Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Seorang gadis nampak tersenyum lebar saat gelar sarjana berhasil tersemat di belakang namanya.
Masih menggunakan seragam wisuda gadis itu berdiri penuh harap akan kedatangan seseorang yang ditunggunya sedari tadi.
"Carol, mungkin Andrew tidak datang."
"Aku yakin dia pasti akan datang, tunggu saja." ucapnya bersemangat.
Helena menghela nafas, dia kemudian menatap putri pertamanya, Calie supaya membujuk Carol untuk pulang.
"Carol, Andrew itu super sibuk. Dia.."
"Maaf, aku terlambat." suara bariton seorang pria yang sangat Carol kenali mulai terdengar.
Carol berbalik, dia mendapati seorang pria dewasa berdiri tepat di belakangnya. Mata gadis itu berbinar senang.
"Happy Graduation, kids." ucapnya tulus.
Sebuket bunga mawar asli dengan berbagai macam warna Carol terima, gadis itu tersenyum sambil memandangi pahatan wajah ciptaan tuhan yang begitu tampan ini.
"Thank you, dan tolong berhenti memanggilku dengan sebutan itu."
"Oh, why?" tanyanya heran.
"Karena aku sudah besar, aku sudah lulus kuliah."
Helena, Calie dan Andrew pun terkekeh mendengarnya.
"Baiklah, karena kak Andrew sudah datang ayo kita berfoto dulu!" ucapnya sangat bersemangat.
Carol mengeluarkan ponsel dari tasnya, kemudian menarik Andrew ke dekatnya.
"Aku sama kak Andrew dulu ya." Carol memberikan ponselnya pada Calie untuk memotret.
"Are you seriously?" tanya Calie bingung.
"Serius kak, kak Andrew ini inspirasiku. Kalau bukan karena dia aku pasti sudah mogok kuliah."
Calie mengendikan bahu dan menurut saja, dia mengambil beberapa foto adik dan mantan suaminya.
Barulah mereka melakukan sesi foto bersama. Dan sebagai perayaan Andrew mengajak Helena, Calie dan Carol untuk makan bersama di salah satu restoran Korea.
Dia benar-benar tau Carol sangat menyukai makanan dari negara itu.
Semua makanan dan minuman tersaji dengan rapi di atas meja, mata Carol berbinar melihatnya.
"Setelah sekian lama karena sibuk dengan kegiatan kuliah, akhirnya aku bisa bertemu dengan makanan-makanan ini lagi." ucapnya girang. Dia sampai bertepuk tangan kecil karena senang.
Dan semua itu tak luput dari pandangan Andrew, dia tersenyum kecil. Terlalu kecil sampai tidak ada satu orangpun yang menyadarinya.
Keluarga yang dulunya adalah keluarga itupun makan dengan tenang sampai tiba-tiba Carol bersuara, "Sesuai yang kakak janjiin karena sekarang aku sudah lulus, jadi aku mau nagih.."
"uhukkk uhukkk.." karena kaget Andrew tidak sengaja menelan makanannya, dia tersedak.
Dan dengan sangat sigap Carol langsung menyodorkan gelas berisi air putih padanya. Sampai batuk itu mereda.
Sementara Andrew menelan ludah, dia memandangi mantan adik iparnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak!" panggil Carol. Namun Andrew tetap tidak bergeming.
"Kak Andrew!"
"I..iya iya, oke. Mulai minggu depan kamu akan menjadi anak magang di perusahaanku." jawabnya sedikit terbata.
Mendengar itu Carol tersenyum puas, akhirnya perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Dia sudah mati-matian mengesampingkan semua egonya demi menuntaskan kuliah yang sangat membosankan itu.
"Baiklah, aku akan segera berkemas." balasnya super senang.
"Maaf ya, dia selalu menyusahkanmu." ucap Helena pada mantan menantunya.
"Tidak apa-apa Nyonya, lagipula Carol sudah aku anggap sebagai adik sendiri." balas Andrew.
Carol melengos mendengarnya, demi apapun dia tidak suka Andrew menganggapnya seperti itu. Dia kemudian menyimpan alat makannya dan berdiri.
"Kenapa?" tanya Calie heran.
"Mau ke toilet sebentar."
Carol berjalan sendirian, dia membuka pintu toilet dengan sedikit kesal kemudian berdiri di depan kaca wastafel.
"Kita lihat aja nanti. Aku yakin kamu tidak akan bisa lagi menganggapku seperti itu." gumamnya penuh tekad.