Saat ia terbangun pertama kali ia mendapati dirinya telah melakukan perjalanan waktu kezaman kuno. Yang lebih membuat dirinya terkejut ia tidak hanya terlempar kezaman biasa, tapi zaman Ajaib yang membuat dia sangat takjub.
"Mereka bukanlah manusia biasa, tapi manusia serigala?"
Saat ia masih belum terbiasa untuk hidup dizaman ini cobaan malah datang silih berganti. Abella tidak hanya harus membatu kakaknya yang tiba-tiba kehilangan kekuatannya, tapi dia juga harus menghadapi kegilaan pangeran dari bangsa jin. Belum lagi para siluman dan Iblis yang selalu memburunya.
Gadis yang dulu dianggap lemah entah sejak kapan menjadi keinginan semua orang.
Mampukah ia menjalani hidup barunya?
Simak terus cerita author ya, semoga membantu pembaca terhibur 🙏😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melupakan jati diri
Apakah ini hanya mimpi?
Abella tidak percaya hal mengerikan seperti ini akan terjadi kepadanya. Dia selalu percaya bahwa hal-hal seperti perjalanan waktu hanya terjadi di buku, tidak ada di dunia nyata.
Tapi hari ini dia malah mengalaminya. ia yakin ini hanya mimpi, setelah ia tidur kembali dan nanti ketika dia terbangun semua akan kembali seperti semula.
Rasa kantuknya kembali menyerang, ia benar-benar kembali tertidur setelah meminum beberapa teguk susu domba.
Hingga hari mulai gelap ia baru terbangun kembali.
Saat membuka mata pertama kali yang ia lihat rumah yang sama seperti tadi siang, rumah batu bata merah yang sangat jelek dengan atap daun ilalang yang menutupinya.
"Kenapa aku masih disini?"
Tidak ada yang berubah, jika begini bukankah dia tidak bisa berbuat apa-apa dan menerima takdir yang aneh ini.
'ayo kita lihat Dunia macam apa yang telah ku datangi.'
Saat ia berusaha bangun tubuhnya terasa sakit menusuk membuatnya menggigil. sekujur tubuhnya kesakitan, terutama bagian pundak dan kepalanya, tubuhnya telah gemetar tapi ia berusaha untuk tetap berdiri dengan menahan rasa sakitnya.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuh ini?'
Abella mulai berpikir mungkin ini juga rasa sakit yang ia bawa pasca ledakan itu. meskipun jiwanya telah berpindah, tapi rasa sakit ini tak bisa dihilangkan.
Saat ia berdiri ia hampir terjatuh, untung tuan Dario datang disaat yang tepat langsung menangkapnya.
"Dasar anak lemah. Sudah seharian beristirahat masih tak bisa berdiri sendiri, dasar tak berguna." Tuan Dario mendengus kesal.
Ia benar-benar tak puas melihat putrinya yang tidak berguna. Meskipun begitu ia tetap membatunya kembali berbaring di atas ranjang Batu.
"Cepat minumkan ramuan ini, setelahnya kau akan membaik."
Sebenarnya Abella ingin menolak meminum cairan aneh itu, tapi melihat tatapan tajam tuan Dario ia tak berani mengeluarkan suara.
"Baik,"
Saat Obat diminum, dia merasakan kehangatan di perutnya, membuatnya merasa jauh lebih baik. Meskipun cairan itu meninggalkan rasa pahit di tenggorokannya, ia tetap tak berani mengeluh.
Abella memandang langit diluar. Tadi saat ia bangun pertama kali ia masih melihat cahaya matahari, sekarang sudah terlihat mulai gelap,
"Bagaimana, lebih baik?"
"Mmm..."
"Bagus! siapakah dirimu, malam ini kau harus hadir di pesta, jangan membuat ayah malu lagi."
Pesta?
Pesta apa yang harus dia hadiri?
Apakah dizaman primitif ini juga mengenal pesta?
Dengan ekspresi kosong diwajahnya, Abella mengangguk setuju. Ayah pemilik tubuh ini terlalu menakutkan untuk ia lawan, jadi ia akan bersikap seperti anak baik menuruti semua ucapan ayahnya.
Setelah tuan Dario pergi Abella kembali mencoba berdiri. Ia mulai berkeliling di kamarnya yang terasa aneh.
Lapisan tanah kuning terlihat tidak kokoh, lalu ia menyadari lantai rumah ini juga kotor dan licin. Ia merasa ini tidak pantas disebut rumah, bahkan kandang sapi dizaman modern lebih bagus dari ini.
"Oh... Pakaian apa yang telah aku gunakan. Apa ini kulit hewan?"
ia baru menyadari dirinya terbalut oleh selembar kulit binatang, sepertinya terbuat dari kulit harimau. Ia merasa pakaian ini terlihat tidak senonoh, bagaimana tidak kulit hewan ini hanya menutup sebagian pahanya, sedangkan bagian atas hanya mampu menutupi dadanya. Sedangkan perut, kaki dan lengannya terbuka tanpa penutup apapun.
"Benar-benar aneh! Apa zaman ini tidak mengunakan pakaian yang layak?!"
...
..
.
Sedangkan di luar, tepatnya di tengah-tengah perkampungan suku, orang-orang tengah ribut mempersiapkan pesta untuk nanti malam.
"Apa kau mendengar kabar, Nona dari kepala suku tiba-tiba lupa ingatan. Dukun suku mengatakan dia telah di rasuki arwah, apa kalian percaya?" Seorang gadis bernama Clare memulai percakapan.
"Apa yang kau bicarakan, Clare. Jangan berbicara sembarangan, jika kepala suku mendengarkannya kita akan dalam masalah."
"Apa yang kalian takutkan. Dia hanya putri manja yang lemah, hanya beruntung karena menjadi putri kepala suku. Lihatlah dia, disaat kita bekerja dia malah bermalas-malasan, ini tidak adil."
Clare jelas merasa iri, gadis-gadis di suku sangat tahu akan hal itu. Tapi membicarakan didepan umum ini gadis-gadis lain tak setuju, itu sama saja tak menghormati kepala suku. Jadi gadis-gadis lain memilih menepi menjauhi Clare agar berhenti berbicara.
"Clare terlalu cemburu. Meskipun Nona Abella lemah dia juga tidak menggangu, mengapa Clare sangat membencinya?" Gisela menggeleng tidak mengerti.
"Apa kamu tidak tahu?"
"Apa yang tidak aku ketahui disini?"
Bukan lagi rahasia umum jika Nona besar mereka sangat dimusuhi oleh gadis bernama Clare. jika ada yang tidak tahu mungkin dia pendatang baru, Seperti Gisela yang dari suku sebelah memilih pindah ke desa mereka.
"Dulu sekali, saat Clare remaja dia telah jatuh hati pada tuan Oscar. Tapi dia terlalu bersikap sombong karena ayahnya adalah kepercayaan kepala suku, dia menganggap Tuan Oscar pasti menjadi suaminya." Ellie mulai bercerita, ia mengingat masa lalu mereka dikala masih sangat muda.
"Lalu apa yang terjadi?"
Ellie tersenyum samar, ia kembali mulai bercerita. "kesombongan yang dimiliki berlebihan tidak terlalu baik. Karena terlalu percaya diri Clare mulai bertikai sesuka hati. Menggangu beberapa gadis lain yang juga tertarik pada Oscar, bahkan dia pernah merusak wajah seorang gadis karena cemburu."
"Kabar ini segera membuat wanita di suku kita sangat heboh. Tapi saat itu kepala suku dan istrinya tidak ada di tempat, mereka sedang pergi ke dusun sebelah untuk urusan penting, hanya ada nona Abella yang tertinggal. jadi sebagai putri kepala suku yang dihormati, para wanita meminta dia untuk menegakkan keadilan."
Ellie terdiam sejenak. Masa itu adalah masa yang sangat mencekam, ia masih ingat bagaimana para wanita saling menyerang tapi tak ada yang mencegahnya.
"Karena tidak tega dan dengan paksaan Nona Abella terpaksa ikut membantu. Dia merasa marah melihat kejahatan yang telah Clare lakukan jadi dia berniat memberinya hukuman."
"Tapi karena kesombongan Clare tidak memandang sedikitpun, meskipun Nona Abella anak kepala suku ataupun adik dari pria yang dia sukai, dia tidak menghormati jadi dia memukuli Nona Abella yang lemah dengan cakarnya yang tajam membuat luka lebar di pundak."
"Wah, dia sangat bodoh. Dia pasti dibenci oleh tuan Oscar, bagaimana bisa dia melihat gadis lain melukai adik kandungnya sendiri." Ujar Gisela yang langsung mendapat anggukan dari wanita-wanita lain.
"Kamu benar. Tuan Oscar sangat marah setelah mendengar kabar adiknya terluka. Dia tidak hanya membuat kehebohan sampai hampir membunuh nona Clare, untung cepat dicegah oleh paman Felix (Ayah Clarie)." Ellie menyelesaikan ceritanya, lalu kembali sibuk mendekorasi tempat pesta dengan bunga-bunga liar.
"Lalu bagaimana hubungan mereka sekarang?" tanya Gisela penasaran.
"Sangat buruk. Paman Felix tak lagi menjadi orang kepercayaan kepala suku, dan Tuan Oscar menjauhi Clare sampai tak ingin bertemu, dia akan membuang muka bila bertemu."
"Kasian sekali mereka, apa mereka saling mencintai ya?"
"Tentu saja tidak. Tuan Oscar tidak pernah tertarik pada Clare, dia bahkan tak pernah memandangnya." Ellie lekas membantah.
Bagi gadis-gadis suku tuan Oscar adalah yang terbaik dan dipuja, banyak yang menginginkan dia menjadi pasangan mereka, jadi mereka tak terima jika ada yang ingin memilikinya.