Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Apalagi sudah bukan rahasia lagi jika sosok bah Lemud di kenal angkuh, pelit, sombong, bahkan sebagian orang mengatainya orang yang serakah.namun tentunya bukanlah tanpa alasan tumang tetap menerima tawaran pekerjaan itu.
Sudah hampir sebulan ini keadaan di kampungnya sulit dengan pekerjaan kuli atau usaha lainya. Terlebih untuk Tumang sendiri yang mengandalkan tenaga, kejujuran, dan keuletan dalam suatu pekerjaan yang tengah di jalaninya.
Apalagi belakangan ini musim kemarau belum usai dan itu berdampak pada lingkungan teruma hasil hutan yang biasanya di andalkan oleh para penduduk. Kerap kali warga di kampung itu sengaja mencari hasil alam seperti rebung, jamur, dan buah buah liar yang bisa mereka cari lalu di jual ke pasar. Namun tidak untuk belakangan ini. beberapa hasil alam itu seperti tiba tiba hilang begitu saja karena dampak kemarau yang membuat sebagian tumbuhan tiba tiba mengering bahkan mati.
Termasuk yang di rasakan Tumang yang biasanya mengandakan semua itu dan menggunakan kemampuannya dalam berburu. Sebab itulah untuk saat ini tumang menyanggupi tawaran dari sosok juragan yang tak lain adalah bah Lemud.
"itu burungnya di usir dong mang. Malah melamun saja kau ini. Ngelamunin apa kau ini hah ?"
Pertanyaan itu yang mengejutkan Tumang ketika melamun di sebuah gubuk. tak jauh di depanya tampak sekumpulan burung pipit yang tampak bertengger sembari memakan butiran padi. Namun semua itu seperti tak di sadarinya saking antengnya ia terbawa suasana pikirannya.
"eh ada mang Darman. Sudah lama ada di sini mang ? terima kasih ya sudah di ingatkan"
Balas tumang pada seorang lelaki yang tampak terseyum kecil lalu ikut duduk di samping Tumang. Sementara tumang dengan segera menarik seutas tali yang terikat di tiang gubuk yang memanjang sampai ke hujung sawah. Di sanalah beberapa orang orangan sawah dan beberapa sobekan kain ikut bergoyang bersamaan tumang menghentak keras tali itu dan berteriak lantang mengusir burung burung itu. lalu tak lama setelahnya, tumang segera duduk kembali dan tersenyum malu pada lelaki yang bernama Darman itu.
"apa yang sedang kau pikirkan mang? ? Masih muda, tampan, belum punya istri, dan sawahmu luas begini. Nikmat mana yang kau dustakan mang"
Ujar mang Darman tanpa menatap Tumang seakan dirinya ikut menikmati keadaan alam yang indah itu.
sedangkan tumang yang mendengar mang Darman mengatakan itu, dirinya tau jika ucapan itu hanyalah sekedar kiasan dan candaan semata.
toh siapa yang tidak tau tentang dirinya dan ke adaannya selama ini. Seorang pemuda yang bisa di katakan hidup miskin dan serba kekurangan. namun tumang tau kemana arah ucapan mang Darman itu.
yang sejatinya maksud ucapan itu adalah agar Tumang tak meratapi nasib buruk apalagi menyesalinya.
"kau lihat padi padi itu mang. Semakin dia berisi, maka dia semakin menunduk. Sedikitpun dia tak sombong bahkan membiarkan burung pipit memakan bijinya satu per satu. Kau tau mengapa padi padi itu membiarkan itu ?"
Kali ini Tumang melirik pada mang Darman seperti tertarik pada makna perumpaan kata kata itu. Sesaat Tumang terlihat mengerenyitkan dahinya lalu perlahan menggelangkan kepala pertanda tak mengerti.
"begini mang. Padi padi itu tau jika di tangkainya itu ada hak orang lain yang harus di berikan. Butiran padi yang di milikinya itu sebagian kecilnya adalah hak burung pipit. sementara butiran padi yang berjatuhan ke dasar tanah itu, itulah adalah imbalan untuknya. Andai saja padi padi itu tumbuh di alam liar, sudah tentu butiran padi yang jatuh itu akan tumbuh dan menjadi rumpun berikutnya"
Imbuh mang Darman sembari tersenyum dan menatap dalam pada Tumang. Seperti sengaja menguji sejauh mana pemuda di hadapannya itu mampu mengartikan filosofi yang di baru saja di gambarkannya itu.
Dan ketika itu Tumang pun terlihat tersenyum sembari berakali kali mengangguk. Dirinya sadar jika perumpamaan itu adalah nasehat untuk dirinya jika suatu hari nanti menjadi orang berisi oleh ilmu maupun harta agar tidak lupa tetap merendah dan tidak melupakan sedekah. Karena sedekah adalah salah satu kunci untuk datangnya rejeqi bahkan lebih besar dari yang di dapat sebelumnya.
"tapi saya tak semujur padi padi itu mang. Saya tak berilmu, saya tak punya harta, apalagi berbagi pada sesama. Untuk bekal emak saja tidak tau akan dapat dari mana. Andai masih ada bapak mang. Mungkin tak akan sesulit ini"
Balas Tumang menimpali ucapan mang Darman namun kali ini dengan raut wajah yang tampak menunduk dan teringat kembali pada bapaknya yang sudah lebih dulu pergi untuk selamanya.
"aeh aeh... Kenapa kau bicara begitu mang. Apa kau pikir alm bapakmu senang kau mengatakan itu hah ?
nih mang... Alm bapakmu itu akan senang jika kau mendoakan kebaikan untuknya. Jaga ibumu, rawat dia seperti amanah terahir yang dia ucapkan padamu dulu.
sekalipun kita hidup miskin, itu hanya menurut pandangan manusia saja mang. Karena di mata Allah orang yang banyak bersukurlah yang di anggap kaya. Kau masih bisa berbagi senyuman jika tak ada harta yang bisa kau sedekahkan untuk membuat orang bahagia. ingat mang... Harta itu hanya titipan. Malah bisa membuat celaka kalau kau tak bisa menggunakannya. Sabarlah mang... Semuanya akan ada waktunya. Dan kau harus ikhlas jika sampai akhir hayatmu hidup seperti ini. Tetaplah bersukur mang dan jangan mencari murka Allah dengan jalan mengambil jalan pintas."
Seketika tumang terbenam dalam lautan nasihat ketika kata kata itu terlontar dari sosok mang darman. Lelaki berpenampilan basajan/sederhana itu pada kenyataanya penuh dengan ilmu ilmu hidup yang bermanfaat.
namun renungannya kali ini seperti terhenti pada kalimat terahir yang di ucapkan mang darman itu. Kalimat ' jangan mengambil jalan pintas' itu seperti mengingatkan dirinya pada kabar samar yang selama ini ia dengar dari warga kampung.
Tak heran jika pada akhirnya Tumang pun menanyakan penjelasan mengenai ucapan itu. sekalipun sudah lama ia mendengar kabar angin itu, namun Tumang berusaha acuh tentang kebenarannya. Namun kali ini dirinya merasa yakin. jika mang Darman baru saja ingin bercerita mengenai kabar itu.
Di mana sudah dua minggu ini kampung sebelah yaitu kampung di mana juragan Lemud tinggal, di gegerkan oleh penampakan sosok pocong yang kerap kali menampakan diri di depan warga. Dan menurut kabar angin yang sempat di dengar tumang, siapa saja yang bisa menangkap sosok pocong itu, maka akan di beri imbalan berupa uang dan 10 petek sawah yang paling luas ukurannya.
"tau saja kau mang kalau aku mau membicarakan itu. Tapi apa benar kau tak tau menau kabar itu dari majikanmu ? (bah Lemud/juragan Lemud)."
Ujar mang Darman setelah sebelumnya dirinya di tanyai Tumang mengenai kabar yang belum jelas itu.
pada mulanya mang Darman yang baru saja selesai mencari rumput di sekitar sewah itu, dirinya sengaja menghampiri Tumang guna memperjelas mengenai kabar itu.
Mengingat Tumang adalah pekerja juragan Lemud dan bisa saja Tumang mendengar langsung dari juragan Lemud serta di ajak untuk berpartisipasi dalam pencarian sosok itu. namun pada kenyataannya, Tumang malah bertanya pada dirinya bahkan tak tau banyak tentang kejadian yang menggegerkan salah satu kampung itu.
"memangnya apa hubungannya pocong itu dengan bah Lemud mang ?
kenapa amang mengira saya lebih tau dan mengira sudah mendengar lansung dari bah Lemud? "
Pertanya itu yang di lontarkan balik Tumang pada mang Darman sembari menatap mang Darman seperti benar benar tak mengerti.
"kau ini bagaimana sing mang. Kan juragan Lemud itu yang mengadakan saembara itu. Dia sendiri yang mengumumkan. Siapa saja yang berhasil menangkap pocong itu dan menyerahkan padanya, maka akan di beri beberapa petak sawah sama uang. Jangan jangan sawah ini mang yang bah Lemud maksud itu. Kalo iya,,, duh beruntung banget ya. Udah dapat sawahnya cuma cuma, dapet padinya pula"