Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENANTIAN MALAM
Hari belum terlalu sore, Srikandi berdiri di ambang pintu rumah biliknya. Aroma gurih dari santan dan labu kuning menyeruak, memenuhi ruangan kecil yang biasanya sepi itu.
Di atas meja kayu yang permukaannya sudah halus dimakan usia, dua buah piring tanah liat sudah tertata rapi. Satu untuknya, dan satu lagi yang berukuran lebih besar—milik sang ayah.
"Kenapa lama sekali matahari turun. Aku sudah rindu ...," gumamnya pelan.
Srikandi kembali memantaskan diri. Ia sudah mandi dan memakai baju terbaiknya, kebaya milik peninggalan sang ibu.
"Ini adalah pakaian yang selalu Ibu kenakan ketika menyambut Ayah pulang," gumamnya senang.
Waktu berlalu, sang Surya perlahan turun ke belahan barat bumi. Kicau burung senja riuh di angkasa, sementara Srikandi duduk dengan bosan.
Masakannya sudah tak lagi mengeluarkan asap. Makanannya sudah dingin.
"Apa aku terlalu cepat masaknya?" tanyanya bergumam.
Srikandi lupa, jika usai perang. Ayahnya tak langsung ke rumah. Melainkan harus pergi menghadap raja dulu.
"Ah ... Apa Ayah menghadap Sri Baginda ya?" desahnya kesal.
"Aku terburu-buru memasak," lanjutnya kecewa pada masakan yang ia buat.
"Jika tak dimakan hari ini. Besok pasti tak layak untuk dimakan...," ia kembali menyesal.
"Apa aku panaskan saja ya?" Srikandi mendapat gagasan baik untuk masakannya.
Gadis itu kembali berdiri, ia mengambil kuali tanah liat lalu memasukkan kembali sayur di sana. Anglo tempat ia memasak kembali ia nyalakan api di sana.
Bara menyala, ia meletakkan kuali tanah liat di atas anglo. Sesekali ia mengaduk pelan sayur agar tak pecah santan.
Srikandi sesekali mengusap kain kebaya yang ia kenakan. Kain itu beraroma akar wangi dan kenanga, sisa-sisa wangi masa lalu yang ia simpan rapi di dalam peti kayu.
Ada rasa bangga sekaligus haru; hari ini ia tidak ingin terlihat seperti gadis ladang yang kasar, ia ingin sang ayah melihat bayangan ibunya saat pertama kali menginjakkan kaki di tangga rumah.
"Ayah pasti akan terkejut," bisiknya sembari tersenyum kecil. "Ia akan mengira Ibu telah kembali."
Sayur sudah dipanaskan, sekali lagi Srikandi menatap dirinya. Hari tak terasa sudah mulai gelap. Tak ada lagi suara kicauan burung senja yang pulang ke sarangnya yang hangat.
Kuk! Kuk! Kuk! Bunyi burung malam, angin berdesir halus, menambah suasana lain di malam itu.
Srikandi berdiri di atas tebing tertinggi di lereng bukit. Dari sana ia bisa melihat barisan obor-obor yang menyala dibawa oleh pasukan kerajaan. Berita kepulangan sang ayah terlalu cepat ia dengar dari sahabatnya, Siti.
"Benar-benar baru datang?" keluhnya memikirkan sayur yang ia masak.
Dari tebing itu ia melihat beberapa warga desa pulang selepas berburu.
"Paman!" panggilnya dengan kekuatan tenaga dalam.
Tiga pria menoleh, mereka memakai baju pangsi yang lusuh, dan ikat kepala, salah satunya membawa obor sebagai penerang jalan.
"Ada yang memanggil kita?" tanya salah satunya.
"Jangan menakut-nakuti! Walau hutan Bukit Manoreh gelap, tapi tak ada hantu di dalamnya!" seru salah satunya takut.
"Paman! Tunggu!" suara itu kembali terdengar, kini jauh lebih keras.
Srikandi turun dari lereng menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Ia berdiri di depan ketiga pria yang saling berdempetan.
Mata salah salah satu dari mereka memicing, memastikan apa yang ia lihat bukanlah penunggu hutan bukit ini.
"Si-siapa kamu!" serunya penuh rasa takut.
"Jangan takut ... Paman Koleh? Ini aku, Srikandi!" seru gadis itu mengenali salah satu pemburu.
Pria itu sekali lagi memicingkan mata, ia mendekatkan obor pada gadis yang berdiri di depannya. Setelah yakin baru lah ia bernafas lega.
"Demi sang hyang Widhi! Srikandi. Kukira penunggu hutan ini!" dengkusnya kesal.
"Maaf Paman, aku mengejutkanmu," ujar Srikandi merasa bersalah.
Lalu melihat tangan ketiga pemburu yang hampa. Tanda mereka tidak mendapat satu buruan pun.
"Turunlah kalian ke bawah bukit, nanti di sana aku akan memberikan masakanku untuk dibawa pulang," ujarnya.
"Kau ... Memasak?" tanya Koleh tak percaya.
Bukan ia tak tau siapa gadis di depannya. Srikandi adalah satu-satunya gadis yang belajar kanuragan setelah ia lahir, ditempa oleh tangan dingin Ki Abda, ayahnya sendiri.
"Selain memainkan pedang. Ayah juga mengajariku memasak, Paman. Bibi Santra istrimu, pasti suka mendengar jika aku memasak!" ujar Srikandi membaca pikiran Koleh.
"Baiklah, kebetulan kami tak dapat buruan. Binatang-binatang di sini lebih pintar bersembunyi," sahut salah satu pemburu kesal.
Srikandi hanya tersenyum, lalu ketiga pria itu buru-buru turun sebelum kabur turun lebih tebal.
Srikandi kembali ke rumah baliknya. Mengambil tiga mangkuk tanah liat dan membagi sayur labu yang tadi ia masak. Setelah itu ia menutup mangkuk dengan daun pisang lalu ketiga mangkuk itu diikat kuat dari pelepah pisang.
Kabut malam turun perlahan menyelimuti lereng Bukit Menoreh. Angin dingin mulai merayap di sela-sela dinding bilik bambu milik Srikandi.
Namun gadis itu masih berdiri di ambang pintu.
Sepasang matanya terus menatap ke arah jalan setapak yang menghubungkan lereng dengan jalan utama kerajaan. Barisan obor para prajurit kini terlihat semakin jelas, seperti ular api yang bergerak lambat di tengah gelap malam.
Srikandi menggenggam erat buntalan daun pisang berisi sayur waluh santan.
"Ayah tak mungkin makan di rumah. Jamuan besar pasti dihidangkan Sri Baginda Raja menyambut mereka!" gumamnya yakin.
Gadis itu pun turun lereng bukit, dengan ilmu meringankan tubuhnya. Ia lebih dulu sampai di bawah bukit. Sebelum Ki Koleh dan dua rekan berburunya.
"Nduk?" Ki Koleh yang mendapati Srikandi lebih dulu terkejut.
"Paman!" Srikandi hanya tersenyum.
"Ini, bawalah untuk kalian. Pasti anak istrimu senang dengan ini!" ujar Srikandi menyerahkan satu persatu mangkuk ditutup daun dan diikat tali pelepah pisang.
"Terimakasih Nduk!" ujar salah satu pemburu menerima bungkusan itu dengan wajah senang.
"Lalu wadahnya?" tanya Koleh.
"Besok pagi aku datang mengambilnya!" jawab Srikandi lalu ia melangkah pergi.
"Kemana kamu sekarang Nduk?" tanya Koleh.
"Mau ke istana, menemui Ayah!" teriak Srikandi lalu melompat dan menghilang di balik kabut.
"Ki Koleh! Kau mengenal gadis itu?" tanya salah satu pemburu.
"Ya ... Siapa yang tak kenal putri Ki Abda!"
"Apa? Jadi tadi kami berhadapan dengan putri punggawa ternama?"
"Benar sekali Ki Janar, Srikandi adalah putri dari punggawa tersakti Ki Abda Sedah Nirah!" jawab Koleh.
Sementara Srikandi mulai dekat dengan kerajaan. Rombongan para prajurit masih berjarak sangat jauh. Bahkan iring-iringan obor masih terlihat kecil.
"Apa rombongan baru masuk desa Turi?" tanya Srikandi bergumam.
Gadis itu mendesah nafas, ia lagi-lagi terlalu cepat. Padahal bukit Manoreh ada di belakang tubuhnya. Tapi rombongan prajurit memilih jalan memutar dengan jarak yang sangat jauh.
"Apa karena kabar mereka menang dan ingin memperlihatkan kemenangan mereka dengan menenteng kepala musuh?" tanyanya lagi.
Lalu ia kembali menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Memperkecil jarak antara dirinya dan rombongan yang di kepalai ayahnya.
"Ayah aku datang!"
Bersambung.
next?
nyi padan serem akh
lanjut