Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di perpustakaan (Awal cerita )
Enam tahun yang lalu, Alana adalah seorang perempuan yang penuh dengan ambisi dan cahaya. Sebagai putri tunggal dari keluarga terpandang yang memiliki bisnis tekstil besar, Alana tidak pernah kekurangan materi, namun ia tetap rendah hati. Ia adalah mahasiswi tingkat akhir yang sedang menyelesaikan tesisnya tentang manajemen bisnis.
Sore itu, hujan deras mengguyur Jakarta. Alana terjebak di perpustakaan kota yang mulai sepi. Ia sedang berjuang mencari referensi buku yang terletak di rak paling atas. Dengan jinjitan kaki yang tidak sampai, tiba-tiba sebuah tangan kekar namun halus menjangkau buku tersebut dan menyerahkannya kepada Alana.
"Ini yang kamu cari?" suara bariton itu terdengar lembut.
Alana menoleh dan menemukan sosok pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tegas, dengan rahang yang kuat dan mata yang memancarkan kecerdasan. Itulah Rendy. Saat itu, Rendy hanyalah seorang pemuda ambisius yang sedang membangun sebuah startup teknologi kecil-kecilan.
"Terima kasih," jawab Alana singkat, namun jantungnya berdebar tidak karuan.
"Sama -sama,bolehkah aku duduk disini ?"
Rendy tidak langsung pergi. Ia duduk di sebelah Alana,
"Oh ...silahkan."jawab Alana gugup .
"Kenalkan,namaku Rendi Pratama." Rendi mengulurkan tanganya untuk berkenalan,wajahnya yang tampan dan senyumnya yang mempesona membuat Alana terpesona,jantungnya berdebar .
"Namaku Aluna putri ." Alana menyambut tangan Rendi dengan gugup .
"Kamu orang ekonomi ?"
Rendi tersenyum dan memulai percakapan ringan tentang teori ekonomi yang sedang Alana pelajari. Bagi Alana, Rendy adalah sosok pria impian: cerdas, gigih, dan tampak sangat menghargai perempuan. Rendy menceritakan mimpinya untuk mengubah dunia melalui teknologi, namun ia mengakui bahwa ia sedang kesulitan modal.
"Maaf ya, aku terlalu jujur sama kamu,padahal kita baru kenal,tapi entah mengapa denganmu aku merasa nyaman,serasa kita sudah kenal lama ."
"Tidak apa -apa aku justru senang kamu mau bercerita denganku,kita bisa menjadi teman,jangan malu -malu kalau ingin curhat sama aku,aku pasti mendengarkan ."
Kejujuran Rendy atau yang Alana anggap sebagai kejujuran membuat hati Alana luluh. Ia melihat sosok pejuang dalam diri Rendy.
***
Masa Perkenalan: Manipulasi Halus
Bulan-bulan berikutnya adalah rangkaian kejutan manis. Rendy tidak pernah membawa Alana ke restoran mewah. Ia justru membawa Alana ke warung makan pinggir jalan, bercerita tentang masa kecilnya yang sulit setelah ayahnya bangkrut.
"Maaf ya,aku mengajakmu makan diwarung pinggir jalan seperti ini,tidak di restoran mewah seperti teman teman kamu ." Rendi menatap Alana dengan tatapan sedih,sehingga membuat Alana merasa tersentuh .
"Tidak Apa -apa, Makan dimanapun aku tidak masalah,yang penting bersama kamu ."
"Terimakasih,Kamu tidak pernah menuntutku,padahal kamu itu seorang putri Adiguna,biasa makan di restoran mahal,tapi sekarang,kamu justru makan di pinggir jalan seperti ini ."
"Kamu jangan merasa tidak enak seperti itu,bagiku yang penting kamu bersamaku,aku tidak mempermasalahkan hal itu ."
"Alana Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan kepadamu, Alana," ucap Rendy Rendi manis,terlihat tulus di bawah lampu jalan yang temaram. "Aku hanya punya mimpi dan kerja keras. Aku merasa malu berada di dekatmu yang memiliki segalanya."
Alana justru terharu. Ia merasa Rendy adalah pria yang tulus dan tidak materialistis. "Harta bisa dicari, Rendy. Karakter dan ketulusan itu yang langka. Aku percaya padamu."
Tanpa Alana sadari, ia mulai jatuh ke dalam perangkap psikologis yang sangat rapi. Rendy sengaja merendahkan dirinya sendiri agar Alana merasa perlu untuk menjadi "penyelamat" baginya. Alana mulai sering membantu biaya operasional kantor Rendy dengan uang sakunya, bahkan mulai mengenalkan Rendy pada relasi bisnis ayahnya.
Setiap kali Alana membantu, Rendy akan menunjukkan rasa terima kasih yang berlebihan, yang membuat Alana merasa sangat berarti. Itulah kecanduan pertama Alana: merasa dibutuhkan oleh Rendy.
****
Lamaran di Atas Puncak Impian
Setahun berlalu. Bisnis Rendy mulai menunjukkan titik terang berkat suntikan dana "pinjaman" dari Alana dan koneksi keluarga Adiguna. Untuk merayakan kesuksesan kecil itu, Rendy mengajak Alana ke sebuah villa di Puncak, Bogor.
Malam itu, kabut tipis menyelimuti pegunungan. Rendy telah menyiapkan makan malam romantis di balkon yang menghadap ke lampu-lampu kota. Di sana, di bawah siraman cahaya bulan, Rendy berlutut.
"Alana, sejak pertemuan kita di perpustakaan itu, aku tahu hidupku tidak akan pernah sama lagi. Kamu bukan hanya wanita yang aku cintai, tapi kamu adalah napasku. Tanpamu, aku tidak mungkin berdiri setegak ini hari ini," suara Rendy bergetar, seolah-olah ia sedang menahan tangis haru.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian sederhana,yang sebenarnya dibeli dengan uang hasil keuntungan proyek yang Alana bantu.
"Mungkin aku belum bisa memberimu istana, tapi aku berjanji akan membangun dunia di mana kamu adalah ratunya. Alana, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu denganku? Menjadi saksi kesuksesanku dan menjadi rumah tempatku pulang?"
Air mata Alana tumpah. Ia merasa sebagai wanita paling beruntung di dunia. Ia tidak melihat kegelapan di mata Rendy. Ia tidak melihat bagaimana tangan Rendy sedikit gemetar bukan karena gugup, melainkan karena ambisi yang sebentar lagi akan tercapai.
"Ya, Rendy. Aku mau," bisik Alana
Rendi dengan senyum manisnya menyematkan cincin pada jemari manis,Alana menerima dengan bahagia,baginya hari itu adalah hari yang paling membahagiakan .
"Terimakasih,sayang ,Aku janji aku akan membahagiakanmu ." Rendi mencium kening Alana dengan penuh sayang,sehingga membuat hati Alana semakin berbunga bunga .
"Aku percaya,kamu akan menepati janji kamu,sayang ."
Alana mencium tangan Rendy, merasa bahwa dunia ini adalah miliknya. Saat itu, ia percaya bahwa Rendy adalah pelindungnya. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja ia ciumi tangannya itu baru saja mendapatkan kunci masuk menuju seluruh kekayaan keluarga Adiguna.
"Mulai hari ini, semua yang milikku adalah milikmu, Alana. Dan semua bebanmu, biarlah menjadi bebanku," bisik Rendy di telinga Alana.
Rendy mengusap lembut pipi Alana yang masih basah oleh air mata haru. Tatapannya dibuat sehangat mungkin, penuh cinta yang tampak tulus di mata Alana.
“Kamu tahu, Alana… selama hidupku, aku selalu berjalan sendirian. Aku terbiasa menghadapi semuanya sendiri sampai akhirnya Tuhan mempertemukan aku dengan kamu. Sejak ada kamu, aku merasa hidupku punya arah. Kamu seperti cahaya yang datang saat hidupku gelap.”
Alana tersenyum malu mendengar ucapan itu. Jantungnya berdegup semakin cepat ketika Rendy menggenggam kedua tangannya dengan erat.
“Aku mungkin bukan laki-laki sempurna,” lanjut Rendy lirih. “Aku masih berjuang membangun masa depan. Tapi satu hal yang pasti, aku akan selalu menempatkan kamu di atas segalanya. Aku ingin melihat kamu tersenyum setiap hari. Aku ingin menjadi alasan kenapa kamu merasa aman dan dicintai.”
Rendy mengecup jemari Alana penuh kelembutan.
“Nanti, kalau bisnis ini semakin besar, aku ingin membangun rumah yang hangat untuk kita. Ada taman kecil kesukaanmu, balkon untuk melihat hujan, dan ruang kerja tempat aku bisa tetap melihatmu meski sedang sibuk. Aku ingin menua bersamamu, Alana.”
Alana memeluk Rendy erat, benar-benar tenggelam dalam manisnya janji pria itu. Sementara Rendy tersenyum tipis di balik pelukan tersebut, menyembunyikan ambisi yang terus tumbuh di dalam hatinya.