Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Terjebak di Pangkuan Sang Penguasa
Langkah kaki Kamilah terasa begitu berat saat menyusuri koridor lantai paling atas gedung perkantoran Syah Corporation. Karpet tebal bernuansa abu-abu gelap di sepanjang lorong seolah meredam setiap jejak kecemasannya. Di ujung lorong, dua orang pengawal bertubuh tegap berdiri siaga di depan pintu ganda berbahan kayu mahoni.
"Nona Kamilah?" seorang pria berjas rapi yang merupakan asisten pribadi di sana menyambutnya dengan senyuman formal.
Kamilah hanya mengangguk pelan. Sebagai anak ketujuh dari Keluarga Ye, keberadaannya selama ini hampir tak pernah tersentuh publik. Ia selalu disembunyikan dari dunia luar, bersembunyi di balik bayang-bayang kejayaan keluarganya.
"Tuan Rizky sedang menunggu di dalam," kata asisten Tuan Rizky sambil membukakan pintu setinggi tiga meter tersebut.
Kamilah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya saling bertaut rapat di depan tubuh, meremas ujung gaun sederhananya dengan gelisah. Dadanya bergemuruh hebat. Kondisi di rumah sedang benar-benar kacau—Kakek tercintanya sedang terbaring sakit parah di rumah sakit, dan konflik internal Keluarga Ye mengancam akan menghancurkan segala hal yang tersisa.
Kakek sakit parah, Keluarga Ye dalam kekacauan... Harapan terakhir Kakek hanyalah melihatku menikah dengan pewaris utama Keluarga Syah, bisik Kamilah dalam hati, mencoba meneguhkan mentalnya sendiri. Meski aku belum pernah bertemu dengannya sama sekali, demi Kakek... aku harus kuat. Ayo, Kamilah, semangat!
Dengan napas terengah pelan, Kamilah melangkah melewati ambang pintu. Ruang kerja itu luar biasa luas, didominasi kaca tebal yang menampilkan panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian. Di tengah ruangan, tepat di atas sofa kulit hitam yang mewah, duduk seorang pria dengan postur tubuh tegap dan aura dominan yang menekan udara di sekitarnya.
Rizky Syah—penguasa tunggal dunia bisnis Kota Jakarta. Pria yang dingin, tak tersentuh, dan ditakuti oleh lawan maupun kawan.
Kamilah memberanikan diri memberhentikan langkahnya beberapa meter di depan sofa. Dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, ia mengutarakan maksud kedatangannya.
"Aku... calon tunanganmu," kata Kamilah tegas, mencoba menatap lurus ke depan.
Rizky tak langsung menyahut. Pria itu menyilangkan kakinya, menyesap cangkir kopi di tangannya santai sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja kaca. Matanya yang tajam menatap gadis di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Itu dia..." gumam Tuan Rizky pelan. Ada binar aneh yang melintas di balik manik matanya yang gelap.
Kamilah yang merasa canggung berniat melangkah mundur satu titik untuk merapikan posisi berdirinya. Namun, hak tinggi sepatu yang jarang ia kenakan mendadak tersangkut di pinggiran karpet tebal.
"Ah!"
Kamilah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan secara mendadak. Ia mencoba menggapai udara, tetapi gravitasinya menariknya lebih cepat.
BRUK!
Bukannya menghantam lantai keras, Kamilah justru jatuh terduduk tepat di atas paha tegap Rizky yang sedang duduk santai di sofa. Kedua tangannya secara refleks mencengkeram bahu pria itu untuk menahan tubuhnya sendiri. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter.
Suasana ruangan seketika hening. Kamilah bisa merasakan hembusan napas hangat Rizky menabrak kulit pipinya.
Memalukan sekali! Bagaimana bisa aku melakukan kesalahan sebodoh ini?! ceracau Kamilah dalam hati. Wajahnya merona merah padam karena malu yang tak tertahankan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk segera bangkit, tetapi sebuah tangan kekar dengan cepat melingkari pinggangnya, mengunci posisi Kamilah di atas pangkuan tersebut.
Jari-jemari panjang Rizky bergerak perlahan, memegang dan mengangkat dagu Kamilah ke atas, memaksa gadis itu menatap matanya secara langsung. Sebuah ukiran senyum tipis yang sarat akan daya pikat terbit di bibir pria itu saat melihat ekspresi panik di wajah polos Kamilah.
"Sudah banyak yang kulihat melemparkan diri padaku..." ujar Rizky dengan suara berat dan serak yang menggoda, "tapi belum pernah ada yang seburu-buru ini."
Kamilah terpaku. Sensasi dingin dari sentuhan jari Rizky di kulit dagunya berbanding terbalik dengan hawa panas yang membakar dadanya saat ini.
Menurut data yang kubaca, Rizky Syah berasal dari keluarga terhormat yang sangat menjaga etika. Tapi kalau dia tipe pria yang suka bermain-main seperti ini... lebih baik batalkan saja pernikahan ini! seru Kamilah dalam hati. Kejengkelannya mulai membumbung tinggi.
Namun, sebelum Kamilah sempat menepis tangan pria itu dan menyuarakan protesnya, Rizky mendadak memajukan wajahnya.
"Banyak perempuan yang melemparkan diri padaku, dan semuanya langsung menolakku atau kutolak," bisik Rizky persis di depan bibir Kamilah. "Tapi khusus untukmu..."
CUP.
Bibir hangat Rizky menyambar bibir tipis Kamilah tanpa peringatan. Sebuah ciuman menuntut yang dalam dan mengunci seluruh kata-kata yang hendak keluar dari tenggorokan Kamilah. Gadis itu terbelalak lebar, tubuhnya kaku sepenuhnya di bawah kendali sang penguasa Jakarta.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Rizky melepas pagutannya perlahan, menyisakan jarak tipis di antara mereka.
"...Calon tunanganku yang tidak akan pernah kutolak," lanjut Rizky dengan tatapan mata yang membakar.
Napas Kamilah memburu. Tangannya yang menempel di dada Rizky bisa merasakan detak jantung pria itu yang stabil. Mengingat kembali misi utamanya datang ke tempat ini, Kamilah mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri dan mengabaikan getaran aneh di dadanya.
"T-Tuan Rizky... aku senang kamu menghormati perjodohan keluarga kita," ucap Kamilah terbata-bata, mencoba bersikap formal kembali meski posisinya masih berada di pangkuan pria itu. "Aku... aku ingin membicarakan pernikahan kita lebih lanjut."
Rizky menaikkan sebelah alisnya. Tangannya di pinggang Kamilah justru merapat, menekan tubuh gadis itu makin mendekat ke tubuhnya.
"Tidur bersama? Boleh saja," sahut Rizky santai dengan nada bicara mengagoda. "Karena kamu begitu agresif sejak awal masuk, malam ini aku akan membuat pengecualian."
Kamilah tersentak kaget. Tidur bersama?! Aku bicara tentang prosedur pernikahan, kenapa pikirannya melompat sejauh itu?!
Namun, kepanikan Kamilah segera tertutup oleh kenyataan pahit yang membayangi keluarganya saat ini.
Secepat itukah? bisik Kamilah pada dirinya sendiri di dalam hati. Rasa takut mulai merayap, tetapi wujud Kakeknya yang terbaring lemah di ruang ICU kembali terbayang. Tapi... Kakek hanya punya waktu tiga bulan lagi menurut dokter. Lagipula, kami memang akan menikah. Cepat atau lambat, semuanya akan sama saja. Tutup mata... dan semua ini pasti berlalu.
Melihat kepasrahan yang mendadak muncul di mata jernih Kamilah, tatapan Rizky berubah makin gelap dan intens. Pria itu menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Kamilah, lalu berdiri tegak—menggendong gadis itu dalam posisi bridal style tanpa usaha berarti.
"Buka mulutmu, aku akan menciummu lagi," perintah Rizky rendah dan mutlak.
Tanpa menunggu persetujuan, Rizky melangkah lebar membawa Kamilah masuk ke dalam ruang istirahat pribadi yang tersembunyi di balik dinding ruang kerjanya. Ia menaruh tubuh mungil Kamilah ke atas ranjang berukuran king size, lalu mengikis jarak di antara mereka kembali. Ciuman panas kembali mendarat di bibir Kamilah, kali ini lebih menuntut dan pekat.
Di tengah penyatuan napas mereka yang makin memburu, Rizky menghentikan gerakan bibirnya sejenak. Matanya menatap dalam pada manik mata Kamilah yang berair.
"Sakit, tidak?" tanya Rizky pelan dengan suara yang terngiang halus.
Kamilah memejamkan matanya rapat-rapat, meremas sprei sutra di bawah jemarinya.
Sakit... jawab Kamilah dalam hati, merasakan kekosongan sekaligus pergolakan emosi di dadanya. Tapi hanya rasa sakit seperti inilah yang membuatku benar-benar merasakan cinta dan ikatan yang nyata...
"Kamu suka?" bisik Rizky lagi, suaranya terdengar seperti mantra yang menghipnotis.
Tanpa menunggu jawaban lisan dari Kamilah, Rizky kembali menunduk, meneruskan ciuman dalamnya yang seolah ingin menyerap seluruh keberadaan gadis itu ke dalam pelukannya.
Di balik dominasinya malam itu, Rizky menyimpan rapat sebuah rahasia besar di dalam benaknya saat memandangi rupa cantik Kamilah di bawah kungkungannya.
Kamilah... kakakmu yang memiliki sister complex parah itu sudah menyembunyikanmu dari duniaku selama bertahun-tahun, batin Rizky dengan senyum kemenangan yang tersembunyi. Tapi itu tidak masalah. Pada akhirnya, kamu tetap jatuh ke tanganku.