Andrian adalah seorang mahasiswa yang menjalani pekerjaan freelance sebagai fotografer. Sejak kapan semuanya dimulai, tidak ada yang benar-benar tahu. Kini, ia menjual jasa foto jalan-jalan yang tengah populer di kalangan anak muda.
Ia memotret siapa saja yang ingin terlihat cantik di depan kamera. Mereka tersenyum, dan ia.. di balik lensa.. tersenyum lebih lama.
Setiap jepretan membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar. Bukan karena hasilnya ,melainkan karena sesuatu yang hanya ia pahami sendiri. Dua folder tersimpan di komputernya: satu untuk dunia, satu untuk dirinya.
[Jika kamu sudah membaca, tinggalkan Like & komentar kamu sebagai bentuk penghargaan untuk penulis.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Gadis Yang Terlalu Cerah (1)
Langit siang angin berhembus pelan di pelataran kafe kecil tempat Andrian menunggu, kamera tergantung di leher, tangan sibuk menggulir layar ponsel.
Hingga suara langkah ringan terdengar mendekat... dan aroma wangi farpum samar tercium bersamaan.
“Ka Andrian?”
Suara itu lembut tapi ceria. Saat ia mendongak, seorang gadis berdiri di hadapannya.
Rambutnya hitam lurus sebahu, poni tipis menutupi alis. Wajahnya bulat dengan mata besar yang berkilat-kilat, seperti selalu siap tertawa.
Seragam SMA-nya diganti dengan kemeja putih longgar dan rok krem selutut.
“Iya. Bunga, ya?”
“Iya!” Gadis itu tersenyum lebar. “Akhirnya bisa ketemu! Aku udah lama ingin difotoin kayak gini, tapi susah cari fotografer yang murah tapi bagus.”
Andrian membalas dengan senyum tipis.
“Semoga hasilnya sesuai harapan, ya.”
Bunga mengangguk-angguk cepat, ekspresinya penuh semangat, seperti anak kecil yang baru diberi mainan baru.
Dan saat pandangan mereka bertemu, pipinya sempat memerah pelan.
Lokasi yang Bunga pilih ternyata bukit di ujung kota tempat sepi yang populer di media sosial karena pemandangannya indah saat matahari tenggelam.
Andrian memeriksa jarak lewat ponselnya, lalu berkata datar, “Jauh juga, ya. Kalau mau dapat golden hour-nya, harus berangkat sekarang. Tapi pulangnya bisa kemalaman.”
“Oh... gitu, ya,” gumam Bunga, sedikit bingung.
Ia menatap layar ponselnya lalu menatap Andrian lagi.
“Terus gimana dong?”
Andrian menatapnya sebentar..
“Sebenarnya, bisa disiasati. Di sana ada penginapan kecil. Murah, bersih. Kita bisa nginep semalam aja. Jadi kamu nggak capek, dan foto-fotonya bisa lanjut besok pagi juga.”
Bunga terdiam. Jari-jarinya menggenggam tali tasnya kuat-kuat.
“Hmm... nginep, ya? Tapi…”
Andrian tersenyum lembut.
“Nggak usah khawatir. Aku biasa handle klien yang solo trip juga. Aku booking dua ranjang, satu kamar. Aman, santai aja. Aku cuma fokus kerja kok.”
Nada suaranya tenang, meyakinkan tidak terlalu memaksa, tapi sulit ditolak.
Bunga menatapnya ragu, tapi perlahan, senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
“Ya udah deh... asal Kak Andrian janji beneran kerja, ya.”
Andrian hanya menjawab dengan anggukan kecil dan tatapan lembut yang tak bisa ditebak.
Perjalanan dimulai.
Mobil sewaan meluncur meninggalkan kota. Jalanan berkelok, pohon-pohon berbaris di kanan-kiri, dan sinar matahari masuk lewat kaca depan, menimbulkan pantulan keemasan di wajah Andrian.
Bunga duduk di kursi samping, memeluk tasnya, terus berbicara tanpa jeda.
“Ka, Andrian umur berapa sih?”
“Dua puluh empat.”
“Wah, masih muda ya! Aku kira udah tiga puluhan.”
Andrian menoleh sedikit, tersenyum tipis.
“Kenapa? Aku keliatan tua, ya?”
“Enggak, enggak!” Bunga cepat-cepat menggeleng. “Malah keliatan... hm, dewasa gitu. Kayak... ya gitu deh.”
Ia menunduk sambil tertawa kecil, pipinya merah.
Andrian hanya tertawa pelan, matanya kembali fokus ke jalan
Setiap kali ia tertawa, selalu ada jeda aneh seperti ia berpikir dulu, memastikan tawa itu terdengar manusiawi.
“Ngomong-ngomong,” Bunga bersuara lagi, “Kak Andrian udah punya pacar belum?”
Pertanyaan itu diucapkan setengah malu, setengah iseng.
Andrian tersenyum kecil. “Belum. Kenapa nanya gitu?”
“Eh, enggak! Nanya aja ko, hehe.”
Ia menunduk makin dalam, pura-pura melihat keluar jendela.
Suasana di mobil kembali hening, tapi heningnya tidak canggung justru terasa seperti tenang yang terlalu halus.
Andrian melirik ke arah Bunga sesekali, seolah sedang memperhatikan bayangan yang bergerak di sisi pandangannya.
Lalu, entah kenapa, bibirnya terangkat sedikit. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk membuat ekspresinya berubah—dari ramah, menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Masih panjang perjalanannya,” katanya pelan.
Bunga tidak mendengar, sibuk membuka bungkus roti.
Di luar, matahari mulai turun perlahan, dan di dalam mobil itu, dua orang asing melaju menuju bukit di ujung kota.
Ardian/Rangga kembali ke kebiasaan lamanya dan sudah mulai dapat calon korban baru.
lanjutkan