Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Sarah mencengkram ujung bajunya erat, saat lagi-lagi ia mendengar suara desahan dari dalam kamar suaminya. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu menunduk, berusaha menahan rasa sakit yang seolah tidak akan pernah sembuh.
Saat air matanya hampir luruh, Sarah langsung mendongak menatap langit-langit rumah mewah itu yang menjulang tinggi. Namun baginya, tempat itu bagaikan neraka di mana penderitaannya tidak pernah berakhir.
Aku harus kuat. Aku mencintai Mas Adrian. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya. Memang ini menyakitkan, tapi membayangkan kehilangannya membuatku jauh lebih takut daripada menahan rasa sakit ini. Aku memilih tetap berada di sisinya. Batin Sarah.
Meski sudah berusaha menahan sekuat tenaga, air matanya tetap jatuh juga.
Sarah yang tidak sanggup lagi menahan kesedihan segera menutup mulutnya rapat dan berlari masuk ke kamar.
Ia mengunci pintu, lalu menyandar di sana dengan dada yang sesak, menangis tanpa suara.
"Mas... kenapa kau tega padaku? Kenapa? Aku sudah memberikan segalanya yang kupunya, bahkan seluruh hartaku sudah kualihkan ke atas namamu sesuai keinginamu. Lalu kenapa sekarang kau tega menyakitiku?
Aku mencintaimu, tapi setiap malam kau selalu berbagi ranjang dengan anak kepala pelayan itu. Memang dia lebih muda dariku, mungkin dia lebih menarik, tapi aku yang setia menemanimu dari saat kau tidak memiliki apa-apa hingga kini kau menguasai segalanya. Kenapa kau tega menyakiti aku begini, Mas?"
Sarah menangis sejadi-jadinya. Sudah enam bulan mereka berpisah kamar, dan dalam waktu itu pula Adrian tidak pernah lagi sekalipun menyentuhnya. Adrian kerap berkata:
"Bersyukurlah kubiarkan kau menumpang di rumah ini. Kalau tidak, sudah lama kau kuusir." Tak jarang ia juga melontarkan kata yang paling menyakitkan, "Aku tidak sudi menyentuhmu. Sudah lima tahun kita menikah, tapi kau tidak pernah memberi aku keturunan. Kau hanya membuang-buang waktuku saja."
Selama lima tahun pernikahan mereka, Sarah tidak kunjung hamil, dan Adrian selalu menuduh bahwa dialah penyebabnya, menuduh kalau Sarah mandul.
Hampir setiap malam, Adrian meniduri putri kepala pelayan, membuat hati Sarah semakin hancur dan terpukul.
Ia tahu suaminya berselingkuh, namun tidak ada yang bisa ia lakukan—di rumah itu, karena tidak ada satu pun yang berpihak padanya. Tak jarang ia juga disiksa oleh ibu mertua dan adik iparnya sendiri.
Ia hanya bisa pasrah menjalani hari-hari yang penuh siksaan itu. Adrian bahkan tidak pernah memberinya sepeser pun uang nafkah, namun Sarah tetap bertahan hanya karena satu alasan: cinta. Ia masih mencintai suaminya.
Hanya ada satu orang yang sedikit peduli padanya, yaitu Paman Sean. Meski pria itu dikenal dingin dan tak banyak bicara, tapi dia sering memberikan sapu tangan saat Sarah menangis, atau menawarkan tumpangan bila wanita itu membutuhkannya.
Tapi sayangnya, Sean jarang tinggal di mansion itu, karena ia hampir sering berada di luar negeri untuk mengurus segala urusan bisnisnya.
Sementara itu, ibu mertua, adik ipar, selingkuhan suaminya setiap hari menyiksanya. Mereka bahkan sengaja memecat banyak pelayan hingga hanya menyisakan 3 orang saja: dua orang bibi dan kepala pelayan. Sarah yang menjadi sasaran untuk mengurus serta membersihkan seluruh isi rumah itu.
Ia bagaikan pembantu tanpa upah yang harus bekerja dari pagi hingga malam, namun pekerjaannya tak kunjung usai.
Bagaimana bisa selesai cepat? Mansion itu bukan bangunan kecil, melainkan sangat luas. Belum lagi ia harus melayani segala keperluan suaminya dan anggota keluarga lain, membuatnya kewalahan menanggung beban yang begitu berat. Namun meski begitu, ia masih memilih untuk bertahan hingga saat ini.
Lelah menangis sepanjang malam, akhirnya Sarah terlelap.
Saat fajar menyingsing, ia terbangun dengan tergesa-gesa, tak ingin terlambat menyiapkan segala keperluan rumah tangga.
Kini ia sedang sibuk mengaduk adonan dan menata bahan makanan di dapur, ketika tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking dari lantai atas—suara Alena.
"Ibu!!!"
Mendengar teriakan putrinya, Martha yang merupakan kepala pelayan sekaligus ibu kandung Alena langsung berlari menaiki tangga dengan cemas.
"Ada apa, Alena? Kenapa kau berteriak-teriak?"
"Ibu... kalungku! Kalung yang kutaruh di dalam laci meja semalam hilang!" seru Alena dengan nada panik yang dibuat-buat.
"Kau yakin menaruhnya di situ? Coba periksa sekali lagi," tanya Martha mencoba menenangkan.
"Iya, Bu! Aku yakin sekali! Sudah kucari ke sana kemari, sudah tidak ada lagi di sana!" jawab Alena keras kepala.
Martha pun ikut mencari ke seluruh sudut kamar putrinya, namun tak ditemukan barang yang dicari.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, ia langsung melangkah turun menuju dapur dengan wajah penuh kecurigaan dan kemarahan.
Begitu melihat Sarah yang sedang sibuk di dapur, ia langsung menudingkan jari kasar ke arah wanita itu.
"Heh Sarah! Apa kau yang mencuri kalung milik putriku?"
Sarah terkejut setengah mati, tangannya yang memegang sendok seketika berhenti bergerak.
"Astaghfirullah... mencuri kalung? Tidak mungkin, Bu. Saya sama sekali tidak tahu apa-apa soal kalung itu," jawabnya dengan suara takut.
"Jangan berani-berani kau berbohong padaku! Kau kan sudah tidak punya sepeser pun uang, sampai tidak sanggup belanja kebutuhan sendiri! Pasti karena itu kau berani mencuri barang berharga kami, bukan?" tuduh Martha semakin keras.
"Saya sungguh tidak melakukannya! Saya tidak pernah menyentuh barang-barang Alena!" Sarah mulai gemetar ketakutan.
Di lengannya yang terbentang bagian lengan baju, terlihat jelas memar berwarna kebiruan, begitu pula di sisi pipinya yang masih terlihat bekas tamparan yang belum sempat sembuh.
Entah mengapa, setiap kali ada masalah yang terjadi di rumah itu, dirinya yang selalu menjadi sasaran.
"Ada apa ini ribut pagi-pagi?" Tanya Adrian.
"Mas! Tanyakan sendiri pada istri Mas ini! Dia yang sudah mencuri kalungku, baru tidak mau ngaku!" seru Alena berdiri di samping Adrian, menunjuk-nunjuk ke arah Sarah.
Tanpa menanyakan kebenaran atau sekadar melihat keadaan Sarah, Adrian langsung membuka mulutnya dengan nada penuh amarah.
"Apa benar begitu, Sarah?" Adrian menatapnya tajam.
"Mas... aku benar-benar tidak mencuri, Mas. Sejak bangun pagi aku langsung turun ke sini menyiapkan sarapan. Aku tidak mengambilnya sama sekali," suara Sarah mulai bergetar hebat. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Diam-diam Alena tersenyum tipis, senyum picik. Ia memang sengaja melakukan semua itu untuk memfitnah Sarah.
"Geledah saja! Geledah bajunya sekarang! Siapa tahu memang dia yang mengambilnya!" Ucap Martha tak sabar.
Adrian melangkah mendekat, lalu dengan kasar meraba dan menggeledah pakaian istrinya. Tak butuh waktu lama, tangannya merogoh saku baju Sarah dan mengeluarkan benda yang dicari.
"Jadi ini apa, Sarah?"
Sarah semakin gemetar hebat. "Sa... saya tidak tahu, Mas... saya tidak mengambilnya..."
Plak!
Tanpa ampun, tangan Adrian melayang keras menampar pipi Sarah hingga bibirnya langsung pecah dan berdarah bahkan tubuh lemah Sarah terjatuh ke lantai dapur akibat kerasnya tamparan Adrian.
Buk!
Belum sempat Sarah menahan rasa sakit, Adrian kembali menendang keras perutnya membuat wanita itu terguling, tersedak dan sulit bernapas.
"Dasar bodoh! Berani-beraninya kau mencuri? Mengaku saja! Kau memang tidak punya uang, makanya kau berani mengambil barang orang lain!"
Adrian berjongkok, mencengkeram dan menarik rambut Sarah dengan kasar. Darah mulai menetes dari hidungnya.
"Mas... kenapa kau tega padaku? Padahal aku tidak tahu bagaimana kalung itu bisa ada di sakuku..." isak Sarah menahan sakit luar biasa tapi masih berusaha membela diri.
Belum selesai kata-katanya, Alena berjalan mendekat membawa termos berisi air panas mendidih.
"Oh, ternyata nggak mau ngaku kamu ya?" Tersenyum jahat.
"Alena! Apa yang mau kau lakukan? Jangan!" seru Sarah ketakutan.
Namun Adrian justru semakin mengencangkan tarikan pada rambut istrinya, menahan tubuh Sarah agar tak bisa bergerak. Alena langsung menyiramkan air panas itu tepat ke betis Sarah.
"Aaaah!" jerit Sarah saat kulitnya langsung melecur terbakar dengan rasa perih yang luar biasa.
Bukannya merasa kasihan, Adrian malah menarik rambut Sarah lebih kuat dan menyeretnya keluar.
"Panas? Rasakan saja itu!"
"Lepaskan, Mas... sakit sekali... tolong..." Sarah benar-benar tak berdaya melawan kekuatan suaminya.
Adrian menyeretnya sampai ke tepi kolam renang, lalu tanpa belas kasihan melempar tubuh Sarah ke dalam air.
"Mati saja kau di sana! Aku sudah lama muak melihat wajahmu! Berkali-kali kusuruh hamil, hamil! Tapi kau tidak bisa juga mengandung? Kau tahu tidak? Selama ini aku menikahimu hanya untuk merebut seluruh hartamu! Tapi sialnya, kakek tua itu malah memberi syarat—harus ada keturunan baru aku berhak mendapat bagian warisan! Dan kau? Kau mandul! Mustahil kau bisa memberiku anak!"
Sarah terhanyut lemah di dalam air, tubuhnya sakit, hatinya hancur lebur mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan suaminya.