Lima tahun lalu, Aluna dijebak, dihina, lalu diusir dari rumah dalam keadaan hamil. Semua orang mengira hidupnya hancur. Namun ia kembali sebagai wanita mandiri dan sukses, membawa sepasang anak kembar jenius: Arsen yang dingin dan pintar meretas sistem, serta Aruna yang manis tapi sangat cerdas.
Aluna hanya ingin membalas orang-orang yang menghancurkan hidupnya. Tapi semuanya berubah saat kedua anaknya bertemu Rafael Mahendra, CEO muda paling berkuasa dan terkenal dingin. Wajah Arsen yang sangat mirip Rafael membuat masa lalu mulai terbongkar.
Rafael pun curiga. Siapa sebenarnya dua anak itu?
Saat rahasia kelahiran si kembar terungkap, Aluna harus memilih: terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi anak-anaknya, atau membiarkan Rafael mengetahui bahwa ia adalah ayah dari dua pewaris rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Kecil yang Mirip Sang CEO
Mobil Aluna belum sempat datang ketika Rafael berkata, “Tunggu.”
Aluna yang sudah menggandeng kedua anaknya berhenti.
Bukan karena menurut.
Ia hanya tidak ingin Rafael menyusul dan menciptakan keributan baru di depan puluhan kamera.
“Apa lagi?”
Rafael berdiri beberapa meter darinya. Kali ini perhatiannya tidak tertuju pada Arsen, melainkan pada orang-orang yang masih berusaha mengambil gambar dari balik bahu pengawalnya.
“Raka.”
Asistennya langsung mendekat.
“Pastikan video yang memperlihatkan wajah kedua anak itu tidak menyebar lebih jauh.”
Aluna menatap Rafael tajam.
“Saya tidak meminta bantuan Anda.”
“Memang.”
Jawaban itu membuat Aluna kesal.
Rafael mengeluarkan ponselnya, memeriksa sesuatu sebentar, lalu memasukkannya kembali.
“Anak-anak seharusnya tidak menjadi konsumsi publik hanya karena orang dewasa punya masalah.”
Untuk sesaat Aluna tidak tahu harus membalas apa.
Kalimat itu terlalu masuk akal untuk datang dari pria yang baru beberapa menit lalu menanyakan siapa ayah Arsen di tengah kerumunan.
“Anda baru saja menanyai anak saya di depan kamera.”
“Dan itu kesalahan.”
Aluna mengangkat alis.
Ia tidak menyangka Rafael akan mengakuinya secepat itu.
“Namun wajah mereka tetap harus diamankan,” lanjut Rafael. “Dua hal itu tidak saling membatalkan.”
Raka sudah berbicara dengan tim keamanan.
Beberapa pengawal bergerak mendekati orang-orang yang masih merekam. Tidak ada bentakan. Tidak ada ponsel yang dirampas. Mereka hanya meminta dengan tegas agar gambar dekat wajah anak-anak dihapus.
Aruna memperhatikan semuanya dengan kagum.
“Kak.”
“Hm?”
“Om itu punya banyak pengawal.”
Arsen melirik Rafael.
“Orang kaya biasanya begitu.”
“Apa kalau aku kaya nanti aku juga boleh punya?”
“Kamu mau pengawal buat apa?”
“Bawain tas.”
Aluna menunduk.
“Aruna, pengawal bukan untuk membawa tas.”
“Kalau dia baik, mungkin mau.”
Rafael mendengar percakapan itu.
Ujung bibirnya sempat bergerak.
Raka yang berdiri tidak jauh darinya melihatnya dan langsung mengalihkan muka, seolah tidak ingin tertangkap sedang menyaksikan sesuatu yang langka.
Bianca justru semakin tidak nyaman.
Sejak Rafael datang, perempuan itu nyaris tidak mendapat perhatian.
“Tuan Rafael,” katanya, mendekat. “Sebenarnya Anda tidak perlu repot. Mereka akan segera pergi.”
Rafael tidak menanggapi.
Bianca mencoba lagi.
“Aluna memang selalu seperti ini. Datang membawa masalah, lalu membuat semua orang harus membereskan akibatnya.”
Aluna memutar tubuh.
Ia sudah lelah.
Namun sebelum ia sempat bicara, Rafael berkata, “Nona Bianca.”
Bianca langsung tersenyum.
“Ya?”
“Saya tidak meminta riwayat hidup saudari Anda.”
Senyumnya tertahan.
“Saya hanya ingin menjelaskan supaya Anda tidak salah paham.”
“Kalau saya butuh penjelasan, saya akan bertanya.”
Nada Rafael tetap datar.
Justru itu yang membuat Bianca tidak bisa membalas tanpa terlihat buruk.
Aruna mendekatkan mulut ke telinga kakaknya.
“Om dingin galak.”
Arsen berbisik balik, “Jangan keras-keras.”
“Aku sudah pelan.”
“Kamu tidak pernah pelan.”
Rafael mendengar lagi.
Kali ini ia benar-benar menoleh.
Aruna buru-buru bersembunyi di belakang Aluna.
Hanya kepalanya yang masih terlihat.
Rafael menatapnya beberapa detik.
“Namamu Aruna?”
Gadis kecil itu mengangguk.
“Aruna Prameswari.”
“Saudaranya Arsen?”
“Adik.”
Arsen langsung menyela, “Selisih tujuh menit.”
Aruna keluar lagi dari balik ibunya.
“Tapi Mama bilang tujuh menit tidak membuat Kak Arsen boleh menyuruh-nyuruh aku.”
“Karena kamu tidak pernah menurut.”
“Karena perintah Kakak sering tidak penting.”
Rafael melihat keduanya bergantian.
Kemiripan Arsen dengannya terlalu jelas.
Tapi Aruna—
Ia belum bisa menemukan apa.
Mungkin cara gadis kecil itu mengangkat dagu saat membantah.
Mungkin cara matanya menyipit ketika sedang menilai seseorang.
Atau mungkin ia hanya sedang mencari kesamaan karena pikirannya sudah terlanjur terganggu.
Rafael tidak menyukai kemungkinan itu.
Ia terbiasa mengambil keputusan berdasarkan angka.
Dokumen.
Laporan.
Bukti.
Bukan bentuk mata seorang anak.
“Kalian tinggal di Jakarta?” tanyanya.
Aluna langsung menjawab, “Itu tidak perlu Anda ketahui.”
Rafael mengalihkan perhatian kepadanya.
“Protektif sekali.”
“Saya ibunya.”
“Saya bisa melihat itu.”
“Kalau begitu seharusnya Anda juga bisa melihat bahwa saya ingin pergi.”
Aluna menggandeng anak-anaknya.
Kali ini Rafael tidak menahan.
Namun saat ia melewatinya, pria itu berkata pelan, cukup untuk didengar Aluna seorang.
“Saya akan mencari jawabannya.”
Langkah Aluna melambat.
“Jawaban apa?”
“Kenapa anakmu memiliki wajah yang hampir sama dengan saya.”
Aluna menoleh.
Mata mereka bertemu cukup lama hingga suara bandara seperti bergeser ke belakang.
“Anda terlalu percaya diri.”
“Mungkin.”
“Dunia ini berisi miliaran orang.”
“Dan entah bagaimana satu dari mereka muncul malam ini, berusia lima tahun, bersama perempuan yang tampak ketakutan ketika saya menanyakan siapa ayahnya.”
Jari Aluna mengencang di tangan Aruna.
Rafael melihatnya.
Sial.
Aluna sadar reaksinya baru saja memberi pria itu lebih banyak alasan untuk curiga.
Ia memilih tidak menjawab.
Bianca yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba tertawa.
“Jangan terlalu dipikirkan, Tuan Rafael.”
Aluna sudah tahu kalimat berikutnya tidak akan berakhir baik.
“Bianca.”
Namun perempuan itu sengaja melanjutkan.
“Lima tahun lalu bahkan Aluna sendiri tidak bisa menjelaskan siapa pria yang bersamanya.”
Aruna berhenti berjalan.
Arsen juga.
Bianca melihat kesempatan itu dan mengambilnya.
“Itulah sebabnya keluarga kami—”
Tamparan Aluna mendarat sebelum kalimatnya selesai.
Bukan tamparan dramatis yang membuat Bianca terlempar.
Hanya satu gerakan cepat.
Telapak tangan bertemu pipi.
Cukup keras untuk membuat kepala Bianca berpaling.
Semua suara di sekitar mereka turun beberapa tingkat.
Bianca memegang pipinya.
“Apa kamu gila?”
Aluna sendiri terkejut betapa tenang suaranya ketika menjawab.
“Jangan pernah membicarakan malam itu di depan anak-anakku lagi.”
“Kamu berani menampar saya?”
“Kamu masih ingin memastikan?”
Bianca melangkah maju.
Dua asistennya buru-buru mendekat, tetapi Rafael hanya mengangkat satu tangan.
Gerakan kecil itu cukup membuat pengawalnya maju setengah langkah.
Bianca berhenti.
Aluna tidak peduli lagi pada siapa yang melihat.
Ia menunjuk Bianca.
“Kalau kamu punya masalah dengan saya, bicara dengan saya. Jangan bawa mereka.”
“Kau pikir setelah kembali dengan dua anak ini kau bisa—”
“Ya.”
Jawaban cepat itu membuat Bianca terdiam.
Aluna menatapnya lurus.
“Karena sekarang saya punya sesuatu yang lima tahun lalu tidak saya punya.”
Bianca menyeringai.
“Uang?”
“Alasan untuk melawan.”
Aluna menarik tangan anak-anaknya.
“Ayo.”
Mereka berjalan pergi.
Kali ini tidak ada yang menghentikan.
Namun Arsen tiba-tiba melepaskan tangan ibunya dan berbalik.
“Arsen?”
Anak itu menatap Rafael.
“Aku masih belum suka Om.”
Raka hampir batuk.
Rafael memasukkan kedua tangan ke saku celana.
“Perasaan kita sama.”
Arsen berpikir sebentar.
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Berarti kita tidak perlu pura-pura.”
Rafael mengangkat sebelah alis.
Arsen kemudian kembali kepada ibunya.
Aruna melambaikan tangan kecil ke arah Rafael.
“Dadah, Om dingin.”
“Aruna!”
“Apa? Aku sopan. Aku bilang dadah.”
Pintu otomatis terbuka.
Tiga orang itu akhirnya hilang ke area penjemputan.
Rafael masih melihat ke arah yang sama bahkan setelah pintu tertutup kembali.
Raka mendekat.
“Pak?”
“Anak itu.”
“Arsen?”
“Ya.”
Rafael tidak melanjutkan.
Raka sudah cukup lama bekerja dengannya untuk tahu kapan harus menunggu.
Bianca, sebaliknya, tidak punya kesabaran sebanyak itu.
“Tuan Rafael, sungguh, jangan terpengaruh oleh mereka.”
Rafael akhirnya menoleh.
Bianca segera melunakkan wajah.
“Aluna punya sejarah membuat keluarga kami kesulitan. Saya hanya takut dia memanfaatkan kemiripan anak itu untuk mendekati Anda.”
“Dia terlihat ingin menjauh dari saya.”
Bianca kehilangan jawaban selama sepersekian detik.
“Justru itu caranya.”
“Caranya?”
“Aluna pintar bermain sebagai korban.”
Rafael menatap perempuan itu cukup lama hingga Bianca mulai tidak nyaman.
“Menarik.”
Bianca tersenyum hati-hati.
“Apa?”
“Anda sangat ingin saya tidak menyelidikinya.”
“Saya hanya—”
“Raka.”
“Ya, Pak.”
“Cari Aluna Prameswari.”
Bianca langsung menoleh kepada Raka.
Rafael melanjutkan seolah ia tidak melihat perubahan wajahnya.
“Lima tahun terakhir. Tempat tinggal. Pekerjaan. Perusahaan. Data publik yang bisa diakses secara legal.”
“Baik.”
“Catatan kelahiran kedua anak?”
Raka sempat ragu.
“Yang tersedia secara sah, Pak?”
“Tentu.”
“Baik.”
Bianca mencoba tertawa.
“Tuan Rafael, itu berlebihan hanya karena wajah seorang anak.”
“Belum selesai.”
Rafael kini menatapnya.
“Cari Hotel Asteria.”
Wajah Bianca kehilangan sedikit warna.
Rafael menangkapnya.
“Malam lima tahun lalu.”
“Tuan Rafael—”
“Seluruh data yang masih tersedia.”
Bianca menelan ludah.
“Kenapa hotel itu?”
Pertanyaan tersebut keluar terlalu cepat.
Rafael tidak menjawab langsung.
Ia justru memperhatikan Bianca seolah sedang membaca angka kecil dalam sebuah kontrak.
“Bukankah Anda bilang tidak tahu siapa pria yang bersama Aluna malam itu?”
“Saya memang tidak tahu.”
“Kalau begitu kenapa nama hotelnya menarik perhatian Anda?”
Bianca berkedip.
“Saya… pernah mendengar tentang skandal itu.”
“Dari siapa?”
“Keluarga.”
“Siapa?”
Bianca tersenyum kaku.
“Itu sudah lima tahun lalu. Saya tidak ingat.”
Rafael mengangguk pelan.
“Tidak masalah.”
Entah kenapa dua kata itu terdengar jauh lebih buruk daripada tuduhan.
“Fakta biasanya lebih mudah diingat daripada orang.”
Ia pergi meninggalkan Bianca.
Raka mengikutinya.
Bianca berdiri di tempat dengan pipi yang masih panas akibat tamparan Aluna.
Tangannya meraih ponsel.
Ia membuka satu kontak tanpa nama.
Mengetik beberapa kata.
Rafael mulai menyelidiki Hotel Asteria.
Ia menunggu.
Tidak ada balasan.
Bianca mengetik lagi.
Apa yang harus saya lakukan?
Pesan hanya menunjukkan satu tanda centang.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa sakit di pipinya bukan masalah terbesar.
Di dalam mobil, Aruna tidak lagi berceloteh.
Gadis kecil itu duduk di samping Aluna sambil memeluk tasnya.
Arsen berada di kursi seberang, menatap ponsel terlalu serius untuk anak berusia lima tahun.
Aluna mengenal ekspresi itu.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Tidak ada.”
“Arsen.”
Anak itu mematikan layar.
“Tadi Bibi Bianca bilang Mama tidak tahu siapa pria yang bersama Mama.”
Aluna menutup mata sebentar.
Ia sudah tahu percakapan ini akan datang.
Hanya tidak secepat malam pertama mereka kembali.
Aruna menempel ke lengannya.
“Waktu itu Mama sendirian?”
Pertanyaan itu berbeda dari yang Aluna takutkan.
Ia menoleh kepada putrinya.
“Iya.”
“Terus Mama punya kami?”
“Iya.”
Aruna memeluk pinggangnya.
“Berarti Mama hebat.”
Aluna hampir tertawa.
Hampir menangis juga.
“Kenapa kesimpulannya begitu?”
“Karena kalau aku sendirian aku takut tidur.”
Aruna memikirkan sesuatu.
“Apalagi kalau harus punya dua bayi.”
Arsen menyahut tanpa melihat mereka.
“Bayi tidak muncul bersamaan begitu saja.”
Aruna melotot.
“Kak, aku tahu.”
“Kemarin kamu bertanya kenapa foto USG hitam putih.”
“Itu beda.”
Aluna menarik keduanya mendekat sebelum perdebatan berkembang.
“Dengar Mama.”
Dua wajah kecil menatapnya.
“Apa pun yang Bianca katakan, satu hal tidak pernah berubah.”
“Apa?” tanya Aruna.
“Kalian bukan kesalahan Mama.”
Arsen mengamati wajah ibunya.
“Kami tidak pernah berpikir begitu.”
“Tapi Mama perlu kalian dengar.”
Aluna mengecup kepala Aruna, kemudian rambut Arsen.
“Kalian alasan Mama bisa sampai sejauh ini.”
Aruna langsung memeluknya.
Arsen bertahan tiga detik sebelum akhirnya ikut.
Setelah beberapa saat, anak laki-laki itu berkata dari bahu Aluna, “Tapi Om Rafael mungkin ayah kami.”
Aluna melepaskan pelukan.
“Kenapa kamu kembali ke situ?”
Arsen mengambil ponselnya.
“Aku membandingkan foto.”
“Tolong bilang kamu tidak memakai aplikasi pengenal wajah ilegal.”
“Legal.”
Aluna mulai curiga pada kegemaran anaknya menggunakan kata itu.
“Seberapa mirip?”
Arsen menggeser layar.
“Aplikasi memberi angka tinggi, tapi itu tidak bisa dianggap bukti biologis.”
Aluna menatapnya.
Setidaknya bagian terakhir masih masuk akal.
“Bagus. Jadi kita berhenti di situ.”
“Tapi Mama mengenal dia?”
“Tidak.”
Arsen langsung tahu ada bagian yang tidak lengkap.
“Mama tidak mengenalnya sekarang atau tidak pernah mengenalnya?”
Aluna menghela napas.
“Kenapa kamu bisa bertanya seperti pengacara?”
“Aku cuma membedakan pertanyaannya.”
Aruna mengangkat tangan.
“Aku punya pertanyaan gampang.”
“Apa?”
“Dia ayah kita bukan?”
Aluna menatap kedua anaknya.
Tidak mungkin memberi jawaban yang ia sendiri belum punya.
“Mama tidak tahu.”
Aruna memiringkan kepala.
“Benar-benar tidak tahu?”
Aluna mengangguk.
“Ada bagian dari malam itu yang Mama tidak ingat.”
Arsen tidak langsung mengejar.
Ekspresinya justru berubah lebih lembut.
“Karena Mama sakit?”
Aluna memilih kata-katanya.
“Karena seseorang membuat Mama tidak bisa berpikir dengan benar.”
Arsen melihat adiknya, lalu kembali pada ibunya.
“Orang jahat?”
“Mungkin.”
“Bianca tahu?”
Pertanyaan itu membuat Aluna diam lebih lama.
“Aku tidak tahu.”
Arsen mengangguk.
Untuk sekali ini ia tidak membuka ponselnya lagi.
“Kalau Mama belum mau cerita, aku tidak akan mencari sendiri.”
Aluna langsung menunjuknya.
“Janji?”
Arsen terlihat seperti baru sadar ia telah memberikan komitmen terlalu besar.
“Aku bilang tidak akan mencari sendiri.”
“Arsen.”
“Baik. Aku tidak akan meretas apa pun.”
“Tidak meretas saja tidak cukup.”
“Aku akan diskusi dulu.”
“Dengan Mama.”
“Ya.”
Aruna berbisik, “Kalau sama aku boleh?”
“Tidak.”
“Kok aku juga kena?”
Tawa kecil akhirnya keluar dari Aluna.
Ketegangan di dalam mobil turun.
Namun hanya sebentar.
Karena Aluna kembali mengingat tatapan Rafael.
Pria itu tidak akan berhenti.
Ia yakin.
Rafael duduk di kursi belakang mobilnya dengan sebuah kotak kecil di telapak tangan.
Ia sudah bertahun-tahun tidak membukanya di luar rumah.
Malam ini, aturan itu ia langgar.
Di dalam kotak beludru terdapat sebuah anting berbentuk bulan sabit.
Satu batu kecil terpasang di bagian tengah.
Benda itu ditemukan lima tahun lalu di lantai kamar Hotel Asteria.
Satu-satunya barang milik perempuan yang berada di sana sebelum Rafael sadar.
Raka yang duduk di depan melihat melalui kaca spion.
“Pak, tim sedang mencari datanya.”
Rafael tidak menjawab.
Ia memperbesar foto Aluna dari rekaman bandara.
Rambut perempuan itu menutupi sebagian telinganya, tetapi pada satu gambar terlihat sebuah anting kecil.
Bukan pasangan yang sama.
Namun bentuk pengait dan detail bulan sabit pada logamnya sangat mirip.
Kebetulan?
Mungkin.
Ia tidak pernah membangun keputusan bisnis dengan kata mungkin.
Karena itu ia membutuhkan fakta.
Ponsel Raka berbunyi.
Raka membaca pesan.
Lalu membaca lagi.
“Pak.”
Rafael menutup kotak.
“Apa?”
“Kami mendapat data awal Hotel Asteria.”
“Lanjut.”
“Pada malam kejadian, nama Aluna Prameswari tercatat sebagai tamu di hotel tersebut.”
Rafael tidak bergerak.
“Jam?”
Raka menyebutkan waktunya.
Selisihnya tidak lebih dari beberapa menit dari catatan saat Rafael masuk melalui pintu privat hotel.
“Kamarnya?”
“Lantai yang sama.”
Rafael menatap kotak beludru di tangannya.
Belum bukti.
Masih terlalu banyak ruang untuk kebetulan.
“Cari data kartu akses.”
“Sedang.”
“CCTV?”
Raka tidak langsung menjawab.
Rafael menatapnya melalui kaca spion.
“Kenapa?”
“CCTV untuk koridor lantai tersebut hilang.”
“Hilang?”
“Dihapus dari server utama dua hari setelah kejadian.”
“Cadangan?”
“Tidak ada di arsip resmi.”
Rafael bersandar.
“Siapa yang meminta penghapusan?”
Raka diam beberapa saat.
“Itu bagian yang menarik.”
“Nama.”
“Permintaan administratif menggunakan nama seseorang dari keluarga Prameswari.”
Rafael menunggu.
Raka menarik napas.
“Bianca Prameswari.”
Kini Rafael memahami ekspresi perempuan itu di bandara.
Bukan kekhawatiran.
Bukan pula rasa malu melihat saudari yang telah lama pergi.
Ketakutan.
“Pak?”
Rafael menatap lampu kota yang bergerak di luar jendela.
“Putar mobil.”
“Ke mana?”
“Kediaman Prameswari.”
Raka melihat jam.
“Jamuan mereka sudah mulai.”
“Bagus.”
Rafael memasukkan kotak beludru ke saku dalam jasnya.
“Berarti Bianca pasti ada di sana.”
Mobil berbelok di persimpangan berikutnya.
Di tempat lain, keluarga Prameswari sedang menyambut para tamu untuk pesta yang sudah mereka persiapkan berminggu-minggu.
Mereka belum tahu Rafael Mahendra sedang menuju ke sana.
Dan ia datang bukan untuk menghadiri jamuan.
Ia datang untuk menanyakan kenapa Bianca Prameswari menghapus satu-satunya rekaman yang bisa menjelaskan malam lima tahun lalu.