NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gangguan dan Jam Malam

Ryan menatap layar ponselnya dengan alis berkerut. Di layar, panah biru kecil yang melambangkan dirinya menandai posisinya secara tepat. Namun jalur menuju rumahnya terus berubah, sehingga Ryan yang belum terbiasa dengan wilayah itu menjadi kebingungan. Selain itu, pertemuan tidak menyenangkan dengan sepasang angsa agresif yang tadi menimbulkan kecurigaan bahwa algoritma aplikasi tersebut sedang mempermainkannya.

“Cih, peta digital memang tidak berguna.”

Setelah melontarkan keluhan, ia menghela napas singkat, lalu menaruh ponselnya kembali ke dalam saku celana dengan tenang. Selanjutnya, Ryan memilih menempuh jalan pintas lewat gang sepi yang dikelilingi pepohonan lebat. Gang itu gelap gulita, cocok sebagai tempat persembunyian hantu‑hantu kelas rendah. Namun bagi Ryan, kegelapan itu terasa lebih akrab dan menenangkan dibanding keramaian di jalan raya.

Langkah kakinya mendadak terhenti.

Di ujung gang yang buntu, siluet seorang pria paruh baya tampak berdiri dengan posisi tubuh yang tidak wajar. Kepalanya terkulai miring ke bahu kanan, sementara kedua lengannya menjuntai kaku. Dari jarak sepuluh meter, Ryan bisa mencium bau anyir darah yang bercampur dengan pekatnya aroma dupa basah.

Kerasukan, pikir Ryan, tetapi wajahnya tetap datar tak berubah.

Sontak, mengangkat kepalanya. Kedua matanya tak lagi menampilkan bagian putih; seluruh bola matanya berubah menjadi hitam pekat dengan urat-urat merah yang menonjol di sekitar pelipis. Cairan merah kehitaman yang sudah mengering tampak mengotori pipinya. Saat mulutnya terbuka, yang terdengar bukan lagi suara manusia melainkan geraman berlapis yang berat dan bergetar, memecah keheningan malam.

"G-Gggrrrrrr...!" makhluk yang merasuki tubuh pria itu meraung. Suasana dalam gang tiba‑tiba menjadi sangat berat, membuat udara terasa terperangkap dan sesak.

Bagi Esper E Class atau manusia biasa, tekanan spiritual ini cukup untuk membuat mereka berlutut ketakutan. Namun bagi Ryan, gertakan itu tak lebih dari angin lalu yang berembus. Dia bahkan tidak repot-repot mengeluarkan tangannya dari saku celana.

Pria kerasukan itu menerjang maju, kuku-kukunya yang menghitam mengarah lurus ke leher Ryan.

Ryan tidak menghindar. Dia hanya menunggu hingga jarak mereka tersisa satu langkah.

Tepat saat cakar pria itu nyaris menyentuh kulitnya, Ryan bergerak dengan presisi yang menakutkan. Menggunakan satu gerakan tangan yang luar biasa cepat namun tampak santai, dia memukul titik syaraf di pangkal leher pria itu dengan sisi telapak tangannya.

Bugh!

Seketika itu juga, kesadaran pria paruh baya itu terputus. Tubuhnya langsung lemas dan ambruk ke depan. Ryan dengan sigap menangkap bahu pria itu dengan satu tangan, menahannya agar tidak jatuh membentur aspal dengan keras, lalu menata kembali posisinya dan menyandarkannya perlahan di dinding gang. “Merepotkan saja,” gumamnya pelan.

Namun, urusan belum selesai. Di dalam tubuh pria yang pingsan itu, entitas hitam bermata merah yang merasukinya terhentak hebat. Makhluk itu mencoba menarik energi spiritual dari luar untuk bangkit kembali, tetapi saat kesadarannya bersentuhan dengan energi milik Ryan yang terselubung membuat sang hantu membeku.

Di balik kulit Ryan, riak kecil Energi Hitam muncul selama sepersekian detik. Energi tersebut memiliki kendali mutlak atas segala bentuk kegelapan di dunia, sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki manusia.

Kau... Kekuatan apa ini?! Manusia mana mungkin memiliki—

Suara batin makhluk itu terhenti, dipenuhi oleh keterkejutan dan ketidakpercayaan yang luar biasa. Disusul ketakutan yang merenggut keberadaannya. Sebelum kalimat itu sempat selesai, seluruh energi hantu itu terpecah‑pecah, hancur berserakan, dan menghilang ke udara bak asap yang ditiup angin kencang. Jiwanya hancur karena tidak mampu menahan tekanan besar energi Ryan.

Rahman, yang semula berniat melangkah menghampiri Ryan untuk menegurnya malah membeku di tempat. Kakinya seolah tertanam ke dalam aspal basah. Sepasang matanya melebar sempurna, menatap bergantian antara pria paruh baya yang kini bersandar pingsan di dinding dan sosok Ryan yang menatapnya heran.

Rahman menyaksikan segalanya. Bagaimana entitas mengerikan yang nyaris membuat Khodam Harimau Putih-nya gemetar ketakutan, justru dilenyapkan dalam satu ketukan syaraf yang tampak begitu remeh.

Gelombang energi hitam yang sempat memancar dari tubuh Ryan tadi bukan sekadar kuat. Itu adalah bentuk tekanan mutlak, jenis kekuatan yang sanggup membuat jiwa Rahman hampa selama sepersekian detik.

Keheningan gang itu pecah ketika Ryan memalingkan wajahnya perlahan. Sepasang matanya menatap datar ke arah seorang remaja berambut hitam pendek yang rapi dan berwajah ramah, namun bertubuh agak gemuk. Itu adalah Rahman yang masih berdiri kaku di bawah bayangan pohon mangga.

Ryan mengamati seragam sekolah yang dikenakan anak itu. "Siapa ya?" tanyanya pendek. Nada suaranya datar, tanpa beban, seolah-olah dia baru saja menyapa orang asing di halte bus.

Rahman menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat tercecer. "A-Aku... Rahman. Kita sekelas. Aku duduk di pojok belakang."

Ryan terdiam sejenak, tampak mencoba memutar memori singkatnya di kelas tadi pagi, sebelum akhirnya menyerah. Baginya, mengingat nama orang-orang yang tidak penting hanya akan memenuhi isi kepalanya. "Oh," sahut Ryan acuh tak acuh. "Sedang apa di sini?"

Sebelum Rahman sempat mengarang alasan mengapa dia membuntuti Ryan sampai ke gang buntu ini, sebuah sorot lampu senter yang terang tiba-tiba memotong kegelapan gang, langsung mengarah tepat ke wajah mereka berdua.

"Hei! Kalian berdua! Jangan bergerak!"

Seorang pria tegap dengan seragam taktis antipeluru berwarna hitam melangkah masuk ke dalam gang. Di dadanya, sebuah lencana perak berbentuk lambang pelindung bersinar di bawah temaram lampu jalan—dia adalah seorang Nightguard, polisi khusus yang bertugas menjaga kota dari ancaman gaib.

"Seragam sekolah?!..." Polisi itu menyipitkan mata, memeriksa jam digital di pergelangan tangannya yang menampilkan pukul 17.15. Ekspresinya segera mengeras. Kalian tahu ini sudah lewat jam malam? Pelajar biasa seperti kalian harusnya sudah pulang!"

Di dunia pasca-2012\, malam hari bukan lagi milik warga sipil. Pemerintah telah menetapkan aturan jam malam yang ketat. Hanya para Esper profesional yang mengantongi lisensi resmi ***Nightwalker***atau unit militer seperti ***Nightguard***yang diizinkan berkeliaran di luar ataupun di dalam benteng setelah matahari terbenam. Bagi pelajar biasa tanpa lisensi\, berada di luar rumah pada jam seperti ini adalah pelanggaran berat.

Rahman langsung pucat, sementara Ryan tetap mempertahankan wajah sedatar dinding semen.

Sorot senter sang polisi kemudian bergeser, jatuh tepat pada tubuh pria paruh baya yang tergeletak tak sadarkan diri di samping Ryan. Petugas itu langsung waspada, tangannya bergerak mendekati gagang senjata kejut di pinggangnya. "Siapa itu?! Apa yang terjadi di sini?"

"Kayaknya orang mabuk, Pak," jawab Ryan cepat, suaranya sangat tenang tanpa riak kepanikan sedikit pun. "Tadi pas kami lewat, dia sudah tergeletak di situ. Kami cuma penasaran."

Rahman menatap Ryan dengan ragu, tidak mempercayai betapa mudahnya dia berbohong di hadapan petugas keamanan.

Polisi menatap Ryan dengan tatapan tajam yang menyelidik. Namun, wajah Ryan yang sangat polos dan tenang membuat petugas itu melonggarkan ketegangannya. Polisi menghela napas gugup, lalu menekan tombol pada radio komunikator di bahunya.

“Denis, ini unit tiga. Saya menemukan dua siswa yang melanggar jam malam di Gang Mawar. Kirimkan mobil patroli ke sini, bawa mereka pulang. Saya akan memeriksa warga yang pingsan di lokasi.”

"Diterima, meluncur ke TKP," sebuah suara menyahut dari radio.

Tidak butuh waktu lama sampai sebuah mobil dengan sirine biru yang redup berhenti di mulut gang. Rekan polisi tadi turun dan memberi isyarat kepada Ryan dan Rahman untuk segera masuk ke kursi belakang.

"Kalian berdua, cepat masuk!" perintah polisi yang baru datang.

Ryan melangkah duluan dengan santai, sementara Rahman mengekor di belakangnya dengan tubuh yang masih sedikit gemetar. Dari dalam mobil patroli yang perlahan bergerak menjauh, Rahman melirik Ryan dari sudut matanya. Remaja misterius itu justru bersandar di kursi, menatap ke luar jendela seolah-olah penangkapan oleh polisi ini hanyalah bagian dari rute pulang sekolahnya yang membosankan.

Sementara itu, di dalam gang yang kembali sunyi, petugas Nightguard yang tertinggal melangkah mendekati pria paruh baya yang bersandar di dinding. Dia berlutut, bersiap untuk mengangkat tubuh pria itu dan memeriksa tanda-tanda vitalnya.

Namun, saat tangannya meraih kerah belakang baju si pria, jemarinya justru bergesekan dengan sesuatu yang keras dan dingin di atas aspal.

Polisi itu mengernyit. Dia segera mengarahkan kilatan cahaya senternya ke bawah, langsung ke titik tersebut.

Tepat di tempat di mana makhluk gaib tadi lenyap, sebuah benda berbentuk kristal kecil berwarna putih pucat tergeletak. Polisi itu memungutnya. Kristal itu memancarkan sisa-sisa energi spiritual murni yang perlahan menguap ke udara.

Jantung sang petugas berdesir tajam. Matanya melebar.

"Batu Roh...?" gumamnya tak percaya.

Jantungnya langsung berdegup, Benda itu merupakan inti energi yang hanya tersisa ketika hantu telah lenyap sepenuhnya. Karena ukurannya pas di genggaman tangan, makhluk yang baru saja mati di tempat ini bukanlah hantu kelas teri.

Polisi itu berdiri dengan tergesa-gesa, menatap gang buntu yang kosong di hadapannya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya, tempat mobil patroli rekannya baru saja pergi membawa Ryan dan Rahman.

Suasana malam yang dingin mendadak terasa mencekik bagi sang polisi.

Orang mabuk...? pikirnya, mengingat kembali jawaban tenang dari anak laki-laki bermata sipit tadi.

Jika ada hantu tingkat tinggi yang baru saja lenyap di gang ini beberapa menit lalu, maka mustahil kedua pelajar tadi tidak terlibat. Salah satu dari dua bocah yang baru saja diantar pulang itu... entah bagaimana, telah memusnahkan hantu tanpa menimbulkan suara atau ledakan energi yang terdeteksi.

"Siapa sebenarnya kedua bocah tadi...?" bisik polisi itu pada kegelapan malam, mencengkeram erat Batu Roh di tangannya dengan sejuta kecurigaan yang mulai tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!