semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 1
Byurrr
"ahh! uhuk uhuk uhuk!"
Aluna terkejut, air sedingin es mengguyur wajahnya tanpa ampun. dia terbatuk mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup.
begitu pandangannya jelas, matanya langsung menangkap sosok itu. perempuan paruh baya, di hadapannya ibunya usia 48 tahun tapi wajahnya masih mulus tanpa keriput. terlalu cantik untuk seorang ibu yang harusnya sudah termakan umur. perempuan itu berdiri tegak dengan tatapan matanya menyala penuh kebencian ke anaknya sendiri.
"ibu" ucap Aluna lirih
PLAK!
dunia Aluna seolah berhenti berputar tamparan itu mendarat telak, membuat pipinya terasa panas. seperti disengat api.
Aluna terpaku. tangannya gemetar memegangi pipinya yang berdenyut nyeri. sebelum dia bisa mencerna apa yang terjadi suara ibunya sudah menggelegar di depan wajahnya sarat akan kemarahan
"enak ya kamu jam segini masih tidur Hah! ayah sama kakak-kakakmu udah nunggu sarapan. dan kamu malah masih asik tidur di sini, bangun nggak kamu! dan sana masak!" teriak Rani dengan napas memburu
"ahh maaf ibu. Aluna benar-benar minta maaf"
"simpan maafmu itu nanti, dan sana cepat turun dan siapin sarapan. buat kami kalo sampai kamu telat masaknya awas aja kamu" ujar Rani menujuk wajah Aluna dan berlalu dari kamar Aluna
tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi dan membuat keluarganya marah, Aluna pun lantas bangkit dari kasur. dengan pakaian dan rambut yang masih acak-acakan, dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
setibanya di ruang makan menuju dapur, Aluna langsung disambut oleh pasang mata yang menatapnya. bukan tatapan lembut yang didapatkan, melainkan tatapan tajam, dingin, dan menusuk seolah menghujam tepat di dadanya
tidak ingin berlama-lama, Aluna segera menuju dapur dan memasak dengan gerakan cepat dan cekatan.
padahal mansion sebesar ini punya banyak pelayan, lalu kenapa justru dia. nyonya muda yang harus berdiri di depan kompor layaknya seorang babu.
saat semua sudah dihidangkan, Aluna yang hendak iku duduk. langkahnya langsung dicegat oleh ibunya dengan tatapan setajam pisau.
"berhenti! siapa suruh kamu duduk di sini Hah!"
"sudah berapa kali saya bilang sama kamu, kalo kamu itu tidak boleh duduk di sini. dan satu lagi kamu nggak boleh makan-makanan ini kecuali makanan sisa kami paham enggak kamu!" tekan Rani suaranya berubah menjadi dingin
"I-iya Bu, Aluna paham. maaf sudah melanggar aturan yang ibu beri" lirih Aluna
seketika ruangan menjadi hening, hanya suara dentingan sendok beradu yang terdengar.
keheningan itu langsung buyar, saat suara dingin dan tegas mulai terdengar.
"Aluna"
Aluna yang masih menunduk itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap wajah tegas ayahnya.
"I-iya ayah"
"malam ini kamu harus bersiap-siap, dandan yang cantik" tegas Hendra
sebelum Aluna sempat mencerna maksud ucapan ayahnya. Hendra sudah lebih dulu pergi, diikuti kakaknya dan ibunya.
meninggalkan Aluna sendiri, berperang dengan pikirannya sendiri.
.
Malamnya
sesuai yang dikatakan ayahnya, Aluna saat ini sedang bersiap dengan gaun cantik berwarna cream polos dan riasan tipis di wajahnya yang membuatnya makin cantik dan elegan.
setibanya di bawah, saat Aluna sedang menuruni anak tangga, dia tak sengaja melihat ruang tamu yang biasanya sepi mendadak ramai oleh kedatangan tamu. yang sepertinya sangat akrab dengan keluarganya.
Aluna juga melihat sosok lelaki berjas hitam dan berbadan kekar yang membelakanginya.
Hendra yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Aluna yang masih berdiri di atas anak tangga.
"Darman, inilah anak yang aku bicarakan kemarin denganmu" ujar Hendra menunjuk ke arah Aluna
semua pasang mata langsung tertuju ke arah Aluna, kecuali lelaki berjas hitam yang masih tetap membelakangi Aluna tanpa ada niatan untuk menoleh sedikitpun.
"Aluna mari duduk di sini. apa kau tidak merasa cepek berdiri di situ terus?" tanya Karin menatap Aluna jengkel.
"ah, iya kak" jawab Aluna lalu duduk di samping Aurel yang sedang bermain ponsel.
"baiklah, karena semuanya sudah di sini. langsung saja ayah katakan. Aluna tujuan ayah hari ini ingin menjodohkanmu dengan anak teman ayah, pak darman" ujar Hendra dingin namun menuntut.
mendengar ayahnya ingin menjodohkannya, jantung Aluna seakan berhenti berdetak. tangannya dingin, telinganya berdenging, dan napasnya tercekat di tenggorokan. matanya mencari sosok ibu, meminta pertolongan yang dia tahu tidak akan datang.
kenapa aku? kenapa aku yang ayah jodohkan? kenapa bukan kakak saja batin Aluna kebingungan dalam pikirannya
melihat Aluna yang diam tanpa menjawab ucapan ayahnya, Aurel yang memang jengkel dengan Aluna menepuk pundak Aluna keras hingga terdengar suara rintihan kecil dari mulut Aluna.
"heh, setan! Lo ditanya sama ayah. loh, bukan malah diam!" bentak Aurel menatap Aluna tajam
"ah, maaf semuanya" ucap Aluna menunduk-nundukan kepalanya
"jadi bagaimana Aluna? apa kau mau menikah dengan anak paman?" tanya Darman lembut sambil tersenyum manis ke arah Aluna.
"dia pasti mau. bagaimana mungkin dia akan menolak ucapan ayahnya" ujar Rani dengan sedikit candaan.
"iya kan Aluna? kamu pasti mau kan?" ujar Rani menekan perkataannya dan memaksakan senyum karena Aluna
saudaranya, Karin dengan teganya mencubit pinggang rampingnya kuat-kuat. satu tarikan yang lumayan menyakitkan.
dan Karin mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Aluna, lalu berbisik dengan suara dingin yang mengancam, membuat Aluna tidak bisa berkutik di tempatnya.
"ayo terima saja, Aluna. jangan coba-coba untuk menolaknya kalo kau berani menolak awas saja. aku jamin hidupmu nggak akan baik-baik saja setelah ini" bisik Karin, semakin kuat mencubit pinggang Aluna.
lagi-lagi Aluna hanya bisa menahan sakit di pinggangnya. tangannya gemetar di atas pangkuannya perlahan Aluna menganggukkan kepalanya.
"A-aku mau, paman" ucap Aluna, berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakitnya.
"hahaha, akhirnya kita akan menjadi besan Hendra" tawa darman kencang sambil merangkul pundak Hendra.
"jadi untuk tanggal pernikahannya kapan akan dilaksanakan?" tanya Lea, istri darman yang sedari tadi memilih diam
"bagaimana kalo langsung besok saja" Aryan yang mendengarnya langsung membantah ucapan ayahnya
"tunggu ayah bukankah terlalu cepat kalau langsung besok?" tanya Aryan dingin dengan wajah datar
"tapi son, akan lebih baik kalo acaranya dilaksanakan secara cepat bukan?"
"tapi mas-" Lea yang ingin membenarkan ucapan anaknya langsung dipotong oleh darman tanpa sempat menyelesaikan ucapannya.
"kita tanya saja langsung ke Aluna. Aluna, bagaimana denganmu? apa kamu tidak keberatan kalo acaranya diadakan besok" tanya darman penuh harap ke arah Aluna
"tidak kok, paman aku ikut saja apa kata paman" ujar Aluna tersenyum manis
walau di dalam hatinya dia ingin menolak keputusan darman, tetapi karena ancaman dari kakaknya, dia mau tidak mau harus menyetujui keputusan darman.
yang ada di ruang tamu itu tersenyum akan keputusan Aluna. bahkan darman tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya atas jawaban dari Aluna.
tapi meskipun begitu, ada dua orang manusia yang tidak menyukai keputusan Aluna. mereka mengerutuk di dalam hati merasa kesal dengan jawaban Aluna bahkan Aryan langsung menatap tajam ke arah Aluna dengan wajah sedatar mungkin.