NovelToon NovelToon
The Devil Husband

The Devil Husband

Status: tamat
Genre:Misteri / Perjodohan / Badboy / Kriminal / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelagat Tidak Biasa Suamiku

Seruni Dendam Istri Pertama Bagian 2

Oleh Sept

Masih mencoba untuk sembunyi tanpa bersuara, lama-lama aku pun mulai mendengar dengan jelas. Meskipun takut yang kudengar akan membawa luka, aku tetap penasaran. Siapa yang sedang ditelpon suamiku malam-malam begini?

Kembali aku menyiapkan hati, mencoba tenang lagi. Agar bisa mendengar dan menangkap obrolan apa yang sedang mereka bicarakan di telpon saat ini. Ku dengar mas Erwin mengatakan sesuatu lagi. Sesuatu yang membuatku cukup tertegun.

"Iya, besok aku jemput. Kita ketemu di tempat biasanya saja. Sabar ya! Kamu harus sabar. Sudah malam juga, kamu cepatlah tidur. Jangan bergadang ... iya, Sayang!"

Suara mas Erwin di telpon bagai petir yang langsung menyambar tepat ke ulu hati. Saat ia kembali mengucap kata sayang. Kata yang sangat biasa, tapi ketika mas Erwin mengatakan itu untuk wanita lain, cukup membuat jantungmu berdegup kencang. Kaki ini pun seketika lemas, panggilan mesra itu telah berhasil merenggut semua kekuatanku. Aku membekap mulut rapat-rapat, agar tangisku tidak didengar olehnya.

"Mas Erwin, siapa yang engkau telpon?" batinku menjerit. Aku tidak mampu bertanya langsung, hanya menangis dalam diam tanpa suara.

Tidak mau ketahuan kalau aku baru saja menguping, aku lantas berbalik. Dengan langkah hati-hati aku masuk kembali ke kamar. Ku tarik selimut dan hanya mampu menangis menatap tembok di depanku. Dan sepertinya ini adalah awal dari petaka itu. Di mana hari-hariku mungkin akan terisi nestapa karane ulah suamiku yang dingin padaku, akan tetapi sangat hangat untuk wanita lain di luar sana.

Tap tap tap

KLEK

Kudengar derap langkah kaki mas Erwin yang mendekat. Ia juga sangat pelan menutup pintunya. Mungkin mas Erwin pikir aku sudah tidur. Dan tidak ingin membuat aku bangun. Padahal aku hanya pura-pura. Ya, mungkin aku bodohhh. Tapi ini adalah pilihanku, aku tidak mau rumah tangga ini hancur. Jika aku tanyakan siapa wanita yang ia panggil sayang di telpon.

Biarlah, aku akan mengalah. Belum tentu juga mas Erwin main hati. Mungkin tadi hanya bercanda, hanya gurau belaka. Tapi itu sangat tidak mungkin. Ya Tuhan, hatiku benar-benar gamang. Dirundung dilema yang berat. Jika aku bertanya, aku takut jawabannya akan menyakitkan.

Perang batin pun di mulai. Aku menepis semua pikiran miring. Mencoba mengatakan pada diriku sendiri. Semua baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja.

'Aku istri sah mas Erwin. Suamiku pria yang memiliki pekerjaan mapan, dia juga lumayan tampan. Pasti banyak wanita yang melirik suamiku ... jangan khawatir Seruni ... kamu tetap pemilik sah. Tidak peduli banyak wanita penggoda, mungkin mas Erwin hanya butuh selingan!' ucapku dalam hati.

Aku mencoba kuat, tapi separuh hatiku ternyata tidak bisa aku dustai. Mataku kembali perih, malam ini aku benar-benar menangis dalam kebisuan. Betapa lemahnya aku, apa karena cinta ini sudah mulai tumbuh?

Bagaimana rasa itu tidak tumbuh? Selama ini mas Erwin bahkan menyentuhku dengan lembut. Bahkan dia adalah pria pertama yang sudah merobek selaput darah perawanku. Ya, meski dia terlihat acuh dan dingin ... setidaknya ada sedikit kehangatan saat kami berhubungan.

'Jangan-jangan mas Erwin begini karena aku kurang berani saat di ranjang? Apa dia tidak puas dengan apa yang aku berikan? Apa benar seperti yang aku dengar menurut kata orang-orang? Jadilah pe la cur ketika malam bersama suamimu. Apa aku kurang membuat suamiku puas?' Aku terus berpikir yang aneh-aneh, hingga tanpa sadar mata ini mulai terpejam.

***

Esok harinya. Suara burung di pohon dekat jendela bersahutan. Aku lihat sepasang burung kecil sedang bertengger di ranting. Tidak jauh dari sana, ada lagi burung yang terlihat hanya seorang diri.

Mendadak aku tersenyum simpul, kemudian kembali merapikan gorden kamar. Mas Erwin sedang mandi, aku pun sudah bangun pagi-pagi sekali. Dan sedikit-sedikit aku memakai bedak, untuk menutupi mataku yang sembab.

"Seruni ... Runi!"

Aku menoleh, kulihat suamiku baru keluar kamar mandi.

"Iya, Ma."

"Kemejaku yang biru mana? Aku ingin pakai itu."

Aku langsung beranjak, dan mengambil pakaian yang suamiku mau. Tapi ia langsung menatap dingin.

"Bukan! Bukan ini!"

Aku heran, lalu yang mana? batinku.

"Yang mana, Mas?"

"Sudahlah! Aku ambil sendiri!"

Meski hatiku merasa tidak nyaman, aku memaksa untuk tetap bersikap biasa. Bahkan mencoba untuk tersenyum.

"Kok belum disetrika?" Wajah suamiku masam seketika.

"Baik, Mas. Aku gosok sekarang!" Kulihat suamiku menghela napas panjang. Sepertinya dia kesal karena kemeja ini terlewatkan tidak aku gosok.

'Kenapa aku teledor begini!' batinku kemudian menyiapkan tempat gosokan baju.

"Kalau kamu gak sempat, laundry saja!" ucapnya sambil mengambil kemeja lain yang sudah siap pakai.

Aku hanya menunduk, kemudian melanjutkan apa yang sebelumnya aku lakukan. Sesaat kemudian, kuberikan kemeja yang suamiku minta. Tapi dengan datar suamiku menolak.

"Tidak usah, aku pakai ini saja," ucapnya lalu meraih tas di atas meja. Aku hanya diam. Ya, Hanya bisa diam saja. Apalagi saat suamiku kembali berbicara.

"Malam ini aku pulang telat, gak usah siapin makan malam untukku."

"Lembur lagi, Mas?" lidahku spontan bertanya dengan lancar. Biasanya bisa aku tahan. Entah kenapa saat itu aku seperti kelepasan.

"Hemm!" jawab suamiku singkat.

Aku pun mengangguk pura-pura mengerti, meskipun dalam hati ingin bertanya. Mengapa suamiku selalu pulang malam? Mengapa ada bill book hotel? Apa suamiku lembur di hotel? Pikiran-pikiran buruk kembali memenuhi kepalaku.

Tin tin tin

Aku kaget, suamiku sudah masuk mobil dan menyalakan klakson agar aku menutup pagar. Buru-buru aku melangkah, hanya karena melamun membuat aku tidak konsentrasi.

"Kunci pintunya!"

Aku mengangguk menatap suamiku yang terlihat dari kaca mobil yang dibuka sebagian itu. Dan selepas mas Erwin pergi, aku mencoba melakukan hal yang biasanya aku lakukan. Sayang, gara-gara kejadian semalam, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi serta fokusku menjadi kacau.

Sudah satu cangkir yang aku pecahkan saat mencuci piring tadi. Pikiran ini sangat kacau, hingga aku putuskan untuk menelpon ibu panti yang sudah seperti ibuku sendiri. Pengasuh panti asuhan yang sudah sudi merawat serta memberikan nama padaku.

Ingin mencari ketenagan hati lewat kata-kata beliau, aku pun menekan nomor bu Fatimah di ponselku.

"Assalamu'alaikum, buk." Sapaku di telpon saat sudah tersambung.

"Waalaikumsalam, Seruni. Apa kabar? Lama gak telpon ibuk?"

Hanya mendengar beliau menjawab salam dariku, hati ini rasanya langsung adem. Ya, hanya bu Fatimah lah pelipur laraku selama ini. Sampai akhirnya aku mau dijodohkan itu pun karena desakan beliau.

"Alhamdulillah, baik. Ibuk sehat?"

"Alhamdulillah, ibu sehat. Bagaimana kabar nak Erwin? Apa kalian baik-baik saja? Akhir-akhir ini ibuk kok kepikiran kamu. Eh ... sepertinya kamu kerasa ya? Langsung telpon ibuk," ucap bu Fatimah. Aku dengat dari suaranya terdengar nada khawatir.

"Seruni sama mas Erwin baik-baik saja, Bu!" ucapku bohong.

"Syukurlah. Oh ya ... bagaimana? Sudah ada tanda-tanda kamu hamil?"

Aku langsung menelan ludah, dalam hati tersenyum miris.

"Belum, Bu."

"Sudah, tidak apa-apa. Ibu hanya tanya, jangan dipikirkan."

"Baik, Bu."

"Eh. Ibu ada tamu. Nanti sambung lagi ya?"

"Nggeh, Bu. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam!"

Tut Tut Tut ...

Niat hati ingin bicara lama dengan bu Fatimah, tapi sepertinya beliau sibuk. Alhasil aku seharian hanya menonton TV di rumah. Atau membersihkan rumah yang sudah rapi sejak awal. Ya, karena belum ada anak kecil, maka rumah kami jarang sekali berantakan. Selalu rapi dan barang tertata sesuai tempatnya.

Bosan, aku mencoba main ponsel. Ku lihat iklan di beranda media sosial. Banyak sekali yang menjual baju haram wanita yang cukup membuatku mengerutkan dahi.

"Siapa yang mau memakai baju seperti ini?" gumamku.

Sejenak aku tersadar, aku punya satu kado entah dari siapa. Penasaran, aku mencoba mencarinya. Seingatku, aku menyimpannya di bawah gantungan lemari. Dan benar saja, aku punya satu baju yang membuatku geli itu. Masih ada bandrol, mereknya masih menempel. Memang belum pernah aku pakai. Karena melihatnya saja aku sudah merinding.

Tapi mendadak dalam kepalaku seperti ada yang berbisik. 'Apa sebaiknya aku pakai ini nanti malam?' Tanpa sadar aku tersenyum malu, pipiku mungkin merona karena geli membayangkan jika aku memakai ini.

***

Pukul 9 malam.

Aku mondar-mandir di depan pintu, menanti mas Erwin yang sedang ke kamar mandi. Dia baru pulang sesaat yang lalu.

KLEK

Terdengar suara pintu terbuka, aku langsung naik ke ranjang dan menarik selimut. Aku sebenarnya memakai piyama lengkap, hanya saja di balik piyama itu, aku sembunyikan pakaian yang mungkin akan membuatku malu selamanya.

Demi menarik hati suamiku, sepertinya aku harus melakukan cara ini. Anggap saja mungkin aku sudah gila, haus perhatian dari suamiku sendiri. Tidak masalah, dari pada aku mendengar dia memanggil sayang pada wanita lain. Itu hanya menyisahkan rasa sakit yang tidak bisa aku ungkapkan.

Kulirik sekarang mas Erwin sedang ganti pakaian tidur. Tapi tidak langsung menyusuku ke ranjang, dia malah menyalakan laptop dan duduk di sofa kamar.

"Tidak tidur, Mas?" tanyaku basa-basi.

"Tidurlah duluan. Masih ada yang harus aku kerjakan."

Bibirku mengerucut, aku lihat suamiku bekerja dengan serius. Sepertinya ia memang sibuk bekerja, hingga aku ketiduran karena lelah menunggu suamiku.

***

Pukul 12 malam

Aku terbangun karena suara nyamuk yang mendenggung di telinga. Ku tatap sofa di mana hanya ada laptop yang terbuka, sedangkan suamiku kembali hilang.

'Apa dia telpon wanita lain lagi?' batinku.

Aku sudah pesimis, tapi tiba-tiba ku dengar gemricik suara air di kamar mandi. Aku langsung lega.

"Kenapa aku selalu berpikir buruk?" gumamku lirih.

Baru saja aku merasa lega, menepis segala gunda dan pikiran buruk tentang suamiku. Tapi ketika telingaku menangkap deesahan aneh dari kamar mandi, otakku kembali beku. BERSAMBUNG

IG Sept_September2020

1
Hariyanti
😱
Khansa Sutresno
atm jgn dibawa, ckp ambil smua uangnya... atm kredit card buang, jgn bwa apapun ato klo perlu jgn dibuang tp dibakar mlh gk ninggalin jejak...
Juna Dong
luar biasa
@bimaraZ
leganya di erwin udah lenyap dari bumi🤣🤣🤣capek raga pindah2 terus
Maryam Renhoran
author,,,,,udah yaa menderitanya,
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2
Kios Flio
👍👍🙏🙏
Maryam Renhoran
biadab,,,,hatiku ikut sakit thor, sampai g bs nafas
Zubaidah Harahap
mantap jalan ceritanya ngeri 2sedap sambil geram, mudah mudahan penulis sehat bisa menuliskan cerita lagi yang kita tidak bosan bacanya.
Zubaidah Harahap
lanjutkan cerita nya
rahayu rahayu
Luar biasa
rahayu rahayu
Biasa
Hartati
wah mantep bener2 menguras emosi dan jantung mutilasi aja tuh si Erwin sama si Riana
Hartati
aaa Erwin malu meong
Hikmah
sudah diintai kok masih berani tinggal sendiri.kalau niat ingin lepas seharusnya pergi lagi dr tempat itu.atau pindh kontrakan
Omha Achun
Luar biasa
komalia komalia
sampai ku belabelain malam biar sampai tamat biar besok lanjut judul baru
Sept September: terima kasih banyak kak liaaaaaa
total 1 replies
komalia komalia
apa isi nya dan dari siapa kadang bikin kita bertanya tanya
komalia komalia
dendam kaya nya author sama seruni sampai di buay menderita terus menerus
komalia komalia
cerita apadan kenapa sama si raga ada laki laki yang tulus banget dokter rian malah di bunuh si erwin
komalia komalia
penderitaan nya ko engga berkesudahan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!