Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JERAT DIBALIK BERLIAN MERAH
Di balik gaun black velvet bercelah tinggi yang membalut tubuhnya, Aria memastikan satu hal: kewaspadaannya tetap tajam. Malam ini, Aula Grand Ballroom Hotel Lumina dipenuhi wewangian parfum mahal, denting gelas kristal, dan deretan manusia berjas rapi yang menutup rapat identitas busuk mereka. Ini adalah acara lelang rahasia paling eksklusif tahun ini, tempat di mana barang-barang bernilai fantastis berpindah tangan tanpa tersentuh hukum.
Target Aria sederhana, namun mematikan: The Scarlet Tear, sebuah kalung berlian merah langka senilai ratusan miliar milik seorang pengusaha korup yang gemar mencuci uang lewat benda seni. Bagi orang lain, membobol tempat ini adalah aksi bunuh diri. Bagi Aria, ini hanyalah permainan logika yang menyenangkan.
Aria melangkah anggun menyusuri lorong berkarpet merah tebal, menyesap sisa sampanye di gelasnya dengan santai. Di balik penampilan cantiknya yang berhasil memikat para pengawal pintu depan, jarinya dengan cekatan meraba sebuah chip peretas kecil berukuran mikron yang ia sembunyikan di balik cincin intannya.
"Dua menit menuju pergantian shift penjaga," gumam Aria pelan, hampir tak terdengar, menyapa perangkat komunikasi transparan di balik telinganya.
Saat seorang pelayan melintas membawakan nampan minuman, Aria secara tidak sengaja—dengan akting yang sempurna—memiringkan badannya sedikit. Sampanye membasahi jas sang pelayan. Dalam hitungan detik saat suasana sedikit canggung, tangan lincah Aria sudah menyelinap ke saku dalam jas pelayan tersebut, menukar kartu akses darurat yang ia incar dengan kartu tiruan buatan sendiri.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja," ucap Aria dengan senyum manja yang meluluhkan. Pelayan itu hanya bisa mengangguk gugup, sama sekali tidak menyadari bahwa akses kunci ruangan VIP-nya telah berpindah tangan.
Aria berbelok ke lorong sepi di sebelah barat bangunan, menjauh dari riuk-piuk keramaian lelang. Ia melangkah cepat menuju pintu baja tahan api yang menjadi benteng pertama menuju ruang penyimpanan utama. Tanpa ragu, ia menempelkan kartu akses hasil curiannya ke pemindai sensor.
BEEP. Lampu hijau menyala.
Aria menyelinap masuk, menutup pintu tanpa suara. Di depannya terbentang koridor sepanjang sepuluh meter dengan sistem deteksi inframerah bergerak. Di ujung lorong, tampak pintu brankas titanium setebal tiga puluh sentimeter menanti.
Aria melepaskan sepatu heels-nya, membiarkan jemari kakinya yang beralas stoking tipis menyentuh lantai dingin. Dari dalam tas genggamnya, ia mengeluarkan kacamata berlensa khusus dengan pemindai spektrum cahaya. Dalam sekejap, jaring-jaring garis merah laser inframerah terlihat jelas memenuhi udara.
"Pergerakan sensor dinamis, pola berulang tiap delapan detik," gumamnya menganalisis.
Dengan kelenturan tubuh yang luar biasa, Aria mulai bergerak. Ia melangkah melompati garis bawah, memutar tubuhnya di udara, meliuk elastis melewati dua garis sejajar, dan mendarat sempurna tanpa memicu alarm sedikit pun. Gerakannya presisi, cepat, dan begitu halus bagaikan seorang penari balet profesional di atas panggung.
Sampai di depan pintu brankas utama, tantangan sebenarnya baru dimulai. Brankas ini tidak menggunakan kunci mekanis biasa, melainkan perpaduan antara kombinasi angka digital, pemindai sidik jari, dan sistem enkripsi ganda bertingkat.
Aria tersenyum tipis. Tantangan seperti inilah yang membuat darahnya berdesir hebat.
Ia mencabut cincin intannya, menempelkan chip peretas langsung ke port data tersembunyi di bawah panel pemindai. Dari dalam tas kecilnya, ia mengeluarkan sebuah gawai lipat berukuran telapak tangan. Layar gawai itu langsung dipenuhi deretan baris kode hijau yang berjalan secepat kilat.
01011001... System Overriding...
"Ayo, berikan aku aksesmu..." bisik Aria, jarinya menari linformatif di atas layar menyelaraskan frekuensi enkripsi.
Detik demi detik berlalu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Lima puluh detik lagi waktu pergantian shift penjaga lorong luar akan selesai. Jika ia gagal dalam tiga puluh detik, seluruh sistem keamanan hotel akan terkunci dan sinyal bahaya akan dikirimkan ke kepolisian serta pasukan pengawal pribadi penyelenggara.
Tiba-tiba, indikator gawai berubah merah. ACCESS DENIED. RETRYING (1/3).
Aria mengutuk pelan. Ada firewall sekunder yang sengaja dipasang secara terpisah dari jaringan utama. Namun bukannya panik, napas Aria justru semakin teratur. Otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Ia menarik kabel konektor, membalikkan alur perintah, lalu menyuntikkan virus trojan rakitannya sendiri untuk memalsukan respons sidik jari pemilik brankas.
Tiga... dua... satu...
CLICK.
Suara mekanis yang sangat memuaskan terdengar. Lampu panel berubah dari merah menjadi biru terang. Pintu titanium seberat ratusan kilogram itu perlahan terbuka dengan desisan udara yang terdorong keluar.
Di dalam ruangan minim cahaya itu, The Scarlet Tear berkilau megah di atas bantalan beludru hitam, terbungkus tabung kaca kedap udara. Berlian merah itu memancarkan pesona pesona eksotis yang sanggup membuat siapa saja gelap mata.
Aria mendekat. Ia tidak langsung mengangkat kaca penyimpan. Ia tahu betul ada sensor tekanan di bawah dudukan bantalan tersebut. Dengan gerakan terlatih, ia mengeluarkan sebuah alat penimbang khusus yang sudah disesuaikan dengan berat presisi kalung tersebut. Dengan satu gerakan kilat yang terukur, Aria mengangkat kalung berlian itu sembari menggantikannya dengan beban tiruan dalam hitungan milidetik.
Garis indikator beban tetap stabil. Tidak ada alarm yang berbunyi.
Aria menggenggam kalung berlian merah itu di tangannya. Kilau mewahnya terpantul indah di manik mata gelap milik Aria. "Indah sekali," gumamnya puas. Ia segera memasukkan kalung bernilai triliunan itu ke dalam kantong khusus bertali yang ia sembunyikan di balik lipatan gaunnya.
Aksi pembobolan sempurna. Tanpa jejak, tanpa darah, dan tanpa keributan.
Namun, tepat saat Aria berbalik untuk keluar dari dalam ruang brankas, seluruh lampu di ruangan itu mendadak padam total. Suara sistem pendingin udara mati seketika, menggantikannya dengan kesunyian yang mencekam.
Aria menghentikan langkahnya. Insting bertahannya menjerit tajam. Ini bukan gangguan listrik biasa, juga bukan bagian dari sistem keamanan brankas yang ia retas tadi.
Seseorang telah memotong jalur daya utama secara manual dari luar.
Lampu darurat berwarna merah redup perlahan menyala, memproyeksikan bayangan panjang di sepanjang lorong. Dari balik kegelapan di luar pintu brankas, terdengar langkah kaki berat yang mantap dan teratur. Langkah kaki yang tidak tergesa-gesa, melainkan melangkah penuh dominasi dan kepastian.
Aria meraba pinggangnya, menggenggam pisau lipat taktis yang selalu ia siapkan untuk situasi terburuk. Ia berdiri tegak dalam posisi siap bertarung, menatap lurus ke arah kegelapan lorong.
Sesosok pria jangkung melangkah keluar dari balik bayang-bayang. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang terpotong rapi, memancarkan aura dingin yang teramat intimidatif. Tatapan matanya yang tajam bak elang langsung mengunci presisi keberadaan Aria di dalam ruangan. Di belakang pria itu, beberapa pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam dan senjata api terkokang berdiri siaga.
Aria tahu siapa sosok di depannya. Pria itu bukan pengawal hotel, bukan pula polisi. Pria itu adalah pemegang kendali dunia bawah yang paling ditakuti—Devan Argantara.
"Pencuri yang sangat lincah," suara Devan terdengar berat, dingin, dan bergema di dalam ruangan yang sunyi itu. Sebuah ukiran senyum tipis yang penuh bahaya terkembang di sudut bibirnya. "Tapi sayangnya, malam ini kamu berada di tempat yang salah, Little Bird."
Aria menyipitkan matanya, menggenggam pisaunya makin erat. Misi pembobolannya yang sempurna baru saja berubah menjadi perangkap mematikan.