NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 : Otakmu kambuh lagi?

Sebuah mobil terbakar di tengah jalan.

Api menjilat rangka besi tanpa ampun, membesar setiap detik, melahap seluruh badan kendaraan hingga udara di sekitarnya berubah panas dan mencekik. Asap hitam mengepul tebal, menyusup ke paru-paru, membuat napas menjadi pendek dan perih.

Kap depan yang remuk menekan kaki seseorang di dalam mobil. Logam bengkok menjepitnya tanpa celah untuk bergerak. Darah mengalir perlahan dari sela pintu yang penyok, menetes ke aspal yang retak, lalu mengering oleh panas.

Dari luar, suara warga terdengar kacau. Teriakan panik, bentakan putus asa, dan suara benda tumpul menghantam kaca bercampur menjadi satu. Beberapa orang berusaha memadamkan api dengan alat seadanya. Yang lain memukul jendela sambil berteriak memanggil orang di dalam mobil.

Namun semua itu terdengar jauh. Teredam. Seolah berasal dari dunia lain.

Api merambat semakin dekat. Lidah-lidah merah itu menyambar jok, merayap ke arah tubuhnya. Panas mulai membakar kain yang dikenakannya. Rasa perih menjalar cepat, kulit seperti melepuh, nyeri yang terlalu tajam hingga sulit untuk berteriak.

Dengan sisa kesadaran, orang itu memalingkan wajah ke arah jendela mobil.

Di antara kerumunan yang panik dan bergerak tanpa arah, ada satu sosok yang diam. Berdiri tegak, tidak berteriak, tidak mendekat. Tatapannya tertuju pada mobil yang terbakar, tenang, nyaris dingin.

Pandangan mereka bertemu.

Bibir orang itu bergerak perlahan, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun kata-kata itu menguap sebelum sempat terbentuk, terhapus oleh suara lain yang seperti memanggilnya.

“Blair, nona Blair… Hakim Blair."

Kesadaran yang terperangkap di dalam mobil seketika terlepas.

Api, asap, dan panas lenyap begitu saja.

Yang ada kini hanyalah seorang pria berkacamata yang berdiri tepat di depannya. Tangannya memegang segelas kopi yang uapnya masih mengepul tipis. Wajahnya menampilkan kebingungan samar, seolah sudah memanggil cukup lama tanpa mendapatkan respons.

“Blair?” panggilnya lagi. “Kau baik-baik saja?”

Gadis itu tersentak. Kepalanya sedikit menggeleng, seakan mencoba menyingkirkan bayangan yang barusan menghantam pikirannya. Alisnya berkerut saat matanya menyapu ruangan di sekeliling, meja kayu, tumpukan berkas, cahaya pagi yang masuk dari jendela. Semua terasa asing, namun nyata.

Pandangan itu kembali pada pria di hadapannya.

Tatapannya menajam.

“Siapa kamu?” tanyanya pelan, namun tegas.

Pria itu terdiam.

Alisnya mengerut dalam, jelas tak menyangka pertanyaan tersebut. Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya.

“Apa… kau bercanda?” katanya ragu. “Aku Lucas. Asistenmu.”

Ia menurunkan tangannya perlahan, menatap Blair lebih saksama. Nada suaranya berubah, diselimuti kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

“Kau sedang memikirkan sesuatu lagi, ya?” lanjutnya. “Jangan bilang… otakmu kambuh lagi?”

Gadis itu terdiam.

Ia memalingkan wajah ke arah lain, menatap kosong ke sudut ruangan, seolah mencoba meraih sesuatu yang baru saja lolos dari genggaman pikirannya. Keheningan itu membuat Lucas menghela napas panjang.

Ia meletakkan gelas kopi di atas meja dengan suara pelan, lalu bergumam, “Ya, bagus. Kita benar-benar dalam masalah.”

Lucas mengusap wajahnya sebentar sebelum melanjutkan, nada suaranya bercampur frustrasi dan pasrah.

“Otakmu kambuh tepat sebelum persidangan.”

Ia menggaruk kepalanya, mondar-mandir sebentar, lalu berbalik menuju lemari kecil di sudut ruangan. Sebuah kotak dibukanya dengan cepat. Dari dalam, ia mengambil plastik bening berisi beberapa pil, lalu meraih sebotol air.

Lucas kembali dan meletakkan semuanya di atas meja, mendorongnya pelan ke arah Blair.

“Minum obatmu sekarang,” katanya tegas. “Aku akan menemui hakim lain untuk memindahkan jadwal sidang.”

Kata itu membuat Blair menoleh.

Alisnya mengerut, pandangannya tampak masih belum sepenuhnya fokus.

“Sidang?” ulangnya lirih.

Kata itu terasa asing di lidahnya, seolah bukan bagian dari hidupnya, namun semua orang di ruangan ini bertingkah seakan itu adalah pusat dunianya.

Lucas berhenti sejenak, menatap Blair dengan raut khawatir yang kini tak lagi bisa ia sembunyikan.

“Blair,” katanya pelan, “kau seorang Hakim. Dan hari ini, kau seharusnya memutuskan nasib seseorang.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!