Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Alkohol Tiga Persen dan Kain Sarung
Pinggangku rasanya mau patah. Menyeret balok es raksasa seberat ratusan pon dari gudang pendingin ikan mungkin jauh lebih mudah daripada mengangkut cowok pingsan ini ke atas jok motor bebekku. Dengan sisa-sisa tenaga yang membakar otot lengan, aku terpaksa mengikat tubuh besarnya ke tumpukan boks kargo di bagian belakang menggunakan tali karet bagasi berkali-kali agar dia tidak merosot jatuh ke aspal.
Aku memacu motor bebekku membelah gerbang pelabuhan tepat lima menit sebelum slorokan besi dikunci oleh satpam sif sore. Sepanjang jalan menyusuri gang-gang sempit menuju daerah padat dekat pasar, kepalaku dipenuhi sumpah serapah. Orang-orang yang berpapasan denganku sempat menoleh heran, mengira aku sedang membawa buntalan kasur bekas atau barang rongsokan pelabuhan yang dibungkus terpal. Aku tidak peduli. Fokusku cuma satu: sampai ke kosan sebelum induk semangku berdiri di depan pintu untuk menagih uang sewa.
Begitu sampai di lorong rumah petak Kamar Nomor Empat, aku celingukan seperti pencuri.
Suasana sepi. Semua tetangga kos rata-rata masih sibuk di pelelangan ikan. Aku menurunkan tubuh cowok itu dengan cara menjatuhkannya perlahan ke pundakku, lalu menyeret kakinya yang panjang melintasi lantai semen. Aku menendang pintu kayu kamarku sampai terbuka, membanting tubuhnya ke atas kasur lantai yang tipis, lalu cepat-cepat mengunci selot pintu dari dalam.
Brak!
Aku bersandar di balik pintu, napas menderu seperti kompresor tambal ban. "Sialan. Kalau tahu seberat ini, mending tadi kupinta uang bensin duluan sebelum dia pingsan," gerutuku sambil melempar jaket oranyeku ke sudut lantai.
Kamarku sempit, pengap, dan hanya berisi satu lemari pakaian tripleks serta dispenser air lipat.
Keberadaan cowok bertubuh besar ini mendadak membuat ruangan terasa makin menciut. Hawa dingin ganjil yang memancar dari kulitnya mulai menurunkan suhu ruangan, membuat sisa keringat di leherku terasa membeku.
Aku berjalan mendekati kasur, berniat mengambil kotak P3K plastik murahan yang kusimpan di kolong lemari. Namun, belum sempat jemariku menyentuh kotak hijau itu, sebuah gerakan kilat memotong angin di depanku.
Grep!
Pandanganku berputar. Punggungku dihantam keras ke lantai semen yang dingin hingga mataku berkunang-kunang. Sebelum aku sempat berteriak, sebuah telapak tangan yang besar dan kaku sudah mencengkeram erat leherku, menekan saluran napasku sampai napas yang keluar terdengar seperti desisan tipis.
"Ugh... kkhh!"
Cowok itu sudah terbangun. Dia menindih tubuhku dengan lututnya, wajahnya condong ke depan dengan rambut hitam basah yang berantakan.
Luka-luka keperakan di pundaknya berdenyut cepat, memancarkan uap es yang tipis. Tapi yang membuat jantungku berdegup kencang adalah matanya. Pupil vertikal emas itu berkilat penuh ancaman, persis seperti predator yang terpojok di dalam sarang asing. Dia mengira aku adalah bagian dari orang-orang yang mengejarnya di pelabuhan tadi.
Cengkeramannya di leherku makin kuat, dinginnya menjalar membuat tenggorokanku kaku. Aku tidak bisa bernapas. Alih-alih menangis atau memohon ampun seperti gadis-gadis di novel roman picisan, rasa dongkol yang teramat sangat justru naik ke ubun-ubun. Aku sudah lelah, gajiku terancam dipotong, motorku mogok, dan sekarang mahluk aneh yang kutolong ini malah mau mencekikku sampai mati di kamarku sendiri?
Kurang ajar.
Tanganku meraba saku celana kargo dekilku.
Jemariku menyentuh batangan besi dingin yang kukenali dengan baik. Kunci pas ukuran empat belas.
Tanpa ragu sedikit pun, aku mengayunkan lengan kananku ke atas.
Plak!
"Lepas, bodoh!" bentakku, meski suaranya terdengar serak dan tertahan.
Besi tebal itu menghantam punggung tangannya yang sedang mencekikku dengan keras. Bunyi hantaman besi bertemu tulang itu terdengar solid.
Cowok itu mendesis tajam, refleks menarik tangannya kembali karena terkejut dan kesakitan.
Dia mundur beberapa senti di atas kasur, memegangi punggung tangannya yang kini memar kemerahan di antara sela-sela kulitnya yang aneh.
Aku langsung bangkit, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi leherku yang terasa kebas.
Aku mengacungkan kunci pas di depan dadaku, menatapnya dengan pandangan menyalang penuh amarah.
"Kamu kalau mau mengamuk, jangan di kamar kosku! Keluar sana ke rawa kalau mau sok hebat!" makiku, suaraku meninggi tapi tetap kujaga agar tidak terdengar sampai ke kamar sebelah. "Aku ini repot-repot membawamu pakai motor bebek biar kamu tidak diangkut petugas patroli Baron Logistics, tahu tidak? Bukannya terima kasih, malah mau membuatku mati!"
Cowok bermata emas itu terpaku. Dia menatapku dengan ekspresi ganjil—sejenis rasa tidak percaya yang campur aduk. Mungkin selama hidupnya, belum pernah ada perempuan pelabuhan bertubuh kurus yang berani memukul tangannya pakai besi perkakas setelah hampir dicekik mati. Insting liarnya perlahan surut, digantikan oleh kebingungan yang nyata. Pupil matanya yang semula sebaris tipis lambat laun mulai melebar kembali, meski tatapannya tetap waspada.
"Di mana... ini?" suaranya keluar dari tenggorokan, berat, dalam, dan terdengar kasar seperti gesekan batu kali.
"Kamar kosku. Tempat paling aman di Tanjungbalai kalau kamu tidak mau kulit berkilatmu itu dipajang di kantor pusat pelabuhan," jawabku ketus. Aku menurunkan kunci pas, tapi tetap meletakkannya di dekat jangkauan tanganku.
Aku meraih kotak P3K dari kolong lemari dengan sentakan kasar, lalu duduk bersila di tepi kasur.
Aku membuka tutup plastik kotak itu, mengeluarkan sebotol alkohol tiga persen murahan yang labelnya sudah agak robek, segulung perban, dan beberapa butir obat pereda nyeri instan.
"Maju sedikit. Biar kuperiksa luka-lukamu itu," perintahku tanpa ekspresi.
Dia tidak bergerak. Matanya melirik botol alkohol di tanganku dengan curiga.
"Jangan banyak tingkah. Mau sembuh tidak? Kalau luka keperakanmu ini terus-menerus mengeluarkan uap dingin, satu rumah kos ini bisa curiga kenapa kamar nomor empat mendadak berubah jadi kulkas ikan," kataku, meraih pundaknya dengan paksa.
Begitu jemariku menyentuh kulit di sela pakaian robeknya, rasa dingin yang pekat kembali menyengat. Aku menahan diri untuk tidak menarik tanganku. Dengan gerakan cepat dan sengaja tidak lembut, aku menuangkan alkohol tiga persen itu langsung ke atas luka robek terbesar di dada kirinya.
Ssss...
Cairan itu berbuih putih begitu menyentuh pinggiran luka yang berkilat perak. Tubuh cowok itu mendadak menegang hebat. Otot-otot lengannya mengeras, dan dia meringis dalam diam, giginya merapat kuat hingga rahangnya menonjol tajam. Saking menahan perih yang luar biasa, matanya kembali berkilat emas terang selama beberapa detik.
"Sakit, kan? Makanya jangan sok jagoan mencekik orang tadi," kataku, agak puas melihat mahluk besar ini akhirnya bisa merasakan sakit dari sebotol obat murah seharga lima ribu rupiah.
Aku mulai membersihkan sisa cairan berlumpur yang menempel di sekitar lukanya menggunakan kapas. Jarak kami yang dekat membuatku bisa mencium bau yang aneh dari tubuhnya. Bukan bau anyir darah manusia, melainkan aroma yang mengingatkanku pada hutan bakau setelah hujan lebat—bau lumut tua, air payau yang bersih, dan sesuatu yang terasa purba.
"Siapa namamu?" tanyaku sambil melilitkan perban ke lengannya yang kekar.
Dia terdiam cukup lama, memandangi jemariku yang bergerak lincah mengikat simpul kain perban. "Kala," sebutnya pendek, suaranya pelan seperti bisikan angin malam di dermaga.
"Lara," sahutku singkat tanpa menatap wajahnya. "Dan mulai detik ini, kamu berutang banyak padaku, Kala. Biaya bensin motor, harga obat-obatan ini, ditambah kompensasi untuk leherku yang hampir putus karena ulahmu."
Aku berdiri, melangkah ke arah lemari pakaian satu-satunya di sudut ruangan. Aku membukanya, meraba-raba tumpukan kain di bagian paling bawah hingga tanganku menemukan sebuah kain sarung kotak-kotak berwarna hijau tua yang sudah agak pudar. Itu kain sarung peninggalan almarhum ayahku, satu dari sedikit barang yang tidak kujual saat aku kehabisan uang dulu. Bau minyak angin yang khas masih tertinggal tipis di serat kainnya.
Aku berbalik dan melempar kain sarung itu tepat ke wajah Kala.
"Pakai itu," perintahku sambil merapikan sisa kapas ke dalam kotak. "Bungkus tubuh besarmu itu sampai ke dada. Sembunyikan semua sisik atau luka perakmu yang aneh itu. Sebentar lagi anak-anak kos yang lain pulang dari pasar ikan, dan kalau ada yang mengetuk pintu ini untuk meminjam korek api, aku tidak mau mereka melihat ada mahluk aneh bertelanjang dada sedang duduk di kasurku."
Kala menarik kain sarung itu dari wajahnya. Dia memegang kain katun itu dengan canggung, meraba polanya yang sederhana dengan jari-jemarinya yang panjang, seolah benda itu adalah teknologi paling rumit yang pernah dia temui.
Dia menatapku dari bawah runtuhan rambut hitamnya, sepasang mata emasnya merekam setiap gerak-gerikku dengan intensitas yang membuat atmosfer kamar terasa berat. Ada rasa penasaran yang ganjil di dalam tatapan itu, seolah dia sedang berusaha memahami mahluk macam apa aku ini—seorang gadis kurir pelabuhan yang miskin, bermulut ketus, tapi sama sekali tidak gemetar menghadapi ancaman kematian di depan matanya.