"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Sisi Lain Keysa
"Lepaskan aku, Arga!" Keysa meronta sekuat tenaga, menolak tunduk pada tatapan mengintimidasi suaminya. "Aku lebih memilih tidur di lantai marmer yang dingin daripada harus berdesakan di sofa kulit ini denganmu!"
Arga tertawa pelan. Tawanya terdengar berat dan serak mengalun di ruang televisi yang remang. Laki-laki itu melonggarkan cengkeramannya perlahan, membiarkan Keysa merangkak mundur dengan napas terengah-engah mencari udara.
"Pilihan selalu ada di tanganmu, Keysa. Kasur di kamar utama kita masih sangat luas untuk menampung kita berdua," goda Arga santai sambil menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran sofa. "Atau kamu memang lebih suka menghabiskan waktu bertengkar secara fisik denganku di tempat sempit seperti ini? Aku sama sekali tidak keberatan meladeni permainanmu."
Keysa mendengus kasar. Perempuan itu merapikan kemejanya yang kusut akibat tarik-menarik tadi. Ia menatap Arga dengan sorot mata membunuh, namun tidak membalas provokasi murahan tersebut. Tubuhnya sudah remuk redam setelah penerbangan yang kacau balau dari Surabaya. Berdebat dengan laki-laki keras kepala ini hanya akan membuang sisa kewarasannya yang semakin menipis. Keysa berdiri cepat, berbalik arah, dan berjalan gontai menuju dapur tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
***
Cahaya matahari perlahan menembus celah gorden ruang tengah apartemen. Suara bising klakson kendaraan dari jalan raya ibu kota mulai terdengar bersahut-sahutan di kejauhan.
Arga membuka matanya perlahan. Laki-laki itu meraba sisi kanan ranjang di kamar utama. Kosong. Ia bangkit dari kasur, mencuci muka sekadarnya di kamar mandi, lalu berjalan keluar mencari keberadaan istrinya. Dapur terlihat sangat sepi. Ruang tamu juga kosong melompong. Di atas meja makan hanya tersisa secangkir teh herbal yang sudah dingin dan selembar roti gandum yang baru digigit ujungnya. Keysa benar-benar lenyap bak ditelan bumi.
"Ke mana perempuan itu pergi saat hari libur begini?" gumam Arga pada dirinya sendiri sambil bertolak pinggang.
Ia bergegas kembali ke kamar, mengganti bajunya dengan kaus hitam polos yang pas membalut tubuh atletisnya dan celana olahraga training yang longgar. Ia meraih kunci mobil sport merahnya dari atas laci nakas. Laki-laki itu tidak sudi memanggil sopir pribadi atau membawa ajudan. Ia ingin menyetir sendirian hari ini.
Tiba di lantai bawah tanah tempat parkir khusus, Arga melihat area parkir mobil Keysa sudah kosong. Laki-laki itu menyeringai tipis. Beruntung, ia sudah memerintahkan tim IT kantor untuk memasang alat pelacak lokasi di mobil Keysa secara diam-diam sejak insiden terkunci di ruang arsip. Arga membuka ponselnya, melihat sebuah titik merah berkedip perlahan bergerak menjauh menuju pinggiran kota Jakarta.
Arga langsung melompat masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas kuat-kuat, memacu kendaraannya membelah jalanan yang masih cukup lengang. Otaknya terus berputar menyusun berbagai skenario. Keysa adalah wanita yang sangat gila kerja dan memuja efisiensi. Sangat aneh melihat istrinya keluar rumah diam-diam menggunakan pakaian kasual santai tanpa membawa tas kerja atau tablet pelaporannya.
Empat puluh menit perjalanan berlalu. Titik merah di layar ponsel Arga akhirnya berhenti total di sebuah bangunan tua berbentuk hanggar. Tidak ada pintu kaca mengkilap atau lobi berpendingin ruangan di sana. Bangunan itu adalah sebuah sasana Muay Thai lokal yang terlihat sangat kasar, keras, dan jauh dari kata mewah.
Arga memarkirkan mobilnya di sudut jalan yang agak tertutup, lalu melangkah turun. Ia berjalan santai namun pasti masuk ke dalam bangunan yang terbuka lebar tersebut. Bau karet pelindung lantai, peluh, dan otot langsung menyengat tajam masuk ke dalam rongga hidungnya. Suara dentuman keras orang-orang yang sedang memukul samsak berbaur dengan teriakan pelatih menggema memekakkan telinga.
Mata elang Arga menyapu seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi puluhan orang yang sedang sibuk berlatih keras. Pandangannya langsung terkunci pada satu sosok perempuan di sudut paling ujung, berdiri tepat di luar ring tanding utama.
Itu Keysa.
Arga menghentikan langkahnya seketika. Napas laki-laki itu seakan tertahan di tenggorokan. Ia berdiri mematung di balik pilar beton raksasa, nyaris tidak mengenali istrinya sendiri.
Keysa yang selalu tampil tanpa cacat dengan kemeja sutra mahal, rambut disanggul kaku, dan rok pensil ketat, kini berubah total seratus delapan puluh derajat. Perempuan itu hanya memakai kaos tanpa lengan berwarna abu-abu usam yang basah kuyup oleh keringat. Celana pendek olahraga hitam membalut kakinya yang bergerak sangat lincah. Rambut panjangnya diikat kuda setinggi mungkin, bergoyang liar mengikuti setiap pergerakannya yang mematikan.
Di kedua belah tangan perempuan itu terpasang sarung tinju tebal berwarna merah menyala.
Buk! Buk! Buk!
Keysa melepaskan rentetan pukulan lurus yang sangat brutal ke arah samsak kulit raksasa di depannya. Tidak ada keraguan, tidak ada kelemahan. Setiap pukulannya diiringi hembusan napas yang tajam dan kasar. Tenaganya luar biasa besar, menggetarkan rantai besi yang menahan samsak tersebut.
"Fokus pada kuda-kuda kakimu, Keysa! Jangan goyah saat menarik tanganmu kembali!" teriak seorang pelatih berbadan kekar yang memegangi bagian belakang samsak. "Putar pinggulmu lebih kuat! Luapkan semua stres pekerjaanmu di sini! Hajar orang yang kau benci. Hancurkan samsak ini!"
Keysa mendengus pelan mendengar instruksi itu. Perempuan itu mundur satu langkah kecil untuk mengambil ancang-ancang. Ia memutar tubuhnya dengan sangat luwes, lalu melepaskan tendangan kaki kanan yang mendarat telak di bagian tengah samsak. Suara hantaman kulit beradu dengan kulit itu terdengar sangat mengerikan dan bergema di sudut ruangan.
Keysa menarik kakinya kembali. Sebuah senyum miring yang liar, buas, dan benar-benar bebas tercetak sangat jelas di bibirnya. Senyum murni yang belum pernah Arga lihat seumur hidupnya. Perempuan itu kembali melayangkan pukulan kombinasi bertubi-tubi tanpa henti. Keringat menetes deras dari pelipisnya, membasahi leher dan meresap ke dalam kaos abu-abunya.
Aura dominasi dan ketangguhan yang biasanya terkunci rapi di balik meja kantor dan topeng asisten kini meledak keluar tanpa ampun di atas matras sasana.
Arga menelan ludah kasar dari balik pilar beton. Jantungnya berpacu sepuluh kali lipat lebih cepat. Ia terpukau habis-habisan. Ia terpesona melihat keliaran istrinya yang sedang bergerak di tengah rasa lelah.
Perempuan sedingin es yang selama ini tidur di bawah satu atap dengannya ternyata menyimpan bara api yang sangat panas dan berbahaya di dalam dirinya. Pantas saja Keysa tidak pernah takut pada gertakan atau makian Arga di kantor. Perempuan itu terbiasa menghancurkan batasan fisiknya sendiri setiap akhir pekan.
Keysa bukan sekadar asisten yang berlindung di balik kontrak kerja. Keysa adalah petarung sungguhan di dunia nyata.
Buk! Buk!
"Bagus sekali! Waktumu tinggal sepuluh detik! Habiskan semua sisa tenagamu sekarang juga!" seru pelatih kekar itu memberi aba-aba terakhir.
Keysa mengerang marah, memukul samsak itu bergantian dengan ritme yang sangat mematikan. Wajahnya merah padam, dadanya naik turun dengan cepat mencari pasokan oksigen. Setiap pukulan yang ia lontarkan adalah pelampiasan rasa muaknya pada tingkah posesif Arga, rasa frustrasinya pada jebakan hukum sang suami, dan rasa lelahnya menahan trauma masa lalu yang terus menggerogoti otaknya. Ia memukul untuk membebaskan dirinya sendiri dari jeratan ilusi perasaan yang mulai merayap masuk ke dalam hatinya.
"Waktu habis!" Pelatih itu menepuk bahu Keysa pelan, menyuruhnya berhenti. "Kerja bagus, Keysa. Pukulanmu semakin mematikan bulan ini. Kamu mau istirahat minum air dulu atau langsung masuk ke sesi tanding di atas ring?"
Keysa menyeka keringat di dagunya menggunakan punggung sarung tinju. Napasnya masih tersengal-sengal, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa. "Aku tidak butuh istirahat. Siapkan pelindung kepalamu. Aku ingin naik ke atas ring sekarang juga."
"Baiklah kalau itu maumu. Tunggu sebentar, aku ambilkan penutup dada." Pelatih itu membalikkan badan menuju ruang loker di belakang.
Arga yang bersembunyi di balik pilar tidak tahan lagi hanya menjadi penonton dalam diam. Laki-laki itu melangkah keluar dari persembunyiannya. Kakinya berjalan sangat pasti membelah kerumunan orang-orang yang sedang berlatih. Tatapan matanya memancarkan aura penguasa yang membuat beberapa anggota sasana menepi dengan sendirinya tanpa perlu disuruh.
Keysa baru saja menghela napas panjang dan hendak melangkah naik ke anak tangga ring saat ujung matanya menangkap sosok tinggi besar yang sangat ia kenal berjalan mendekat ke arahnya.
Perempuan itu menghentikan langkahnya seketika. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya membulat terkejut melihat Arga Dirgantara berdiri tegap tepat di depannya. Suaminya itu menatapnya dari ujung sepatu olahraga hingga ke ujung rambut dengan pandangan yang menyala-nyala penuh obsesi.
"Apa yang kamu lakukan di tempat kotor seperti ini?" desis Keysa ketus, berusaha menutupi keterkejutannya. Suaranya terdengar serak dan berat karena kelelahan fisik. "Dan dari mana kamu tahu aku ada di sini? Kamu menaruh pelacak di mobilku?"
Arga sama sekali tidak menjawab rentetan pertanyaan marah istrinya. Laki-laki itu menatap pelatih kekar yang baru saja kembali membawa peralatan tanding.
"Menyingkir dari tempat ini sekarang juga," perintah Arga pada pelatih tersebut dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Biar aku yang mengambil alih tugasmu melatih istriku hari ini."
Pelatih itu mengernyitkan dahi bingung, merasa tersinggung, dan bersiap hendak membantah laki-laki asing yang sok berkuasa ini. Namun Keysa segera memberi isyarat anggukan kecil ke arah pelatihnya, menyuruh pria itu untuk mundur dan tidak ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
Pelatih itu mendengus pelan, meletakkan peralatan tanding di pinggir ring, lalu berjalan menjauh meninggalkan mereka berdua.
Arga tiba-tiba melangkah naik ke atas ring dengan gerakan yang sangat lincah. Laki-laki itu melepaskan jaket tipis yang ia pakai, membuangnya asal ke sudut matras, lalu mengambil sarung tinju cadangan yang menganggur di dekat tali pembatas. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam sarung tinju tersebut, lalu berdiri tegap menghadap Keysa di tengah arena tanding.
Tatapan Arga mengunci pandangan Keysa. Tidak ada keraguan, tidak ada niat untuk mundur. Laki-laki itu menepukkan kedua sarung tinjunya di depan dada, membunyikan suara bantingan kulit yang cukup keras.
"Pukul aku. Anggap saja wajahku ini adalah masa lalu yang sangat kau benci itu."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..