laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Kilas Balik Alim Dan Erna
Alim membuka pintu perlahan. Sebelum masuk, ia buru-buru menonaktifkan notifikasi ponselnya, lalu melangkah dengan hati-hati ke dalam rumah yang tampak sepi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan sebelum akhirnya ia masuk sepenuhnya.
Seperti biasa, wajah lelahnya biasanya disambut senyum manis sang istri. Namun malam ini berbeda. Karena pulangnya yang terlalu larut, semua penghuni rumah sudah terlelap. Ia merebahkan tubuh di kursi ruang tamu, mencoba menghapus penat setelah seharian bekerja sebagai satpam toko.
"Mas!"
Panggilan itu menggugahnya saat Alim mulai memejamkan mata. Ia segera beralih duduk.
"Eh, iya, Dek. "
Erna, istrinya, tersenyum lalu mengecup punggung tangan Alim.
"Mas, kok tidur di sini? Kenapa nggak masuk kamar?"
"Takut ganggu kamu sama anak-anak, " jawabnya spontan.
Alim menatap istrinya. Baru saat itu ia menyadari—Erna tampak berbeda malam ini. Ia berdandan. Ada raut kecewa di balik senyum itu, tapi Erna masih bersikap manis padanya.
"Sayang... kamu?" tanya Alim pelan. Ia paham maksud di balik tatapan menawan yang menggoda itu. Namun malam ini, gairahnya padam. Ada rasa tak enak di dadanya.
"Maaf, buat kamu menunggu," ucapnya lirih. Pandangannya jatuh ke lantai, seolah menghindari manik-manik istrinya.
Jawaban itu sudah cukup bagi Erna. Ia tahu suaminya sedang tak ingin bercinta.
"Tidak apa-apa, Mas. Tapi kamu tumben, ya, pulang selarut ini. Sekarang sudah jam dua belas malam. Kenapa?" tanyanya lembut, mencoba mengerti.
Wajah Alim menegang. Tatapannya menghindar—menunduk, sesekali melirik singkat.
"Aku... aku..." ia menelan ludah. Hening melingkupi keduanya.
Erna menatapnya heran. Ia bisa membaca gerak-gerik suaminya; Alim tampak menyembunyikan sesuatu. "Tadi ada sedikit masalah di toko, jadi aku harus nunggu dan baru selesai tengah malam ini. Maaf!" jawabnya gugup.
Erna menatapnya sejenak, tidak ingin memperpanjang dengan lontaran pertanyaan yang ia simpan di kepalanya. "Hem... ya sudah, lain kali kabari dulu ya, Mas. Kan ada HP, biar aku tidak khawatir."
"Iya, Dek."
"Istirahat, Mas!" titah Erna. Alim hanya mengangguk.
Lalu mereka berdua masuk kamar. Alim menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Erna ke arah kasur, merebahkan tubuhnya, mencoba memejamkan mata yang kini hilang rasa kantuknya.
Gemericik air dari luar kamar mandi masih terdengar di telinga Erna. Pasalnya, ia sulit tertidur. Ia membuka matanya lagi, memandang atap langit rumah dengan cahaya lampu yang remang. Pikirannya berputar, mengulang cara Alim menjawab pertanyaan tadi—terlalu kikuk, terlalu berhati-hati.
"Aku sangat mengenal kamu, Mas. Sudah sepuluh tahun kita menikah, mana mungkin aku tidak tahu bahwa ada yang kamu sembunyikan saat ini," gumamnya pelan.
Tak lama setelah Alim keluar, Erna buru-buru memejamkan mata. Di susul Alim merebahkan tubuh di sampingnya, memunggungi Erna.
Mata Erna belum sepenuhnya terpejam. Di tengah cahaya yang remang, ia tahu benda pipih di tangan Alim menyoroti wajahnya — jari-jari itu sibuk mengetik. Siapa yang ia chat malam-malam begini? Untuk apa? Kalau pun urusan kerja, apa sepenting itu hingga harus di tengah malam? batin Erna.
Hening kembali mengisi kamar itu. Hanya suara detak jam dinding menemani malam yang terasa lebih panjang dari biasanya.
Erna menarik napas pelan. Ia tak ingin berpikir macam-macam, tapi hatinya tak sepenuhnya tenang.
Malam Erna berlalu tanpa pelukan, hanya dengan tanda tanya yang menggantung.
Malam itu berakhir dengan diam.
..........
Malam berikutnya dimulai dengan teriakan.
Erna sama sekali tidak tahu bahwa keputusan mendatangi toko tempat suaminya bekerja akan menjadi awal hancurnya keluarga yang ia bangun sepuluh tahun lamanya.
Lima belas menit ia menenangkan diri di balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
Ia bersandar, menahan sesak di dada, matanya membelalak. Tangisnya pecah tanpa suara, tertahan oleh telapak tangan yang menutup mulut.
Setelah yakin dirinya sanggup, Erna berdiri perlahan.
Air matanya membasahi wajah. Amarahnya menggelegak—seperti serigala yang lama tertidur dan kini dipaksa bangun.
Tak ada yang bisa ia pikirkan selain ponsel yang ia genggam.
Tangannya bergetar saat menekan tombol video. Ia arahkan kamera ke dalam kamar—tempat suaminya dan Ratna, pemilik toko itu, saling bercumbu tanpa sehelai kain pun.
Beberapa kali Erna muntah karena jijik.
Setelah beberapa menit merekam, Erna mematikan kamera dan memasukkan ponsel ke saku.
Hening. Napasnya memburu. Dada sesak, tapi tatapannya tajam—seperti bara disiram bensin.
"Brakkk!"
Pintu itu ia dobrak keras.
Tubuhnya bergetar, tapi bibirnya menyunggingkan senyum pahit.
Alim dan Ratna sontak gelagapan, berusaha menutupi diri—padahal beberapa detik sebelumnya Alim masih menikmati tubuh Ratna.
Kini keduanya membeku. Tatapan Erna menusuk dari ambang pintu—dingin, marah, hancur.
Langkah demi langkah Erna mendekat. Ratna tertunduk, Alim menatap istrinya takut.
Tepat di hadapan mereka, tatapan Erna tajam, tegas. Ia merentangkan jari-jarinya.
"Sepuluh tahun, Mas," ucapnya lirih namun tegar. "Selama itu aku taat sama kamu sebagai istri. Aku dukung kamu saat sulit, aku temani kamu dari nol. Pernah kamu lihat aku mengeluh? Pernah aku capek? Aku selalu tersenyum di depanmu.
"Apa sepuluh tahun ini belum cukup untuk kamu setia? Kamu hancurkan semuanya hanya untuk nafsu beberapa malam?"
Tatapannya beralih pada Ratna. "Dan kamu, Ratna. Kamu cantik, kamu kaya. Kamu bisa cari laki-laki yang lebih dari dia. Apa yang kamu suka dari suami aku yang gajinya bahkan pas-pasan untuk hidup kami?"
"Dek... aku nggak pernah ingin mengkhianati kamu. Aku salah. Ratna selalu mendekati aku dan—"
"Mas, kamu tahu kita sama-sama mau. Kenapa kamu nyalahin aku ajah?" sela Ratna cepat.
Erna bertepuk tangan pelan sambil tersenyum pahit. "Hebat. Kalian saling cari pembelaan dengan sesama yang salah. Sama-sama mau atau tidak, kalian tetap berselingkuh," Erna kembali menatap Alim.
Ia kembali menatap Alim. "Mas, sini."
Alim mendekat pelan.
Plakkk!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
"Ini pertama dan terakhir kali aku mengangkat tanganku untuk laki-laki yang selama ini aku percayai. Terima kasih karena selama sepuluh tahun kamu menjalankan kewajibanmu dengan baik."
Alim membeku. Tamparan itu tidak sesakit hancurnya hatinya.
Erna berlari keluar. Tangisnya pecah ketika ia tiba di luar toko. Ia menaiki motornya, pulang dengan air mata yang tak berhenti jatuh.
Sesampainya di rumah, ia bergegas ke kamar kedua putrinya. Mencium mereka, mengelus kepala mereka di sela isaknya—hingga Zaskia menggeliat.
Zaskia membuka mata dan melihat ibunya di sisi ranjang.
Erna buru-buru mengusap air matanya.
"Ibu kenapa? Nggak bisa tidur? Ayah pulang malam lagi?" tanya Zaskia polos, setengah sadar.
Erna tersenyum lembut dan mengangguk. "Ya sudah, tidur sini ajah. Geser dikit, Ibu takut jatuh."
Erna menatap langit-langit sebentar sebelum akhirnya memejamkan mata di samping putrinya, ponselnya menyala—notifikasi pesan di layar tertera Alim, lalu membukanya.
"Aku sudah di kamar, dek. Kamu tidur bersama putrimu?
“Seribu kali aku mengucapkan permohonan maaf, kamu tidak akan menerimanya, dan aku siap dengan konsekuensi atas perbuatan aku padamu. Tapi boleh aku meminta satu hal? tolong bersikaplah seperti tak ada apa-apa di depan anak-anak besok. Bukan demi aku, tapi demi mereka. Maafkan aku sayang.”
Air mata itu kembali menetes, perih, dadanya sesak sakit sekali. Tak ada yang berubah malam itu—kecuali hatinya yang semakin berat.
Pagi pun datang lebih cepat dari yang ia harapkan.
"Dek, jangan ganggu Kakak, ya. Nanti Kak Kia bisa telat sekolah. Sini, kasih pensilnya," pinta Zaskia membujuk adiknya yang berlari membawa alat tulisnya.
Rania berdiri di atas tempat tidur sambil tertawa kecil. "Wkwk!" godanya, meledek sang kakak.
"Kakak bilang berhenti, Ran!" teriak Zaskia sambil mengejar. Tapi adiknya justru makin lari keluar kamar.
"Rania! Berhenti nggak?!"
Suara Zaskia meninggi. Rania menoleh cepat, lalu melempar pensil ke arah kakaknya. Lemparannya keras ke lantai sampai pensil itu patah dua.
Zaskia memungutnya pelan. Matanya menatap tajam adiknya, napasnya berat menahan marah.
"Gara-gara kamu pensil Kak Kia patah! Kakak cuma punya satu, nanti sekolah pakai apa?"
Air mata di mata Rania akhirnya tumpah. Ia menangis keras.
Zaskia hanya menggertakkan gigi, menahan agar kesalnya tidak meledak jadi bentakan lagi.
"Ya Allah, masih pagi loh ini, udah ribut kalian berdua."
Suara Erna terdengar dari arah dapur—keras tapi tetap lembut.
"Kak Kia marah sama aku, Ibu..." adu Rania sambil terisak.
Tak lama, Erna keluar dapur. Ia mendekati Rania, mengelus kepala anaknya yang masih menangis. Zaskia berdiri diam di depan mereka, menatap menyesal.
"Kak Kia kenapa marah sama adiknya?" tanya Erna lembut.
"Pensil Kia dibawa lari sama Rania, Bu. Terus dilempar sampai patah. Pensil Kia kan cuma satu."
Erna menatap Rania dengan lembut. "Rania, boleh bercanda sama Kakak, tapi tahu waktu, ya. Sekarang Kak Kia mau sekolah. Kalau pensil itu punyamu, kamu marah nggak kalau dilempar sampai patah?"
Rania menggeleng cepat sambil menyeka air matanya.
"Berarti Rania salah, kan? Sekarang minta maaf sama Kak Kia."
Rania berjalan pelan ke arah Zaskia. Tangannya terulur. "Maafin Rania, Kak..."
Zaskia tersenyum kecil, menyambut tangan itu lalu menarik adiknya ke dalam pelukan. "Kak Kia juga minta maaf ya, tadi udah bentak kamu."
Erna tersenyum melihat kehangatan mereka berdua. Ia mendekat, merapikan rambut anak-anaknya yang berantakan.
Dari arah dapur, Alim muncul usai sarapan. "Ada drama apa pagi ini?" tanyanya sambil terkekeh, mengusap kepala kedua putrinya bergantian.
"Biasa, Mas," jawab Erna. "Rania jahil sama Kakaknya. Oh iya, pensil Zaskia patah. Nanti tolong beliin dulu sebelum diantar sekolah."
"Iya, Dek," sahut Alim sambil tersenyum.
Erna berjongkok, merapikan kerah seragam Zaskia. Tatapannya lembut, penuh kasih.
"Nak, masih ingat pesan Ibu kalau Kia sedang di luar rumah?"
Zaskia mengangguk semangat. "Tidak boleh ada yang menyentuh bagian tubuh Zaskia, terutama yang digunakan untuk pipis dan buang air besar. Ibu boleh, tapi harus izin sama Kia dulu. Kalau ada teman laki-laki yang mau salim, tidak boleh—cukup senyum sambil menyatukan kedua tangan di depan dada. Kalau ada yang berkata kasar pada Kia, tidak usah dibalas, diam saja selama itu hanya ucapan. Tapi kalau sudah main tangan, maka Kia boleh membela diri, asalkan tahu batasannya."
Erna tersenyum bangga. "Anak pintar. Semangat sekolahnya, ya."
Zaskia menyalami ibunya. "Maaf ya, Bu, Kia nggak bisa bantu Ibu di rumah."
Erna mengelus kepala putrinya. "Nggak apa-apa, Nak. Yang penting kamu rajin belajar."
Zaskia pamit diantar sang ayah. Erna menatap punggung kecil itu dengan senyum bahagia. Memiliki anak sebijak Kia adalah anugerah besar baginya.
Setelah kepergian mereka, rumah terasa lebih tenang. Rania kembali sibuk dengan mainannya di ruang tamu, sementara Erna melangkah ke dapur, melanjutkan membuat kue pesanan orang—kesibukan tambahannya di sela-sela peran sebagai ibu rumah tangga. Tak setiap hari ada pesanan, tapi cukup membuatnya sibuk.
Dua anak itu hanya terpaut setahun, tapi hatinya seolah berada di dua dunia berbeda.
Zaskia lebih dewasa dari usianya, sedangkan Rania—dengan segala tingkah membuat rumah selalu hidup.
“Ibu...” panggilan itu menyadarkan Erna yang sedari tadi melamun. Ia menoleh, kepalanya menunduk melihat Rania berdiri di sampingnya.
“Eh, iya, Nak.”
“Ibu melamun, dari tadi aku panggil nggak denger,” tebak Rania, beralih duduk di kursi samping ibunya.
“Nggak kok, Ibu hanya fokus saja bikin kuenya,” jawabnya. Tatapan Erna fokus pada putrinya itu. “Habis mandi ya, cantik banget anak Ibu.” Ia menoel hidung putrinya dengan hidungnya.
Rania tersipu malu. Ia menutup wajahnya karena pipinya merah sebab pujian ibunya. Gadis kecil enam tahun ini pandai merias diri. Rambutnya yang panjang sebahu ia sisir dengan rapi dan memakai bando biru kupu-kupu.
“Ih bisa malu begitu, buka tangannya, nanti cantiknya nggak kelihatan,” goda Erna, bikin Rania salah tingkah.
“Ibu...” rengeknya manja.
“Ibu...” panggilnya lagi, nadanya serius.
Alis Erna terangkat. “Hmm?” Ia tetap merespons anaknya meski dengan tangannya yang sibuk meremas adonan kue.
“Tadi waktu aku main di depan rumah, ada tetangga yang bilang kalau Rania itu cantik, lebih cantik dari Kak Kia.”
“Rania jawab apa?” tanya Erna penasaran.
“Ucapan terima kasih, Bu,” jawabnya polos.
Erna menghela napas pelan. Tak ada ibu di dunia ini yang sanggup menerima anaknya dibanding-bandingkan. Dulu, hanya telinganya yang mendengar ucapan seperti itu. Kini, anaknya sendiri yang mendengarnya.
“Bagaimana perasaan Rania saat dipuji cantik?” tanyanya lembut.
“Senang sekali, Bu.” Mata Rania berbinar, senyumnya lebar.
“Tapi kalau Kak Kia mendengarnya, pasti sedih. Apa Rania tidak ikut sedih?” suara Erna merendah.
“Kenapa harus sedih, Bu? Kan memang Rania lebih cantik dari Kak Kia.” Rania menirukan nada yakin seperti ayahnya. “Kata Ayah, sesuatu yang fakta harus kita terima dengan lapang dada, biar kita tahu kalau manusia itu nggak sempurna.”
Erna terdiam. Dada kirinya terasa sesak. Bagaimana mungkin anak sekecil ini bisa mengucapkan kalimat seperti itu—tanpa sedikit pun rasa empati, bahkan kepada saudara kandungnya sendiri. Erna menatap wajah kecil itu lama, seolah mencari sisi kelembutan yang pernah ia ajarkan. Apa yang dikatakan suaminya tidak salah, tapi hanya tidak pada tempatnya.
Erna mengelus pipi mungilnya dengan lembut. “Jangan bilang hal ini ke Kakak, ya. Kita tidak bisa mengendalikan omongan orang lain, tapi Rania bisa menjaga omongan saat di hadapan Kakak. Seperti Kak Kia tidak ingin melihat Rania sedih, maka Rania juga harus begitu. Mengerti?”
Rania mengangguk pelan. Erna memeluk Rania erat, mengelus lembut pundak putrinya. Dalam hening, pikirannya beralih takut, bagaimana masa depan kedua anaknya jika orang tua mereka tak lagi bersama.