Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tuhan sepertinya masih berpihak pada Rani. Saat dirinya sudah berada di ujung tanduk kematian, ia justru diberi kesempatan untuk membuka mata sekali lagi dengan ingatan yang kembali ke usia dua puluh sembilan tahun, saat dirinya masih dipenuhi ambisi untuk meraih cita-cita menjadi dokter spesialis anak.
Hanya saja, kenyataan yang menantinya tidak semudah itu. Tubuhnya kini telah berusia tiga puluh sembilan tahun. Ia tidak lagi semuda dulu untuk memulai semuanya dari awal. Belum lagi statusnya yang kini adalah istri Dokter Roy. Masalahnya, Rani sama sekali tidak mengingat bagaimana kehidupan rumah tangga yang telah dijalaninya selama sepuluh tahun terakhir.
Dulu, ia memang mengagumi Dokter Roy. Pria itu tampan, cerdas, dan meskipun berstatus duda dengan tiga anak, hal itu tidak pernah menjadi masalah baginya. Karena itulah saat Rico mengatakan bahwa ia menikah dengan Roy, hatinya sempat berbunga-bunga.
Namun kegembiraan itu tidak bertahan lama. Jika benar kehidupan rumah tangganya bahagia, lalu kenapa ia sampai memilih mengakhiri hidup?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga akhirnya, setelah kondisinya cukup membaik, Rani memutuskan pulang. Ia ingin melihat sendiri seperti apa kehidupan yang telah dijalaninya selama sepuluh tahun terakhir. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga dirinya berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak lagi dikenalnya.
Namun, begitu pintu rumah yang terasa begitu familiar itu terbuka, langkah Rani langsung terhenti. Sebuah bantal sofa melayang dan menghantam tepat di wajahnya.
"Mama sudah pulang? Apa Mama sudah bosan berakting terus?" bentak seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Rani menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. Matanya bergerak menyapu satu per satu penghuni rumah itu sebelum akhirnya berhenti pada sosok Roy yang duduk berdampingan dengan seorang wanita seusianya.
"Kak Rani, jangan marah atau cemburu, ya. Mas Roy dan anak-anak hanya kasihan padaku karena aku tidak punya keluarga. Makanya waktu tahun baru kemarin mereka menemaniku," ucap wanita itu dengan suara lembut.
Rani langsung mengenalinya, Sintia. Adik tingkatnya semasa kuliah yang dulu terang-terangan mengejar Roy.
"Oh, begitu," jawab Rani seenaknya sambil melangkah mendekat. Namun sebelum ia sampai di hadapan Roy dan Sintia, tiga pemuda langsung berdiri menghalangi jalannya.
"Mama jangan bertindak sembarangan lagi. Kasihan Tante Sintia, Mama selalu menekannya," ujar Aksan, anak pertama Roy.
"Benar. Kalau Mama bosan berpura-pura jadi ibu tiri yang baik, mending tunjukkan saja sifat Mama yang sebenarnya. Capek tahu lihat Mama terus berakting jadi ibu tiri seperti peri," imbuh Arlan.
"Pokoknya aku nggak suka Mama selalu mengancam Tante Sintia. Mama selalu bertingkah baik di depan Papa, padahal aslinya busuk," sahut Arjun tak kalah tajam.
Rani menatap ketiganya bergantian. Tak terasa dadanya menjadi sesak.
Ia mengenal dirinya sendiri. Sejak dulu ia selalu menyukai anak-anak. Mungkin alasan terbesarnya dulu menerima status Roy sebagai duda adalah karena ia yakin bisa menyayangi ketiga anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Namun sekarang, tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri di sisinya. Mereka bahkan memojokkannya demi seorang wanita luar.
"Kalian bilang apa?" tanya Rani pelan sambil menunjuk ke arah Sintia. "Aku pura-pura jadi ibu tiri yang baik? Aku mengancam dia?"
"Cukup, Rani!" bentak Roy yang sejak tadi hanya diam.
Rani menoleh. Untuk sesaat ia memperhatikan wajah pria yang katanya telah menjadi suaminya selama sepuluh tahun terakhir. Waktu memang berlalu, tetapi tidak banyak yang berubah dari Roy. Di usia sekitar empat puluh lima tahun, pria itu tetap terlihat tampan dengan pembawaannya yang tegas dan maskulin.
"Sekarang kamu minta maaf pada Sintia," lanjut Roy.
Kening Rani langsung berkerut. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa semua orang menatapnya seperti penjahat?
"Kenapa aku harus minta maaf? Apa salahku?" tanyanya.
Roy tertawa sinis. "Kamu masih bertanya? Beberapa hari ini kamu memang pergi dari rumah, tapi sifat kejam itu ternyata tidak berubah. Kamu yang menyuruh orang mengobrak-abrik apartemen Sintia, kan?"
Rani tertegun. "Aku menyuruh orang mengobrak-abrik apartemennya?"
"Iya."
Rani menatap Roy tidak percaya. "Dok... eh, Mas... eh, Suami... ah, entahlah." Ia mengacak rambutnya frustrasi. "Kamu yakin aku yang menyuruh mereka?"
Roy menatapnya tajam. Sementara Rani balik menatap pria itu tanpa berkedip.
"Kamu tahu selama ini aku ada di mana?" tanyanya pelan.
Sintia tak ingin aktingnya terbongkar. Ia segera menarik ujung lengan baju Roy dengan wajah penuh kepura-puraan.
"Mas, sudah. Jangan bertengkar dengan Kak Rani karena aku." Suaranya terdengar lembut dan rapuh. "Aku sudah terbiasa dengan perlakuan Kak Rani. Lagi pula sekarang aku sudah aman karena kalian mengizinkanku tinggal di sini."
Mata Rani langsung membulat. "Tinggal di sini?"
"Iya." Arlan menjawab lebih dulu. "Tante Sintia nggak punya siapa-siapa. Lagi pula apartemennya habis diacak-acak orang suruhan Mama."
Rani mengangguk pelan. "Oh."
Reaksi itu justru membuat semua orang bingung karena tidak ada amarah ataupun teriakan apalagi tatapan penuh kebencian seperti yang mereka bayangkan.
"Oh?" ulang Arjun tidak percaya.
"Iya, oh." Rani kembali mengangguk. "Kalau memang dia nggak punya tempat tinggal sementara, ya tidak masalah tinggal di sini."
Kali ini yang terdiam justru seluruh penghuni rumah. Bahkan Sintia sampai kehilangan senyumnya selama beberapa detik.
"Tapi..." lanjut Rani sambil menatap wanita itu dari ujung kepala sampai kaki, "kalau aku jadi dia, sih, aku pasti nggak akan nyaman tinggal di rumah laki-laki yang sudah beristri."
Wajah Sintia langsung menegang.
Aksan mengepalkan tangannya. "Mama mulai lagi!"
"Aku mulai apa?" Rani terlihat benar-benar bingung. "Aku cuma bilang kalau aku jadi dia."
"Kak Rani..." Sintia memanggil dengan suara bergetar.
Rani mengangkat satu tangan.
"Eits, jangan menangis dulu. Aku lagi pusing." Ia menoleh ke arah Roy. "Dokter Roy, eh suamiku, boleh aku tanya sesuatu?"
Roy mengernyit mendengar cara bicara Rani yang terasa berbeda.
"Apa?"
"Sepuluh tahun lalu kamu menikah denganku karena cinta atau karena kasihan?"
Ruangan langsung sunyi. Rani mengajukan pertanyaan itu dengan wajah polos, tetapi justru membuat Roy kesal setengah mati.
Sementara Rani kembali berbicara sebelum siapa pun sempat membuka suara.
"Soalnya aku kenal diriku sendiri." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku mungkin bodoh karena cinta, tapi aku nggak mungkin menikah dengan laki-laki yang masih menyimpan perempuan lain di dalam rumahnya."
"Rani!" bentak Roy.
"Apa?" Rani balik menatapnya. "Aku cuma bertanya."
"Kamu keterlaluan."
"Yang keterlaluan aku?" Rani menunjuk dirinya sendiri lalu mengalihkan telunjuknya ke arah Sintia. "Aku baru pulang dan mendapati ada perempuan lain tinggal di rumahku. Tiga anak tiriku membenciku. Suamiku menyuruhku minta maaf. Terus sekarang yang keterlaluan aku?"
Roy langsung terdiam.
Namun Aksan tidak bisa menahan diri. Pemuda itu melangkah maju dengan tatapan penuh kebencian.
"Mama jangan sok lupa dengan apa yang sudah terjadi. Kalau saja Mama nggak naik ke tempat tidur Papa, Mama nggak akan pernah jadi ibu kami."
Ucapan itu membuat ruangan seketika sunyi. Bahkan Sintia yang tadi pura-pura sedih pun menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.
Sementara itu, Rani membeku di tempat. Tanpa sadar ia menelan ludahnya kasar.
Naik ke tempat tidur Roy? Dirinya? Benarkah? Kepalanya mendadak terasa semakin pusing.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏