membasahi pipi.

"Persetan!"

Mendengar semua makian itu, dada Kinan terasa semakin sesak, jantungnya berdegup semakin kencang. Ia mencoba untuk tetap menguatkan diri tanpa memalingkan wajahnya sedetik pun. Semakin lama ia mencoba, malah semakin terasa sulit. Namun, Kinan adalah anak yang kuat, lebih kuat dari yang ibunya tahu selama ini.

"Sudah ya, nak. Kinan kembali saja ke kamar Kinan. Ibu tidak apa-apa kok," ucap Ibu Kinan yang suaranya masih lirih dan tersirat rasa ketakutan yang teramat jelas.

"Gak apa, Bu. Kinan bukan anak kecil lagi yang gak mengerti apa-apa."

Kinan berhasil memantapkan hatinya dan berani untuk kembali membuka mulutnya. "Ibu gak pernah salah, Ibu selalu baik. Emang ayah yang selalu jahat dan kasar pada kita."

Ibu Kinan tak menyangka anaknya begitu berani berbicara itu di depan ayahnya langsung.

"Apa katamu?!" teriak Ayah Kinan murka.

"Ayah emang jahat, selalu kasar sama ibu. Ayah gak pernah sayang sama ibu, selalu bersikap seenaknya sama ibu. Ayah gak pernah menghargai ibu... dan juga Kinan. Ayah juga gak pernah ngelakuin apapun untuk Kinan dan ibu selama ini. Ayah emang jahat. Ayah gak pantas jadi ayah Kinan," seru Kinan dengan suara bergetar dan napas memburu.

Ayah Kinan yang mendengar semua kata-kata itu semakin tersulut emosinya. Bukannya mereda, keadaan jadi semakin runyam dan tangannya malah menjadi semakin geram.

"Kinan benci ayah! Pergi aja ayah dari hidup Kinan."

Kemarahan ayah Kinan benar-benar telah sampai di puncak dan membuatnya jadi gelap mata. 

"KAMU....!!!"

Ibu Kinan sungguh merasakan ketakutan yang bahkan jauh lebih menakutkan dari yang sudah-sudah. Ia sadar apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tahu, suaminya bukanlah orang tak segan-segan untuk berbuat apapun sesuka hatinya. Jika ia yang merasakannya, mungkin masih bisa ia menahan dan sabar. Namun jika itu terjadi pada anaknya, ia sungguh tak bisa membayangkan.

Satu tamparan keras mendarat ke pipi Kinan. Begitu kerasnya bagi ukuran seorang anak-anak. Napasnya seperti tertahan di tenggorokan. Ibunya bahkan sampai menangis sambil semakin erat memeluk Kinan.

"Masih berani kamu?" bentak Ayahnya.

Sakit memang sakit, namun Kinan tak merelakan air matanya membasahi pipi. Tatapan kebenciannya kembali mengarah ke ayahnya. Dan kali ini jauh lebih tajam dari sebelumnya.

Ayahnya terlihat kembali akan melayangkan tangannya ke arah Kinan. Dan ketika hampir kembali mengenai wajah Kinan, suara guntur menggelegar begitu keras menggema bersamaan dengan kilatan putih menyilaukan-Jedaaaar!-memekkan telinga. Namun, Keheningan itu pecah bersama dengan desiran angin sore yang menyapu dedaunan kering di antara barisan batu nisan dan kini hanya tersisa dua orang saja di bawah langit sore kelabu.

Kinan berdiri terpaku di depan sebuah makam. Tanahnya masih basah, bunga-bunga yang masih baru dan di batu nisannya terpatri nama yang sungguh tak ingin ia kenang. Tatapannya begitu dingin, kosong, penuh luka, penuh kebencian dan lebih dari itu semua, sebuah penolakan.

Di sisinya, ibunya duduk menunduk. Air matanya masih belum sempat kering, namun suaranya tetap lembut, memaksakan diri untuk tabah.

"Nak, Ibu mohon sama Kinan, tolong ikhlaskan ayahmu, ya. Maafkan semua hal buruk yang sudah ayah Kinan lakukan pada kita selama ini. Yang berlalu biarkanlah berlalu. Biarkan dia tenang di alam sana. Jangan pernah membencinya ya," ucap ibu Kinan lirih yang masih terbungkus dengan duka.

Kinan tidak menjawab. Ia tak bergeming. Kedua tangannya meremas ujung bajunya sendiri hingga buku jarinya memutih, menahan semua perasaan yang ingin ia teriakan, semua kebencian yang sudah begitu besar. Dalam diamnya, Kinan hanya berkata dalam hati.

"Dia sudah tidak ada. Dia sudah mati. Dia bukan siapa-siapaku lagi. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi kesedihan. Sekarang aku dan ibu bisa hidup damai, bisa memulai hidup yang jauh lebih baik. Namun mengapa rasanya... seperti masih ada yang mengganjal. Ada yang benar-benar aneh. Apakah rasa ini masih belum bisa pergi. Apakah...."

"Nak..."

Kinan melirik ibunya dengan ekspresi yang datar, masih terdiam tanpa bibirnya bergerak. Ibunya berdiri, ia begitu paham apa yang ada dalam tatapan Kinan itu.

"Ayo kita pulang, Nak. Sepertinya sebentar lagi akan hujan."

Kinan sekarang menatap sinis ke makam itu. Ia sendiri semakin tak mengerti dengan perasaannya. Apa yang ia benci sekarang sudah tak ada lagi dan harusnya ia akan merasa kembali hidup dengan tenang. Namun nyatanya, rasa itu masih tertinggal di hatinya seakan enggan untuk keluar.

"Kinan. Ayo, nak! Kita pulang," ajak Ibunya sembari memegang kedua bahunya.

Kinan menatap ke arah ibunya. Tak lama kemudian, air matanya pun berlinang dan kemudian ia memeluk ibunya dengan erat.

"Bu, Kinan janji akan menjadi anak yang selalu berbakti kepada ibu. Kinan akan berusaha selalu bahagiain ibu. Kinan akan selalu dengerin apa kata ibu. Kinan akan selalu menemani ibu kapanpun dan gak akan biarin ibu merasa kesepian. Ibu adalah satu-satunya yang Kinan punya di dunia ini. Kinan pasti akan melakukan apapun demi ibu," ucap Kinan sambil memeluk erat-erat tubuh ibunya.

Ibunya sangat tersentuh dengan apa yang Kinan katakan. Hatinya seakan tak percaya bahwa anaknya ini mengatakan semua itu. Namun di waktu yang bersamaan, ia juga begitu bahagia mendengar semuanya.

"Iya, Nak. Ibu juga akan melakukan apapun demi Kinan agar bisa bahagia dan bisa menggapai semua cita-cita serta impian Kinan." Ibunya melepaskan pelukannya. "Usap dulu air matanya, lalu kita pulang. Anak ibu kan kuat, tak boleh nangis lagi."

Kinan tersenyum, membiarkan air matanya jatuh saat memejamkan mata untuk mencoba menyudahi semua perasaan ini segera. Namun, yang ada malah terdengar suara yang membangunkannya dari kelegaan palsu.

Tok, tok, tok.

Suara ketukan lembut terdengar dari balik pintu kamarnya. "Kinan. Sudah subuh, Nak. Ayo bangun!" ucap ibunya, pelan tapi penuh kasih sayang.

"Ayo bangun!"

Kinan membuka kedua matanya. Pandangannya masih buram. Ia melamun sesaat menatap langit-langit kamarnya hingga ia akhirnya menjawab.

"Iya, Bu. Kinan udah bangun."

Kinan mencoba beranjak dari tempat tidurnya. Napasnya tersengal pelan, sementara keringat dingin menetes di pelipis dan lehernya. Ia belum sepenuhnya sadar, akan tetapi rasa perih dari mimpinya barusan masih melekat tajam, seolah-olah semua kenangan itu kembali ia rasakan dan begitu nyata.

Ia berdiri dengan sedikit sempoyongan sambil mengucek matanya, berusaha menutupi gurat muram di wajahnya sebelum membuka pintu. Ibunya yang menatapnya menyadari Kinan yang cukup berkeringat di wajahnya.

"Kamu kok keringetan gitu, Nak? Kamu sakit? Ibu ambilkan obat, ya," tanya ibunya dengan cemas.

"Gak kok, Bu. Kinan gak lagi sakit. Lagi gerah banget aja tadi malem."

"Yaudah kalau gitu. Cepetan kamu sholat. Sudah hampir jam lima."

Kinan berjalan pelan ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap sisa-sisa mimpinya tadi yang masih terasa bergelayutan di kelopak matanya ikut tersapu. Kinan kembali menatap dirinya sendiri, mencoba untuk menyemangati dirinya di pagi hari yang dingin ini.

Namun baginya, tetap saja ada rasa penasaran di benak terdalam. Tidak ada hujan, tidak ada angin, tapi tiba-tiba ia kembali teringat dengan kenangan buruknya semasa kecil. Setelah hampir delapan tahun sejak ayahnya meninggal, ia sudah hampir lupa sepenuhnya dengan sosok orang itu dalam hidupnya, akan tetapi luka-luka itu kembali terbuka begitu saja.

Apakah ini sebuah pertanda buruk? Atau malah jadi pertanda baik untuk hidup Kinan? Atau akan ada hal yang tak terduga menghampirinya?

Terlepas apapun itu, Kinan tetaplah Kinan dan akan selalu menjadi Kinan.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!