"Kamu akan terus dihantui rasa bersalah Dinda. Dan kamu tidak akan bisa lepas dari semua ini. Jika kamu beranggapan, membunuh ku dapat menghentikan semuanya, kamu salah Dinda. Justru kamu akan memulai semuanya. Kamu akan terus dihantui rasa sakit dan penderitaan kemana pun kamu pergi."
Bagaimana seorang Dinda bisa mengalami berbagai hal aneh sekaligus mengerikan dalam hidupnya?
Bisakah dia melalui semua rintangan yang menghadang?
Akankah dia sanggup berjalan hingga akhir?
Peringatan : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan sang penulis. Dan tidak ada maksud dari Sang Penulis untuk menyinggung suatu pihak manapun. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada bahasa atau pun perkataan yang tidak pantas.
Dan tentunya Sang Penulis tak pernah bisa lepas dari kesalahan.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku Dinda : Episode 2
"Din!?" (Raihan)
Lagi-lagi suara Raihan mengagetkan aku.
"Ehh... Iya Han maaf maaf, ko' Beni bisa ikut sih Han?" (Dinda)
"Ya emangnya kenapa Din? Justru seru kalau dia ikut. Bisa kita jadiin hiburan nanti. Haha." (Raihan)
Raihan memang tidak bisa menghilangkan kebiasaan bercandanya yang selalu kelewatan. Tidak jarang juga teman-temannya di kampus yang menjadi korban bercandanya.
Meskipun begitu, tapi Raihan anak yang baik. Raihan selalu mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia perbuat. Mungkin itulah salah satu hal yang membuatnya dikenal banyak orang dikampus.
"Ya udah terserah kamu Han, tapi tolong ya Han kali ini jangan buat masalah. Cukup sebatas hiburan. Oke?". (Dinda)
"Oke siap. Tenang aja Din." (Raihan)
"Oke. Ya udah ya Han. Aku tutup dulu teleponnya. Sampai ketemu hari Minggu." (Dinda)
"Oke." (Raihan)
Setelah percakapan di telefon malam itu dengan Raihan. Aku langsung tertidur sangat pulas. Hingga aku baru sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 09:00.
Aku melakukan aktivitas ku seperti biasa. Yahh... dengan kesendirianku ini sebenarnya aku merasa sangat kesepian. Hidup tanpa kasih sayang orang tua seperti anak anak yang lainnya.
Semua ujian ini begitu berat. Lebih berat lagi ketika aku mengetahui bahwa ada yang lain dalam diriku. Dulu ketika usia masih 19 tahun, aku diurus oleh nenekku.
Aku rindu saat saat seperti ini, ketika nenek ku menceritakan pengalamannya sewaktu masih muda. Dan dia ketika membongkar seluruh rahasia keluargaku.
Ternyata itu menjadi hari terakhir aku melihat nenek ku. Juga hari terakhir aku mendapatkan kasih sayang darinya. Aku sangat merindukannya.
Ya tapi sudahlah, semuanya sudah berlalu. Mungkin seharusnya aku mulai mencari kegiatan yang lain. Pekerjaan yang lain, agar aku tidak terus memikirkan urusan orang lain.
Setiap orang yang datang padaku, masalahnya rata rata sama. Yaitu tentang ilmu kebal, santet, guna guna, juga hal mistis yang lainnya.
Bagiku itu sudah menjadi makanan sehari hariku. Makanan yang tak bisa memberiku gizi apapun. Ketika aku bercermin pun, tubuhku terlihat kurus. Bahkan mungkin sangatlah kurus.
Menjadi orang yang memiliki kelebihan memang gampang gampang susah. Aku harus bisa mengatur hidupku. Dan juga kehidupan orang lain.
Hmmmm ......
Setelah detik, menit, jam dan hari berlalu. Akhirnya waktu liburan bersama teman teman ku pun tiba. Aku pandangi wajah ceria mereka yang menyambut ku keluar dari rumah ku.
Tampaknya mereka sangat senang aku bisa ikut liburan bersama mereka kali ini. Tapi, masih ada sesuatu yang membuat aku bertanya tanya.
Kenapa mereka membawa anak kecil di dalam mobil?
Bukankah ini....
Ya Tuhan...
Ternyata setelah aku melihat lebih jelas dan semakin dekat, ternyata anak itu tembus pandang. Walaupun aku terbiasa dengan hal hal semacam itu. Namun kali ini aku merasakan sesuatu yang tidak beres.
Aku hanya diam dan tersenyum kecil kepada teman teman ku. Mereka pun hanya memandangi aku tanpa sepatah kata pun, tapi dengan raut wajah yang penuh pertanyaan.
Bagaimana tidak?
Karena tatapan mataku hanya tertuju oleh sosok yang ada di dalam mobil Raihan.
"Woy Din! Kamu kenapa sih?" (Sella)
"Ehh ehmmm... Ngga papa Sel." (Dina)
"Udah Din, kita kan mau liburan. Mukanya yang ceria dong, ngga usah tegang. Hehehe.." (Jefri)
"Iya Ka Dinda. Aku seneng banget Ka Dinda bisa ikut." (Rahma)
"Iya Din. Ini waktu yang paling ditunggu tunggu sama kita." (Raihan)
"Iya aku juga seneng banget bisa kumpul sama kalian. Makasih ya udah di jemput." (Dinda)
"Santai Din santai. Ya Udah ayo kita berangkat." (Jefri)
Akhirnya kami pun langsung berangkat menuju lokasi. Karena perjalanan kami sangat jauh, tidak lupa kami mampir ke sebuah supermarket untuk membeli beberapa makanan instan.
jadinya ngeganggu banget
baca sinopsisnya kliatanbya lymayan asik ceritanya,pas udh baca,lsg drop dgn gaya penulisan
ayooo dikoreksi thor...biar bs jd penulis beneran,bkn abal2 yg banyak berseliweran di platform ini